Sekilas Fadhilah Poligami

 

Bismillahir rahmanir rahiem

 

Beberapa orang wanita mengatakan bahwa sebagai seorang muslimah mereka tidak membenci poligami. Yang demikian adalah karena poligami memang diperbolehkan oleh Allah yang maha agung. Namun mereka juga berterus terang bahwa mereka merasa belum menjadi muslimah yang kaffah, karena pada kenyataannya mereka belum bisa menerima keadaan seandainya suami mereka menikah lagi. Mereka salut kepada wanita2 yang rela dimadu, akan tetapi pada saat yang sama mereka tidak merelakannya untuk diri mereka sendiri. Dengan keadaan seperti itu mereka berharap bahkan berdoa berpanjangan agar Allah (swt) tidak menjodohkan suami mereka dengan wanita2 lain, kecuali setelah mereka meninggal dunia.

 

Alhamdulillah, tidak disangsikan lagi bahwa pernyataan mereka tersebut dapat menjadi isyarat awal yang dapat memberi pencerahan bahkan keselamatan kepada diri mereka sendiri. Yang demikian adalah karena seringkali keterbukaan seorang pasien kepada seorang dokter ahli sangat membantu diagnosa atas penyakit yang mungkin dikandungnya. Namun demikian, hanya orang2 yang sadar dengan penyakitnya dan berkeinginan untuk sembuh saja, yang akan berusaha untuk mentaati nasehat dan arahan dokter yang menanganinya; tidak peduli betapapun mahal harganya dan berapa lama dan betapa berat terapi yang akan dilaluinya.

 

Wanita2 yang mendukung poligami, mereka se-olah2 orang2 yang mendukung istri2 Rasulullah (saw) untuk menjadi ummul mukminin. Dan jika saja mereka hidup pada masa hayat Rasulullah (saw), maka mereka akan termasuk ke dalam golongan wanita2 mukmin yang membela para ummul mukminin, termasuk dengan cara menghibur saat mereka berduka cita dan dengan cara mencukupi keperluan harian mereka. Yang demikian adalah karena seringkali Rasulullah (saw) menanggung derita saat beliau melihat istri2 beliau tidak dapat memasak suatu apapun (karena mereka memang tidak memiliki bahan2 yang dapat diraciknya).

 

Adapun wanita2 yang telah menerima poligami, baik sebagai istri pertama ataupun selanjutnya, adalah orang2 yang paling dapat merasakan bagaimana dan apa saja yang telah dirasakan oleh para ummul mukminin, sama saja apakah terhadap hal2 yang mendukakan mereka ataupun menjadikan mereka bersuka cita. Tidak itu saja, mereka juga adalah orang2 yang lebih senasib dan sepenanggungan dengan para ummul mukminin. Padahal orang2 seringkali menjadi dekat karena rasa senasib dan sepenanggungan. Dan jika kelak mereka dapat masuk surga (dengan rahmat Allah), tentu saja kedekatan mereka kepada para ummul mukminin akan dicemburui oleh semua orang; Padahal dekat kepada orang2 yang dekat kepada Rasulullah (saw) sama artinya juga dekat kepada Rasulullah (saw).

 

Dan kalau saja kita dapat memahami siapa dan bagaimana ummul mukminin Khadijah al Kubra (ra), dan seandainya Allah (swt) memanjangkan usia beliau hingga sampai pada masa2 dimana Rasulullah mengambil keputusan untuk menerima tanggung jawab lebih banyak istri di sampingnya (dengan cara menikahi mereka), tentu kita akan mendapati bahwa ummul mukminin Khadijah (ra) adalah seorang wanita mukminah yang benar2 teruji, baik keimanannya, keyakinannya, ketaatannya maupun kesediaannya untuk berkorban di jalan-Nya. Subhanallah.

 

Subhan ibn Abdullah

Pattaya, 11/07/2005

*

http://imanyakin.modblog.com/core.mod?show=blogview&blog_id=677025

 




--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise.

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".




SPONSORED LINKS
Divine inspiration Islam


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke