Salam~

 

Bagi kaum Muslim, Rasulullah SAW jelas menempati tempat yang sangat istimewa.  Betapa tidak, Rasulullah SAW telah menyelamatkan umat manusia dari kehancurannya dengan membawa risalah Islam dari Allah SWT. Dengan risalah yang diperjuangkan, dikembangkan dan diterapkan oleh Rasulullah SAW, Islam hadir di tengah-tengah manusia.

 

Rasulullah SAW adalah pemimpin segala bidang. Ia pemimpin umat di masjid, di dalam pemerintahan, juga di medan pertempuran. Ia tampak seperti psikologi yang mengubah jiwa manusia yang biadab menjadi beradab. Ia juga seorang politikus yang berhasil menyatukan suku-suku bangsa hanya dalam waktu kurang dari 25 tahun. Ia juga pemimpin ruhani yang melalui aktiviti peribadahannya telah mengantarkan jiwa pengikutnya ke alam kelazatan samawiyah dan keindahan suasana ilahiyah.

 

Bahkan sahabat sendiri sukar menceritakan bagaimana kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW ketika seorang Yahudi datang menemui Khalifah Umar bin Khaththab ra. yang bertanya kepadanya tentang akhlaq Rasulullah, Umar tidak mampu menjawabnya dan menyuruh Yahudi itu menemui Bilal ra. Bilal pun sama. Dia menyuruh Yahudi itu mendatangi Ali bin Abi Thalib yang sejak kecil sudah mengenal Rasulullah SAW bahkan ia sering tidur bersama beliau. Ali malah balik bertanya kepada Yahudi itu, �Lukiskanlah keindahan dunia ini, akan aku gambarkan kepadamu akhlaq Nabi Muhammad SAW.�

 

Laki-laki itu menyatakan, ia tidak sanggup. Ali pun menjawab, �Kamu tidak mampu melukiskan keindahan dunia ini, padahal Allah SWT telah menyaksikan betapa kecilnya dunia ini ketika Dia berfirman: Katakanlah : keindahan dunia ini kecil. (QS an-Nisa� [4]: 77).�

 

Ertinya, menggambarkan keindahan dunia yang sebenarnya kecil ini saja sulit, apalagi menggambarkan keluhuran dan kemuliaan Rasulullah SAW.

 

Para penulis non-Muslim pun mengakui kebesaran Rasulullah SAW. Antaranya ada frasa menukilkan,

 

Dia datang seperti sepercik sinar dari langit jatuh ke padang pasir yang tandus, kemudian meledakkan butir-butir debu menjadi mesiu yang membakar angkasa dari Delhi sampai Granada� tulis Thomas Carlyle dalam On Heros and Hero Workship.

 

Bahkan, Michael Hart dalam bukunya, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh di Dunia, menempatkan Muhammad sebagai urutan yang pertama. �Dia adalah orang yang paling berpengaruh sepanjang sejarah kehidupan manusia lebih dari Newton dan Jesus atau siapa pun di dunia ini� tulisnya.

 

Berbagai cara kemudian ditunjukkan oleh umat Islam sebagai luahan kecintaannya kepada Rasulullah SAW. Di masyarakat kita berkembang acara muludan untuk memperingati kelahiran Rasulullah SAW. Ada pula acara pembacaan barzanji yang berisi kisah-kisah Rasulullah SAW. Lagu-lagu salawat Rasul yang berisi puji-pujian kepada beliau pernah sangat digemari. Wujud kecintaan kepada Rasulullah SAW. pun ditunjukkan dengan usaha meniru akhlaq beliau. Semua itu sebahagian besar kerana didorong oleh kecintaan kepada Rasulullah SAW. 

 

Namun, tidak jarang pula cara menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah SAW. ditunjukkan dengan cara keliru yang justeru bertentangan dengan ajaran beliau  sendiri. Di beberapa daerah, misalnya, acara mauludan diisi dengan upacara khusus yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW, bahkan boleh jatuh pada kesyirikan; misalnya memandikan benda-benda yang dianggap keramat, yang dikatakan merupakan kepunyaan wali. 

 

Padahal ibadah-ibadah upacara dalam Islam haruslah merujuk pada apa yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sebab, ibadah adalah hubungan khusus manusia dengan Allah SWT, manusia tidak boleh mereka-reka (mengada-ada) bagaimana tatacara berhubungan dengan Allah SWT tersebut. Ibadah tentu saja tidak hanya semata-mata mengikuti perasaan belaka, tetapi juga harus mengikuti bagaimana tatacara yang diperintahkan Allah SWT. Ketika Allah SWT memerintahkan solat, Dia juga menyuruh kita melaksanakannya sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah. Usaha mengada-ada tatacara ibadah inilah yang justeru boleh menjebak kaum Muslim pada perbuatan bid�ah, tahyul, dan khurafat. 

 

Demikian pula halnya dengan meniru Rasulullah SAW hanya pada satu aspek saja, misalnya akhlaqnya saja, tentunya tidak sempurna. Sebab, kita tahu, Rasulullah SAW. haruslah ditiru secara total, bukan hanya pada aspek individual atau upacaranya saja.

 

Akibat Sikap yang Keliru

 

Sedar atau tidak, menyikapi Rasulullah SAW secara keliru dan tidak sempurna di atas telah memberikan pengaruh yang buruk atas kaum Muslim. Bid�ah, tahyul dan khurafat, selain diharamkan secara tegas oleh Allah SWT,  sedikit-banyak telah menjadi faktor kejumudan dan kemunduran berfikir umat. Ibadah upacara yang tidak bersandarkan pada hukum syariat sering membuat manusia terjerumus pada sifat berlebih-lebihan, seperti sifat mengkultuskan. Padahal Rasulullah SAW sendiri mencela sifat pengkultusan ini, bahkan terhadap beliau sekalipun. Rasulullah SAW. bersabda dalam sebuah hadisnya:

 

Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam melaksanakan agama. Sesungguhnya  yang telah membinasakan bangsa-bangsa lain sebelum kalian adalah berlebih-lebihan dalam urusan agama. (HR Ahmad, an-Nasa�i, dan Ibn Majah).

 

Janganlah kalian mengkultuskan  aku sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan putera Maryam (Isa as.). (HR al-Bukhari dan Ahmad).

 

Sikap berlebih-lebihan dan kultus ini pula yang membuat pemeluk agama Nasrani menyimpang hingga menjadikan pendeta dan pemuka agama menjadi tuhan baru, di samping Allah SWT.  Mereka patuh demikian saja kepada pemuka agama mereka yang telah menjadikan yang halal menjadi haram dan yang haram menjadi halal. Mereka membiarkan manusia membuat hukum yang sesungguhnya hanya hak Allah SWT. Hal ini disebut oleh Allah SWT dalam firman-Nya : 

 

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. (QS at-Taubah [9]: 31).

 

Memandulkan Islam

 

Di samping itu, meneladani Rasulullah SAW secara parsial (sebahagian sahaja) seperti dalam aspek individualnya saja juga berpengaruh buruk pada tubuh umat. Ajaran Islam pun kemudian seakan-akan hanya meliputi aspek individual seperti solat, puasa, dan akhlaq. Akibatnya, Islam tidak berfungsi (mandul) untuk memecahkan persoalan kehidupan. Islam pun seakan-akan tidak mampu berperanan menyelesaikan kemiskinan, kebodohan, penjajahan, jenayah, dll.

 

Kerana Islam hanya dipahami sebatas ibadah upacara, maka ibadah upacara itu pun dipaksa untuk dijadikan solusi untuk memecahkan persoalan kehidupan manusia. Ibadah upacara tidak lagi dianggap sebagai ketaatan murni untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi untuk menyelesaikan persoalan manusia. Kalau mahu kaya, naik pangkat, punya pengaruh, lakukanlah solat ini dan itu, atau baca doa ini dan itu. Pergi ke kuburan bukan lagi untuk berziarah, tetapi lebih didorong untuk meraih keuntungan kebendaan. Kaum muslim pun mencukupkan diri dengan doa untuk menyelesaikan kemiskinan, jenayah, dan persoalan kehidupan lainnya. Padahal doa itu bukan thar�qah (metod) untuk menyelesaikan perkara itu. Doa hanyalah ibadah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.:

 

Doa adalah intinya ibadah. (HR at-Tirmidzi).

 

Rasulullah SAW sendiri telah mencontohkan, beliau demikian sering berdoa secara khusyuk dan sungguh-sungguh, tetapi beliau tetap tidak meninggalkan hukum kausaliti (sebab-akibat) untuk menyelesaikan persoalan manusia. Untuk boleh menang dalam Perang Badar, Rasulullah SAW demikian serius mempersiapkan strategi perang, meminta pendapat Hubab bin al-Mundzir tentang strategi yang terbaik, mengatur pasukan dan mempersiapkan persenjataan yang terbaik. Kemudian setelah itu beliau masuk ke bangsalnya seraya meminta pertolongan kepada Allah. Saat itu beliau banyak sekali berdoa hingga Abu Bakar berkata, �Wahai Rasulullah, sebahagian doamu ini telah cukup.�

 

Untuk mempertahankan Madinah dari serangan musuh, Rasullullah bersama kaum muslim bekerja keras menggali parit (khandak). Dalam enam hari Rasulullah SAW turun langsung, bercucuran keringat dan bekerja keras; tidak hanya berdoa.

