Drp: Ahmad Khairy Ahmad Domil (AKAD)
Asmwbkth dan selamat sejahtera kepada semua.. 

Ustaz Joban ini saya pernah temui secara peribadi  semasa mempengerusikan forum beliau bersama Prof. Dr. Mohd Hatta Shahrom (Pakar Psikitari HUKM; kini bersara tahun 2005). Forum berkenaan diadakan pada Konvensyen Musim Sejuk MISG  bulan Disember 1995 di St Louis Missouri. USA.  Beliau memang orang haebat.  Walaupun tulisan ini dalam bahasa baku Indon, namun maksud keseluruhannya serta "Ruh" nya penulisan ini dapat difahami jika dibaca dengan hati yang tenang dan terbuka. Saya amat terkesan dengan pandangan Rabbi  Yahudi (Sebutannya; "Rabbai"; bermaksud ulamak yahudi) di akhir artikel ini, iaitu: umat Islam hanya akan kuat dan menguasai dunia bila mereka memenuhi masjid-masjid untuk solat Subuh, sama seperti mereka memenuhkan masjid untuk solat Jumaat. Hmmm orang Yahudi lebih hebat wawasan keislamannya yaaa...  Anda mestilah sabar membacanya sebab saya sendiri memprintnya dan ada 9 helai semuanya. Namun ia adalah pembacaan yang berbaloi dan mempunyai pengajaran yang amat besar kepada saudara-saudara saya seIslam, mahupun saudara-saudara saya dalam kemanusiaan; saudara-saudara saya yang bukan Islam... (Email ini saya juga BCC; kan kepada ramai orang termasuk yang bukan Islam).
Wassalam.

AKAD Wahmin Bin Munggoh
p.s. saya print guna printer saya sendiri dan guna kertas terpakai saya sendiri. Tapi kalau guna harta UKM pun halal, insyaAllah.  Sebab falsafah UKM yang pertama adalah Paduan antara IMAN kepada ALLAH dan ILMU yang bermanfaat, serta gabungan antara teori dan amal.
===============================
==========================================


Dari Milis negara tetangga
Kisah ini banyak pengajaran dan banyak memberi kesedaran
salam
Kak Su

ISLAM BANGKIT JUGA DI PENJARA-PENJARA AMERIKA

Da'i asal Indonesia spesialis narapidana di Washington
USTAD MUHAMMAD AWOD JOBAN
Sumber: Majalah Suara Hidayatullah

Dihitung-hitung, sudah hampir 12 tahun Muhammad Awod Joban bergaul
erat dengan para narapidana di berbagai penjara negara bagian
Washington, Amerika Serikat. Dua belas tahun! Subhaanallaah. Salah
satunya merupakan diantara yang paling angker di seluruh negeri itu,
yaitu komplek penjara di pulau McNeil, dekat kota Olympia. Namanya
McNeil Island Corrections Center (MICC). Mirip dengan penjara
Alcatraz di seberang San Fransisco. Segala jenis penjahat dan
gangster sudah pernah dihadapi pria asal Purwakarta, Jawa Barat ini.

Agaknya belasan tahun itu hampir tak terasa lamanya, karena
pekerjaan da'wah kepada para narapidana begitu dia nikmati. "Sekitar
80%narapidana yang keluar dari penjara akan kembali lagi ke penjara.
Kecuali yang Muslim," kata lelaki kelahiran 2 Juni 1952 ini.

Bahkan sampai ia menamatkan studi masternya di Universitas Al-
Azhar,Kairo,tahun 1975, pikiran untuk berkonsentrasi di penjara-
penjara Amerika belum terbetik sedikitpun di benaknya. Niat awalnya
merantau ke Amerika sama dengan banyak orang Indonesia lainnya,
melanjutkan sekolah.

Selepas dari universitas tertua di Mesir itu Joban mendapat
pekerjaan sebagai penyiar Radio Kairo suara Indonesia selama lima
tahun. "Meski disiarkan di Mesir namun siarannya didengar juga oleh
masyarakat kita Indonesia," kenang Joban.

Saat asyik siaran radio Joban berjumpa dengan Amien Rais yang sedang
melakukan riset untuk tesisnya tentang Al-Ikhwanul Muslimin. "Pak
Amien sempat tinggal dua tahun di Kairo dan sering ikut pengajian di
sana.
Di situlah saya sering ketemu dia. Pak Amien menyarankan saya
meneruskan kuliah ke Universitas Chicago (almamaternya Amien Rais),"
kenang suami Moeti Amrina ini.

Atas saran itu, pada tahun 1989 Joban kemudian hijrah ke
Amerika. "Waktu itu saya berencana mengambil PhD di bidang Islamic
Studies di Chicago," kata Joban.

Allah berkehendak lain. Sesampai di Amerika, Joban tidak bisa
langsung kuliah, karena tersandung biaya yang tinggi. "Sampai di
sini saya baru tahu,kalau kita tidak punya greencard (izin tinggal
permanen) maka biaya hidupnya besar."

Meski begitu Joban tidak buru-buru pulang. "Saya fikir, daripada
saya pulang, saya memutuskan untuk mencari biaya sekaligus
menghabiskan visa saya selama setahun di sini." Dalam masa penantian
itu, kawan lamanya di Al-Azhar, seorang Muslim Campa (Kamboja)
menyarankan Joban pergi ke masjid An-Nur, milik jama'ah Campa di
kota Olympia, negara bagian Washington.Masjid itu punya jama'ah tapi
tidak punya imam.

Alhasil Joban lantas diangkat sebagai imam di masjid tersebut.
Kehadiran Joban disambut gembira masyarakat Campa, karena telah
mengembalikan mereka kepada Islam. "Sebelumnya mereka sudah lupa
mengaji dan lupa macam-macam ilmu agama. Anaknya sudah dibesarkan
dengan cara Amerika," Joban mengenang.

Dua tahun kemudian ada pengumuman di Islamic Center setempat,
penjara di negara bagian itu membutuhkan tenaga chaplain, yakni imam
atau pembina ruhani bagi para narapidana (napi). "Meski di Amerika
ini tidak ada departemen agama-karena Amerika negara sekuler-namun
berbagai instansi,pemerintah Amerika hampir selalu menyediakan
tenaga chaplain. Ada Muslim Chaplain, Christian Chaplain, Catholic
Chaplain, dan lain-lain,"jelas Joban.

Mula-mula Joban bertugas di penjara Monroe, yang jaraknya sekitar
dua jam perjalanan mobil dari Olympia. Ia kemudian mendapat tugas
pula menjadi pembina ruhani di sebuah penjara di pulau Mc Neil di
dekat Tacoma.
Seperti dijelaskan Joban, penjara in agak mengerikan, "Karena
penjara ini terletak di sebuah pulau-seperti penjara Alcatraz di
California yang terkenal itu-maka penghuninya hampir tak mungkin
melarikan diri. Penghuninya kelas berat semua. Diantaranya pembunuh
yang dihukum tiga puluh tahun sampai
empat puluh tahun."

Seperti belum cukup, ia juga mengambil tugas serupa di penjara
transit bernama Shelton Correction Center. "Penjara ini tempat
transit napi dari mana-mana. Ada juga yang tinggal di situ. Semuanya
ada sekitar 3000 napi. Saking banyaknya sel di sana, dari satu
tempat ke tempat yang lain harus lewat terowongan di bawah penjara."

Karena penjara transit itu, tempat itu justeru subur untuk
berda'wah.Setelah dida'wahi di situ tiga sampai empat bulan, mereka
dikirim ke tempat-tempat lain, lalu digantikan oleh napi lain.

Tentu banyak pengalaman menarik berda'wah di 'sarang' para gangster
Amerika itu. Misalnya saja, Joban menemukan fenomena menarik bahwa
da'wah yang paling efektif di penjara adalah da'wah yang justru
dilakukan oleh para napi kepada napi lainnya.

Kenapa bisa begitu? Jawabannya bisa Anda dapatkan dalam perbincangan
antara Joban dengan Kasman Harun, kontributor majalah Suara
Hidayatullah di Amerika. Perbincangan mereka lakukan di sela-sela
Muktamar Indonesian Muslim Students Association (IMSA) belum lama
ini di Hotel Holiday Inn Columbia,Missouri. Petikan perbincangan
keduanya bisa Anda ikuti di bawah ini.Selamat menikmati.

Bagaimana Anda mengatur jadual da'wah antara penjara dan masyarakat
biasa?

Penjara di negara bagian Washington ini semakin banyak. Kalau harus
saya layani semua, takkan ada waktu lagi untuk masyarakat.
Alhamdulillah saya kemudian punya sejumlah asisten chaplain. Salah
seorang di antaranya bernama Amir Abdul Matin. Dia orang Amerika
yang masuk Islam di penjara. Setelah keluar dari penjara, masya
Allah, ia malah lebih hebat. Sekarang ia sudah jadi chaplain di
sebuah penjara perempuan. Asisten lain saya bernama Thohir,orang
Kenya.

Jadi sebetulnya perkembangan da'wah Islam di penjara ini pesat
sekali. Kita justeru sering kewalahan melayaninya. Sekarang ada
beberapa penjara yang kekurangan tenaga pembimbing ruhani karena
jauh dari masyarakat Muslim, seperti yang terjadi di Spokane. Kami
sulit kita ke sana karena harus berkendaraan dengan jarak jauh.
Padahal Correctional Center-nya sudah siap membiayai.

Apa saja kegiatan pembimbing ruhani di penjara itu, apakah harus
tinggal di dalamnya, lalu ceramah setiap hari?

Karena saya punya kesibukan juga di masyarakat maka tugas ceramah di
penjara saya gilir. Ada giliran untuk masjid dan ada giliran untuk
penjara.Penjara Shelton Correctional Center saya datangi sebulan
sekali.

Selama di penjara ada waktu khusus untuk ceramah?
Ya, kegiatan rutinnya ada jatah waktu. Misalnya di penjara Pulau Mc
Neil,pertama diberi kesempatan untuk ketemu dengan orang yang
dipenjara dengan hukuman maksimum. Dengan orang demikian ini
sistemnya one to one (satu orang imam menghadapi satu orang napi).
Penjagaan keamanannya pun maksimun,kami bicara melalui sebuah lubang
saja.

Penjara seperti itu biasanya dikhususkan bagi napi yang dianggap
sulit dikontrol dan suka membuat kegaduhan. Orang yang demikian di
dalam maupun di luar sel selalu tetap diborgol.

Pertemuan berikutnya menggunakan sistem kelas. Biasanya kegiatan ini
dimulai dengan shalat Maghrib berjama'ah. Sebelumnya di dapur sudah
ada pengumuman: Bible Studies di ruang A, Islamic Studies di ruang
B, dan seterusnya.
Dan setiap orang boleh datang asal mendaftar. Yang datang bisa 20.
30, 40, ataupun 50.

Banyak orang Amerika yang sudah tahu Bibel (Injil), sehingga
terkadang mereka ingin tahu kajian agama lain. Jadi orang non-Muslim
boleh ikut Islamic Studies asalkan mendaftar dulu.

Bagi yang sudah tahu banyak tentang dasar-dasar keislaman biasanya
ikut kelas 'advance' (lanjutan) pada jam kedua, pelajarannya antara
lain studi tafsir.

Perubahan apa yang mereka alami setelah masuk Islam?
Ada seorang napi kulit hitam, dulu namanya Smith, sekarang namanya
Lukman.Orangnya seperti Mike Tyson. Sebelum masuk Islam dia di
penjara Walawala,penjara untuk napi kelas berat, seperti penjara
Nusakambangan-lah kalau di Indonesia.

Dia dipenjara seumur hidup karena pembunuhan. Dulu dia orang yang
temperamental. Kalau tidak senang pada seseorang main hajar
saja.Kalau tidak suka pada makanan, akan dilempar olehnya. Makanya
dia harus dikawal terus. Tapi setelah masuk Islam luar biasa
perubahannya. Semua orang kaget,
karena dia menjadi sangat sopan. Makanya dia kemudian dipindahkan ke
penjara Monroe.
Lukman dulu seorang ketua geng, sehinga kemudian jadi orang yang
sangat berpengaruh dalam da'wah di penjara. Sebelum saya bertugas di
penjara Monroe, saya sering ketemu napi yang masuk Islam. Saya
tanya, "Kenapa kamu masuk Islam?"
"Karena Lukman," kata mereka. Ceritanya, Lukman -dan juga orang
Amerika pada umumnya- senang kalau diterangkan fadhilah-fadhilah,
atau keutamaan-keutamaan, misalnya
keutamaan shalat malam (tahajud). Pernah saya sampaikan pada Lukman
tentang fadhilah shalat malam. Dia senang sekali mendapatkan
fadhilah itu. Dan sejak itu dia tak pernah sekalipun meninggalkan
shalat malam. Bangun jam tiga
sampai subuh.

Pengaruhnya luar biasa. Ada seorang napi kulit putih yang sekamar
dengan dia. Setelah tiga bulan rupanya si napi ini penasaran melihat
perilaku Lukman. Ditanyalah Lukman, "Exercise (latihan olahraga) apa
yang kamu lakukan tiap malam?". "Ini bukan exercise, tapi praying
(shalat). Jesus (Nabi Isa) juga shalatnya begini ini," kata Lukman.
"Lalu apa ini yang kamu baca?" tanyanya lagi.
"Ini kitab suci Al-Qur'an," kata Lukman.
"Boleh saya baca?"
"Boleh, silakan," kata Lukman.
Lukman setiap hari Senin pergi ke Monroe untuk mengikuti ceramah
saya. "Kita punya guru agama dari Indonesia," kata Lukman sambil
mengajak si Napi kulit putih itu ikut kajian Islam. Ternyata dia
mau. Hampir tiap Senin dia datang. Namanya John, orang Amerika.
Sewaktu membawa jama'ah haji ke tanah suci, saya sempat tiga bulan
tidak datang ke Monroe. Ketika saya ke Monroe lagi, saya lihat John
ada di kelas itu. Tapi sudah pakai kopiah, pertanda dia sudah masuk
Islam.
Saya sapa dia,"Apa kabar John?"
"No, no,no. Nama saya bukan itu lagi. Nama saya sekarang adalah
Salman," katanya. Alhamdulillah dia dapat hidayah melalui shalat
malamnya Lukman.
Bagaimana kondisi penjara di Amerika?
Di Amerika ini penjara seperti hotel. Semua fasilitas ada. Anda mau
mengambil studi PhD dari penjara juga bisa. Mau ke perpustakaan
lengkap. Mau olahraga apalagi. Jadi kalau Anda masuk ke sana seperti
tidak di penjara. Seperti kampus saja. Ada nomornya, ada kamarnya.
Kalau makanan tidak enak,
napi bisa demonstrasi. Semua napi -di Amerika disebut inmates-
diperlakukan sama tanpa diskriminasi. Itulah kenapa saya bilang,
nilai-nilai Islam kok lebih banyak saya temukan di Amerika.
Masyarakat di sini cenderung lebih 'Islami'.

Di penjara di Amerika semuanya enak. Makanan enak, tempat tidur
enak.Saking enaknya, lebih enak jadi narapidana daripada jadi
tunawisma. Seorang tunawisma, karena tak punya rumah, akan mengalami
kedinginan di musim salju. Karena itu jadi wajar jika ada tunawisma
sengaja mencuri supaya masuk
penjara.

Selama berinteraksi dengan napi, ada pengalaman yanag mengesankan?

Banyak. Karena dekatnya hubungan kami, setelah mereka keluar penjara
kami masih sering kumpul. Sekarang ini ada di antara mereka yang
tinggal di Olympia dan ada yang tinggal di Seattle. Setiap Sabtu dia
datang ke tempat kami. Suasananya lebih semarak lagi pada bulan
Ramadhan. Di bulan puasa ini
para napi biasanya buat reuni.

Kalau bekas napi sering kumpul, jangan-jangan malah kambuh lagi
kejahatannya?

Ada kemungkinan begitu. Dulu ketika saya baru bertugas di sini hanya
ada empat penjara besar. Kini ada 12 penjara. Artinya jumlah napi
semakin banyak, sehingga penjara yang ada tak mampu menampungnya.
Yang membuat parah kondisi itu, 80% napi yang sudah keluar akan
masuk penjara lagi,karena
berbuat kejahatan lagi. Kecuali mereka yang masuk Islam, sedikit
saja napi Muslim yang masuk penjara kembali.

Apa pertanyaan yang paling banyak ditanyakan oleh napi kepada Anda?

Tergantung zamannya. Kalau sekarang-sekarang ini kebanyakan masalah
Islam dan terorisme. Juga masalah Islam dan wanita. Dan isu-isu yang
diangkat banyak oleh media. Tapi kalau dalam suasana tenang mereka
banyak bertanya
tentang nabi Isa. Pertanyaan yang sering diungkap antara
lain, "Siapakah Muhammad itu? Bagaimana dia bisa menjadi seorang
nabi? Bagaimana ceritanya?"

Kemudian tentang Al-Qur'an, mereka bertanya "Bagaimana Qur'an
diturunkan kepada Muhammad, apa isinya?"

Yang menarik, para napi ini -dan juga orang Amerika pada umumnya-
kalau kita kasih Qur'an, umumnya mereka melihat indeks. Mereka
mencari perihal Yesus.
Mereka ingin tahu, apa yang Islam katakan tentang Jesus. Tapi
sebetulnya yang membuat mereka tertarik pertama-tama adalah karena
ketemu dengan Muslim.

Jadi faktor pribadi sangat berpengaruh dalam kegiatan da'wah di
penjara ya?
Ya, faktor pribadi-lah yang paling menarik mereka masuk Islam. Para
napi yang Muslim inilah yang berperan penting menda'wahi napi
lainnya.Sebab mereka kan setiap hari tinggal di situ, sedangkan saya
hanya sepekan dua kali.

Mereka sama-sama orang Amerika, bahasanya sama, pengalamannya
serupa,sama-sama pernah terlibat perkara pidana kriminal. Sehingga
kalau berlangsung da'wah di antara sesama napi jadi sangat efektif.
Lewat interaksi itu mereka bisa menda'wahi napi yang belum beragama
Islam.

Pengaruh itu semakin mendapat momentum pada bulan Ramadhan. Di bulan
ini yang masuk Islam bertambah banyak sekali karena ibadah napi
Muslim nampak sekali pada bulan tersebut. Pada jam tiga pagi mereka
beramai-ramai bangun
kemudian mengenakan kopiah dan jalan menuju tempat sahur di
penjara.Lalu mereka membaca Al-Qur'an sampai satu juz setiap hari.
Ketika napi-napi lain makan pagi dan makan siang, para napi Muslim
tidak makan. Mereka baru makan setelah buka puasa.

Pada bulan puasa, para napi Muslim juga sangat menghindari bicara
kotor.Padahal di Amerika ini kan orang sangat biasa bicara kotor.
Sehingga ketika melihat seseorang itu omongannya baik, napi lain
jadi tertarik. "Dia orang bersih. Saya ingin seperti dia," komentar
yang lain.

Anda pernah mengalami kekerasan secara fisik ketika berhubungan
dengan napi,dipukul atau bersitegang misalnya?
Alhamdulillah di Amerika ini keamanan penjaranya relatif baik. Dan
Alhamdulillah saya sendiri belum pernah mengalami kejadian serius
yang mengancam saya. Kalau antar napi dengan napi sering terjadi.
Sehabis peristiwa 11 September ada peristiwa menarik. Demi
keselamatan, para napi Muslim diamankan dari yang lain. Sebelumnya
ada satu napi Muslim yang badannya besar dikeroyok sepuluh orang.
Tapi karena dia jago tinju,dia bisa lawan mereka semua.

Ada perasaan takut atau was-was ketika bertemu dengan napi,
khususnya mereka yang dihukum berat?
Alhamdulillah tidak ada. Yang kasar ada, tapi biasanya cuma ya
sekedar ngomong doang. Misalnya ketika ramai-ramai perang teluk, ada
yang panggil saya, "Hai Saddam!"

Busana apa yang Anda pakai saat bertugas sebagai pembimbing ruhani
di penjara?
Ya seperti inilah, pakai kopiah. Bila hari Jum'at kadang saya pakai
baju Pakistan (gamis panjang).

Jadwal kunjungan dan acara di penjara, itu diatur oleh pengelola
penjara atau oleh Anda sendiri?
Pengelola penjara yang mengatur. Misalnya saya di McNeil diberi
jatah 32 jam, di Shelton 16 jam, maka tinggal kemudian saya
menyesuaikan diri untuk menggilir. Saya harus tahu kapan waktu-waktu
yang tepat buat ketemu napi,karena di penjara itu kan para napi
bekerja. Jadi penjara di Amerika ini seperti pabrik. Mereka bekerja
dan dapat gaji, hanya gajinya kecil.Tapi bagi napi itu lebih baik
daripada dia menganggur.
Mungkin sekarang Anda banyak menerima tawaran menggiurkan bekerja di
luar penjara. Tapi mengapa Anda tetap bertahan di posisi ini?
Memang betul, sekarang ini banyak tawaran menggiurkan untuk saya. Di
berbagai masjid banyak lowongan tersedia untuk menjadi imam dengan
gaji besar, apalagi kalau di kota besar seperti New York.

Masalahnya di sini (di Seattle) jarang ada tenaga ahli agama
Islam.Juga jarang orang Amerika yang bisa mengajarkan Islam. Padahal
sekarang banyak orang yang ingin belajar Islam, terutama setelah
peristiwa 11 September.
Saya tidak tega untuk meninggalkan mereka yang di penjara ini.

Ada rencana untuk kembali ke Indonesia?
Ada, mungkin sepuluh tahun lagi.
Dari tiga kota: Jakarta, Kairo, Seattle, mana yang menimbulkan kesan
paling dalam bagi Anda?

Ya di Amerika inilah, khususnya di Seattle. Saya menemukan Islam di
sini. Di sini Saya bisa menimba ilmu dan mengamalkannya. Di sini ini
kalau ada orang
Amerika masuk Islam, mereka serius sekali. Baru mengenal beberapa
ayat Al-Qur'an sudah langsung dijalankan. Mereka jadi seperti Al-
Qur'an berjalan.

Ada seorang mualaf namanya Jalaluddin. Setiap hari dia berkendara
dari Olympia ke Seattle, hanya untuk belajar Islam. Suatu waktu dia
bilang dia ingin menikah dengan Muslimah Indonesia. Jalaluddin ini
orang bule asli keturunan Jerman. Kebetulan ada kawan perempuan
istri saya, teman waktu
sekolah di Bandung dulu. Saya kenalkan dia dengan Jalaludin. Setelah
saling kirim data akhirnya mereka saling setuju untuk menikah.

Jalaluddin ini fenomena yang mengagumkan, masya Allah. Saya tidak
bisa mengantar dia ke Bandung, sehingga dia datang sendirian ke
Indonesia.
Sebelum menikah dia tinggal sekitar sepekan di rumah mertua saya di
Bandung,untuk melakukan persiapan.

Jalaluddin punya kebiasaan berdzikir ba'da shalat Maghrib hingga
masuk waktu shalat Isya. Dia dzikir di mushalla. Kebetulan di rumah
mertua saya ada mushalla. Mertua saya bertanya, "Kamu kok kalau
dzikir nikmat sekali?"

Dia bilang, "Saya ini dulu suka minum alkohol, suka mengganja, suka
fly.Sekarang saya juga bisa fly, tapi dengan cara dzikir. Alaa bi-
dzikrillah tathmainul qulub (Ketahuilah, bahwa dengan
berdzikir/mengingat Allah,hati menjadi tenang)."

Lalu bagaimana pernikahan mereka?
Nah, saat dinikahkan di Haurgelis, Bandung, Jalaluddin menolak duduk
bersanding. Padahal adat di berbagai tempat 'kan pengantin biasa
bersanding di pelaminan. Dia ingin duduknya dipisah dengan pengantin
wanita.
Kata dia, "Kita ini masuk Islam untuk meninggalkan jahiliyah."
Akhirnya pelaminan dipisah. Begitu juga tamu perempuan dan laki-laki
terpisah.

Selama tinggal sementara di rumah mertuanya, dia jadi sosok
perhatian orang sekitar, karena begitu mendengar adzan dia langsung
ke masjid. Untuk pergi ke masjid dia harus lewat pasar. Bagaimana
tidak jadi perhatian, ada orang
bule tinggi besar pakai baju batik pergi ke masjid. Padahal banyak
orang di pasar dan madrasah dekat situ yang sudah puluhan tahun di
tempat bila terdengar adzan tidak peduli.

Akibatnya mereka merasa malu. Begitu pula ustadz-ustadz di madrasah
ini juga merasa malu. Sehingga akhirnya mereka ke masjid juga. Anak-
anak muda yang suka main bola juga penasaran. Ini bule bisa shalat
nggak sih.
Akhirnya mereka semua pergi ke masjid, sehingga masjid jadi penuh.

Waktu pulang ke Indonesia beberapa waktu lalu, di ANTeve, Anda
bercerita seorang Rabbi dalam wawancara dengan CNN menyitir hadits
Nabi yang mengatakan menjelang hari kiamat nanti orang Islam akan
memerangi orang Yahudi?

Hadits ini shahih. Jadi pada hari mendekati kiamat orang Muslim dan
orang Yahudi akan berperang dan orang Muslim akan mengalahkan orang
Yahudi.
Sampai orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan batu
memberitahukan keberadaannya. Saat bersembunyi di balik pohon, pohon
pun akan memberitahukan. Kecuali satu saja yaitu pohon gharqat.
Anehnya orang Yahudi mempercayai hadits tersebut. Kebetulan saya
pernah ke Israel tiga kali. Ternyata di sana pohon gharqad banyak
ditanam orang Yahudi. Di New York kalau kita pergi ke tempat orang
Yahudi Orthodox, juga ada pohon itu.

Apa penjelasan rabbi Yahudi itu?
Dia bilang, "Ya saya percaya dengan apa yang dikatakan Muhammad.
Tapi jangan takut. Ini masih lama."
Ketika orang bertanya, "Kapankah waktu itu akan datang?"
Sang rabbi tersebut mengatakan, "Hal itu baru akan terjadi ketika
jumlah ummat Islam yang datang ke masjid pada saat shalat Shubuh
sama dengan jumlah yang datang pada shalat Jum'at." Maksud Rabbi
itu, hal tersebut baru terjadi ketika umat Islam sudah menjalankan
Islam secara bersungguh-sungguh.

Selama di Amerika apakah Anda melihat ada kemajuan dalam lobi
politik Islam dibandingkan dengan lobi politik Yahudi? Setelah
berdirinya CAIR (Council on American-Islamic Relation) agak lumayan.
Sehabis peristiwa 11 September kedudukan ummat Islam justeru jadi
lebih kuat lagi. Dulu tidak mungkin Presiden Amerika datang ke
Islamic Center. Sampai berkali-kali lagi. Juga agak janggal kalau
FBI atau pejabat Departemen Luar Negeri berkali-kali minta bertemu
dengan organisasi-organisasi Islam,mengajak kerjasama. Berarti kan
hubungannya kuat. Juga bagaimana kita bisa memaksa untuk melakukan
propaganda tidak langsung tentang Islam? Coba apa kata Bush setelah
11 September? "Islam adalah agama damai," kata dia.

Bagaimana komentar Anda tentang iklan-iklan layanan masyarakat
pemerintah Amerika yang beredar di Indonesia?

Sebenarnya masyarakat Amerika secara umum baik. Pekan pertama sejak
peristiwa 11 September mungkin mereka benci dengan Islam. Tapi
sekarang malah positif. Mereka jadi ingin tahu. Kini mereka yakin
bahwa kejadian 11 September tidak ada hubungannya dengan Islam dan
Islam adalah agama damai.*** (Shw, Dzh)


--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise.

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke