Aceh dan Wajah Manis Barat

Oleh : Redaksi 10 Jan, 05 - 10:20 am

image


Prolog


Pagi itu, rabu tanggal 29 Desember 2004., saya sebenarnya sudah cukup lelah setelah 12 jam lebih menempuh perjalanan Magelang-Jakarta. Akan tetapi sebuah pesan pendek dari seorang teman di UIN Syarif Hidayatullah membelokkan niat saya untuk segera pulang ke kosan. Walhasil, dari Lebak Bulus saya langsung naik angkot ke arah Ciputat, lokasi kampus Islam (liberal?) itu berada. Singkat cerita, pagi sekitar pukul 10.00 WIB saya sudah berada di dalam sebuah forum bedah buku, acara yang saya ketahui dari sms teman tadi. Temanya sudah sering diangkat, meski tetap controversial: pluralisme agama. Sebenarnya ada beberapa hal yang menarik dalam forum tersebut, tetapi hanya satu hal yang akan saya singgung dalam tulisan ini, sekedar sebagai prolog.

Salah satu pembicara yang hadir dalam forum, Cak Zuhairi Misrowi (Saya panggil �Cak� karena alumnus Al Azhar Cairo ini memang putra Madura yang juga jebolan salah satu pesantren terkenal di sana. Tetapi entah dari almamater yang mana beliau ini terjangkit virus liberal), menceritakan perkembangan Aceh pasca tsunami sebagai muqaddimah speech-nya, sebelum ia dengan gaya khas para aktivis Islam liberal (Gayanya seperti apa silahkan Anda bayangkan sendiri) memberikan pembelaan terhadap konsep pluralisme agama.

Cak Zuhairi dengan antusias memaparkan bagaimana besarnya perhatian masyarakat dunia terhadap para korban bencana di Aceh. Bantuan mengalir tidak hanya dari negeri-negeri muslim, tetapi juga dari Barat. Inti ceritanya adalah mencoba menarik benang merah dari �semangat kemanusiaan� Barat yang tidak pandang bulu (baca:agama) dengan ide pluralisme yang dibelanya. Dalam tulisan ini, yang ingin saya kritisi bukanlah ide pluralisme agamanya, tetapi fakta bantuan yang diberikan negara-negara Barat (especially US dan UK) kepada saudara-saudara kita di Aceh.

Sekilas, bantuan mereka ini seolah memperlihatkan dua wajah Barat (meminjam judul sebuah buku yang menyorot perilaku opportunis kerajaan Saudi; The Two Faces of Islam) yang kontradiktif. Barat yang imperialis dan Barat yang humanis. Inilah sebenarnya poin utama tulisan ini. Saya mencoba mendekatkan sebuah lilin kecil agar kita sama-sama bisa melihat rupa sebenarnya dari wajah Barat yang oleh sebagian kalangan �terutama Cak Zuhairi dkk- terlihat manis ini.

Di Balik Bantuan : Yang Nampak dan Yang Tak Nampak


Pertama, mari kita cermati jumlah bantuan yang dikucurkan oleh para �dermawan� ini. Dalam KTT Tsunami yang di gelar di Jakarta, telah terkumpul janji bantuan pinjaman (mohon digarisbawahi untuk kata �janji� dan �pinjaman�) sebesar USD $ 4 M. Di antaranya dari AS USD $130 juta, Perancis USD $ 29,5 juta, World Bank USD $ 250 juta, dan yang terbesar dari Australia sebesar USD $ 767 juta. Sementara itu Inggris menjanjikan dana USD $ 180 juta untuk semua negara korban Tsunami, tidak spesifik untukIndonesia (Jawa Pos, Jumat 7 Januari 2005).

Jumlah bantuan ini mungkin terlihat sangat besar bagi kita (terutama bagi mahasiswa yang sehari-hari masih disubsidi orang tua, he.. he..). Tapi saya akan tunjukkan sebuah angka yang jauh lebih fantastis: USD $ 150 M! Ya Saudaraku, inilah jumlah utang yang menjerat negeri ini. Sebuah angka yang membuat donasi-donasi di atas terlihat begitu kecil. Apalagi dengan status bantuan yang berupa pinjaman, tak ayal ujung-ujungnya menambah prestasi utang kita ini. Dan perlu diketahui bahwa pada tahun 2004 lalu, kita harus menyicil USD $ 14 M. (BBC News Online, Senin 16 Agustius 2004). Pertanyaannya, kepada siapa kita berhutang? Siapa lagi kalau bukan kepada para�dermawan� kita tadi! Dan mungkin kita telah sama-sama mafhum bahwa melalui utang inilah independensi negara ini tergadaikan. Maka tidak heran jika sebuah situs Islam di Inggris menanggapi bantuan Barat ini dengan sinis: To help with the short term disaster is one thing, but to end the dependency of nations such as Indonesia is another entirely!

Kritik saya masih berlanjut. Dalam sebuah artikel yang dimuat oleh The Guardian dengan judul �Will Tsunami Aid Materialize?�, dipaparkan kekhawatiran beberapa pihak tentang kemungkinan bahwa bantuan yang dijanjikan oleh negara-negara kaya tidak akan terealisir sepenuhnya. Kekhawatiran ini di antaranya diungkapkan oleh Robert Smith, juru bicara Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), salah satu badan di bawah PBB yang concern dalam menyikapi bencana tsunami di Asia Tenggara. Ketidakpercayaan ini bukan tanpa sebab, banyak fakta telah menunjukkan adanya disparity antara janji yang diungkapkan dengan jumlah bantuan yang benar-benar diberikan. Berikut ini contoh-contohnya.

Setahun sebelum bencana tsunami ini, sebuah gempa telah mengguncang Bam, sebuah wilayah di Iran. Negara-negara dan organisasi asing waktu itu menjanjikan bantuan sebesar USD $ 1,1 M, tetapi hanya USD $ 17,5 juta yang benar-benar ngucur. Mirip dengan itu, lebih dari USD $ 400 juta dijanjikan negara-negara asing untuk membangun kembali Mozambique pasca banjir tahun 2000 lalu, tetapi berdasarkan penuturan Menteri Pekerjaan Umumnya kurang dari setengah angka itu yang terealisir.

Sementara itu, pada tragedi Hurricane Mitch yang pada tahun 1998 lalu menyapu Honduras dan Nicaragua serta menyebabkan lebih dari 9.000 orang terbunuh, terdengar janji bantuan lebih dari USD $ 3,5 M dari pemerintah-pemerintah asing, sementara World Bank, IMF, dan uni Eropa janji akan patungan untuk mengucurkan bantuan USD $ 5,2 M. Nyatanya? Kurang dari 1/3 dana yang benar-benar dikucurkan. Yang paling parah barangkali janji yang diberikan atas bencana yang terjadi di Gujarat, Bangladesh, dan Amerika Tengah sekitar 3 tahun lalu, di mana hampir tidak ada janji bantuan yang benar-benar terealisir!!

Belum. Kritik ini belum akan berakhir. Sebagai wacana kritis selanjutnya sangat layak untuk kita pertanyakan adakah agenda tersembunyi dalam bantuan-bantuan tersebut. Sejumlah besar uang dari yayasan Barat (Asia Foundation, Ford Foundation, dsb) yang selama ini deras mengucur ke rekening para aktifis JIL (dan anehnya -atau memang tidak aneh- tidak pernah mampir ke kantong para aktifis Islam yang getol menyuarakan perlunya formalisasi syariah dalam kehidupan publik) jelas menunjukkan adanya misi yang ingin dikembangkan oleh negara-negara Barat di dunia ketiga melalui uluran tangannya. Lalu bagaimana dengan bantuan di Aceh? Semata-mata karena alasan kemanusiaan? Sekedar cari simpati (mirip polah parpol-parpol di Indonesia yang menjelang Pemilu intens blusukan hingga daerah terpencil untuk sekedar obral janji)? Atau malah sekalian cari peluang tender untuk pembangunan kembali wilayah Aceh yang disinyalir perlu dana Rp. 10 triliun itu? Think about it!

Epilog


Sebagai renungan terakhir, yang bagi saya ini merupakan sebuah argumen sekaligus bukti paling mendasar kenapa kita harus mewaspadai bantuan-bantuan asing itu, selayaknya kita meyakini peringatan-peringatan suci (divine warnings) dari Yang Maha Mengetahui isi hati seluruh jalmo manungso di kolong jagat ini. Al Quran telah memuat ayat-ayat yang keautentikan sumbernya tidak diragukan (qath�I tsubut) sekaligus maknanya tidak mungkin diinterpretasikan secara berbeda (qath�I dalalah), bahwa ada kaum yang tidak akan pernah rela sehingga kita mengikuti millah mereka, dan bahwa kebencian yang ada di dalam hati mereka melebihi apa yang terekspresikan melalui mulut-mulutnya. Akankah kita mengingkarinya? Naudzubillahi min dzalik.

Akhirnya, sekarang terserah bagaimana Anda memandang bantuan dari Barat ini. Mungkin masih ada di antara Anda yang tetap akan berkata seperti Ulil Abshar Abdala; �Orang-orang yang mencurigai bantuan dari Barat berarti telah terbingkai otaknya oleh teori konspirasi�, atau barangkali ada di antara Saudara yang telah bisa mengambil konklusi berani, bahwa Barat sejatinya hanya punya satu wajah: rentenir haus darah yang rela berganti ribuan wajah sesuai nafsu opportunisnya! (gemapembebasan)

Wallahu a�lam bi ash shawab.

Oleh: Salman Hamzah
Penulis adalah mantan aktivis Gema Pembebasan Jakarta


AT LAST BUT NOT LEAST - WHAT CAN WE DO ?? BOYCOTT THEM !!

Nun Tidak Jauh dari aceh,
Pada Detik yang sama, Pasukan yang sama & sekutunya Israel
Sedang berpesta pora Barbarisme membunuh rakyat Irak
dan Palestina dengan Bom Cluster / Napalm DENGAN SENGAJA !!!!
YOU DECIDE !!


Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! Download Messenger Now

--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise.

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke