From: ummu nabilah
[mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, February 04, 2005 9:26 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [assunnah] Tentang syi'ah [MENGUPAS
SYIAH]



MENGUPAS SYIAH

MUQADDIMAH

Semenjak kematian Imam mereka, Syi'ah mengalami
perkembangan dan perpecahan.

Dan semakin jauh perpecahan mereka, semakin banyak
pula ajaran dan paham baru. Dimana tidak jarang ajaran
Syi'ah dalam satu periode bertentangan dengan ajaran
mereka pada periode sebelumnya. Karena setiap Imam 
memberikan ajaran, dimana perkataan Imam bagi Syi'ah
adalah hadits, sama dengan sabda Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Aalihi Wasallam. Bahkan ada
yang ber-anggapan bahwa perkataan Imam sama dengan
firman Allah. 

Namun yang kita bicarakan dalam kapasitas ini adalah
kelompok Syi'ah yang percaya kepada dua belas Imam
(Syi'ah Imamiyah Al-Itsna 'Asyariyah) dan sekte inilah
yang masuk dan berkembang di Indonesia.

Namun kemungkinan orang-orang Syi'ah di sekitar anda
akan mengingkari tulisan ini sambil berkata: "Syi'ah
tidak seperti ini!" Tetapi tidak selayaknyalah mereka
mengingkari perkataan-perkataan ulama-ulama besar 
me-reka, Karena bahan bacaan yang kami gunakan dalam
penyusunan risalah ini menggunakan kitab-kitab pokok
Syi'ah yang ditulis oleh ulama-ulama besar Syi'ah
sebagai referensi.

PEMBAHASAN

Abdullah bin Saba' adalah seorang pendeta Yahudi dari
Yaman yang pura-pura masuk Islam pada akhir
kekhalifahan 'Utsman radiallahu 'anhu. 

Dialah orang yang pertama mengisukan bahwa yang berhak
menjadi khalifah setelah Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wasallam adalah Ali Shallallahu 'Alaihi
Wasallam.

Tetapi pada abad ke-14, dimunculkanlah isu bahwa
Abdullah bin Saba' itu adalah manusia bayangan.
Mungkin didorong oleh rasa tidak enak, karena timbul
imajinasi bahwa ajaran Syi'ah itu berasal dari Yahudi.
Tetapi 
itu merupakan fakta sejarah yang telah dibakukan,
diakui oleh ulama-ulama Syi'ah pada jaman dahulu
hingga sekarang.

Sungguh keliru orang yang mengatakan bahwa tidak ada
perbedaan antara Sunni dan Syi'ah, kecuali sebagaimana
perbedaan yang terjadi antara madzhab yang empat
(Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali) dan 
masalah-masalah furu'iyah ijtihadiyyah!

Ketahuilah bahwa Syi'ah adalah agama di luar Islam.
Perbedaan antara kita kaum Muslimin dengan Syi'ah
sebagaimana berbedanya dua agama dari awal sampai
akhir yang tidak mungkin disatukan, kecuali salah
satunya 
meninggalkan agamanya.

Agar para pembaca mengetahui bashirah (yakni hujjah
yang kuat dan terang naqliyyun dan aqliyyun) bahwa
Syi'ah adalah dien/agama, maka di bawah ini kami
tuliskan sebagian dari aqidah Syi'ah yang tidak
seorang Muslim pun meyakini salah satunya melainkan
dia telah keluar dari Islam.

1. Mereka mengatakan bahwa Allah Ta'ala tidak
mengetahui bagian tertentu sebelum terjadi. Dan mereka
sifatkan Allah Ta'ala dengan al-Bada' yakni Allah
Subhanahu wa Ta'ala baru mengetahui sesuatu setelah
terjadi.

2. Tahriful Qur'an (Perubahan Al-Qur'an). Yakni mereka
mengi'tiqadkan telah terjadi perubahan besar-besaran
di dalam Al-Qur'an. Ayat-ayat dan surat-suratnya telah
dikurangi atau ditambah oleh para shahabat Nabi 
Shallallahu 'Alaihi Wasallam di bawah pimpinan tiga
khalifah yang merampas hak ahlul bait, yaitu Abu
Bakar, 'Umar dan 'Utsman radhiallahu 'anhum ajmain.

 Salah satu ayat yang dibuang menurut versi Syi'ah
adalah ayat wilayah (kedudukan) yang terdiri dari
tujuh ayat. Kami tuliskan ayat ketujuhnya : Dan
bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan Ali termasuk
orang-orang yang menjadi saksi.


3. Mereka juga mengatakan bahwa Al-Qur'an yang ada di
tangan kaum Muslimin dari zaman shahabat sampai hari
ini tidak asli lagi. Kecuali Al-Qur'an mereka yang
tiga kali lebih besar dari Kitabullah yang mereka
namakan mushaf Fatimah yang akan dibawa oleh Imam
Mahdi.  Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman
(yang terjemahannya):

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan
sesungguhnya Kami-lah yang benar-benar
memelihara/menjaganya." (Al-Hijr: 9).

(Al-Qur'an) yang tidak datang padanya kebathilan baik
dari depan maupun belakangnya, yang diturunkan ALLAH
Yang Maha Bijaksana (lagi) Maha Terpuji."
(Fush-shilat : 42).

Alangkah besarnya dusta dan penghinaan mereka terhadap
Al-Qur'an. Allah Subhanahu wa Ta'ala tegaskan bahwa
Al-Qur'an di dalam pemeliharaan-Nya dan tidak akan
kemasukan satupun yang bathil dari segala jurusan.
Akan 
tetapi mereka mengatakan bahwa Al-Qur'an telah diubah
oleh tangan-tangan manusia, yaitu para shahabat.


4. Mengadakan penyembahan terhadap manusia. Mereka
bersikap berlebih-lebihan terhadap imam-imam mereka,
sehingga mereka tinggikan sampai kepada derajat
uluhiyyah (ketuhanan). Untuk itu, mereka telah
berbohong atas nama shahabat besar ahlul jannah, Ali
bin Abi Thalib bersama istrinya (Fatimah puteri Nabi
Shallallahu 'Alaihi Wa Aalihi Wasallam) dan kedua 
orang anaknya (Hasan dan Hushain) dan seluruh ahlul
bait. Lihatlah kepada sebagian perkataan ulama mereka
tentang Ali bin Abi Thalib yang kata mereka -secara
dusta- telah mengatakan:

Demi Allah. Sesungguhnya akulah yang bersama Ibrahim
di dalam api, dan akulah yang men-jadikan api itu
dingin dan selamatlah Ibrahim. Dan aku bersama Nuh di
dalam bahtera (kapal), dan akulah yang
menyelamatkannya 
dari teng-gelam. Dan aku bersama Musa, lalu aku
ajarkan ia Taurat. Dan akulah yang membuat Isa dapat
berbicara di waktu masih bayi dan akulah yang
mengajarkannya Injil. Dan aku bersama Yusuf di dalam
sumur, lalu 
aku selamatkan ia dari tipu daya saudara-saudaranya. 

Dan aku bersama Sulaiman di atas permadani (terbang),
dan aku-lah yang menundukkan angin untuknya).

(Dinukil dari kitab Syi'ah wa Tahrifu al-Qur'an oleh
Syaikh Muhammad Malullah halaman 17, nukilan dari
kitab al-Anwaaru an-Nu'maaniyyah (I/31) salah satu
kitab terpenting Syi'ah).

Sekarang lihatlah apa yang dikatakan Khomeini,
pemimpin besar agama Syi'ah di dalam kitabnya
al-Hukuumatu al-Islamiyyah (hal. 52):

"Dan sesungguhnya yang terpenting dari madzhab kami,
sesungguhya imam-imam kami mempunyai kedudukan (maqam)
yang tidak bisa dicapai oleh seorang pun malaikat yang
muqarrab/dekat dan tidak oleh seorangpun Nabi yang 
pernah diutus."

Maksudnya, imam-imam mereka itu jauh lebih tinggi dari
para malaikat dan sekalian Nabi yang pernah diutus. 

Inilah salah satu penghinaan terbesar Khomeini kepada
seluruh Malaikat dan para Nabi semuanya (termasuk 
Jibril dan Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
berpegang kepada keumuman lafadz yang diucapkan
Khomeini). Sangat tidak pantas seorang pemuda 
Ahlus Sunnah mengidolakan orang seperti ini, bahkan
sampai memajang posternya di dalam kamarnya.

Mereka pun meriwayatkan secara dusta atas nama Ali:
Dan akulah yang menghidupkan dan memati-kan. (Syi'ah
wa Tahrifu al Qur'an, hal 17).

Lihatlah! Bagaimana mereka samakan Ali dengan Namrud
dan Fir'aun yang mengaku sebagai tuhan yang
menghidupkan dan mematikan.


5. Di antara I'tiqad Syi'ah yang terpenting dan
menjadi salah satu asas agama mereka adalah aqidah
raj'ah, yaitu keyakinan hidup kembali di dunia ini
sesudah mati, atau kebangkitan orang-orang yang telah
mati di 
dunia.

Peristiwanya terjadi ketika Imam Mahdi mereka bangkit
dan bangun dari tidur panjangnya yang sampai sekarang
telah seribu tahun lebih (karena selama ini ia
bersembunyi di dalam gua). Kemudian dihidupkanlah
kembali seluruh imam mereka dari yang pertama sampai
yang terakhir tanpa terkecuali Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Aalihi Wasallam dan putri beliau 
Fatimah.

 Kemudian dihidupkan kembali pula musuh-musuh Syi'ah
yang terdepan yakni Abu Bakar, Umar dan Utsman dan
seluruh shahabat dan seterusnya. Mereka semua akan
diadili, kemudian disiksa di depan Rasulullah 
Shallallahu 'Alaihi Wa Aalihi Wasallam karena telah
mendzalimi ahlul bait, merampas imamah dan seterusnya.

(Lihat kitab mereka, Haqqul Yaqin, Hal. 347).

Agidah Raj'ah ini terang-terangan telah mendustakan
isi Al-Qur'an diantaranya firman ALLAH Subhanahu wa
Ta'ala (yang terjemahannya):

"Dan di hadapan mereka (orang-orang yang telah mati)
ada alam kubur sampai hari mereka dibangkitkan (yakni
hari kiamat)."

Ayat yang mulia ini menegaskan bahwa orang yang telah
mati akan hidup di alam barzakh (alam kubur) dan tidak
akan hidup lagi di dunia sampai mereka dibangkitkan
nanti pada hari kiamat.


6. Pengkafiran kepada seluruh shahabat Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Aalihi Wasallam, kecuali
beberapa orang seperti Ali, Fatimah, Hasan 
dan Hushain dan..Mereka merendahkan para shahabat
dengan caci maki dan laknat dalam melawan firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala yang banyak memuji para shahabat
di antaranya keridhaan Allah kepada mereka radhiallau 
'anhum ajmain.


7. Taqiyyah. Berkata Mufid dalam kitabnya Tashhiih
al-I'tiqaad, menerangkan pengertian taqiyah dikalangan
Syi'ah:

"Taqiyah adalah menyembunyikan kebenaran dan menutupi
keyakinannya, serta menyem-bunyikannya dari
orang-orang yang berbeda dengan mereka dan tidak
menampakkannya kepada orang lain karena dikhawatirkan
akan 
berbahaya terhadap aqidah dan dunianya."

Ringkasnya, taqiyah adalah berdusta untuk menjaga
rahasia. Hakekat Syi'ah memang terka-dang sulit
diketahui para pengikutnya sendiri. Itu semua
dikarenakan aqidah taqiyah dan kitman (sikap menjaga
rahasia) yang ada pada mereka.

 Bahkan terkadang mereka berpenampilan seolah-olah
mencintai Ahlus Sunnah, sehingga semua ini menjadikan
orang-orang yang polos di kalangan Ahlus Sunnah
tertipu dan terpedaya oleh mereka.

Syi'ah mensyari'atkan dusta yang merupakan aqidah yang
harus dipercayai dan bahkan masuk dalam rukun iman,
sebagaimana disebut-kan dalam kitab mereka:

"Kulani menukil dari Abdullah, ia berkata: Taq-walah
atas agamamu dan berhijablah dengan "taqiyah", maka
sesungguhnya tidak sempurna iman seseorang apabila
tidak berdusta (taqiyah). 

(Ushulul Kaafi hal. 483. Al Kaafi merupakan salah satu
kitab pegangan pokok mereka dalam hal aqidah dan agama
Syi'ah Imamiah).

Kulaini mengatakan dari Abdullah ia berkata: Adalah
Bapakku mengatakan: 

"Dan apakah yang dapat menenangkan pikiranku selain
berdusta (taqiyah).

Sesungguhnya taqiyah adalah surga bagi orang yang
beriman." 

(Ushul Al-Kaafi hal.484).

Jagalah agama kalian dan lindungilah dengan taqiyah,
sesungguhnya tidak beriman bagi siapa yang tidak
bertaqiyah. 

(Al Kulani dalam Ushul Al-Kafi, I/218).




Rafidhah (Syi'ah) memandang wajibnya menggunakan
taqiyah terhadap kaum Muslimin. Dengan taqiyah, seakan
mereka menunjukkan iltizam-nya tehadap hukum Islam. 

Saling meno-long dengan dasar cinta dan kasih sayang 
dengan kaum Muslimin. Padahal kenyataannya mereka
berlepas diri dari kaum Muslimin.

Mere-ka menganggap bahwa Ahlus Sunnah lebih kafir
daripada orang-orang Yahudi, Majusi dan Musyrik.
Mereka juga memandang bahwa mereka tidak mungkin
bertemu dengan kaum Muslimin dalam masalah agama.
Seperti yang 
dijelaskan oleh Ni'matullah al-Jazairi, ia berkata: 

"Sesungguhnya kita tidak bertemu dengan mereka atas
satu ilah (sembahan), tidak pula atas satu nabi dan
tidak pula atas satu imam. Yang demikian itu karena
mereka mengatakan bahwasanya Tuhan mereka adalah yang
mengutus Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai
nabinya dan mengangkat Abu Bakar sebagai khalifahnya. 

Sedangkan kami tidak mengatakan dengan Tuhan yang
demikian itu dan tidak pula dengan nabinya. Akan
tetapi yang kami katakan bahwa Tuhan yang mengangkat
Abu Bakar bukanlah Tuhan kita, tidak pula nabi
tersebut adalah nabi kita."

(Ash-Shirath al-Mustaqim Ila Mustahqi at-Taqdim,
III/73).

Oleh karena itu mereka menyelisihi kaum Muslimin dalam
segala perkaranya.

Menjadikan hal demikian sebagai prinsip mereka yang
paling penting, dan mereka membangun agamanya atas
prinsip tersebut. Seperti yang diriwayatkan oleh
ash-Shadiq dari Ali bin Absath, ia berkata:

 "Aku berkata kepada Radha 'Alaihissalaam :

 'Aku memiliki masalah, tetapi aku tidak memperoleh
pemecahannya. Sedang di negeri tersebut tidak
seseorang pun ulama kita (Syi'ah). Radha menjawab:

 'Datanglah kepada ahli fiqh yang ada di negeri itu,
lalu mintalah fatwa berkenaan dengan masalahmu. Tapi 
ambillah kebalikannya. Karena, kebenaran itu ada pada
kebalikan (pernyataan fatwa) tersebut." 

(Dikutip dari kitab mereka Al-Anwar An-Nu'maniyah 
II/278).

Menurut Khomeini, imannya orang Syi'ah tidak sempurna
kecuali bila ia telah berbeda dengan Ahlus Sunnah wal
Jama'ah (Al-Hukumat al-Islamiyyah hal. 83).

Berkata Ash-Shadiq; "Ayahku berkata dalam suratnya:
'Janganlah engkau bermakmum shalat kecuali pada dua
macam orang. Pertama orang yang engkau percayai agama
dan kewaraannya. Kedua, orang yang engkau khawatirkan 
pedang, kekerasan, dan kekejiannya terhadap
agama-(mu). Shalatlah di belakangnya dengan cara
taqiyah dan berpura-pura." 

(Dikutip dari kitab mereka Man laa yahdhuruhu
al-Faqiih, I/265).

Syaikh mereka Majlisi meriwayatkan dari Abi Abdillah,
bahwasanya ia pernah berkata:

 ....... Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam
bersabda:

"Diperintahkan supaya bertaqiyah....." 

(Kitab Syi'ah, Bihar al-Anwar,XXIV/47)

Inilah kepalsuan yang sangat besar terhadap kedudukan
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan terhadap
keluarga-nya dan kerabatnya. 

Seandainya kita menerima bahwa ahlul bait takut
terhadap para penguasa, maka siapakah yang ditakuti
oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan 
kepada siapakah beliau pernah bertaqiyah? Padahal
beliaulah yang tegak menentang kaum kafir Quraisy dan
para pembesarnya. Beliau hadapi mereka, beliau
selisihi agamanya serta beliau seru mereka untuk
beribadah 
kepada Allah semata. Jadi mengaitkan taqiyah kepada
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan keluarganya
merupakan dusta yang sangat besar.



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/WwRTUD/SOnJAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in 
any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved 
otherwise. 

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily 
digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your 
mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the 
title "change to daily digest".  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/hidayahnet/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke