|
From: Zulfadhli
Sent: Wednesday, September 07, 2005 3:26 AM
Subject: Penebar Islam Liberal = Domba Kaum Zionis Penebar Islam Liberal = Domba Kaum Zionis
Murtadin & Jahiliyah Oleh : Redaksi 06 Sep 2005 - 1:30 am "Peran yang dimainkan oleh orang-orang liberal, para pemimpin utopis itu,
pada akhirnya akan dimainkan ketika pemerintah kita mereka akui. Sampai saat
itu, mereka akan tetap melayani kita dengan baik. Oleh karena itu, kita akan
terus mengarahkan pemikiran-pemikiran mereka kepada segala macam konsepsi dengan
teori-teori fantastis, baru, dan nampak progresif: yang akan sia-sia, karena
kita tidak akan mengisi kepala-kepala kosong para goyim (istilah Ibrani bagi
orang non-Yahudi atau gentile menurut istilah Latin) itu dengan kemajuan ataupun
dengan keberhasilan yang sempuma; hingga tidak satu pun dari otak para goyim itu
yang mampu memahami, bahwa di dalam kata liberal ini tersembunyi pengertian
tentang keberangkatan untuk meninggalkan segala aspek kebenaran, karena hal itu
bukanlah masalah tentang penemuan-penemuan materi, dan karena kebenaran itu
hanya satu, yang di dalamnya sudah tidak ada lagi tempat bagi kemajuan
(progress). Kemajuan itu bagaikan sebuah gagasan yang keliru, bekerja untuk
menutupi kebenaran, sehingga tak seorang pun dapat mengetahui tentang kebenaran
itu, kecuali kita, Manusia Pilihan Tuhan, yaitu wali-wali-Nya." (Kutipan
Protokol Ke-13 dari Protocols of the Learned Elders of Zion).
Pencipta Isme-Isme Bila Anda pernah membaca Protocols of the Learned Elders of Zion (Protokol
Panatua Panutan Kaum Zionis), yang lazim juga disebut Protocols of Zion, maka
dengan gamblang kita akan memahami bahwa para Panatua Panutan Zionis di abad
ke-18 "yang mereka sebut Abad Pencerahan (Enlightment Era), yang hampir secara
bersamaan lahir gagasan-gagasan tentang nasionalisme sebagai antithesis terhadap
feodalisme dan sosialisme sebagai antithesis terhadap kapitalisme serta
sekularisme sebagai antithesis theokratisme" adalah pencipta isme-isme dunia
yang saling bertentangan itu. Jadi, semua isme dunia yang pernah kita kenal
"yang sebagian di antaranya sempat dianut oleh berbagai golongan atau partai
politik di Indonesia"pada hakikatnya lahir dari Satu Ibu Kandung yang
sama.
Lalu, mengapa mereka harus menciptakan dan mempromosikan isme-isme yang
saling bertabrakan itu?
Untuk mencoba mengerti hal itu, kita harus mampu memahami sistem, struktur,
dan budaya yang mereka anut. Sistem yang mereka anut disebut Fertile Crescent
System, struktur yang mereka gunakan disebut The Golden Triangle Structure dan
budaya yang mereka pakai adalah Conflict Culture. Artinya, konflik merupakan
budaya yang terkandung di dalam sistem dan struktur yang mereka anut dan
gunakan. Tanpa konflik, struktur yang mereka gunakan akan runtuh dan secara
serta-merta sistem yang mereka anut pun akan hancur (catastrophic level). Oleh
karena selama puluhan abad sistem peradaban yang kita anut mengacu pada Fertile
Crescent System - yang konon didisains oleh Raja Babylonia, Nimrod atau Namrud,
4 millennium yang lalu, maka dengan sendirinya dunia kita selama puluhan pula
tak pernah damai, alias selalu terjerumus dari satu peperangan ke peperangan
yang lain. Di Eropa, Fertile Crescent System dikenal dengan Labyrinth/Knossos
dan di China disebut San Kuo.
Kebenaran Mutlak Kalau kita berbicara tentang kebenaran, maka tentu saja hanya ada satu
kebenaran, yaitu Kebenaran dengan K besar (uppercase) yang artinya Kebenaran
Mutlak. Tentu saja Kebenaran dengan K besar hanya milik Yang Satu pula, yaitu
Sang Maha Pencipta.
Sebaliknya, bila kita berbicara tentang kebenaran dengan k kecil
(lowercase), kita akan menemukan banyak kebenaran. Nah, di sinilah para
pemikir, penabur, penganjur, dan penganut Islam Liberal bermain. Bermain-main
dengan kebenaran (k kecil), tetapi mencoba menghujat Kebenaran (K besar).
Tentu saja hal itu bukan maqom-nya. Artinya tidak sepadan.
Kalau ada cendekiawan yang melayani perdebatan dengan penganut Islam
Liberal, sama dengan mereka bermain gaple, permainan akal-akalan.
Bagaimana tidak? Seorang pemain gaple yang pada gebrakan awal mengeluarkan
kartu balak empat, berharap lawan-lawannya berfikir bahwa dialah memegang banyak
kartu gacoan empat. Ketika lawan-lawannya menutup kedua pintu empat itu, ia
senang sekali, karena pada kenyataannya kartu gacoan empatnya cuma satu itu.
Tentu saja yang main adalah kartu lain yang bukan gacoan empat. Lawan-lawannya
kecele, karena kartu empat yang ada di tangan mereka justeru tak pernah bisa
keluar lagi, karena tak diberi kesempatan untuk muncul.
Begitu pula dengan para penganut Islam Liberal, mereka menafikan hukum
wajib menutup aurat dengan pernyataan bahwa pakaian yang tertutup merupakan
budaya Bangsa Arab. Jadi, hukum menutup aurat bukan Kebenaran, sehingga perintah
tersebut boleh-boleh saja tidak diikuti. Apalagi sekarang ini, wanita-wanita
telanjang atau setengah telanjang atau mempertontonkan pusarnya bertebaran di
mana-mana. Dan, hal itu telah diterima zaman, karena tidak ada yang protes dan
banyak pula diikuti oleh kaum wanita dari perkotaan hingga ke perdesaan.
Konsekuensinya, agar Islam dan al-Quran tetap eksis, maka Islam dan al-Quran
harus mengintil-ngintil di belakang zaman. Inilah pemahaman mengenai kebenaran
penganut Islam Liberal, yang sesungguhnya bukanlah Kebenaran.
Bagi mereka yang cukup mengerti tentang hukum-hukum Islam, tentu saja akan
mampu membaca permainan gaple tersebut. Para penganut Islam Liberal menafikan
Kebenaran Mutlak. Kata mereka, "Tidak ada itu Kebenaran Mutlak, yang ada adalah
kebenaran relatif."
Tetapi, entah karena licik atau idiot, mereka memberikan postulat bahwa
zaman ini pasti menuju kepada Kebenaran Mutlak, karenanya Islam maupun al-Quran
harus mengikuti (mengintil-ngintil) zaman. Terbuktilah bahwa perdebatan
tentang ini hanya akal-akalan.
Sama persis dengan akal-akalan-nya para Panatua Panutan Kaum Zionis, yang
menciptakan ide liberal sebagaimana yang dikutip dari Protocols of Zion di awal
tulisan ini. Mereka mengatakan, bahwa untuk mencapai Kebenaran Mutlak harus
melalui proses liberalisasi. Padahal mereka mengetahui dengan pasti, bahwa di
dalam kata liberal itu terkandung pengertian tentang keberangkatan untuk
meninggalkan Kebenaran yang Satu.
Kemudian, mari kita tengok postulat mereka yang lain, yakni Ummat Islam
dilarang memandang dirinya sebagai masyarakat yang terpisah dari golongan yang
lain. Kata terpisah dalam hal ini dibuat tidak jelas. Para penganjur Islam
Liberal menganggap wanita muslim yang mengenakan pakaian tertutup (menutup
aurat) sebagai memisahkan diri dari golongan yang lain, sementara yang
mempertontonkan paha, pusar, dan sebagian payudaranya, tidak dianggap
memisahkan diri dari golongan yang lain; dan bahkan golongan kedua ini tidak
dipermasalahkan, kalau tidak bisa dikatakan didukung.
PIRAMIDA ILLUMINATI YAHUDI BERATINGKAT 13
Pyramida illuminati bertingkat 13 ini sama dengan gambar pyramida pada
salah satu sisi Lambang Negara Amerika Serikat ( The Great Seal ). Humanisme
merupakan dasar bagi ajaran Illuminati-Yahudi, sedangkan puncaknya adalah
Rotschile Tribunal (Dinasti Bankir Yahudi asal Inggris) yang kini
"malang-melintang pula didunia Industri - Asuransi - konsultan keuangan dan
perbankan di Indonesia
Sebagai konsekuensi tidak memisahkan diri dari golongan yang lain, Ummat
Islam harus menjadi bagian dari keluarga universal yang berlandaskan humanisme,
demikian pandangan para penganut Islam Liberal. Humanisme adalah landasan ideal
kaum Yahudi-Illuminati (periksa Piramida Illuminati Bertingkat 13), sama dengan
al-Quran yang merupakan landasan ideal bagi Ummat Islam dari dulu hingga
sekarang dan nanti. Jadi, Ummat Islam diminta meninggalkan al-Quran dan
menggantinya dengan humanisme, agar bisa menjadi anggota keluarga universal.
Dengan demikian, secara induktif dapat disimpulkan, bahwa Islam Liberal sama
dengan Yahudi-Illuminati. Setidak-tidaknya, penganut Islam Liberal adalah para
goyim yang digembalakan oleh Kaum Yahudi-Illuminati, atau Domba-domba Kaum
Zionis. Betul, nggak ?
Sumber: Indonesia NEWSNET, Juni 2005
-------------------------------------------------------------------------- All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise. If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
