|
Cinta II
[7]
Pernikahan
Rosululloh SAW dengan Siti Khodijah Muhammad Rosululloh saw
bersabda, Alloh tidak memberi kepadaku pengganti
isteri yang lebih baik dari dia (Khodijahr.a). Ia beriman kepadaku di kala semua orang
mengingkari kenabianku. Ia membenarkan kenabianku di kala semua
orang mendustakan diriku. Ia menyantuni diriku dengan hartanya,
dikala semua orang tidak mau menolongku. Melalui dia Alloh menganugrahkan anak
kepadaku, tidak dari isteri yang lain" Jauh sebelum Khodijah bertemu dengan
Muhammad, Ia pernah bermimpi, Khodijah bermimpi
kejatuhan Matahari. Sinarnya menghanguskan semua rumah penduduk Mekkah, kecuali
satu dapur. Mimpi itu ditanyakan pada pamannya yang
ahli mimpi, Waroqah bin Nufal, Apa gerangan maksud dari
mimpinya. Sang Paman berkata, Engkau akan mendampingi Nabi akhir jaman,
dari negeri manakah
? Makkah Suku apa ? Suku Quraisy Keturunan siapa ? Bani Hasyim Siapakah namanya ? Ia bernama
Muhammad. Siti Khodijah gundah,
gelisah, Benarkah ? benarkah
? pertanyaan itu kini mengganggu
hari-harinya. Syahdan, sejak saat itu, ada harapan pada
diri Khodijah, Dan ia menunggu terpenuhinya nubuwat
itu. Sudah berapa banyak para pemuka suku di
jazirah Arab yang mencoba melamarnya, Tapi ditolak olehnya, Sampai satu ketika, Didengarnya dari kalangan
Quraisy, Muhammad Al-Amin. Khodijah gelisah, Diakah yang dulu hadir dalam perlambang
mimpiku ? Diakah sang matahari dan sang Bulan
? Muhammad ? anta samsum anta badrun
? Abu tholib paman Muhammad satu waktu
berkata, Anakku, aku bukan orang berpunya. Keadaan
makin menekan kita juga. Aku mendengar bahwa Khodijah mengupah orang dengan dua
ekor anak unta. Tapi aku tidak setuju kalau akan mendapatkan upah semacam itu
juga. Setujukah kau kalau hal ini kubicarakan dengan dia
? Terserah paman, jawab
Muhammad. Abu Tholib-pun mengunjungi
Khodijah, Khodijah, setujukah kau mengupah Muhammad
? Aku mendengar engkau mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi buat
Muhammad aku tidak setuju kurang dari empat ekor. Khodijah menjawab, Kalau permintaanmu itu buat orang yang
jauh dan tidak kusukai, akan kukabulkan, apalagi buat orang yang dekat dan
kusukai. Demikianlah Muhammad dengan diiringi oleh
Maisaro, budak Khodijah, berangkat ke Syam guna berdagang barang milik
Khodijah. Khodijah berpesan pada Maisaro, agar
benar-benar memperhatikan Muhammad, jangan sampai ada kekurang apapun, dan
dimintanya ia melayani Muhammad sebagaimana ia melayani
Khodijah. Maisaro mengangguk. Mengantar keberangkatan Muhammad dan
Maisaro, Khodijah seolah melepas hatinya mengikuti
mereka, Getar-getar perasaan yang aneh seolah
terikut bersama berangkatnya Muhammad ke Syam. Beberapa hari telah
berlalu, Khodijah dengan gelisah menunggu di
rumahnya, Kadang dilihatnya di depan rumah, siapa
tahu Muhammad sudah datang, Malam-malam kini yang terbayang wajah
Muhammad al Amin, duhai, apa gerangan yang sudah terjadi ?
Mengapakah aku jadi begini ? benarkah ia Nabi yang akan kudampingi,
ataukah ? Benar !, kerinduan telah menguasai hati
Khodijah, Kerinduan yang tulus, kasih sayang yang
tulus, Kini mengharap adanya pertemuan segera
dengan Muhammad. Ketika itu Khodijah sedang berada di ruang
atas, Di kejauhan, tampak Muhammad bersama
beberapa barang untuk Khodijah dan untanya perlahan-lahan datang menuju
Khodijah, Hampir berteriak Khodijah karena
senang, Malam-malam yang menyiksa sebab rindunya
kini seolah mendapat siraman air yang segar. Bersegera, dengan sedikit berlari, Khodijah
turun dari sotoh (ruang atas) untuk menemui Muhammad yang
dirindukannya. Muhammad menceritakan pengalamannya di Syam
dan berita tentang perdagangannya dengan bahasa yang halus dan fasih, serta laba
yang diperolehnya. Beberapa saat kemudian, Maisaroh datang
menyusul di belakang. Dari Maisyaroh inilah, Khodijah
mendengarkan cerita selama Muhammad di perjalanan. Sampai disebuah perhentian, dekat sebuah
gereja, kami dihentika oleh seorang utusan pendeta, kemudian kami dipersilakan
masuk ke dalam rumah sang pendeta, sementara Muhammad berteduh disebuah
pohon. Sang pendeta bertanya, masih adakah
rombonganmu yang belum masuk ke sini ? Mendengar itu, cerita Maisyaroh pada
Khodijah, sang pendeta berlari keluar sendiri
menemui Muhammad. Dan kemudian ia menangis di depan Muhammad. Dari jauh aku
mendengar ia berkata,Engkaulah Nabi yang dijanjikan
engkaulah Nabi yang
dijanjikan
Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Alloh dan engkau Muhammad adalah
Rosululloh. Kemudian pendeta itu menghampiri aku dan
berkata kepadaku, kata Maisaro. Segeralah kembali ke Mekkah, jangan sampai
orang Yahudi tahu keberadaan Muhammad, jagalah ia dengan baik, ia adalah Nabi
akhir jaman. Lihatlah itu,sang pendeta itu menunjukkan awan putih yang ada di
atas kepala Muhammad dan selalu melindungi Muhammad, mengikuti kemana Muhammad
bergerak. Mendengar cerita itu, Khodijah menangis
terharu, Rasa sayangnya kini berubah menjadi rasa
cinta yang tulus, Dialah sang Matahari, dialah sang Bulan
Purnama, gumamnya dalam hati. Tapi kini perasaan gelisahnya semakin
bertambah, Bagaimana Muhammad sendiri ? Maukah ia
nikah dengan dirinya yang sudah berusia diatasnya ? Bagaimana pandangan
orang-orang Quraisy ? para pemuka-pemuka suku yang pernah ditolaknya
? Melihat dirinya, Khodijah seolah merasa tak
pantas bersanding dengan Muhammad, Pemuda yang tampan, paling bisa dipercaya,
tutur kata, budi pekertinya halus, akhlaknya terpuji. Kebingungan-demi kebingungan melandanya,
antara keinginannya dengan pemikirannya, Antara kerinduannya dengan
kenyataannya, Antara kecintaannya pada Muhammad dengan
ketidak tahuannya
. Salah seorang sahabatnya Nufaisa datang
pada Khodijah, Kepada dialah Khodijah menumpahkan perasaan
gundah gelisahnya, Biarlah aku saja yang menanyakan pada
Muhammad, kata Maisaro untuk membantu Khodijah. Nufaisa mendatangi tempat Muhammad dan
bertanya kepadanya, Kenapa engkau tidak mau nikah
? Aku tidak punya apa-apa sebagai persiapan
pernikahan, jawab Muhammad. Kalau itu disediakan dan yang melamarmu
cantik, orang terhormat, terpandang dan memenuhi syaratmu, tidakkah engkau
terima ? Siapa itu ? Khodijah, jawab
Nufaisa. Dengan cara bagaimana
? Serahkan padaku, jawab nufaisa
lagi. Demikianlah, dengan dihadiri orang-orang
dekat Muhammad dan Khodijah, Dengan mas kawin dua puluh ekor unta Muda,
Muhammad melangsungkan ijab qobul dengan Khodijah. -------------------------------------------------------------------------- All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise. If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
