Dimana Allah?

Suatu ketika syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani pernah bertemu dengan
salah seorang pemimpin partai Islam (dari Aljazair), Ali bin Hajj. Syaikh
mengetahui sangat detail tentang kejadian yang terjadi pada mereka, dan
telah sampai berita kepada beliau bahwa partai mereka mendapat dukungan
jutaan pendukung. Diantara pertanyaan yang dilontarkan syaikh kepadanya
yaitu yang saya nukil secara ringkas disini :

Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani bertanya : "Apakah setiap orang yang
bersamamu (yang mendukung partaimu) mengetahui bahwa Allah bersemayam di
atas Arsy?


Setelah terjadi dialog, dimana Ali bin Hajj berupaya untuk lari dari
pertanyaan syaikh al-Albani, dan syaikh-pun berupaya untuk menutup jalan
keluar dari pertanyaan diatas, dia menjawab pertanyaan beliau dengan
mengatakan : "Kami berharap demikian."
Syaikh berkata kepadanya : "Tinggalkan jawabanmu yang bersifat politis ini!"
Lalu, diapun menjawab dengan tegas bahwasanya mereka tidak mengetahui hal
itu. Maka, syaikh berkata : "Cukuplah bagiku jawabanmu ini!"


Prinsip Tasfiyyah (pemurnian) dan Tarbiyyah (mendidik) mengharuskan
pertanyaan diatas yang merupakan barometer yang paling tepat. Dengannya akan
diketahui hakekat berbagai dakwah/jama'ah-jama'ah pada zaman ini yang
menyerukan jihad. Sebab, orang yang tidak mampu memurnikan akidah para
pendukung dan pecintanya, tentu ketidak mampuannya akan lebih nampak pada
pemurnian (buah dari aqidah tersebut), baik dalam akhlak, perilaku maupun
dalam berbagai amal perbuatan mereka. Padahal diantara mereka (pendukungnya)
ada orang yang membenci dan memeranginya, maka bagaimana mungkin ia dapat
membina mereka sesudah itu? Sedangkan Allah berfirman :

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka
mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (ar-Ra'd : 11)


Selanjutnya, jihad itu sendiri tidak akan terwujud kecuali dengan sebuah
umat yang hati mereka bersatu. Karena bersatunya hati akan sangat menunjang
bagi perolehan kemenangan, sebagaimana firman Allah :

"Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang
mu'min, dan yang mempersatukan hati mereka." (al-Anfaal : 62-63)

Sedangkah hati-hati itu, jika tidak disatukan diatas aqidah salafus shalih,
niscaya mereka akan selalu berada dalam perselisihan yang tidak akan mungkin
dapat disatukan dengan persatuan mereka melalui kotak-kotak pemilihan umum.

Allah berfirman dengan mengarahkan firman-Nya kepada para Sahabat Nabi,
semoga ridha Allah atas mereka :

"Maka jika mereka beriman kepada apa yang telah kamu beriman kepadanya,
sungguh mereka telah mendapat petunjuk ; dan jika mereka berpaling,
sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan denganmu." (Al-Baqarah : 137)


Bagaimanapun yang telah diupayakan oleh para "Buih politik" itu, berupa
pengumpulan (masa pendukung), namun sesungguhnya permulaan aqidah mereka
mengarah kepada suatu sikap "Tamyi" (sikap menerima siapa saja yang
mendukung mereka tanpa memperhatikan aqidah yang dianutnya) dan akan
berakhir dengan perpecahan dan saling membid'ahkan.

Hal itu disebabkan karena pertemuan/persatuan yang bersifat jasmani tidak
akan terwujud, kecuali hanya bersifat sementara bilamana ikatan hati
bercerai-berai. Dan saya tidak menjumpai suatu sifat (gambaran) yang lebih
tepat dan benar untuk menggambarkan kondisi mereka, daripada apa yang telah
difirmankan Allah perihal orang-orang Yahudi :

"Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat. Kamu mengira mereka itu
bersatu, padahal hati-hati mereka terpecah-belah." (al-Hasyr : 14)


Intinya, bahwa Allah telah menjadikan kekuasan yang baik bagi hamba-Nya yang
beribadah kepada-Nya saja. Tanpa menyekutukan-Nya, Allah berfirman :

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang
sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama
yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar
(keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman
sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan
sesuatu apapun dengan-Ku. (an-Nur : 55)


Bagian terdepan ayat ini tidak boleh ditolak dengan memberikan
perumpamaan-perumpamaan sejarah untuk membatalkannya, karena seorang muslim
adalah orang yang senantiasa berhenti pada nash (ayat al-Qur'an dan hadits
Rasulullah), lagi pula Allah telah berfirman :

"Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (an-Nahl : 74)

Adapun pembatasan syaikh al-Albani akan pertanyaannya pada masalah istiwa
(bersemayamnya Allah diatas singgasana-Nya) disebabkan karena masalah istiwa
merupakan persimpangan jalan yang memisahkan antara ahlussunnah dan para
pengikut hawa nafsu. Lagi pula ia merupakan masalah aqidah yang mudah lagi
gampang diketahui oleh masyarakat yang hidup bersama Nabi, yang mana mereka
telah menaklukkan dunia ini dan memimpin umat-umat yang beraneka ragam.
(Aqidah ini telah diketahui oleh mereka). Bahkan oleh seorang wanita
penggembala kambing sekalipun.

Ujian itu dilakukan oleh syaikh al-Albani dengan menanyakan masalah ini
kepada pemimpin partai politik tersebut, yang beranggapan bahwa partainya
telah sempurna agamanya dan berada di atas garis kejahilan (orang-orang yang
hidup) di zamannya. Ujian ini merupakan jalan atau cara yang ditempuh oleh
para salafus shalih, meskipun dibenci oleh setiap khalaf (orang yang datang
sesudah mereka) yang tidak menempuh jalan dan cara mereka.

Imam Muslim dan lainnya telah meriwayatkan dari Muawiyyah bin al-Hakam
as-Sulami ia berkata :

"Aku memiliki sekawanan kambing yang berada diantara gunung Uhud dan
Jawwaniyah, disana ada seorang budak wanita. Suatu hari aku memeriksa
kambing-kambing itu, tiba-tiba aku dapati bahwa seekor serigala telah
membawa (memangsa) salah satu diantara kambing-kambing itu, sementara aku
seorang manusia biasa, aku menyesalinya, lalu aku menampar wanita itu.
Kemudian kudatangi Nabi r dan kuceritakan kejadian tersebut kepadanya,
beliaupun membesarkan peristiwa itu atasku, maka kukatakan (kepadanya) :
'Wahai Rasulullah, tidakkah (lebih baik) aku memerdekakannya?' Beliau
berkata : 'Panggillah ia!' Lalu aku memanggilnya, maka beliau berkata
kepadanya : 'Dimana Allah?' Wanita itu menjawab : 'Diatas'. Beliau bertanya
lagi : 'Siapakah aku?' Ia menjawab : 'Engkau adalah utusan Allah!' Beliau
berkata : 'Bebaskanlah (merdekakanlah dia)! karena sesungguhnya dia adalah
seorang wanita yang beriman'." (Ahmad V/447, Muslim No. 537)


Maka, perhatikanlah dengan seksama masyarakat tersebut (semoga Allah
merahmati anda), yang mana Rasulullah berjihad bersama mereka, aqidah mereka
sempurna (merata) hingga pada para penggembala kambing, yang mana perjumpaan
(pergaulan) mereka dengan Rasulullah hanya sedikit, seperti wanita
penggembala kambing ini. Dan cobalah anda perhatikan dengan seksama realita
masyarkat Islam di zaman ini memanjat kursi-kursi kekuasaan, -jika anda
memperhatikan dengan seksama- pasti akan anda dapatkan perbedaan yang sangat
jauh antara jihad (perjuangan) mereka dengan perjuangan masyarakat muslimin
yang pertama.

Maka, mampukah kelompok-kelompok jihad itu menyatukan para pengikut (mereka)
diatas aqidah "ainallah" (dimana Allah)?


Ataukah pertanyaan ini sudah menjadi sesuatu yang ditertawakan dan jarang
dipertanyakan oleh kelompok-kelompok itu di zaman yang telah dipengaruhi
kemajuan ini? Ataukah pertanyaan ini telah menjadi sesuatu yang
diperolok-olokan oleh para pengasuh jama'ah-jama'ah itu? Ataukah mereka
telah memahami pentingnya berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah,
meskipun mereka menyia-nyiakan Allah ?


Maka, kapankah Allah akan mengizinkan untuk melepaskan, membebaskan dan
memerdekakan mereka dari orang-orang yang menghinakan mereka sebagaimana
telah dibebaskannya budak wanita itu setelah ia mengenal Allah ?

"Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahuinya." (Yusuf : 21)


Hakikat pertanyaan ini (dimana Allah) adalah upaya untuk menampakkan
hakikat/jati diri dakwah-dakwah itu serta memperjelas, sejauh mana
keikhlasan niat-niat (mereka). Sebab, dalam perhatian yang dicurahkan pada
permasalahan hukum mengandung perhatian terhadap syariat dan dalam perhatian
yang dicurahkan kepada masalah istiwa' (bersemayamnya Allah diatas
'Arsy/singgasana-Nya), mengandung perhatian terhadap hak Allah. Namun,
diantara kedua perhatian diatas terdapat perbedaan, yaitu bahwasannya pada
perhatian yang pertama (terhadap hukum) seorang hamba memperoleh bagian
untuk dirinya berupa apa yang sering diucapkan diatas lisan, seperti
pengembalian segala sesuatu yang diambil secara zhalim (kepada pemiliknya),
pemenuhan segala hak-hak (bagi mereka yang berhak menerimanya) dan kehidupan
yang senantiasa tercukupi yang benar-benar telah dijanjikan Allah dalam
firman-Nya :

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah
Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi" (al-A'raaf
: 96)


Artinya, bagian (hak) seorang hamba bercampur (berhubungan erat) dengan hak
Allah. Adapun perhatian terhadap "Sifat istiwa' Allah diatas singgasana-Nya"
merupakan perhatian yang murni terhadap hak Allah semata. Seorang yang
mengajak menusia kepada penetapan dan iman kepada sifat ini tidak mendapat
bagian untuk kepentingan pribadinya sendiri sedikitpun.

Maka, perhatikanlah secara seksama perbedaan ini, pasti anda akan mengetahui
kemuliaan sebuah keikhlasan. Sebab, dengungan seputar permasalahan "Hukum
sesuai dengan apa yang diturunkan Allah " yang disertai dengan sikap
menganggap enteng terhadap permasalahan sifat-sifat Allah yang murni atau
mengakhirkannya atau menjadikannya sebagai suatu masalah yang berada pada
urutan terakhir, semua itu merupakan bukti terbesar yang menunjukkan bahwa
pada urutan tersebut terdapat suatu cacat. Padahal sifat-sifat Allah adalah
sesuatu yang paling mulia yang diturunkan-Nya, karena kemuliaan suatu ilmu
tergantung pada kemuliaan yang dipelajari dalam ilmu tersebut. Sebagaimana
yang telah disebutkan di atas.


Semua ini semakin memberi penekanan yang kuat kepada kita akan pentingnya
merujuk (kembali) kepada dakwah / ajakan para Nabi alaihimussalam yang telah
menyatakan kepada umat-umat mereka :

"Beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tak ada ilah (yang sebenarnya)
bagimu selain Dia." (al-A'raaf : 59)


Maka, dahulukanlah perhatian terhadap kesyirikan yang terjadi di
kuburan-kuburan atas kesyirikan yang terjadi di istana-istana, jika ungkapan
ini pantas untuk diucapkan, oleh sebab itulah, maka masalah imamah
(kekhalifahan/kepemimpinan) bukan merupakan bagian dari rukun-rukun iman,
renungkanlah !!!





---------------------------------------------------------------------------------

The message represents the personal views and opinion of the individual
sender and under no circumstances represents those of Hutchison Port 
Holdings Limited ("HPH") or its Group Companies. The shareholders,
directors and management of HPH and any of its Group Companies 
accept no responsibility and accordingly shall have no liability to 
any party whatsoever with respect to the contents of this message.
 
This message (including any attachments) is intended only for the use 
of the addressee(s) named above. It may contain information that is 
PRIVILEGED and CONFIDENTIAL and should not be read, copied or 
otherwise used by any other person.
 
If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any 
use, retention, disclosure, copying, printing, forwarding or 
dissemination of this communication is strictly prohibited. If you have 
received this communication in error, please erase all copies of the 
message and its attachments and notify us immediately.

---------------------------------------------------------------------------------





--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in 
any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved 
otherwise. 

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily 
digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your 
mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the 
title "change to daily digest".  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/hidayahnet/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke