AL-QADHA'
Makna al-Qadhâ' Secara Bahasa
Al-Qadhâ' berasal dari kata qadhâ-yaqdhî-qadhâ'[an]; jamaknya aqdhiyyah. Kata al-qadhâ' merupakan kata musytarak, memiliki banyak makna.
Al-Quran mencantumkan kata al-qadhâ' dalam banyak ayat yang semuanya mengunakan makna bahasa, di antaranya:
· menetapkan (QS 2: 117);
· menentukan (QS 6: 2);
· memerintahkan sesuatu sebagai kepastian (QS 17: 23);
· memerintahkan dan memutuskan sesuatu (QS 33: 36);
· menyelesaikan (QS 14: 22; 28: 29);
· mengakhiri (QS 33: 37);
· membuat (QS 41: 12);
· menetapkan sesuatu yang wajib terlaksana atau mewajibkan sesuatu (QS 8: 42);
· binasa atau mati (QS 33: 23);
· menyelesaikan dan membinasakan (QS 6: 58); dan sebagainya.
Makna al-Qadhâ' secara Syar'i
Sekalipun secara bahasa kata al-qadhâ' memiliki banyak makna, secara tradisi ia akhirnya lebih difokuskan pada makna yang berkaitan dengan praktik dan putusan peradilan. Syariat pun memutlakkan istilah al-qadhâ' dalam masalah praktik dan putusan peradilan.
Ibn Abd as-Salam menyatakan, "(Keputusan) hukum yang dilakukan seorang qâdhi (hakim) yang memiliki wewenang tidak lain adalah menampakkan hukum syariat dalam masalah yang terjadi mengenai orang-orang yang wajib dikenai hukum." 3
Al-Qadhâ' (Peradilan) merupakan perkara yang disyariatkan di dalam al-Quran dan as-Sunnah. Allah SWT memerintahkan untuk memutuskan hukum atau menghukumi manusia dengan apa yang diturunkan oleh Allah. 4 Rasul SAW secara langsung mengadili dan menghukumi perkara yang muncul di tengah-tengah masyarakat dengan hukum-hukum Allah. Rasul juga memberikan keputusan dalam beberapa masalah pernikahan, masalah harta, muamalah, dan 'uqûbât umumnya; juga dalam masalah hisbah seperti ketika beliau mendapati pedagang di pasar yang mencampur gandum basah dengan gandum kering; dalam masalah mazhâlim mengenai penetapan harga; dalam perselisihan antara Zubair bin Awwam dan seorang Anshar dalam masalah pengairan; dan sebagainya.
Ketika kekuasaan Negara Islam semakin luas, Rasulullah SAW mengangkat beberapa sahabat sebagai qâdhi (hakim) yang beliau tempatkan di beberapa daerah, seperti Muadz bin Jabal di daerah Janad dan Ali bin Abi Thalib di daerah Yaman. Qâdhi pada masa Rasul SAW. antara lain: Umar bin al-Khathab, Ali bin Abi Thalib, Ibn Mas'ud, Ubay bin Kaab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy'ari, 5 dan Muadz bin Jabal.
Praktik al-Qadhâ' (Peradilan) oleh Rasul SAW bukan hanya dalam masalah perselisihan (al-Khushûmât), tetapi juga dalam masalah hisbah dan mazhâlim. Abu Abdillah berkata, "Perkataan sebahagian bahawa al-Qadhâ' adalah penyelesaian antara dua orang yang bersengketa atau lebih jelas masih kurang." 6 Sebab, definisi tersebut belum bersifat jâmi', yakni mencakup seluruh realiti al-Qadhâ'.
Dari beberapa definisi para ulama terlihat adanya dua sifat dari al-Qadhâ' iaitu adanya penjelasan hukum syariat dan sifatnya mengikat untuk dilaksanakan. Seorang qâdhi, ketika memutuskan perkara, ia memberitahukan hukum syariat dalam perkara itu kepada pihak yang terkait. Hukum yang diberitahukan itu bersifat mengikat, yakni wajib dilaksanakan. Hal ini membedakannya dengan fatwa, meski sama-sama merupakan pemberitahuan tentang suatu hukum syariat, kerana fatwa tidak bersifat mengikat.
Kerana itu, definisi yang lebih tepat adalah sebagaimana yang diberikan oleh Ibn Farhun 7 dan Al-Qadhi Taqiyuddin an-Nabhani 8 bahawa al-Qadhâ' adalah al-Ikhbâr bi al-hukm asy-syar'i 'alâ sabîl al-'ilzâm (pemberitahuan tentang suatu hukum syariat yang bersifat mengikat). Abu Abdillah menjelaskan bahawa yang dimaksud ikhbâr itu boleh disalahfahami sebagai ikhbâr lawan dari insyâ', yang berkemungkinan benar atau dusta. Bukan itu maksudnya. Akan tetapi, maksudnya merupakan perintah qâdhi tentang suatu hukum syariat yang bersifat mengikat. 9
Hukum Pengangkatan dan Jenis Qâdhi
Majoriti ulama berpendapat, al-Qadhâ' hukumnya fardhu kifayah. 10 Pelaksanaan tugas al-Qadhâ' ini pada dasarnya adalah tanggung jawab Imam/Khalifah. Rasul SAW dan Khulafaur Rasyidin sendiri menangani al-Qadhâ' secara langsung. Namun, ketika wilayah negara semakin luas, tentu khalifah tidak mungkin menanganinya sendiri, di samping kerana tugas Khalifah sangat kompleks. Dalam situasi tersebut, kewajiban itu tidak akan sempurna kecuali Khalifah mengangkat para qâdhi di seluruh daerah sebagai bahagian dari jentera negara.
Al-Qadhi an-Nabhani menjelaskan, lembaga al-Qadhâ inilah yang menyelesaikan perselisihan atau sengketa yang terjadi di antara anggota masyarakat; atau mencegah sesuatu yang boleh membahayakan hak-hak jamaah/umum; atau menyelesaikan persengketaan antara masyarakat dengan jentera negara.
Penjelasan tersebut sekaligus menjelaskan tiga kelompok perkara dan macam lembaga al-Qadhâ':
1. Perselisihan di antara manusia dalam perkara muamalah dan 'uqûbât. Perkara ini ditangani oleh al-qâdhî (jamaknya al-qudhât), kadang disebut Qudhât al-Khushûmât.
2. Perkara yang dapat membahayakan hak jamaah/umum; disebut Hisbah. Perkara ini ditangani oleh Qâdhî al-Hisbah atau al-Muhtasib.
3. Sengketa masyarakat dengan negara dan aparaturnya, atau kezaliman yang dilakukan oleh atau akibat dari kebijakan negara dan aparaturnya. Inilah yang disebut mazhâlim dan ditangani oleh Qâdhî al-Mazhâlim.
Khalifah boleh mengangkat seorang qâdhi dengan wilayah kerja mencakup seluruh wilayah Khilafah sekaligus membawahi seluruh qâdhi yang ada. Pejabat ini disebut Qâdhî al-Qudhât. Qadhi Abu Yusuf adalah orang pertama yang mendapat sebutan ini. 11
Jabatan qâdhi (al-qudhât) sudah ada sejak masa Rasul SAW dan terus ada sepanjang sejarah Islam. Adapun untuk perkara hisbah, Rasul SAW menangani sendiri perkara ini seperti saat menyiasat pasar dan menjumpai gandum basah yang dicampur dengan yang kering, lalu beliau memerintahkan agar yang basah ditaruh di atas, di samping yang kering. Pada masa Umar bin al-Khaththab, ia juga langsung menanganinya, seperti saat menyiasat pasar, Umar menemukan susu yang dicampur air lalu ia tumpahkan untuk mendidik para pedagang, atau ketika ia memukul dan memisahkan laki-laki dan wanita yang berdesak-desakan di tempat pengambilan air. Saat yang sama Umar juga mengangkat pejabat khusus untuk mewakilinya menjalankan tugas hisbah dan disebut wilâyah as-sûq. Baru pada masa al-Mahdi diangkat qâdhi khusus untuk menangani hisbah dan disebut al-Muhtasib dan sejak saat itu terus terpelihara sebagai bahagian
al-Qadhâ'. Keberadaan al-Muhtasib ini bersandar pada as-Sunnah berupa perbuatan Rasul SAW. tersebut. 12
Dalam masalah mazhâlim, Rasul SAW juga menanganinya secara langsung; seperti dalam masalah penolakan beliau untuk melakukan penetapan harga atau dalam masalah pengairan antara Zubair dan seorang laki-laki dari Anshar. Begitu juga Khulafaur Rasyidin; menangani langsung perkara mazhâlim sekaligus belum menyediakan waktu khusus. Baru Khalifah Abdul Malik bin Marwan yang menyediakan waktu khusus untuk meneliti masalah mazhâlim, tanpa langsung memutuskan. Jika ada masalah atau perlu keputusan hukum, ia mengajukannya kepada qâdhi-nya, yaitu Abi Idris al-Azadi kerana beliau adalah qâdhi mazhâlim ketika itu. Baru pada masa Abassiyah diangkat qâdhi khusus untuk menangani perkara mazhâlim ini. Jabatan ini terus ada dan menjadi bahagian dari al-Qadhâ'.13 Pengangkatan qâdhi mazhâlim ini juga didasarkan pada as-Sunnah berupa perbuatan Rasul SAW.
Wallâhu a'lam bi ash-shawâb.
Catatan Kaki
1 Muhammad Khathib asy-Syarbini, Mughn al-Muhtâj, iv/371-372, Dar al-Fikr,
2 Zain bin Ibrahim bin Muhammad bin Muhammad bin Bakar, op. cit.
3 Muhammad Khathib asy-Syarbini, Mughn al-Muhtâj, iv/372.
4 Lihat misalnya, QS. al-Mâ'idah [5]: 48-49; an-Nûr [24]: 48
5 Enam orang ini sesuai penuturan Masyruq yang diriwayatkan oleh Thabrani, lihat Abd al-Hayyi al-Kattani, at-Tarâtîb al-Idâriyah, I/258, Dar al-Kitab al-'Arabi,
6 Abu Abdillah, Mawâhib al-Jalîl, VI/86.
7 Dikutip oleh Abu Abdillah, Mawâhib al-Jalîl, VI/86.
8 Al-Qadhi Taqiyyuddin an-Nabhani, Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, diperluas dan dirinci oleh Syaikh Abd al-Qadim Zallum, hal 182, min mansyurat Hizb at-Tahrir, cet vi (mu'tamadah). 2002.
9 Abu Abdillah, Mawâhib al-Jalîl, VI/86.
10 Lihat, Imam an-Nawawi asy-Syafi'i, Minhâj ath-Thâlibîn, I/148, Dar al-Ma'rifah,
11 Al-Kattani, at-Tarâtîb al-Idâriyah, i/263; Abu Bakar ad-Dimyathi, I'ânah ath-Thâlibîn, II/337, Dar al-Fikr
12 Lihat, Abdurrahman al-Baghdadi, Ulama dan Penguasa Dimasa Kejayaan dan Kemunduran, hlm. 31, GIP,
13 Imam al-Mawardi, Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah wa al-wilâyah ad-Dîniyyah (Hukum Tata Negara dan Kepemimpinan dalam Takaran Islam), penerjemah, Abdul Hayyi al-Kattani dan Kamaluddin Nurdin, hlm. 160, GIP,
Start your day with Yahoo! - make it your home page
--------------------------------------------------------------------------
All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise.
If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "hidayahnet" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