 

Ketika beliau hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar, Rasulullah senantiasa berdoa kepada Allah agar diberikan keselamatan. Akan tetapi, Rasulullah tetap tidak meninggalkan thar�qah (metod) dengan memenuhi sebab-sebab yang mungkin beliau lakukan agar beliau selamat. Untuk itu, beliau menyuruh Ali bin Thalib ra. tidur pada tempat tidurnya. 

 

Untuk menyelesaikan persoalan jenayah di tengah-tengah masyarakat Rasulullah SAW juga tidak menyandarkan pada doa atau ibadah, apalagi pada seruan moraliti atau akhlaq belaka.  Rasulullah SAW memberlakukan sanksi hukum yang tegas atas pelakunya. Rasulullah SAW menghukum orang-orang Yahudi yang telah membunuh seorang lelakiyang membela seorang wanita muslimah di pasar Madinah. Ghamidiyah dan Maiz dihukum rejam sampai mati oleh Rasulullah SAW ketika mereka mengaku sendiri telah berzina.

 

Memalingkan Umat, Mengukuhkan Sekularisme  

 

Sedar atau tidak, dalam mencintai Rasulullah SAW dengan mengikutinya hanya pada satu aspek saja telah mengukuhkan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) di dunia Islam. Sebab, hal tersebut telah membuat hukum-hukum Allah SWT yang lain diabai. Tidak sedikit kaum muslim yang merasa cukup kalau dia telah menunaikan solat atau ibadah haji. Sebaliknya, mereka menolak ketika diajak untuk menerapkan Islam dalam ekonomi atau politik; seakan-akan politik dan ekonomi luput dari perhatian dan pengaturan Islam.

 

Implikasi dari pengukuhohan sekularisme ini adalah semakin lestarinya penjajahan atas kaum muslim. Kerana tidak mengerti atau menolak syariat Islam di bidang politik, tidak sedikit kaum muslim yang lebih memilih demokrasi dan memujinya sebagai idea yang paling baik (ideal) untuk manusia. Bukankah Amerika Syarikat menyerang Iraq, Iran, Syiria dan Afganistan dengan alasan demokrasi ini. Bukankah pula Timor-Timur bebas dari Indonesia akibat melaksanakan prinsip penting demokrasi, �kebebasan menentukan nasib sendiri�.

 

Kerana menolak syariat Islam dalam bidang ekonomi, jadilah ekonomi negeri Islam diatur berdasarkan prinsip dan aturan ekonomi kapitalis. Semua ini kemudian diakhiri dengan eksploitasi kekayaan negeri-negeri Islam untuk kepentingan penjajah Barat. 

 

Sekularisme ini pulalah yang menghilangkan dakwah dan jihad dalam polisi luar negeri dari negeri-negeri Islam. Mandulnya dakwah dan jihad ini jelas memandulkan Islam. Jadilah negeri-negeri Islam demikian mudah diperkotak-katikkan oleh penjajah kufur kapitalis yang rakus tanpa ada perlawanan yang seimbang dari kaum muslim.

 

Sedar atau tidak, sikap yang keliru dalam mencintai Allah dan Rasul-Nya juga telah menyebabkan kaum Muslim dilalaikan dari  persoalan utama hidup mereka, yakni menegakkan syariat Islam yang merupakan tuntutan akidah dan Khilafah yang akan menerapkan syariat Islam secara kaffah. Umat Islam lebih disibukkan oleh tugas keduniaan, upacara yang ironisnya tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

 

Kesimpulan

 

Mencintai dan meneladani Rasul sekadar aspek-aspek upacara, moral, dan personal semata adalah belum lengkap. Rasul harus diteladani secara total dan diposisikan sebagai peribadi, kepala keluarga, kepala negara, politikus, qadhi, panglima tentera, dll. Memuliakan Rasulullah SAW adalah dengan berpegang teguh pada semua ajaran yang dibawanya. Allah SWT. berfirman:

 

Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai. (QS Ali Imran [3]: 103).

 

Tali Allah pada ayat ini adalah Dinul Islam. Masihkah perlu lagi kita berlena ?


Wallahu a�lam bissawaab.

Wassalamu�alaikum warah matullahi wabarakatuh..

 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise.

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke