Tanya Apa Masalahnya

 

Bismillahir rahmanir rahiem

 

Dulu, saya pernah mendatangi seorang setengah baya saat dia sedang duduk2 di pinggir jalan. Di dekatnya ada segelas minuman. Dari bau mulutnya saya tahu bahwa minuman itu adalah minuman keras. Sesudah berbincang sedikit tentang keadaan masing2, saya berkeinginan untuk segera menghindar darinya, dengan niat bahwa saya akan ber-bincang2 pada kali lain saat tidak ada minuman keras di sampingnya. Yang demikian adalah karena saya tidak ingin ber-lama2 menghirup bau tersebut.

 

Di luar dugaan, dia malah memeluk saya lalu menangis. Dia betul2 menangis. Sementara saya berfikir dan menghiburnya bagaimana agar dia tidak menangis, dia malah berkata, "Kenapa bapak tidak tanya apa masalah saya?" Katanya, "Tolong tanya apa masalah saya!"

 

Dia benar. Dia telah mengingatkan saya. Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa seringkali kita tidak mau tahu alasan2 apa yang menjadikan seseorang bertingkah laku jelek dan buruk. Padahal, kalau saja kita mau sedikit telaten mendengar keluhan dan cerita mereka, barangkali kita dapat membantunya untuk keluar dari masalah2-nya. Namun demikian, pengalaman menunjukkan bahwa biasanya seseorang tidak akan mau menceritakan permasalahan mereka kepada orang2 yang telah berburuk sangka ataupun memvonis salah sebelumnya.

 

Seringkali kita dapati bahwa seseorang yang dalam keadaan bermasalah menemui kebuntuan. Dia tidak dapat melihat jalan keluar yang mana orang2 yang tidak bermasalah dapat melihatnya dengan mudah. Dan seringkali pula mereka yang bermasalah merespon nasehat2 yang baik dengan ketus dan tak bersahabat. Keadaan ini sama persis dengan orang sakit yang disentuh sedikit malah marah2 (misalnya pada kasus sakit gigi). Oleh karena itu, kita memahami bahwa jika seseorang tersinggung lalu marah atas kata2 kita (padahal kita sudah berupaya membaguskannya sedemikian rupa), maka orang tersebut benar2 dalam keadaan sakit (jiwanya).

 

Barangkali kita juga lupa bahwa untuk mencapai tahapan2 tertentu kita memerlukan suatu proses tertentu dalam masa yang tertentu pula. Untuk dapat memahami bahwa 1+1=2, kita perlu belajar dan berlatih beberapa pekan. Untuk memahami bahwa kita memerlukan pakaian, maka orangtua kita mengajarkan cara2 mengenakannya, bahkan meskipun kita belum tahu tujuannya. Untuk memahami bahwa sholat adalah kewajiban setiap muslim, maka kita belajar tatacaranya dan mempraktekkannya secara istiqomah beberapa lama, bahkan meskipun kita belum tahu maksud Allah mewajibkannya bagi kita.

 

Sama halnya dengan perkara itu, untuk dapat memahami bahwa seluruh tubuh seorang wanita adalah aurat (kecuali muka dan tapak tangan), maka diperlukan proses yang tertentu atas wanita tersebut dengan dukungan lingkungan yang kondusif. Termasuk di dalamnya adalah penjelasan2 tentang manfaat, keutamaan, hikmah dan ganjaran atas pakaian yang dapat menutupi aurat mereka. Jika tidak, maka perempuan2 kita tidak akan dapat memahaminya dan mereka akan enggan untuk mengenakannya.

 

Yang lebih parah daripada itu adalah jika perempuan2 kita dibina dan dididik dalam tatanan masyarakat yang lebih mengenal budaya2 non muslim daripada syariat Islam. Mereka terbiasa dengan tampilan yang tidak sesuai dengan norma2 Islam. Sebaliknya, mereka merasa asing dengan praktek2 nyata dari agama kita, termasuk menutup aurat secara sempurna bagi kalangan wanita. Oleh karena itu, perkara ini adalah satu masalah bagi mereka. Dan jika kita tidak mau memahami akar masalah mereka, maka kita akan sulit memperoleh hikmah untuk membantu menyelesaikan masalah2 mereka.

 

Tanyakan apa masalahnya. Demikian kira2 'action' kita jika kita bertemu dengan orang2 yang menimbulkan masalah. Hal pertama yang sebaiknya dilakukan adalah berbaik sangka kepadanya dan jangan lihat tampilan atau wujud lahiriyahnya. Yang jelas, mereka yang menimbulkan masalah sebenarnya ada dalam masalah. Untuk itu buatlah keadaan dimana kita dapat bertanya kepadanya dengan cara yang bersahabat, "Barangkali ada yang dapat saya bantu, apa masalahnya?" Atau kalimat2 lain yang serupa dengan itu.

 

Sesungguhnya Allah (swt) sendiri mengajarkan kita untuk membuang jauh2 prasangka jelek. Yang demikian adalah karena sebagian prasangka adalah dosa. [1] Barangkali hal ini termasuk perkara yang berat, akan tetapi siapa saja yang mau mencobanya (lagi dan lagi, artinya kalau gagal coba lagi), maka dia akan mendapatkan bahwa berbaik sangka kepada orang lain tidak saja akan membuat orang tersebut bersimpati kepada kita, tetapi juga akan menjadikan kita termasuk orang2 yang dapat berfikir dan bertindak dengan baik dan benar. Subhanallah.

 

Subhan ibn Abdullah

Pattaya, 14/06/2005

 

Catatan kaki:

[1] Hai orang2 yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu men-cari2 kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha penerima tobat lagi maha penyayang. (Qs al Hujurat 49:12)

*

http://imanyakin.modblog.com/core.mod?show=blogview&blog_id=641193




--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise.

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke