HAPPY READING SEMOGA TAK PENING BACA

HUKUM BOM DIRI
-Analisis dan Tarjih Fiqh-

Soal:

Kita melihati bahawa bom manusia adalah satu cara yang digunakan oleh
orang Islam untuk melawan musuhnya, yang seringkali digunakan oleh
rakyat Palestin untuk melawan Israel. Dalam mensikapi aksi ini, para
ulama berbeza pendapat tentang hukumnya. Ada yang mengatakan bahawa
hal ini adalah haram, dan ada sebahagian yang mengatakan bahawa bom
manusia adalah halal. Lantas pendapat mana yang lebih rajih (kuat)?

Jawab:

I. Pendahuluan

Bom manusia —atau apa yang sering disebut bom bunuh diri— merupakan
satu faktor signifikan dalam Krisis Palestin, kerana mempunyai
pengaruh efektif terhadap polisi politik di Palestin. Misalnya aksi
bom manusia pada 12 Jun 2002 di Jerusalem yang mengakibatkan 20 warga
Israel maut dan 40 lainnya cedera. Kejadian ini membuat PM Israel,
Ariel Sharon, menyatakan akan tetap menolak pendirian negara Palestin
sehingga aksi bom itu berhenti total.*1)

Di samping signifikansi aspek politik tersebut, aspek lain aksi bom
manusia yang menarik adalah timbulnya pro-kontra yang cukup tajam di
kalangan para ulama dan cendekiawan mengenai hukumnya dalam fiqih
Islam. Sebahagian mengharamkannya sementara sebahagian lainnya
membolehkannya. Jurnal Inquiry and Analysis Series mendiskusikan soal
legitimasi hukum bom manusia itu setidaknya sampai tiga bulan, dari
Mei sampai Julai 2001. Yang terlibat dalam polemik ini bukan hanya
ulama fiqih, tetapi juga pakar politik, penganalisi dunia Islam,
serta kalangan wartawan. Diskusi antara dispilin ilmu praktis
terhenti ketika terjadi Tragedi 11 September di AS.* 2)

Selain dalam jurnal ilmiah berbahasa Inggeris, debat hukum bom
manusia juga marak dalam media massa berbahasa Arab. Mufti Saudi
Sheikh Abdul Aziz Abdullah Al-Sheik, pada majalah Al-Sharq Al-Awsat
yang terbit di London, 21 April 2001 menyatakan bahawa aksi suicide
bombers (pelaku bom "bunuh diri") itu bukan bahagian dari jihad dan
hanya merosak citra Islam. Dua hari kemudian, Yusuf Al-Qaradhawi
dalam harian Al-Raya, 25 April 2001, terbitan Qatar, membantah fatwa
mufti Saudi tersebut. Lalu dua hari berikutnya, 27 April 2001, dalam
harian Al-Hayat, Syaikh Al-Azhar Muhammad Sayyed Tantawi, menguatkan
keabsahan aksi bom manusia dan berkomentar bahawa operasi bom itu
adalah bahagian dari jihad.* 3)

Pro kontra hukum bom manusia juga mendorong sebahagian ulama untuk
menulis kitab khusus yang mendiskusikan hukumnya dalam perspektif
fiqih Islam. Di antaranya adalah Nawaf Hail Takruri yang menulis
kitab Al-`Amaliyat Al-Istisyhidiyah fi Al-Mizan Al-Fiqhi*4) dan Dr.
Muhammad Tha'mah Al-Qadah yang mengarang kitab Al-Mughamarat bi An-
Nafsi fi Al-Qital wa Hukmuha fi Al-Islam.* 5) Sementara itu Dr.
Muhammad Khair Haikal mendiskusikan hukumnya dalam kitabnya yang
sekaligus juga disertasi doktornya, Al-Jihad wa Al-Qital fi As-
Siyasah Asy-Syar'iyah.* 6)

Pro kontra inilah yang mendorong penulis untuk memilih tema hukum bom
manusia dalam fiqih Islam. Kejelasan hukum syara' sangat diperlukan
dalam masalah yang amat kritikal ini. Ini disebabkan perbezaan yang
ada cukup tajam dan mengandung berbagai implikasinya baik di dunia
mahupun di akhirat. Bagi mereka yang menganggap aksi bom manusia
sebagai aksi bunuh diri (`amaliyat intihariyah), maka implikasinya
kepada para pelakunya ialah tidak diberlakukan hukum-hukum mati
syahid. Dia akan dipandang sebagai orang hina kerana berputus asa
menghadapi kesulitan hidup. Di akhirat, pelakunya dianggap akan masuk
neraka, kerana telah bunuh diri. Sedang bagi mereka yang menganggap
aksi bom manusia sebagai aksi mati syahid (`amaliyat istisyhadiyah),
maka implikasinya kepada para pelakunya adalah diberlakukan hukum-
hukum mati syahid. Dia dianggap sebagai pahlawan dan teladan
keberanian yang patut dicontoh. Dan di akhirat insyaAllah akan masuk
syurga.

Dalam makalah ini penulis memilih istilah "bom manusia", sebagai
terjemahan harfiyah dari sebahagian literatur atau media berbahasa
Inggris yang menyebut aksi pemboman ini dengan istilah "human
bombing". Istilah tersebut penulis pilih kerana bersifat neutral dan
objektif. Sedangkan istilah lain, seperti "bom syahid" atau "bom
bunuh diri" penulis anggap lebih bersifat subjektif dan kurang
neutral.* 7)

II. Perumusan Masalah

Berdasarkan pendahuluan yang telah dipaparkan sebelumnya, masalah
yang ada penulis rumuskan sebagai berikut:

1. Apakah bom manusia itu?

2. Bagaimana pendapat para ulama beserta dalil-dalilnya mengenai
hukum bom manusia, baik yang melarang mahupun yang membolehkan?

3. Manakah pendapat yang rajih (kuat) dari dua pendapat itu menurut
kaedah-kaedah tarjih dalam disiplin ilmu ushul fiqih?

III. Metod Pembahasan

Dalam rangka menjawab permasalahan yang telah dirumuskan di atas,
metod pembahasan yang penulis akan tempuh adalah sebagai berikut:

1. Menjelaskan fakta bom manusia itu sendiri yang menjadi pangkal
pembahasan. Dalam uraian mengenai fakta bom manusia ini, akan
dijelaskan bagaimana secara teknik pelaksanaan bom manusia di
lapangan. Penjelasan ini akan dilengkapi dengan data-data historik
dan statistik mengenai bom manusia di Palestin.

