Menggugat Sang Cendekiawan (Bagian Pertama)

Oleh: M. Abdullah ([EMAIL PROTECTED])

Rasanya tidaklah pantas saya membicarakan manusia sekaliber Cak Nur. 
Pengetahuan saya ibarat bumi dan langit jaraknya, bila dibandingkan dengan ilmu 
dan pengalaman beliau. Dan sebagai manusia Indonesia yang masih banyak menganut 
ceremonial primordial, ada rasa takut "kualat" kalau berani-berani menyinggung 
singgasana keintelekan beliau, karena beliau sangat jauh lebih sepuh dari saya. 

Tapi ada yang menggelitik tak terbendung dalam hati dan kepala saya untuk 
memuntahkan uneg-uneg saya tentang Cak Nur. Entah kebetulan atau tidak 
kebetulan, ketika beberapa saat saya selesai menuliskan judul di atas, saya 
dapat email dari seseorang bahwa, beliau meninggal dunia, tentu saja karena 
sakitnya, bukan karena "takut" membaca tulisan saya. (Dalam situasi seperti 
ini, saya yakin Cak Nur akan berkata "Saya turut berduka", bukanya "Innalillahi 
wa inna ilaihi roji'un". Tapi berhubung saya masih percaya pada atribut Islam, 
saya ucapkan Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sebab meninggalnya beliau, 
adalah suatu musibah dan kehilangan).

Semoga saja beliau tidak marah (dan bangkit dari kubur) membaca tulisan saya 
ini, sebab alasan saya menulis tidak bertentangan dengan konsep, yang menurut 
beliau adalah "pluralisme". Jadi pasti Nurcholis Majid dkk tidak marah kalau 
saya "menggossipkan" beliau.

Tulisan ini pun sebetulnya sangat-sangat indisen (kurang sempurna) kalau hanya 
sebatas tulisan secara sepihak, alias monolog. Sebetulnya akan sangat lebih 
tepat kalau saya menyampaikan langsung aspirasi saya kepada beliau, sehingga 
kita bisa beradu kepala (baca: debat). Untung adu kepala tidak terjadi, karena 
bila terjadi, debat tsb akan sangat tidak berimbang, mengingat kesehatan beliau 
yang sedang menurun.

Baiklah, saya akan sampaikan beberapa poin, yang saya rasa sangat-sangat perlu 
untuk diketahui, baik oleh kalangan akademisi maupun yang bukan akademisi, 
mengenai pemikiran-pemikiran Nurcholis Madjid,  yang saya kira pantas untuk 
dikritisi.

1. Penderita Islamo Phobia
Yang pertama, menurut saya beliau adalah seorang yang menderita gejala: Islamo 
Phobia. Kenapa bisa begitu? Ya, sekalipun beliau adalah tokoh yang sering 
melantunkan islam, ajakan-ajakannya terkesan munafik dan pengecut (Jangan marah 
dulu,  ingat PLURALISME). Munafik dalam arti majazy, yaitu sifat munafiknya 
kaum munafikin pada waktu zaman Nabi Muhammad di Madinah.
Beliau sangat-sangat antipati untuk mengucapkan bahwa suatu ajaran tsb adalah 
untuk mengagungkan Islam.

Jadi pemikiran-pemikiranya dapat disimpulkan seperti Abdullah bin Ubay yang 
pura-pura masuk Islam, supaya hidupnya selamat. Islamo phobia inilah yang 
kemudian memunculkan ide Islam Yes, partai Islam No. 
Alasannya menggunakan slogan itu untuk kemajuan umat islam juga kurang dapat 
diterima. Takut yang berlebihan (phobia) kalau-kalau mengamalkan dan 
menggunakan hukum-hukum Islam secara kaffah (menyeluruh), baik dalam bidang 
politik, ekonomi, budaya dan sosial kelak akan membuat ummat Islam mundur. 
Politik semacam ini, menurut saya adalah politiknya kaum oportunis, yang 
melakukan aksi ambil untung untuk sesaat. Mereka takut ambil resiko untuk 
jangka panjang.

Virus islamo phobia ini muncul, salah satunya karena dalam alam fikiran Cak 
Nur, seluruh ajaran agama di dunia ini intinya sama, tidak ada 
klasifikasi-klasifikasi atau sekat-sekat pemisah. Ajaran-ajaran moral hidup 
bersosial secara damai dengan pemeluk lain, akhlak yang mulia, budi pekerti 
yang luhur bisa muncul dari mana saja, bukan nota bene dari Islam. Aqidah 
ajaran Islam, rukun Islam dan Iman, tidak harus jadi sandaran dalam beragama.

Nabi pernah bersabda, "Innama bu'itstu li utammima makaarimal akhlaq". Yang 
arti luasya kurang lebih, "Aku diutus HANYALAH untuk menyempurnakan akhlak". 
Ditinjau dari ilmu Balaghah (ilmu penyampaian bahasa-bahasa), hadits tersebut 
bisa berarti, "Kalau tujuannya bukan untuk menyempurnakan akhlak, Nabi Muhammad 
TIDAK akan diutus". Jadi, di hadits ini, tujuan utamanya adalah menyempurnakan 
akhlak. Tapi toh Tuhan tidak langsung dan right-away begitu saja menyuruh Nabi 
untuk mengajarkan akhlak. Beliau tetap harus menyiarkan dulu tauhid yang kokoh. 
Kenapa? Karena akhlak yang mulia akan muncul bila dilandasi tauhid yang benar 
dan jika rukun Islam dan Iman terpenuhi secara optimal.

Dalam mereformasi akhlak ini Nabi tidak berimprovisasi begitu saja mengajarkan 
cara makan yang benar, minum yang sopan dan bertutur kata yang baik. Dan beliau 
tidak pernah malu untuk mengatakan sesuatu itu islamic atau non-islamic, 
islamiy atau ghoiru islamiy. Dan banyak dalam hadits-haditsnya menyebut 
"Ciri-ciri orang beriman adalahÂ….", "ciri-ciri orang Islam adalahÂ…".  

Dari segi kultur agama-agama, ide "Islam Yes, Partai Islam No" ini, boleh saja 
diacungi jempol. Sebab belum ada pentolan agama lain yang punya ide sama, 
tarohlah, mengatakan, "Kristen Yes, Partai Kristen No", "Budha Yes, Partai 
Budha No". 

Islamo phobia ini sangat-sangat tidak sehat bagi para generasi muda Islam. 
Sebab doktrinasi Islam bisa tumpul gara-gara ide-idenya itu. Hal itu telah 
terbukti dengan munculnya jaringan islib, yang lebih berani bereksperimen 
dengan ide-ide gila. Bukan hanya medan furuiyah fiqhiyah yang disikat, tapi 
aqidah juga ikut dibabat.

2. Tak Ada Sense of Islam
Akibat selanjutnya adalah, memunculkan gejala dan ciri kedua: Tak Ada Sense of 
Islam. Kata "sense" di sini bisa berarti "rasa". Tapi bukan rasa di lidah. Rasa 
di sini lebih kepada rasa hati, selera hati. Boleh juga dibilang rasa memiliki. 
Sense of woman berarti "ada rasa memiliki wanita", "cenderung senang pada 
wanita", "selera pada wanita". Bukan "rasa si wanita", "feel of woman" atau 
"taste of woman".

Dalam stadium yang lebih parah, tak adanya sense of Islam ini bisa berakibat 
pada ikonoklasme (penghancuran) simbol-simbol islam. Ikonoklasme bukan saja 
dalam arti harfiah, menghancurkan kaligrafi "Allah" atau "Muhammad" dalam huruf 
Arab. Penghancuran di sini bisa secara harfiah, benar-benar menghancurkan, 
memusnahkan secara fisik, bisa juga secara simbolis / maknawi, yaitu berupa 
penghinaan dan pelecehan simbol-simbol itu.

Menghancurkan secara haqiqi simbol-simbol Islam, secara tidak sengaja, seperti 
kasus yang menimpa group musiknya Dewa, yang dengan bangga menggunakan lafaz 
Allah sebagai logo pada lantai panggung dan stiker-stikernya. Atau seorang 
muslim yang secara sengaja menurunkan tulisan kaligrafi Alqur'an dari dinding, 
dengan alasan "Islam bukan hanya terletak pada kaligrafi". Dan bisa saja, 
karena tak adanya sense of Islam, seorang gadis muslimah berpakaian seksi, 
mengenakan kalung berlafalkan kaligrafi "Allah".

Atau ilustrasi lebih ekstrim lagi, seorang gadis yang  "terpaksa" berprofesi 
menjadi pelacur dengan bangga memakai kalung bertuliskan huruf Arab 
"Bismillahirrahmanirrahim" sambil melakukan ritual suami istri dengan 
cutomernya. Na'udzu billah.

Barangkali para pengikut liberalisme akan membela tindakan sang gadis di atas 
dengan mengatakan, "Kita harus bersyukur, karena gadis itu masih mau mengingat 
Allah, daripada memakai jilbab, tapi sifatnya tidak islami." 
Jawaban seperti itu adalah sebuah set-back, kemunduran, sekaligus juga upaya 
mendangkalkan nilai-nilai Islam. Ajaran Islam mustinya dijalankan secara maju, 
progresif, bukan mundur. 

Jadi jangan heran juga kalau pada pemakaman Cak Nur, istri dan anak beliau 
lebih suka mengenakan "seragam" warna hitam, sebagai tanda berkabung. 
Sebagaimana kita tahu, mengenakan pakaian warna hitam adalah tradisi orang 
barat, yang notabene mayoritas beragama Kristen. Dan dalam kesehariannya, 
sebagai anak dan istri seorang begawan "muslim", merasa terbebas untuk tidak 
mengenakan jilbab.

Jadi jangan heran juga kalau Nurcholis Majid dan kasus pernikahan purtriya 
dengan seorang pemuda Yahudi, sampai sekarang masih kontroversial. Karena 
semuanya tidak ada keterusterangan, keberanian, untuk mengatakan apa yang 
sesungguhnya terjadi. Tak ada keberanian untuk mengatakan "simbol-simbol" yang 
mereka miliki. Jadi bukanlah suatu kesilapan kalau ada yang menjuluki 
pernikahan itu adalah pernikahan "universal". lmunya yang segudang tentang 
Islam merasa tak perlu dipraktekkan dalam rangka menjalankan keyakinannya.

Ngomong-ngomong mengenai pernikahan,  agaknya itu adalah hak privilage para 
pendekar bangsa ini, para penganut prularis tidak perlu risau, karena itu 
memang "keistimewaan" yang umum dimiliki para pemikir dan "ningrat" bangsa ini. 
Sebagai contoh, Emha Ainun Najib yang terkesan sangat-sangat  humanis dalam 
karya-karyanya dan selalu memposisikan dirinya sebagai manusia pinggiran dan 
tersisihkan, toh tetap merasa harus, menikahi wanita cantik berstatus artis, 
bukannya menikah dengan wanita berstatus janda tua atau simbok-simbok miskin 
beranak lima.

Tapi bagi penentang liberalis, itu adalah suatu sikap "korupsi intelektual", 
yaitu hak privilage intelektual untuk melanggar wilayah jusrisdiksi dan ide-ide 
mereka sendiri. Gus Dur yang kesohor sebagai kiai pun pernah korupsi (korupsi 
intelektual) dengan membela goyangannya Inul.   

Kembali ke Cak Nur. Munculnya rasa antipati terhadap sense of islam bisa 
terjadi karena beberapa teori probabilitas. Bisa jadi karena Cak Nur punya 
west-minded yang kelewat tinggi, sehingga merasa minder kalau mengakui 
keunggulan ajaran Islam atas ajaran yang lain. Di sinilah letak kekonyolan 
gelar kehormatan yang diberikan kepada beliau, sebagai "Cendekiawan - Muslim". 
Mustinya embel-embel "muslim" tidak dipakai untuk gelar cendekiawan itu. Karena 
secara praktek beliau tidak menerapkan syariat islam. Contohnya tentang 
pernikahan di atas, anaknya muslimah, sedang suaminya masih diragukan 
keyahudiannya. Inilah lintas agama. Inilah pluralitas. Opone sing islam, Cak?

3. Tidak Merakyat.
West-minded yang kelewat batas inilah, salah satunya, yang membuat 
pemikiran-pemikiran Nurcholis tidak merakyat. Inilah ciri ketiga. 
Jujur saja, kemasyhuran pemikiran  cak Nur di kalangan masyarkat bawah 
sangat-sangat tidak terpakai. Sinyal-sinyal pemikirannya hanya bisa ditangkap 
di kalangan exlusif akademis dan kampus-kampus. Para pedagang di pasar, kuli 
bangunan, tukang ojek dan mereka-mereka yang berpendidikan minim tak mengenal 
pemikiran-pemikiran Cak Nur. Mereka hanya tahu nama saja. Pamornya di kalangan 
rakyat jelata kalah oleh Megawati yang hanya lulusan SMA.

Oleh karena itu kalau beliau masuk ke dunia politik, hanya akan jadi bahan 
olok-olokan para rivalnya. Para rekan politiknya mungkin hanya akan memakai 
beliau sebagai vote-gathering warga NU. Setelah itu beliau akan ditendang. 
Karena rakyat sama sekali tak mengerti pola pikirnya yang "berjalan di atas 
awan" itu. Waktu beliau dimakamkan, memang ribuan pelayat dari berbagai 
kalangan datang. Tapi biasanya mereka cuma ikut-ikutan.

Ide-ide pluralitasnya pun tidak pernah terpakai oleh mereka yang sedang 
berkonflik ria di Ambon dan kepulauan Maluku dan Poso. Tidak ada langkah 
kongkrit menghadapi konflik multi dimensi yang terjadi di negri ini. Karena 
doktrin-doktrin Cak Nur hanya laku dikonsumsi kalangan akademisi dan elit 
tertentu. Bagi yang sedang berkonflik ria tak punya akses untuk menikmatinya. 
Mereka yang sedang berperang pun tak mengerti apa itu pluralitas,dan terus 
berperang. Bahkan di Maluku, kedamaian kembali hadir bukan karena konsep 
canggih yang diramu Cak Nur, tapi lebih karena faktor bosan; Mereka bosan 
saling bunuh dan akhirnya damai dengan sendirinya.

Bicara tentang ekonomi untuk mengentaskan rupiah dari keterpurukan juga sangat 
minim dipikirkan oleh beliau. Ini saya maklumi, karena beliau memang bukan 
seorang praktisi ekonomi, walaupun bisa menyekolahkan dua anaknya ke amerika.

Ketika bangsa ini ribut-ribut masalah TKI/TKW yang terusir dari negri jiran, 
Malaysia, pemikirannya tentang kebangsaan tidak muncul. Ketika ada TKW yang 
dilecehkan dan diperkosa di tanah Arab, beliau tidak tampil sebagai pahlawan 
pembela kebenaran. Belum pernah kedengaran suaranya membela para TKI / TKW yang 
bermasalah.

Jadi di sini julukan beliau sebagai cendekiawan bangsa juga terbantahkan. 
Kecendekiawanannya hanya terbatas pada "kasta-kasta" tertentu saja, bukan 
secara menyeluruh. Terlalu berlebihan kalau mengatakan beliau sebagai 
cendekiawan bangsa. Jadi gelarnya sebagai pahlawan nasional karena pernah 
mendapatkan bintang Mahaputra tahun 1999 patut dicabut. Gali lobang kuburnya 
dan pindahkan ke pemakaman biasa.

Dalam menata moralitas bangsa beliau juga tak pernah kelihatan. Pemikirannya 
hanya seputar bagaimana mengobok-obok kehidupan sosial Islam agar sinkron 
dengan kehidupan sosial agama lain (padahal dalam menata kehidupan sosial, 
hukum Fiqh Islam kurang apa lagi?). Mengenai moralitas bangsa dan generasi 
muda, beliau sama sekali tak kelihatan suaranya. Belum pernah beliau 
mengkritisi budaya bangsa yang luntur diterpa gelombang globalisasi dan 
westernisasi. Belum pernah beliau "ngerumpiin" cewek Indonesia yang kini 
bermental exibitionis, suka memamerkan organ-organ tersembunyi mereka dengan 
pakaian-pakaian super minimalis atau ketat. Berpakain tapi sebenarnya 
telanjang. 

Padahal masalah moral ini sangat-sangat fundamental. Banyak benih-benih 
generasi muda Islam yang gugur sebelum berkembang gara-gara tersandung aurat 
wanita, dan sang wanitanya harus berurusan dengan kehamilan di luar nikah. Atau 
barangkali Cak Nur tidak ambil pusing masalah itu, karena itu baginya terlalu 
sepele untuk dipikirkan (Asal jangan dinikmati saja, Cak!).

4. Tidak adanya Konklusi Yang Komprehensif
Ciri yang keempat, pemikiran dan gagasan beliau tidak memunculkan konklusi yang 
komprehensif. Ide-idenya yang dianggap brilian itu tidak "Qolla wa dalla". 
Selalu saja memunculkan kontroversi, baik terbuka maupun tertutup. Orang 
dipaksa untuk bingung dalam mengambil suatu kesimpulan, sebenarnya Cak Nur ini 
ngomong apa?

Ada yang bilang beliau ini adalah tokoh modernis, ada yang bilang tokoh 
nasionalis, ada yang bilang lagi sebenarnya beliau ini sudah keluar dari rel 
Islam, oh tidak, beliau ini sebenarnya islam banget, ada yang bilang lagi 
beliau ini menjiplak penganut Kristen Anonim, dll, dll. Kenapa timbul begitu 
banyak penafsiran tentang beliau? Karena beliau tidak pernah tegas bilang "A" 
itu "A". tapi dalam mengotopsi suatu benda, pembicaraanya selalu 
ngalor-ngdidul, ngetan-ngulon tidak karuan.

Memang pengetahuannya sangat luar biasa tentang sejarah bangsa-bangsa dan 
bahasa dunia. Dan kita pun jadi terpana kalau membaca tulisan-tulisannya dan 
mendengar ceramah-ceramahnya. Tapi semua itu bukan dijadikan bekal untuk 
"meyakinkan" audience tentang kesimpulan pemikirannya. Pepatah lama Arab 
mengatakan bahwa pembicaraan yang baik adalah pembicaraan yang "qolla wa 
dalla", yang ringkas tapi berisi, ringkas tapi dimengerti. Boleh panjang lebar 
tapi menuju pada suatu konklusi yang tepat dan tidak terpecah-pecah. Panjang 
lebar tapi menuju pada pencerahan, bukan perpecahan. Agaknya Cak Nur musti 
belajar dari Aa Gym , bagaimana menyampaikan pembicaraan yang tepat.

Seringkali pemikiran Cak Nur tidak tertuju pada istimbath yang tepat terhadap 
pola pikirnya sendiri. Barangkali inilah "kebocoran" para penganut faham 
liberal, seperti JIL.  Contoh konkritnya adalah tidak adanya pembelaan terhadap 
suatu kasus yang sebetulnya harus harus dibela, seperti kasus Abu Bakar 
Ba'asyir. Walaupun secara juridis Abu Bakar tidak ada bukti-bukti yang memenuhi 
unsur terorisme yang dituduhkan, toh tidak ada dari tokoh-tokoh liberalis, 
pluralis, dan inklusif itu yang membela beliau. 

Ingat, Jil selama ini berkoar-koar membela suatu aliran minoritas yang dianggap 
"berpikiran lain". Tapi anehnya sikap resistansi jil hanya berlaku pada 
minoritas yang notabene mengganggu kelestarian ajaran islam. Pada kasus 
minoritas yang ingin melegalkan dan menegakkan ajaran Islam, resistansi jil 
sama sekali tak terlihat, seperti kasus Abu Bakar Ba'asyir di atas. Padahal, 
sekali lagi, secara yuridis, Abu Bakar sama sekali tidak terbukti memenuhi 
unsur-unsur delik yang mengarah pada terorisme.

Pada skala internasional juga kiprah mereka membela "minoritas" juga 
sangat-sangat nisbi, kalau tidak bisa dikatakan nihil. Contohnya, kasus 
orang-orang Irak yang ditawan tentara Amerika. Ketika para tawanan itu 
diperlakukan secara tidak manusiawi dan mendapatkan pelecehan seksual, 
"organisai-organisasi" para pemikir itu tidak satu pun tokohnya yang getol 
mengkritisi kebijakan amerika, baik di Irak sendiri atau di Guantanamo. Padahal 
organisasi kemanusiaan, seperti amnesti international, yang berasal di barat 
sana getol memprotes kekejian serdadu Bush itu.

Seolah-olah para liberalis itu berkata, "Salah sendiri kalian tidak nurut pada 
Amerika!" 
Jadi menurut mereka, para liberal itu, ajaran liberalis, pluralis, inklusif, 
itu hanya cocok untuk ditujukan pada umat islam sendiri. Sedang mereka yang di 
luar islam harus dilindungi dan diselamatkan dari "kebuasan" umat islam. 
Padahal, dalam skala internasional, fakta sejarah, umat Islam lah yang selalu 
jadi korban terbanyak, dari kebiadaban para penjahat perang, termasuk amerika.

Kini sebuah negara Islam, yaitu Iran, tengah dikepung negara-negara barat agar 
tidak memproduksi uranium, walaupun jelas-jelas uranium itu digunakan untuk 
pembangkit listrik. Kita lihat, kita tunggu, apakah para pendekar liberal itu 
mau mengobok-obok medan "perang", yang sebetulnya, berada dalam wilayah 
pemikiran mereka sendiri.
Jawabannya, tunggu saja sampai ada onta yang masuk ke liang semut, alias tidak 
akan mungkin.

Tapi coba lihat argumen-argumen mereka yang tajam tentang negara Islam lain, 
Sudan. Kritikan-kritikan mereka yang tajam dan terkesan ambivalen dalam kasus 
yang sama. Dalam kasus Sudan, seolah mereka berkata, "Salah sendiri kalian 
menerapkan syari'at Islam!".

Sikap dan sifat seperti di atas, yang jamak dimiliki para pemikir liberal, 
terjadi karena mereka cenderung memutar balik pengertian yang mereka fahami 
dari sebuah ayat atau hadits, atau ijtihad atau kiyas, alias terhipnotis 
terbalik. Itulah gejala yang juga dimiliki Cak Nur, yaitu:

5. Terhipnotis Terbalik
Poin kelima yang perlu digarisbawahi adalah, pemikiran Cak Nur sering mengarah 
pada Hipotesa Terbalik, terhipnotis terbalik oleh kata-katanya sendiri maupun 
dalam rangka pengambilan hujjah-hujjah dari Alqur'an dan Hadits, Ijtihad dan 
Qiyas. Contoh hipotesa terbalik, misalnya begini, guru anda mengatakan agar 
jangan mendekati harimau berwarna hijau. Nah yang menempel di benak anda justru 
harimau berwarna hijau. Harimau warna kuning, merah, hitam, dll tidak ada yang 
menempel di benak anda. Anda tidak menelaah baik-baik kata sang guru kalimat 
"Jangan dekati"nya. Akibatnya yang anda cari justru harimau berwarna hijau 
tersebut. Setengah mati anda mencari sampai ketemu. Sangat beruntung kalau anda 
menemukan harimau itu. Tapi kalau tidak ketemu, itu sudah pasti. Sebab harimau 
berwarna hijau tidak pernah ada.

Kalaupun ketemu, anda juga bukan termasuk golongan murid yang taat pada guru, 
sebab konotasi larangannya anda langgar. Sebab kalau anda menemukan harimau 
berwarna hijau, berarti anda berusaha secara langsung atau tidak untuk 
mendekati harimu tsb. Dus, anda melanggar larangan guru. Begitulah yang terjadi 
pada pemikir brilian kita, Nurcholis Majid.
Dan ini pula yang terjadi pada Nabi Adam. Kata "Jangan dekati" pohon larangan, 
malah "menghipnotisnya" untuk mendekati pohon itu. Seribu satu macam kenikmatan 
sorga yang bisa dinikmati, lenyap dari benak Nabi Adam, hanya gara-gara satu 
pohon larangan.

Malah lebih parah lagi, dalam analogi di atas, dalam menafsirkan kata "Jangan 
dekati" itu, seandainya orang-orang liberalis yang menjadi Nabi Adam, atau Nabi 
Adam beraliran liberal, maka bukan Iblis yang menggoda Nabi Adam untuk 
mendekati pohon larangan, tapi malah Nabi Adamlah yang mengajak Iblis untuk 
sama-sama mendekati pohon larangan dan memakan buahnya.

Begitulah "ciri khas" liberalis, selalu mencari celah-celah untuk melarikan 
diri atas sebuah perintah atau larangan, agar terbebas dari taklif (beban). 
Kasus yang mirip seperti itu telah terjadi, ketika Allah memerintahkan kaum 
Yahudi, lewat Nabi Musa, untuk menyembelih seekor sapi (Al Baqarah 67 - 71), 
kaum Yahudi bukannya "sami'na wa atho'na", tapi malah menolak perintah itu 
dengan mempertanyakan, "Apakah kamu hendak menjadikan kami bahan ejekan?"
Kemudian Nabi Musa menerangkan lebih jelas lagi bahwa itu adalah perintah dari 
Tuhan, dan akibat buruk kalau tidak melaksanakannya. kemudian dijawab lagi oleh 
orang-orang Yahudi, "Apa sih sapi yang dimaksud itu? Umurnya berapa? " dijawab 
lagi oleh Musa, "Sapi itu tidak tua dan tidak muda, pertengahan keduanya".

Jawaban Nabi Musa masih saja dirasa kurang oleh mereka, maka mereka bertanya 
lagi, "Warnanya apa? Bagaimana hakekatnya sapi itu? Kami bingung mendifinisikan 
sapi itu". Begitulah Yahudi.

Pertanyaan-pertanyaa itu hanyalah mengada-ada, supaya Nabi Musa jengkel. Sebab 
secara logika orang waras, bila diperintah untuk menyembelih seekor sapi, maka 
yang tersbersit di benak adalah seekor sapi yang sehat, tidak penyakitan, dan 
secara umum dijumpai. 

Tidak heran kalau orang Yahudi ini dalam khazanah sejarah Nabi-nabi selalu 
menjadi kaum yang paling getol menentang perintah Tuhan. Ketika mereka dipimpin 
Nabi Musa, tak terhitung tuntutan mereka yang terkesan rewel, mengada-ada, 
tidak sabaran dan bersifat khianat dan kufur. 

Pada zaman Nabi Isa, Yahudilah yang meminta supaya Nabi Isa (Yesus) dibunuh. 
Bahkan pada zaman Nabi Muhammad, sifat khianat bangsa Yahudi sangat jelas 
tergores dalam sejarah. Walaupun orang-orang yahudi itu diberi tempat di 
Madinah oleh Nabi, boleh melakukan aktivitas sebagaimana kaum muslimin, ketika 
terjadi perang Ahzab, mereka berkhianat, bergabung dengan musuh dan balik 
memerangi Nabi. Akibatnya kaum Yahudi Madinah ada yang diusir dan sebagian 
dijatuhi hukuman mati. Uniknya hukuman mati itu pun bukan langsung dari Nabi, 
tapi dari seorang mantan Yahudi juga.

Sifat khianat Yahudi itu, jauh berbeda dengan ketaatan Nabi Ibrahim yang ketika 
disuruh menyembelih anaknya tidak mempersoalkan perintah itu. Malah tak ada 
jeda yang panjang, antara perintah dan waktu eksekusi. Tak ada pertanyaan, 
seperti, "Dipotongnya kapan? di mana? Pas dipotong harus pakai baju apa tidak", 
atau pertanyaan yang sangat mendasar sekali, seperti, "Kenapa anak saya musti 
dipotong?". Entah apa jadinya, jika perintah menyembelih anak itu ditujukan 
pada Yahudi. 

Demikian sedikit gambaran, antara liberalisme, yang merupakan ciri khas kaum 
Yahudi, dan ketaatan Nabi Ibrahim dan anak cucunya. Dan dari pelajaran  sejarah 
pula kita bisa menganalisa sejauh mana jalan pikiran Nurcholis Madjid dan kaum 
liberalis lainnya bisa kita terima atau tidak.

6. Tidak punya selera humor
Ciri yang keenam, yang tidak dimiliki Nurcholis Madjid dalam menyampaikan 
pemikirannya, tidak pernah diselingi kata-kata yang bisa melonggarkan urat 
syaraf. Pemikiran-pemikirannya terlalu "serius tapi serius". Bukan "serius tapi 
santai" atau "santai tapi serius". Padahal sebagai cendekiawan yang pernah 
menimba ilmu dari Chicago Bull, mustinya beliau sedikit banyak tahu pentingnya 
ilmu humor. Terlalu serius dalam menyampaikan suatu pandangan, kurang bisa 
menempel pada benak audience, kalau disampaikan secara monoton, tidak ada 
hentakan yang menggugah kelenjar andrenalin.

Memang sepintas beliau suka menyelipkan guyonan dalam ceramah-ceramahnya, tapi 
bukan murni kreasi beliau sendiri, tapi hasil plagiat dari cerita-cerita lama.
Dan  humor yang disampaikan juga mustinya tidak melebihi porsi, seperti Gus 
Dur. Lama-lama bisa jadi komedian, pemikirannya bisa-bisa tumpul dan dianggap 
banyolan. (Bersambung)

Emabdulah
Berani mengkritik
Dan tidak takut dikiritik
Walau nyawa taruhannya
(Berhubung judi sudah dilarang, maka taruhan dibatalkan. Weee)




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 


--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in 
any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved 
otherwise. 

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily 
digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your 
mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the 
title "change to daily digest".  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/hidayahnet/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke