------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Would you Help a Child in need?
It�s easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/kx_54C/I_qJAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in 
any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved 
otherwise. 

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily 
digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your 
mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the 
title "change to daily digest".  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/hidayahnet/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 
--- Begin Message ---
------------- Forwarded message follows -------------



Subject: FW: Astaghfirullah



> Astaghfirullah
>
>          Kisah Nyata...Tujuh kali naik Haji tidak bisa melihat Ka'bah
>
> Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan 
nama
> sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang 
kelima.
>
> Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan 
ajakan
> anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang
> berkewajiban menunaikan ibadah Haji.
>
> Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu anak-anak ini
akhirnya
> berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang
satu
> apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat 
ikhlas
> menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. "Labaik allahuma 
labaik, aku
> datang memenuhi seruanMu ya Allah".
>
> Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, "Ummi undzur ila Ka'bah (Bu,
> lihatlah Ka'bah)." Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi 
berwarna
> hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia  
terdiam.
> Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh
anaknya.
>
> Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah
> ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak 
mengerti
> mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia
> mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.
> Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit 
yang
> lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki
> Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh kali Haji Anak 
yang
> sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya.
Hati
> Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitulah, mengharap
rahmatNYA.
> Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-
Nya,
> tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.
>
> Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang
> sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan
> menatap Ka'bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kembali 
membawa
> ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak 
kepadanya.
>
> Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali 
dibutakan
> di dekat Ka'bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang 
merupakan
> symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat 
Ka'bah.
> Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci 
tahun
> berikutnya. Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka'bah. 
Setiap
> berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan
gelap.
> Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian 
itu
> berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.
>
> Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya
> menjadi buta di depan Ka'bah. Padahal, setiap berada jauh dari 
Ka'bah,
> penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya
> kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah
> diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala
> pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk 
mencari
> seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya.
>
> Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal
karena
> kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat). Tanpa 
kesulitan
> berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud. Ia pun
> mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu 
mendengarkan
> dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu dari hasan mau menelponnya.
anak
> yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia 
meminta
> ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, 
sang Ibu
> mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun mau menelpon ulama itu, dan
> menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci. Ulama 
itu
> kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada
> perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga 
ia
> tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap terbuka,
> mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya.
>
> "Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan
masalah
> sepele," kata ulama itu pada Sarah. Sarah terdiam sejenak. Kemudian 
ia
> meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi 
ulama
> itu tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah 
percakapan
> pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon. "Ustad, waktu masih muda, 
saya
> bekerja sebagai perawat di rumah sakit," cerita Sarah akhirnya. "Oh,
> bagus.....Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia," potong ulama 
itu.
> "Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, 
tidak
> peduli, apakah cara saya itu halal atau haram," ungkapnya terus 
terang.
> Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata
> demikian.
>
> "Disana...." sambung Sarah, "Saya sering kali menukar bayi, karena 
tidak
> semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang
> menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya 
perempuan,
> dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan
> mereka."
>
> Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah.
> "Astagfirullah......" betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu 
yang
> diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak
> keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya. Apakah
> Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan 
sangat
> penting. Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak 
jelas.
> Padahal, nasab ini sangat menentukan dalam perkawinan, terutama dalam
> masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh 
dinikahi.
>
> "Cuma itu yang saya lakukan," ucap Sarah. "Cuma itu ?" tanya ulama
> terperangah. "Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar 
biasa,
> betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !". ucap ulama 
dengan
> nada tinggi.
>
> "Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?" tanya ulama itu lagi sedikit 
kesal.
> "Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati."
> "Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia," kata ulama.
> "Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan 
tukang
> sihir."
> "Maksudnya ?". tanya ulama tidak mengerti. "Setiap saya bermaksud
> menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala 
perkakas
> sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. 
Akan
> tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan
> benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati."
>
> "Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya
> memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan
> lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti
> terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-
dalam.
> Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu 
seterusnya
> berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda 
itu
dan
> saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan." Mendengar
penuturan
> Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah.
>
> "Cuma itu yang kamu lakukan ?". "Masya Allah....!!! Saya tidak bisa 
bantu
> anda. Saya angkat tangan". Ulama itu amat sangat terkejutnya 
mengetahui
> perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang
> manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega,
> begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang
> melakukan perbuatan sekeji itu. Akhirnya ulama itu berkata, "Anda 
harus
> memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni 
dosa
> Anda."
>
> Bumi menolaknya.
> Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak 
mendengar
> kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan
> menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah telah bertobat atas
> segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni 
dosa
> Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya. Karena tak juga 
memperoleh
> kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di mesir. Kebetulan yang
> menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan kabar Sarah,
> ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.
>
> "Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad," ujar Hasan. 
Ulama
> itu terkejut mendengar kabar tersebut. "Bagaimana ibumu meninggal, 
Hasan
> ?". tanya ulama itu.
>
> Hasanpun akhirnya bercerita : Setelah menelpon sang ulama, dua hari
> kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan 
adalah
> peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian
> dimasukkan jenazah atas ijin Allah, tanah itu rapat kembali, 
tertutup dan
> mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa 
itu
> terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan 
tertutup
> rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak 
seorangpun
> pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. 
Peristiwa
> itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang menyaksikan 
peristiwa itu
> merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin,
> kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayit.
>
> Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian 
karena
> pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu, petang menjelang,
bahkan
> sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali.
> Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan 
saja
> tergeletak di hamparan tanah kering kerontang. Sebagai anak yang 
begitu
> sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan 
jenazah
> orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, 
rasanya
> tidak mungkin. Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri. 
Dengan
> ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam
> panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki  itu tidak tampak
> wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan.
> Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya," Biar aku 
tangani
> jenazah ibumu, pulanglah!". kata orang itu.
>
> Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki 
itu
> akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali lubang untuk
> kemudian mengebumikan ibunya. "Aku minta supaya kau jangan menengok 
ke
> belekang, sampai tiba di rumahmu, "pesan lelaki itu. Hasan 
mengangguk,
> kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi
> pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi
dengan
> jenazah ibunya.
>
> Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan,
> melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu 
menyelimuti
> seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian 
dari
> arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. 
Dengan
> langkah seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.
>
> Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku,
> bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman
> karena terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita 
yang
> diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan
> khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang
pernah
> dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan 
kepada
> Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu. 
Ulama itu
> meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun 
dengan
> sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin Allah akan
hilang.
> Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama 
itu,
> bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, 
semakin
> hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan 
ibunya
> selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun 
perbuatan
> dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.
>
> Semoga kisah nyata dari Mesir ini bisa menjadi pelajaran bagi kita 
semua.

> Uang Rp 50.000 kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak derma 
masjid,
> tetapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket. 45 menit  terasa
> terlalu lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya waktu itu untuk
> pertandingan bola sepak. Semua insan ingin memasuki syurga tetapi 
tidak
> ramai yang berfikir dan berbicara tentang bagaimana untuk 
memasukinya.
>
> Kita mengirimkan ribuan 'jokes' dan 'suratberantai' melalui e-mail 
tetapi
> bila mengirimkan yang berkaitan dengan ibadah seringkali berfikir 2  
atau
> 3 kali.
>
> OLEH ITU JANGAN BIARKAN DIRI KITA INI MENJADI SEBAHAGIAN DARI 
KELUCUAN
> TERSEBUT,
> INSYA'ALLAH.
>
>



--- End Message ---

Kirim email ke