2. Menjelaskan pendapat para ulama baik yang melarang mahupun yang
membolehkan aksi bom manusia. Akan dijelaskan juga dalil-dalil dari
masing-masing pendapat tersebut.

3. Mendiskusikan dan mentarjih dua pendapat tersebut untuk mencari
pendapat yang kuat (rajih).

Metod yang dipakai dalam penulisan makalah ini pada dasarnya adalah
kajian literatur (library research) dengan pendekatan perbandingan
(comparative). Literatur yang digunakan adalah berbagai buku tentang
hukum bom manusia, misalnya karya Takruri (2002), Al-Qadah (2002),
ataupun Haikal (2002) seperti telah disebutkan di atas. Juga
dimanfaatkan berbagai data dan informasi dari dunia maya (internet)
yang relevan. Adapun perbandingan dan tarjih yang dilakukan,
didasarkan pada kaedah-kaedah tarjih dalam ushul fiqih, baik yang
terdapat dalam kitab ushul fiqih secara umum, seperti Al-Ihkam fi
Ushul Al-Ahkam karya Saifuddin Al-Amidi*8) dan kitab Irsyadul Fuhul
karya Imam Asy-Syaukani*9), mahupun kitab ushul fiqih yang secara
khusus membahas masalah kaedah tarjih, seperti kitab Metod Tarjih
atas Kontradiksi Dalil-Dalil Syara', karya Dr. Muhammad Wafaa.* 10)

IV. Fakta Bom Manusia

Pemahaman akan fakta yang menjadi sasaran penerapan hukum, sangat
fundamental dalam proses istinbath hukum syara' atau penerapan
(tathbiq) hukum syara'. Para ulama ushul fiqih telah membuat rumusan
bahawa hukum syara' terhadap suatu fakta adalah cabang dari gambaran
atau pengetahuan tentang fakta itu (al hukmu `ala asy-syai` far'un
min tashawwurihi wal `ilmi bihi).* 11)

Atas dasar itu, penulis akan mencuba memaparkan lebih dahulu fakta-
fakta yang berkaitan dengan bom manusia sebelum menyampaikan berbagai
pendapat ulama mengenai fakta bom manusia. Fakta-fakta ini penulis
bagi menjadi empat bahagian, iaitu:

(1) definisi bom manusia;
(2) data historik;
(3) data statistik, dan
(4) informasi teknik pelaksanaan bom nanusia itu sendiri.

A. Definisi

Definisi bom manusia, menurut Muhammad Tha'mah Al-Qadah adalah
aktiviti seorang mujahid yang melemparkan dirinya pada kematian untuk
melaksanakan tugas berat, dengan kemungkinan besar tidak selamat,
akan tetapi dapat memberi manfaat besar bagi kaum muslimin.* 12)

Menurut Nawaf Hail Takruri, bom manusia adalah aktiviti seorang
(mujahid) mengisi tas atau mobilnya dengan bahan peledak, atau
melilitkan bahan peledak pada tubuhnya, kemudian menyerang musuh di
tempat mereka berkumpul, hingga orang tersebut kemungkinan besar ikut
terbunuh.* 13) Dapat juga penyerangan dilakukan pada berbagai sarana
transportasi bermuatan banyak orang, seperti bas, kapal terbang,
kereta api, dan sebagainya. Dapat pula teknik pelaksanaannya dengan
berpura-pura menyerah kepada musuh, kemudian ketika dekat dengan
mereka dan memperoleh kesempatan, ia meledakkan bahan-bahan peledak
yang dibawanya, sehingga menimbulkan banyak korban, baik yang
terbunuh, terluka, atau mengalami kerosakan bangunan, dan termasuk
juga terbunuhnya pelaku peledakan sendiri.* 14)

B. Data Historik

Di Palestin, aksi bom manusia telah berlangsung setidaknya dalam 23
bulan terakhir (hingga September 2002).* 15) Tepatnya, hal itu
bermula ketika Sejak Syeikh Ahmad Yasin —tokoh spiritual Hamas dan
inspirator gerakan jihad yang masih ada— merestui upaya Nabil Arir
(24 tahun) meledakkan permukiman Israel di Kota Gaza, pada 26 Oktober
2000.

Para pelaku aksi pada umumnya berasal dari berbagai kelompok Islam
yang melakukan jihad dan perlawanan terhadap Israel, iaitu Briged Al-
Qosam, Briged Al-Aqsa, Hamas, Al-Fatah, Hizbullah, Islamic Jihad, dan
Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP). Menurut
siasatan The Guardian, Briged Al-Qosam —sayap militer Hamas—
merupakan pelatih relawan jihad terbesar di Palestin. Dalam 56 aksi
bom syahid terakhir (hingga Julai 2002), kelompok ini melatih sekitar
20 kadetnya. Urutan berikutnya adalah kelompok Briged Al-Aqsho,
Islamic Jihad, dan Popular Front for the Liberation of Palestine
(PFLP). Masing masing menyumbang 14, 11, dan dua mujahid.* 16)

C. Data Statistik

Aksi bom manusia yang dilakukan di Palestin sejak bulan Oktober tahun
2000 telah mengakibatkan gugurnya 250 mujahid, yang umumnya berusia
di bawah 30 tahun. Sebahagian besar mereka adalah kaum muda yang
sedang berada dalam usia produktif dan dinamik. Bahkan, dalam 56 aksi
terakhir, pelakunya berusia di bawah tiga puluh tahun. Tiga orang di
antaranya adalah wanita: Wafa Idris (27 tahun), Ayat Al-Akhras (16
tahun) dan Dari Abu Aysheh (20 tahun).* 17)

Harian Yedioth Aharonot terbitan Israel, pada bulan Mei 2001
mendedahkan data para pelaku aksi bom manusia tersebut sebagai
berikut:

a. sebanyak 67% pelaku aksi adalah kalangan terpelajar. Setidaknya
sejumlah 39% pernah menduduki bangku sekolah menengah atas (high
school).
b. sebanyak 83% pelaku aksi adalah mereka yang masih bujang (single).
c. sebanyak 64% pelaku aksi berusia antara 18 hingga 23 tahun.
Sisanya (36%), hampir semuanya berusia di bawah 30 tahun.
d. sebanyak 68% pelaku aksi berasal dari penduduk Tebing Barat.* 18)

Mengenai pendapat penduduk Palestin tentang aksi bom manusia itu
sendiri, sebuah undian pendapat (polling) telah dilakukan oleh
Palestinian Center for Public Opinion (PCPO) yang dipimpin Dr. Nabil
Kukali, pada akhir Mei 2001. Respondennya adalah penduduk Palestin
dewasa yang ada di Tebing Barat, Semenanjung Gaza, termasuk juga
Jerussalem Timur. Hasilnya adalah:

a. dalam jumlah majoriti (76,1%) muslim Palestin mendukung aksi bom
manusia.
b. sejumlah kecil responden (12,5%) menolaknya (tidak setuju).
c. sejumlah 11,4% dari responden tidak menyatakan pendapatnya
(abstain).* 19)

D. Teknik Pelaksanaan Aksi

Seorang pelaku aksi pengeboman akan mengalami 4 (empat) tahapan yang
harus dilalui hingga dia menjalankan aksinya. Empat tahap itu adalah:

(1) pemilihan (seleksi),
(2) rekrutmen (latihan),
(3) persiapan, dan
(4) pelaksanaan aksi.

Semua tahap-tahap ini umumnya dilaksanakan oleh berbagai briged jihad
yang ada di Palestin.* 20)

Pada tahap pemilihan, seorang calon pelaku aksi akan dibawa ke kem
latihan dan diamati terlebih dahulu perilakunya selama beberapa hari.
Dilakukan juga wawancara dan diskusi dengannya. Dalam pemilihan ini,
akan dinilai apakah seorang calon pelaku aksi memenuhi kriteria yang
ditetapkan. Menurut Sholah Syehada, Komandan Batalion Al-Qossam,
calon pelaku aksi harus memenuhi empat kriteria, iaitu:

(1) harus betul-betul seorang muslim yang taat menjalankan agama
Islam, dan direstui oleh orang tuanya;
(2) bukan merupakan 'tulang belakang' keluarganya;
(3) memiliki kemampuan dan keahlian melakukan misi; dan
(4) dapat menjadi teladan bagi muslim lainnya agar mengikuti
jejaknya.* 21)

Pada tahap rekrutmen, seorang calon aksi bererti dinilai sudah
memenuhi kriteria-kriteria tersebut dan dianggap telah rasmi
bergabung dengan sebuah briged serta siap menjalankan misi.

Pada tahap persiapan, seorang calon dilatih-tubi selama 20 hari dalam
kem pelatihan. Seorang instruktur akan melakukan diskusi mendalam
dengan para calon tentang agama Islam. Para calon juga diajak
menonton video tentang para syuhada dan menganalisis serangan yang
telah dilakukan pendahulu mereka itu. Ketika persiapan sudah lengkap
dan mantap, para calon memasuki tahap pelaksanaan aksi.

Pada tahap pelaksanaan aksi, seorang anggota dari unit lain akan
menjemput seorang calon dan menemaninya melakukan perjalanan akhir.
Setelah deskripsi tugasnya ditentukan, pengebom diberi tahu secara
rinci pada minit-minit terakhir apa yang harus dilakukan, misalnya
apakah ia akan menjadi pengebom "bunuh diri" atau menyerang target
dengan granat dan senapang sampai akhirnya ia ditembak mati.

Bila ia ditentukan menjadi pengebom "bunuh diri", dia segera
mengenakan rompi (sejenis jaket –pent) yang sudah diisi dengan 10
kilogram bahan peledak dan lima kilogram paku serta baja. Ini kira-
kira 15 minit sebelum ia diterjunkan ke sasaran. Di saat itulah ia
diberitahu secara persis sasaran yang harus dihancurkan dengan
dirinya yang sudah "berbaju" bom. Sasaran ini boleh berupa sebuah
bas, kapal terbang, kereta api, sebuah dewan umum, pasaraya, jalan
yang padat pengunjung, dan sebagainya.*22)

V. Pendapat Ulama

Secara garis besar terdapat dua pendapat ulama dalam masalah aksi bom
manusia tersebut, iaitu sebahagian membolehkan dan sebahagian lainnya
mengharamkan. Di antara ulama masa kini yang membolehkan adalah:

1. Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaili (Dekan Fakulti Syariah
Universiti Damsyik).
2. Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili (Ketua Jurusan Fiqih dan Ushul
Fiqih Fakulti Syariah Universiti Damsyik).
3. Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi (Ketua Jurusan Theologi
dan Perbandingan Agama Fakulti Syariah Universiti Damsyik).
4. Dr. Ali Ash-Shawi (Mantan Ketua Jurusan Fiqih dan Perundang-
undangan Fakulti Syariah Universiti Jordan).
5. Dr. Hamam Said (Dosen Fakulti Syariah Universiti Jordan dan
anggota Parlemen Jordan).
6. Dr. Agil An-Nisyami (Dekan Fakulti Syariah Universiti
Kuwait).
7. Dr. Abdur Raziq Asy-Syaiji (Guru Besar Fakulti Syariah
Univesiti Kuwait).
8. Syaikh Qurra Asy-Syam Asy-Syaikh Muhammad Karim Rajih (ulama
Syria).
9. Syaikhul Azhar (Syaikh Muhammad Sayyed Tanthawi).
10. Syaikh Muhammad Mutawalli Sya'rawi (ulama Mesir).
11. Fathi Yakan (aktivis dakwah Ikhwanul Muslimin).
12. Dr. Syaraf Al-Qadah (ulama Jordan).
13. Dr. Yusuf Al-Qaradhawi (ulama Qatar).
14. Dr. Muhammad Khair Haikal (aktivis dakwah Hizbut Tahrir).
15. Syaikh Abdullah bin Hamid (Mantan Hakim Agung Makkah Al-
Mukarramah).

Sementara itu ulama kontemporer yang mengharamkan aksi bom manusia
antara lain:

1. Syaikh Nasiruddin Al-Albani (ulama Arab Saudi).
2. Syaikh Shaleh Al-Utsaimin (ulama Arab Saudi).
3. Syaikh Hasan Ayyub.

A. Dalil-Dalil Yang Membolehkan

Al-Qadah dalam kitabnya Al-Mughamarat bi An-Nafsi fi Al-Qital wa
Hukmuha fi Al-Islam telah menyebutkan sekitar 20 dalil syara' yang
mendasari bolehnya melakukan aksi bom manusia, yang dihimpunnya dari
pendapat-pendapat ulama yang membolehkan aksi bom manusia ini.* 23)
Di antaranya adalah:

1. Firman Allah SWT:

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri, dan
harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang
pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah
menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan al-
Qur`an." (Qs. at-Taubah [9]: 111).

Al-Qadah mengatakan bahawa wajhud dalalah (segi pemahaman dalil) dari
ayat ini adalah, bahawa perang di jalan Allah mempunyai resiko besar
berupa kematian (wa yuqtalun "dan mereka terbunuh"). Padahal kematian
ini merupakan sesuatu yang kemungkinan besar atau pasti akan terjadi
pada aksi bom manusia. Akan tetapi meski demikian, Allah SWT tetap
memerintahkannya dan memberikan pahala syurga bagi yang
melaksanakannya. Perintah Allah SWT ini menunjukkan izin dari Allah
untuk melaksanakannya.* 24)

2. Firman Allah SWT:

"Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur (terbunuh)
atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya
pahala yang besar." (Qs. an-Nisaa` [4]:74).

Wajhud dalalah dari ayat ini, menurut Al-Qadah, adalah bahawa Allah
SWT menyamakan pahala orang yang gugur dengan pahala orang yang mampu
mengalahkan musuh kerana membela agama Allah. Dan orang yang
melakukan aksi bom manusia, dalam hal ini termasuk dalam kategori
orang yang gugur di jalan Allah tadi, bukan termasuk orang yang bunuh
diri. Sebab andaikata termasuk orang yang bunuh diri, Allah tidak
akan memberikan pahala besar baginya, tetapi malah akan memasukkannya
ke dalam neraka, seperti keterangan dalam hadis-hadis Nabi SAW.* 25)

3. Firman Allah SWT:

"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah,
kerana sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."
(Qs. al-Baqarah [2]: 195).

Ayat ini tidak melarang aktiviti perang di jalan Allah yang dapat
membuat diri sendiri terbunuh. Atau dengan kata lain, membolehkan
aktiviti perang semacam itu. Dan aksi bom manusia termasuk aktiviti
perang yang dapat membuat pelakunya terbunuh. Pemahaman ini
didasarkan pada penjelasan shahabat bernama Abu Ayyub Al-Anshari yang
memperbetul pemahaman yang salah terhadap ayat tersebut, yang
dipahami sebagai larangan mengorbankan diri dalam peperangan.* 26)

Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya mengatakan, "Yazib bin Abi
Habib telah meriwayatkan dari Aslam bin Imran, yang berkata, `Kami
berperang melawan pasukan Konstantinopel dan pasukan saat itu
dipimpin oleh Abdurrahman bin Al-Walid. Pada waktu itu orang-orang
Romawi telah merapat pada benteng kota. Kemudian seseorang maju ke
tengah barisan musuh. Ketika itu orang-orang berkata, `Laa ilaaha
illallah, ia menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan.' Maka
berdirilah Abu Ayyub Al-Anshari seraya berkata, `Subhanallah, Allah
telah menurunkan ayat ini pada kami sekalian orang Anshar. Ketika
Allah telah menolong Nabi-Nya dan menampakkan agama-Nya, kami orang
Anshar berkata, `Kita akan diam (tidak berperang) dan akan mengurus
harta-harta kami. Kemudian turunlah firman Allah "maka belanjakanlah
(harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu
sendiri ke dalam kebinasaan." (Qs. al-Baqarah [2]: 195). Dan yang
dimaksud dengan menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan adalah kesibukan
kami mengurus harta dan meninggalkan jihad."* 27)

Al-Qadah menyimpulkan, bahawa dengan demikian, ayat ini menunjukkan
bolehnya mempertaruhkan nyawa dalam peperangan, meskipun yakin akan
terbunuh. Aksi bom manusia termasuk jenis aktiviti seperti ini.* 28)

4. Firman Allah SWT:

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu
sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang
dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan
orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya namun Allah
mengetahuinya." (Qs. at-Taubah [9]: 97).

Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan bahawa aksi-aksi bom manusia termasuk
dalam bentuk jihad yang paling besar. Aksi ini termasuk dalam aksi-
aksi teror (irhab) sebagaimana yang tertera dalam ayat di atas.*29)

4. Hadis Nabi SAW sebagaimana riwayat Imam Muslim berikut:

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahawa Rasulullah pernah pada Perang
Uhud hanya bersama tujuh orang Anshar dan dua orang dari kaum
Quraisy. Ketika musuh mendekati Nabi SAW, beliau
bersabda, "Barangsiapa boleh menyingkirkan mereka dari kita, ia akan
masuk syurga, atau ia bersamaku di syurga." Kemudian satu orang dari
Anshar maju dan bertempur sampai gugur. Musuh mendekat lagi dan
Rasulullah bersabda lagi, "Barangsiapa boleh menyingkirkan mereka
dari kita, ia akan masuk syurga, atau ia bersamaku di syurga."
Kemudian satu orang dari Anshar maju dan bertempur sampai gugur. Dan
hal ini terus berlangsung sampai ketujuh orang Anshar tersebut
terbunuh." [HR. Muslim].* 30)

Ketika Nabi SAW mengatakan, "Barangsiapa boleh menyingkirkan mereka
dari kita, ia akan masuk syurga…" adalah sebuah isyarat bahawa mereka
akan terbunuh di jalan Allah, dan dalam hal ini kematian hampir dapat
dipastikan. Peristiwa ini menunjukkan bolehnya mengorbankan diri
sendiri —seperti halnya aksi bom manusia— dengan keyakinan akan mati
di jalan Allah.* 31)

B. Dalil-Dalil Yang Mengharamkan

Sebahagian ulama seperti Nasiruddin Al-Albani dan Syaikh Shaleh Al-
Utsaimin mengharamkan aksi bom manusia. Berikut pendapat mereka dan
dalil-dalilnya:

1. Syaikh Nasiruddin Al-Albani ketika ditanya hukum aksi bom manusia,
beliau menjawab bahawa aksi bom manusia dibenarkan dengan syarat
adanya pemerintahan Islam yang berlandaskan hukum Islam, dan seorang
tentara harus bertindak berdasarkan perintah pemimpin perang (amirul
jaisy) yang ditunjuk khalifah. Jika tidak ada pemerintahan Islam di
bawah pimpinan khalifah, maka aksi bom manusia tidak sah dan termasuk
bunuh diri.* 32)

2. Syaikh Shaleh Al-Utsaimin ketika ditanya mengenai seseorang yang
memasang bom di badannya lalu meledakkan dirinya di tengah kerumunan
orang kafir untuk melemahkan mereka, beliau menjawab bahawa tindakan
itu adalah bunuh diri. Pelakunya akan diazab dalam neraka Jahannam
dengan cara yang sama yang digunakan untuk bunuh diri di dunia,
secara kekal abadi. Beliau berdalil dengan firman Allah SWT yang
melarang bunuh diri:

"Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu." (Qs. an-Nisaa` [4]: 29).

Beliau juga berdalil dengan hadis-hadis Nabi SAW yang melarang bunuh
diri, seperti hadis Nabi SAW:

"Barangsiapa yang mencekik lehernya, ia akan akan mencekik lehernya
sendiri di neraka. Dan barang siapa yang menusuk dirinya, ia akan
menusuk dirinya sendiri di neraka." [HR. Al-Bukhari dan Muslim].* 33)

VI. Diskusi Dan Tarjih

Dengan mendalami pendapat masing-masing baik yang membolehkan mahupun
yang mengharamkan aksi bom manusia, penulis berpendapat bahawa
pendapat yang kuat (rajih) adalah pendapat yang membolehkan aksi bom
manusia. Aksi ini menurut penulis bukanlah tindakan bunuh diri dan
dengan demikian pelakunya insya Allah akan mendapatkan syurga, bukan
neraka.

Parameter yang penulis gunakan untuk menilai pendapat yang lebih kuat
adalah ketepatan penggunaan dalil terhadap fakta yang menjadi
permasalahan. Hal ini sangat penting mengingat salah satu langkah
penting dalam proses istinbath hukum adalah fahmul waqi', atau
memahami fakta yang menjadi sasaran penerapan hukum. Untuk dapat
menerapkan suatu ketentuan fiqih secara tepat, seorang faqih harus
mengetahui fakta yang akan dihukumi. Thaha Jabir Al-Alwani ketika
menyebutkan pengertian fiqih, menyatakan bahawa fiqih adalah
pengetahuan seorang faqih (ahli fiqih) terhadap hukum suatu fakta 
(al-
waqi'ah) yang diambil dari dalil-dalil yang rinci dan juz'iy yang
telah ditetapkan Asy Syari' (Allah) untuk menunjukkan hukum-
hukumnya.* 34) Definisi ini mengisyaratkan satu hal penting yang
harus dimiliki seorang faqih, iaitu pengetahuan tentang fakta
permasalahan (al-waqi'ah). Maka dari itu, sebagaimana ditegaskan oleh
Yusuf Al-Qaradhawi, di antara sebab-sebab kesalahan fatwa adalah
ketidakpahaman tentang masalah yang ditanyakan, sehingga keliru
menerapkan nas-nas syara' yang dimaksud dengan kejadian yang
sebenarnya.* 35)

Memahami fakta dengan baik ini, menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani,
adalah langkah pertama dari seseorang yang akan mengistinbath hukum
syara' untuk fakta itu. Menurut An-Nabhani metod yang harus ditempuh
seorang mujtahid dalam mengistinbath hukum adalah: pertama, mengkaji
masalah yang ada sehingga dipahami dengan sempurna; kedua, mengkaji
nas-nas syara' yang berkaitan dengan masalah tersebut; ketiga,
mengistinbath hukum syara' untuk masalah tersebut dari dari dalil-
dalil syar'i.* 36)

Fakta yang harus dipahami dan menjadi objek penerapan hukum syara'
ini oleh An-Nabhani disebutnya dengan istilah manath, yang menurut
beliau manath adalah fakta yang padanya akan diterapkan suatu hukum
syara' (al-waqi' alladzi yuthabbaqu `alaihi al-hukmu). Manath ini
harus dikaji dengan baik dalam dua keadaan: pertama, dalam rangka
proses istinbath hukum syara' untuk menghukumi suatu manath tertentu;
kedua, dalam rangka menerapkan hukum syara' yang sudah ditetapkan
pada suatu manath tertentu.* 37)

Berdasarkan ini, maka ketidaktepatan memahami fakta permasalahan,
akan dapat menimbulkan kekeliruan penerapan nas-nas syara' yang pada
gilirannya akan mengakibatkan kekeliruan fatwa atau ijtihad.
Berkaitan dengan pendapat ulama yang mengharamkan aksi bom manusia,
penulis dapati mereka kurang cermat memahami fakta yang akan menjadi
objek hukum ini, iaitu tidak dapat membezakan secara jernih aktiviti
bom manusia dengan aktiviti bunuh diri. Padahal di antara keduanya
terdapat perbezaan yang mendasar. Al-Qadah menjelaskan perbezaan
bunuh diri dan aksi bom manusia dalam 3 (tiga) aspek berikut:

Pertama, Motivasi. Motivasi orang yang melakukan aksi bom manusia
adalah keinginan untuk menegakkan kalimat Allah SWT. Sedangkan orang
yang bunuh diri, jelas tidak punya keinginan untuk menegakkan kalimat
Allah, melainkan ingin mengakhiri hidup kerana berbagai kesulitan
duniawi yang tidak sanggup lagi dipikul, seperti penyakit berat,
kegagalan cinta, kebangkrutan usaha, kehancuran rumah tangga, dililit
utang, dan sebagainya.

Kedua, Akibat di akhirat. Orang yang mati syahid mengorbankan dirinya
dengan cara aksi bom manusia, buahnya adalah syurga, sebagaimana
janji Allah dalam banyak ayat al-Qur'an. Sedangkan akibat di akhirat
bagi orang yang bunuh diri, jelas bukan syurga, kerana yang
dijanjikan Allah dan Rasul-Nya adalah adzab di neraka, iaitu akan
disiksa di neraka dengan cara yang sama yang digunakan untuk bunuh
diri di dunia.

Ketiga, Kesan duniawi. Orang yang melakukan aksi bom manusia dalam
rangka jihad, kesannya adalah dapat menggoncang musuh, menanamkan
ketakutan pada hati musuh, atau melemahkan mental mereka dalam
peperangan. Ini sebagaimana terjadi di Lebanon, Sudan, Palestin, dan
sebagainya. Sedang orang yang bunuh diri kesannya hanyalah
menimbulkan kesedihan dan kepedihan keluarga, dan sama sekali tidak
ada kesan terhadap perlawanan kepada musuh.* 37)

Perbezaan antara orang yang melakukan aksi bom manusia di jalan Allah
dengan orang yang bunuh diri, dapat diringkas dalam keterangan
dibawah berikut:

*Bom Bunuh Manusia
Motivasi : Ingin menegakkan kalimat Allah SWT
Akibat Akhirat : Syurga, kerana termasuk mati syahid
Kesan Duniawi: Menggoncang musuh atau melemahkan mental musuh

*Bunuh Diri
Motivasi : Ingin mengakhiri kehidupan kerana putus asa
menghadapi kesulitan duniawi
Akibat Akhirat : Neraka
Kesan Duniawi: Hanya menimbulkan kesedihan keluarga

Dengan adanya perbezaan seperti digambarkan di atas, jelas tidak
tepat jika dikatakan bahawa aksi bom manusia seperti yang dilakukan
para mujahidin Palestin saat ini, adalah tindakan bunuh diri yang 
sia-
sia.

Namun demikian, menurut penulis pendapat Syaikh Shaleh Al-Utsaimin
yang menganggap aksi bom manusia sebagai tindakan bunuh diri, tidak
dapat dianggap mutlak salah. Dalam erti, pendapat tersebut masih
dapat diterima dalam satu keadaan, iaitu jika pelaku aksi pemboman
niatnya memang untuk bunuh diri, bukan untuk meninggikan kalimat
Allah dalam rangka jihad di jalan Allah. Dalam keadaan demikian,
berlakulah kaedah fiqih:

Al-umuuru bi maqaashidiha
"Segala sesuatu perkara tergantung pada maksud-maksudnya."* 39)

Dengan demikian, jika seorang pelaku aksi bom manusia meniatkan
aktivitinya untuk bunuh diri kerana putus asa dan ingin lari dari
kesulitan hidup, dan tidak meniatkan untuk berjihad lillahi ta'ala,
maka pada saat itu aktivitinya tergolong bunuh diri yang haram
menurut syara'. Maka dalil-dalil ulama yang mengharamkan aksi bom
manusia seperti telah disebutkan di atas, dapat diterapkan untuk
keadaan seperti ini. Sedang jika pelaku aksi berniat meninggikan
kalimat Allah dan berjihad di jalan Allah, maka menurut penulis
aktivitinya tidak dapat digolongkan bunuh diri.

Adapun pendapat Syaikh Nasiruddin Al-Albani yang mensyaratkan bahawa
jihad secara umum dan aksi bom manusia secara khusus wajib di bawah
kepemimpinan khalifah, menurut pandangan penulis, bukan pendapat yang
kuat. Hal ini kerana dua alasan berikut:

Pertama, nas-nas yang mewajibkan jihad bersifat mutlak, tidak
bersifat muqayyad, dalam erti tidak disyaratkan jihad wajib dilakukan
bersama seorang khalifah. Misalnya firman Allah SWT:

"Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada
di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan
daripadamu, dan ketahuilah bahawa Allah beserta orang-orang yang
takwa." (Qs. at-Taubah [9]: 123).

Ayat ini merupakan perintah melakukan jihad yang bersifat mutlak.
Tidak ada persyaratan bahawa jihad wajib dilaksanakan di bawah
kepemimpinan khalifah. Jadi keberadaan khalifah bukan syarat
kewajiban jihad. Jihad tetap fardhu baik ketika khalifah ada mahupun
tidak ada. Hal ini disebabkan nas-nas yang bersifat mutlak tetap
dalam kemutlakannya, selama tidak ada dalil yang menunjukkan
taqyidnya, sebagaimana kaedah ushul:

Al-Uthlaaqu yabqa `ala ithlaaqihi ma lam yaqum dalilun `ala 
taqyiidihi
"Lafazh mutlak tetap dalam kemutlakannya selama tidak ada dalil yang
membatasinya (taqyid)."* 40)

Kedua, ada nas-nas hadis yang secara khusus mewajibkan jihad dalam
segala keadaan, baik kaum muslimin berada di bawah pemimpin yang adil
mahupun yang fajir (fasik). Misalnya sabda Nabi SAW:

"Jihad itu tetap wajib atas kalian bersama setiap pemimpin, yang baik
mahupun yang jahat. (Sebagaimana) solat juga tetap wajib atas kalian
di belakang seorang muslim, yang baik ataupun yang jahat, sekali pun
dia mengerjakan dosa-dosa besar." [HR. Abu Dawud dan Abu Ya'la].* 41)

Atas dasar hadis ini, maka jihad tetap wajib dilaksanakan meskipun
pemimpin umat Islam adalah pemimpin yang zalim, termasuk di dalamnya
pemimpin yang bukan khalifah.

Maka dari itu, jelaslah bahawa menurut penulis, pandangan Al-Albani
yang mensyaratkan jihad harus di bawah pimpinan khalifah, adalah
pandangan yang lemah dan tidak dapat diterima. Sebagai implikasinya,
aksi bom manusia saat ini yang dilakukan di Palestin, pada saat
khalifah kaum muslimin tidak ada semenjak runtuhnya Khilafah di Turki
tahun 1924, tetap sah dan pelakunya tidak berdosa melakukannya.

VII. Kesimpulan

Dari seluruh uraian yang telah diutarakan, penulis menarik beberapa
kesimpulan berikut:

1. Para ulama kontemporer berbeza pendapat mengenai hukum melakukan
aksi bom manusia dalam peperangan melawan musuh kafir, seperti yang
terjadi saat ini di Palestin. Ada yang membolehkan dan ada pula yang
mengharamkan.

2. Dalil-dalil ulama yang membolehkan aksi bom manusia menurut
penulis lebih kuat daripada yang mengharamkan, dengan pertimbangan
bahawa ulama yang membolehkan mempunyai pemahaman fakta yang lebih
jeli, dan dalil-dalilnya lebih sesuai untuk fakta yang dimaksudkan.
Sedang dalil-dalil ulama yang mengharamkan, menurut penulis tidak
sesuai dengan fakta permasalahan yang ada.

3. Ada perbezaan yang jelas antara aksi bom manusia dan tindakan
bunuh diri, baik dari segi motivasi, akibat di akhirat, dan kesannya
di dunia. Namun demikian, aksi bom manusia boleh saja tergolong bunuh
diri jika niatnya memang untuk bunuh diri dan bukan untuk menegakkan
kalimat Allah.

Wallahu a'lam

Daftar Pustaka

• Ahmad, Imam. Musnad Imam Ahmad. CD Hadis Kutub At-Tis'ah.
• Al-Alwani, Thaha Jabir Fayyadh. 1987. Adab Al-Ikhtilaf fi Al-Islam.
Cetakan III. (Washington: Al-Ma'had Al-`Alami li Al-Fikr Al-Islami).
• Al-Asqalani, Ibnu Hajar. Fathul Bari.
• Al-Baghdadi, Abdurrahman. 1986. Radd `Ala Kitab Ad-Da'wah Al-
Islamiyah (Sydney: Syabab Hizbut Tahrir Australia).
• Al-Qadah, Muhammad Tha'mah. 2002. Aksi Bom Syahid dalam Pandangan
Hukum Islam (Al-Mughamarat bi An-Nafsi fi Al-Qital wa Hukmuha fi Al-
Islam). Alih Bahasa Haris Muslim. Cetakan I. (Banding: Pustaka Umat)
• Al-Qaradhawi, Yusuf. 1994. Ikut Ulama Yang Mana ? Etika Berfatwa
dan Mufti-Mufti Masa Kini (Al-Fatwa Baina Al-Indhibath wa At-
Tasayyub). Alih bahasa Ali Tsauri dkk. Cetakan I. (Surabaya : Pustaka
Progressif)
• Al-Qarhudaghi, Ali Muhyidin. 1992..Hukm Ijra` Al-Uqud bi Alat Al-
Ittishal Al-Hadisah. (Beirut: Mu`assah Ar Risalah).
• Al-Qurthubi, Imam. Al-Jami' li Ahkam Al-Qur`an.
• An-Nabhani, Taqiyuddin. 1953. Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah. Juz
III. Cetakan II. (Al Quds: tanpa penerbit).
• ----------. 1973. At-Tafkir. Cetakan I. (tanpa tempat penerbit :
tanpa penerbit)
• ----------. 2001. Nizham Al-Islam. Cetakan VI. (tanpa tempat
penerbit: tanpa penerbit).
• Asy-Syafi'i, Ahmad Muhammad. 1983. Ushul Fiqh Al-Islami.
(Iskandariyah: Mu`assasah Tsaqafah Al-Jama'iyah).
• As-Suyuti, Jalaluddin. Tanpa Tahun. Al-Asybah wa An-Nazha`ir fi Al-
Furu'. (Semarang: Mathba'ah Usaha Keluarga).
• Junaedi, Dedi. "Heboh Balita Hamas". Republika on Line, Selasa 2
Julai 2002, www.republika.co.id
• ----------. "Suara dari Para Ulama". Republika on Line, Selasa 3
Jui 2002. www.republika.co.id
• ---------- "Syahidnya Calon Mempelai". Republika on Line, Rabu 3
Julai 2002, www.republika.co.id
• ---------- "Motivasi di Balik Bom Syahid". Republika on Line, Kamis
4 Julai 2002, www.republika.co.id
• Haikal, Muhammad Khair. 1996. Al-Jihad wa Al-Qital fi As-Siyasah
Asy-Syar'iyah. Cetakan II. (Beirut: Darul Bayariq).
• "Nyawa pun Kami Berikan". Kompas on Line. Minggu 7 April 2002.
www.kompas.com
• "Komandan Batalion Al-Qossam Beberkan Strategi Operasi Mati
Syahid". 29 Mei 2002, www.alislam.or.id
• Muslim, Imam. Shahih Muslim. CD Kutub At-Tis'ah.
• Shuman, Ellis. "What Makes Suicide Bombers Tick?". 4 Jun 2001,
www.israelinsider.com
• Takruri, Nawaf Hail.2002. Aksi Bunuh Diri atau Mati Syahid (Al-
`Amaliyat Al-Istisyhidiyah fi Al-Mizan Al-Fiqhi). Alih Bahasa M. Arif
Rahman. Cetakan I. (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar).
• Wafaa, Muhammad. 2001. Metod Tarjih Atas Kontradiksi Dalil-Dalil
Syara' (Ta'arudh Al-Adillah Asy-Syar'iyah min Al-Kitab wa As-Sunnah
wa At-Tarjih Bainaha). Alih Bahasa Muslich. Cetakan I. (Bangil: Al-
Izzah).

Catatan Kaki:

1. Dedi Junaedi, "Heboh Balita Hamas", Republika On Line, Selasa 2
Julai 2002, www.republika.co.id
2. Dedi Junaedi, "Suara dari Para Ulama", Republika On Line, Selasa 3
Jui 2002, www.republika.co.id
3. Ibid.
4. Lihat Nawaf Hail Takruri, Aksi Bunuh Diri atau Mati Syahid (Al-
`Amaliyat Al-Istisyhidiyah fi Al-Mizan Al-Fiqhi), alih bahasa M. Arif
Rahman, Cetakan I, (Jakarta :Pustaka Al-Kautsar), 2002.
5. Muhammad Tha'mah Al Qadah, Aksi Bom Syahid dalam Pandangan Hukum
Islam (Al-Mughamarat bi An-Nafsi fi Al-Qital wa Hukmuha fi Al-Islam),
alih bahasa Haris Muslim, Cetakan I, (Banding : Pustaka Umat), 2002.
6. Muhammad Khair Haikal, Al-Jihad wa Al-Qital fi As-Siyasah Asy-
Syar'iyah, Cetakan II, (Beirut : Darul Bayariq), 1996.
7. Kenetralan istilah dalam kajian diperlukan agar tidak terjadi
tahsil al-hasil, iaitu menghasilkan kesimpulan yang sudah dihasilkan.
Ungkapan "bom syahid dalam pandangan Islam", atau "bom bunuh diri
dalam pandangan Islam" tak ubahnya seperti ungkapan "riba bank dalam
pandangan Islam." Yang tepat mestinya "bunga bank dalam pandangan
Islam", sebab "bunga bank" menggambarkan fakta objektif. Sedang "riba
bank" adalah suatu penilaian atas fakta, atau kesimpulan atas suatu
fakta.
8. Saifuddin Al-Amidi, Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam, Juz III dan IV,
(Beirut : Darul Fikr), 1996.
9. Imam Asy-Syaukani, Irsyadul Fuhul Ila Tahqiq Al-Haq min `Ilm Al-
Ushul, (Beirut: Darul Fikr), tanpa tahun.
10. Muhammad Wafaa, Metod Tarjih Atas Kontradiksi Dalil-Dalil Syara'
(Ta'arudh Al-Adillah Asy-Syar'iyah min Al-Kitab wa As-Sunnah wa At-
Tarjih Bainaha), alih bahasa Muslich, Cetakan I, (Bangil ; Al-Izzah),
2001.
11. Ali Muhyidin Al Qarhudaghi, Hukm Ijra` Al-Uqud bi Alat Al-
Ittishal Al-Hadisah , (Beirut: Mu`assah Ar Risalah), 1992, hal. 9.
12. Muhammad Tha'mah Al-Qadah, op.cit., hal. 17.
13. Nawaf Hail Takruri, op.cit. hal. 2; Muhammad Tha'mah Al-Qadah,
op.cit., hal. 12 dan 17.
14. Nawaf Hail Takruri, op.cit. hal. 2-3.
15. Dedi Junaedi, "Syahidnya Calon Mempelai", Republika On Line, Rabu
3 Julai 2002, www.republika.co.id
16. Ibid.
17. Dedi Junaedi, "Motivasi di Balik Bom Syahid", Republika On Line,
Kamis 3 Julai 2002, www.republika.co.id
18. Data ini dikutip oleh Ellis Shuman, "What Makes Suicide Bombers
Tick?", 4 Jun 2001, www.israelinsider.com
19. Ibid.
20. Ini berdasarkan investigasi Hala Jaber, seorang penulis Lebanon,
yang laporannya diturunkan dalam London Sunday Times, edisi 25 Maret
2001. Lihat "Nyawa pun Kami Berikan", Kompas On Line, Minggu 7 April
2002, www.kompas.com
21. "Komandan Batalion Al-Qossam Beberkan Strategi Operasi Mati
Syahid", 29 Mei 2002, www.alislam.or.id
22. Muhammad Tha'mah Al-Qadah, op.cit., hal. 49; Nawaf Hail Takruri,
op.cit., hal. xiv-xv.
23. Muhammad Tha'mah Al-Qadah, op.cit., hal. 23-37.
24. Muhammad Tha'mah Al Qadah, op.cit., hal. 23 (dengan sedikit
perbaikan dan tambahan redaksional); Muhammad Khair Haikal, op.cit.,
Juz II, hal. 1400.
25. Muhammad Tha'mah Al Qadah, op.cit., hal. 24 (dengan sedikit
perbaikan dan tambahan redaksional).
26. Muhammad Tha'mah Al Qadah, op.cit., hal. 25.
27. Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam Al-Qur`an, Juz II, hal. 361.
28. Muhammad Tha'mah Al Qadah, op.cit., hal. 26.
29. Nawaf Hail Takruri, op.cit., hal. 97.
30. Shahih Muslim, hadis no. 1789, Juz III, hal. 1315.
31. Muhammad Tha'mah Al Qadah, op.cit., hal. 30; Muhammad Khair
Haikal, op.cit, Juz III, hal. 1400.
32. Fatwa lengkap Al-Albani lihat Muhammad Tha'mah Al Qadah, op.cit.,
hal. 50-51, dan 54; Lihat juga Nawaf Hail Takruri, op.cit., hal.68-
70. Namun dalam kedua sumber ini tidak ada nas khusus yang disebut
oleh Al-Albani.
33. Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, Juz III, hal. 593; Musnad
Imam Ahmad, Juz II, hal. 435.
34. Thaha Jabir Fayyadh Al-Alwani, Adab Al-Ikhtilaf fi Al-Islam,
Cetakan III, (Washington: Al-Ma'had Al-`Alami li Al-Fikr Al-Islami),
1987, hal. 104
35. Yusuf Al-Qaradhawi, Ikut Ulama Yang Mana ? Etika Berfatwa dan
Mufti-Mufti Masa Kini (Al-Fatwa Baina Al-Indhibath wa At-Tasayyub),
alih bahasa Ali Tsauri dkk, Cetakan I, (Surabaya : Pustaka
Progressif), 1994, hal. 72.
36. Taqiyuddin An-Nabhani, Nizham Al-Islam, Cetakan VI, (tanpa tempat
penerbit: tanpa penerbit), 2001, hal. 74. Lihat juga kitab An Nabhani
lainnya dalam pembahasan ini, At-Tafkir, Cetakan I, (tanpa tempat
penerbit: tanpa penerbit),1973, hal. 148.
37. Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, Juz III,
Cetakan II, (Al Quds: tanpa penerbit), 1953, hal. 339-341. Bandingkan
dengan definisi manath menurut Al-Amidi, Al-Ihkam, Juz III, hal. 204.
38. Muhammad Tha'mah Al-Qadah, op.cit., hal. 18-21.
39. Lihat Jalaluddin As-Suyuti, Al-Asybah wa An-Nazha`ir fi Al-Furu',
(Semarang: Mathba'ah Usaha Keluarga), tanpa tahun, hal. 6.
40. Ahmad Muhammad Asy-Syafi'i, Ushul Fiqh Al-Islami, (Iskandariyah:
Mu`assasah Tsaqafah Al-Jama'iyah), 1983, hal. 322; Imam Asy-Syaukani,
op.cit. hal.164; Saifuddin Al-Amidi, op.cit., Juz III, hal. 3.
41. Abdurrahman Al-Baghdadi, Radd `Ala Kitab Ad-Da'wah Al-Islamiyah,
(Sydney: Syabab Hizbut Tahrir Australia), 1986, hal. 122.










------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in 
any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved 
otherwise. 

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily 
digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your 
mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the 
title "change to daily digest".  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/hidayahnet/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke