Kiat2 Melapangkan Masa

 

Bismillahir rahmanir raheim

 

Alhamdulillah, kepada siapa saja yang dapat menyelesaikan program khuruj awal (3 hari) dengan baik, maka kita ucapkan selamat bergabung dalam kerja dakwah.

 

Sebenarnya, tidak hanya kita yang awam yang merasakan lezatnya berada di jalan Allah (meskipun dengan mujahadah yang minimal), tetapi juga para alim ulama yang jujur dan yang merendahkan dirinya sedemikian rupa sehingga mereka duduk, makan dan tidur bersama kita di tempat yang sama. Mereka merasakan sendiri kelezatan yang tidak mungkin dirasakan pada keadaan2 selainnya. Tidak itu saja, beberapa ulama yang 'terkejut' dengan praktek ini (yang sesuai dengan teori2 yang mereka ketahui) bahkan mengatakan bahwa dengan khuruj [1] mereka se-olah2 baru masuk Islam.

 

Nikmat mendapatkan pencerahan (seperti tersebut diatas) seringkali mendorong seseorang untuk keluar dari rumah dan kampungnya (khuruj) lebih lama dan lebih jauh lagi. Kesadaran yang terbentuk dari mudzakarah2 dan dari pengamatan langsung di medan dakwah tidak jarang menjadikan seseorang menyadari bahwa dakwah adalah tanggung jawabnya lalu dia memahami bahwa dia tidak akan dapat melakukannya dengan baik, kecuali setelah dia memperbaiki driinya sendiri. Oleh karena itu, tidak boleh tidak, maka dia akan berusaha untuk melapangkan masanya. Dan jika dia bekerja, maka dia akan berusaha untuk mendapatkan cuti.

 

Sayyidina Al (ra) pernah mengatakan yang mahfumnya bahwa kesabaran ada dua macam. Yang pertama adalah sabar dalam menghadapi sesuatu yang kita benci. Yang kedua adalah sabar menunggu sesuatu yang kita suka. Kerja dakwah adalah sarana tarbiyah untuk memperbaiki ummat dengan menghadirkan sifat2 ilahiyah dalam dirinya. Dan sabar adalah salah satu sifat itu. Dan jika sifat ini sudah ada pada kita, maka hampir bisa dipastikan bahwa Allah (swt) bersama kita. Innallaha ma’a shobiriin.

 

Selanjutnya, kerja yang kita buat adalah agar kita dapat menyelesaikan masalah2 ummat dan bukan menambah masalah. Akan tetapi, jika oleh karena satu dan lain hal kita dihadapkan kepada suatu masalah, maka hal itu sebenarnya Allah (swt) berikan kepada kita agar kita berkesempatan untuk memperbaiki kualitas yakin kita. Semakin baik kita tawajjuh kepada Allah dalam menghadapi masalah, semakin baiklah yakin kita kepada-Nya.

 

Dalam hal cuti, sebenarnya Allah (swt) juga memberikan kesempatan kepada kita untuk belajar yakin. Jika kita tahu bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu dan makhluk2 (termasuk atasan dan perusahaan kita) ada di bawah control-Nya, itu tidak berarti bahwa kita langsung yakin kepada ketetapan tersebut. Tahu dan yakin adalah dua hal yang berbeda.

 

Dari mana sebaiknya kita mulai? Setiap amal dinilai dari niat dan caranya. Syariat agama mengajarkan bahwa untuk mendapatkan nilai yang sempurna, maka setiap tujuan baik mesti dilakukan dengan cara yang baik pula. Niat yang benar juga mesti dilakukan dengan cara yang benar. Maka mulailah dengan niat untuk memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya. Khusus untuk keluar dakwah, maka niatkan juga agar kita dapat memperbaiki kualitas diri kita sendiri sekaligus dengan mengajak orang2 lain untuk sama2 memperbaiki diri mereka sendiri.

 

Orangtua kita sering memberi nasehat agar jika kita mau keluar rumah hendaknya lewat pintu dan dengan cara yang wajar. Artinya jika pintu tertutup, maka kita berusaha untuk membukanya dan jika pintu terkunci, maka kita berusaha minta anak kuncinya. Sangat tidak bijaksana jika pada satu rumah tersedia pintu, tapi kita keluar lewat jendelanya, atau lewat pintu tapi dengan cara mendobraknya. Jika kita lakukan hal itu, maka sangat boleh jadi orang lain akan menuduh kita ‘tak waras’ atau bahkan seorang pencuri. Na’udzubillahi min dzalik.

 

Jika kita sudah berniat untuk menyambut takadza, maka mulailah dengan takadza yang utama. Jika nyatanya kita belum paham usaha dakwah, maka niatlah untuk belajar sejauh tempat yang dapat kita tempuh dan sepanjang waktu yang dapat kita raih. Khusus untuk para karkun, maka tempat pembelajaran yang sangat ‘munasib’ (setidaknya hingga saat ini) adalah keluar 4 bulan di India, Pakistan dan Bangladesh.

 

Jangan lupa untuk menguatkan niat kita dengan doa2 yang khas untuk itu, dengan sering2 mendengar kargozari (laporan) kerja dakwah, dengan memperbaiki kualitas amal2 fardhu dan dengan menambah kuantitas amal2 sunnah sebaik yang dapat kita lakukan sesuai dengan kemampuan terbaik kita, tanpa kesan seperti api unggun yang menggelora sesaat untuk kemudian segera padam.

 

Langkah selanjutnya adalah mengajukan cuti 4 bulan tanpa bayar (unpaid) secara tertulis kepada atasan di perusahaan kita, tanpa perlu kita tentukan kapan masanya. Alasan yang mungkin paling mudah diterima adalah untuk belajar memperbaiki kualitas diri atau dengan bahasa lain yang seumpama dengan itu yang jika dibaca atau didengar pihak managemen maka mereka akan menyangka bahwa kelak perusahaan akan bertambah baik dengan memiliki karyawan2 atau pekerja2 yang berkualitas.

 

Bersamaan dengan permohonan cuti tersebut, kita mulai menabung dengan uang atau barang yang benar2 sudah bersih. Bersih dalam arti kita telah mengeluarkan dari uang tersebut bagian2 yang menjadi milik orang lain dalam bentuk zakat, sedekah, infak dan hadiah. Kita berusaha melakukannya dengan istiqomah, meskipun sedikit jumlahnya.

 

Dan jika dalam keadaan terpaksa uang kita diperlukan oleh orang lain yang sangat2 memerlukannya, maka sampaikan padanya bahwa uang tersebut adalah cadangan biaya perjalanan untuk khuruj 4 bulan (IPB). Dan jika kita mengikhlaskannya karena Allah semata, seringkali dijumpai keadaan dimana Allah (swt) menggantinya dengan cara yang tidak kita duga.

 

Tetap berhubungan dengan markaz, halaqah dan orang2 yang baik amalnya (khususnya dalam hal dakwah), bukan saja menjadikan kita seperti daun yang tetap hijau karena menempel pada tanamannya, tetapi juga menjadikan kita semakin mengetahui takadza2 yang perlu disambut atau yang perlu disampaikan agar ada orang2 lain yang dapat mendengar dan menyambutnya.

 

Dan jika dalam urusan cuti ini kita berusaha mencari kebaikan2 yang ada pada perusahaan dan staf2-nya sehingga kita banyak membicarakan kebaikan mereka, maka kelak cepat atau lambat, kebaikan itu akan menajdi milik kita juga. Sebaliknya jika berburuk sangka kepada mereka, kelak kita akan mendapati mereka benar2 buruk, sesuatu yang tidak kita harapakan dari mereka.

 

Tidak itu saja, tawajjuh, kesungguhan dan kesabaran kita akan mempengaruhi keputusan Allah selanjutnya. Allah (swt) berkuasa atas segala sesuatu. Allah (swt) mengendalikan segala sesuatu dengan maha cermat dan maha cepat. Allah (swt) tidak menjadi lalai terhadap sesuatu dengan kesibukan-Nya dalam mengatur hal2 yang lain. Dan Allah (swt) se-kali2 tidak melepaskan kendali terhadap satupun perusahaan dan staf2-nya. Sungguh, Dia berkuasa atas segala sesuatu dengan kekuasaan yang maha sempurna. Subhanallah.

 

Subhan ibn Abdullah

Pattaya, 08/07/2005

 

Catatan kaki:

[1] Maksudnya adalah amalan khas dalam rangka melakukan kerja2 tabligh dan dakwah.

*

http://imanyakin.modblog.com/core.mod?show=blogview&blog_id=678253

 




--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise.

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke