|
Kedudukan Tulisan Dalam Kerja Dakwah Bismillahir rahmanir rahiem Asas dari kerja dakwah adalah meninggikan kalimah Allah, laa
ilaaha illallaah. Langkah awalnya adalah dengan memberitahu (mereka yang belum
tahu) atau mengingatkan (mereka yang sudah tahu) dengan cara memberi penerangan
dan penjelasan tentang siapakah Allah Tuhan kita, bagaimana sifat2-Nya, apa
kehendak-Nya, apa rencana-Nya dan apa janji2-Nya. Langkah selanjutnya adalah
mengajak mereka untuk berbakti kepada-Nya saja dengan kebaktian yang sesuai
dengan teladan Rasulullah (saw). Cara terbaik untuk melakukan kerja dakwah adalah dengan
gerak. Adapun gerak yang dimaksud meliputi keseluruhan gerak kaki (melangkah
kepada manusia), gerak tangan (memberi infak, zakat, sedakah atau hadiah),
gerak mulut (berbicara tentang kebesaran Allah), gerak telinga (memasang
telinga termasuk untuk mendengar kesulitan2 manusia), gerak wajah (dengan
berusaha menampilkan mimik yang baik), gerak mata (dengan mengatur sorot mata
yang bersahabat) dan gerak2 lain yang merupakan bahasa yang dapat dimegerti
oleh kebanyakan manusia. Dan Rasulullah (saw) adalah contoh terbaik dalam
urusan ini. Sebagaimana kita menyadari, lisan adalah alat komunikasi
utama yang Allah (swt) anugerahkan kepada manusia. Dengan kesepakatan2 yang
tertentu dan pada kelompok2 yang tertentu, maka kombinasi dari berbagai suara
dan nada dapat dipahami sebagai kata2 atau kalimat2 yang memiliki pesan2 dan
kesan2 yang khas. Akan tetapi lisan tidak akan bermanfaat untuk urusan ini
(dakwah) kecuali dengan dukungan dari langkah kaki, ayunan tangan, mimik muka,
dan semua anggota tubuh kita, termasuk pikiran, hati dan perasaan. Ketika seorang da’i berhadapan dengan mad’u yang
hendak didakwahnya, maka saat seperti itu tidak saja merupakan ujian bagi kedua
belah pihak, tapi juga menentukan kualitas selanjutnya. Bagi seorang
da’i, keberhasilannya tidak dilihat dari berapa banyak kata2 yang
dikeluarkan, tidak juga dari kata2 indah yang dimilikinya, tetapi dinilai dari
berapa banyak orang yang dapat dibawa dan diselamatkannya. Hal itu benar2 dapat
dibuktikan. Yang demikian adalah karena adakalanya seorang da’i hanya
berbicara sedikit, dimana dia lebih banyak mendengar dengan sikap sedemikian
rupa sehingga lawan berbicaranya justru terdakwah oleh kata2-nya sendiri. Tulisan, meskipun merupakan salah satu alat komunikasi,
bukanlah alat utama dalam kerja dakwah. Tulisan hanyalah alat bantu agar kerja
dakwah ini dapat dijelaskan dengan lebih teratur dan terpola. Dengan menulis
tidak berarti bahwa kita telah benar2 berdakwah, akan tetapi tulisan yang kita
buat akan merupakan alat bantu untuk merekam kerja2 yang telah dibuat sekaligus
sebagai alat bantu untuk mencatat rencana kerja untuk masa2 yang akan datang dan
mengukuhkan arahnya sehingga langkah kita tidak menyimpang. Siapa saja yang berkemampuan untuk menulis, maka dia dapat
menulis tentang apa saja, sebanyak dan sebaik yang diinginkannya. Khusus untuk
urusan ini, maka artikel yang dapat diturunkan tentang dakwah (dengan berbagai
kaitannya) niscaya tidak akan habis selama kerja ini eksis sampai hari kiamat.
Akan tetapi hendaknya kita ingat, bahwa tidak ada seorang manusia pun yang
sempurna dalam kerja dakwah, kecuali Rasulullah (saw). Padahal kita tahu bahwa
Rasulullah (saw) benar2 seorang yang ummi. Beliau tidak pandai membaca dan
tidak pandai menulis (huruf). Subhanallah. Subhan ibn Abdullah Pattaya, 06/07/2005 * http://imanyakin.modblog.com/core.mod?show=blogview&blog_id=668515 -------------------------------------------------------------------------- All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise. If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest". ---- LSpots keywords ?> ---- HM ADS ?> YAHOO! GROUPS LINKS
|
