|
Salam,
Di dalam teknik pembelajaran yang ada,
sudah di kenal luas bahwa ada beberapa tahap
pembelajaran
1. Pembelajaran tentang obyeknya
(WHAT)
2. Pembelajaran bagaimana cara berpikirnya
(WHY)
3. Pembelajaran bagaimana menggali ilmu dari ilmu
yang sudah ada (WHY 5x, Dig & Deeper & HOW)
4. Pembelajaran bagaimana menemukan ilmu baru
(HOW)
umumnya yang pembelajaran yang sekarang ini adalah
baru sampai pada tahap WHAT, pembelajaran tentang obyek..
sehingga apabila metodenya tidak tepat, tidak tepat
pula di dalam memahami sebuah obyek tersebut..
Obyek----- di teliti dengan menggunakan
metode-----metode menggunakan sebuah metodologi------metodologi berawal dari
sebuah konsepsi..
begitu,
kemapanan2 yang sudah ada, biasanya berangkat dari
asumsi bahwa tidak ada yang salah dari konsepsinya, tidak ada yang salah dari
metodologinya, tidak ada yang salah dari metodenya, sehingga sebuah obyek yang
diteliti sudah pasti adalah demikian...
Nah sebagian orang mengkritisi masalah penafsiran
hasil dari metode (tentang obyek) dan hanya sebagian kecil yang mengkritis
masalah metodenya, sangat sediikit yang mengkritis masalah metodologinya apalagi
sangat2 sedikit yang mengkritisi masalah konsepsinya..
Demikianlah,
sudah waktunya bagi kita untuk meningkatkan proses
pembelajaran bukan hanya berhenti pada mempelajari obyeknya saja, melainkan
mulailah meningkat pada pembelajaran cara berpikirnya dan meningkat lagi
mendalami bagaimana menggali lebih dalam sebuah ilmu dan kemudian mendalami cara
bagaimana menemukan ilmu baru...
cara pembelajaran ini bisa diterapkan pada semua
ilmu,
sebagai contoh, ketika kita mempelajari ilmu
hadits,
kita biasanya akan terpaku pada obyeknya, yaitu
tentang sebuah hadits tersebut (WHAT), tetapi jarang yang mempertanyakan tentang
bagaimana menentukan penilaian atas sebuah hadits tersebut, apakah Shahih,
Hasan, DHoif, Maudhu atau Mursal...
Ketika cara pembelajaran kita
tingkatkan,
maka kita akan bertemu dengan METODE penilaian
hadits, yakni dengan menggunakan SANAD dan MATAN,
didalam pembelajaran yang ke 2 yaitu WHY, maka
pertanyaannya adalah WHY (Mengapa) metode yang dipakai cuman SANAD (rantai
silsilah) dan MATAN (isi)...
adakah kelemahan METODE ini? atau adakah alternatif
METODE yang lainnya ?
pembelajaran yang kedua ini, memang bersifat
menguji, meragukan sesuatu yang sudah mapan, untuk kemudian mengetahui apakah
sebuah metode itu masih bisa dipertahankan ataukah tidak.
ini belum masuk pada proses pembelajaran yang ke
3...
Tapi biasanya, sampai di tahap pembelajjaran yang
ke 2 ini saja sudah menimbulkan kericuhan, pro kontra,dll, sebab status quo,
kemapanan, dan kecondongan orang2 yang lebih senang untuk tidak berubah, alias
tidak menginginkan sebuah kebenaran yang lebih tinggi nilainya, menganggap cara
pembelajaran yang ke 2 ini memporak porandakan kemapanan...bahkan ada yang
mungkin menganggap pembelajaran yang ke 2 ini memporakporandakan
keyakinan....
Bagaimanapun, pemilihan METODE adalah dibuat
manusia yang mungkin saja benar dan mungkin saja salah...
mengapa tidak kita coba membuka mata dan pikiran,
untuk kemudian melihat,
adakah kemungkinan untuk menyempurnakan METODE nya
?
moga-moga sedikit tulisan ini
bermanfaat
meski hanya sebuah diskursus
(wacana)...
sebuah critical discourse
salam
huttaqi
-------------------------------------------------------------------------- All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise. If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".
Yahoo! Groups Links
| ||||||||||||||||||||||||
