Rabu, 16 Nopember 2005

PKS di Simpang Jalan

Oleh :

Handi Risza Idris
Alumni Program Pascasarjana International Islamic University Malaysia

''Jika seandainya pemilu dilaksanakan dalam satu bulan kedepan, bisa dipastikan yang akan keluar sebagai pemenang adalah Partai Golput". Itu adalah ungkapan seorang pengamat politik terkenal bagi kondisi politik tanah air. Tentu, ungkapan tersebut bukan sebuah candaan belaka, tapi lahir dari sebuah keprihatinan mendalam dan memiliki alasan kuat.

Dalam tiga bulan terakhir, hampir semua partai politik di Indonesia telah kehilangan fungsi sebagai lembaga aspirasi yang menyerap keluhan, keinginan, dan harapan pemilihnya. Hampir semuanya memainkan peran sebagai corong pemerintah atau bahkan diam. Bisa ditebak, alasannya berujung kepada sistim politik Indonesia yang tidak mengenal partai oposisi. Semua kekuatan politik dilibatkan dalam mengelola lembaga pemerintahan. Dan bisa dipastikan, itulah yang mematikan daya kritis dan keberpihakan partai politik (yang tercermin dari para wakil rakyatnya) terhadap kondisi dan realita rakyat di lapangan.

Pada awalnya, tentu masayarakat berharap ada kekuatan baru yang lebih segar, progresif, dan ideologis, yang akan memainkan peran untuk menyegarkan ranah politik Indonesia yang sudah sangat membosankan. Sebab sejak reformasi, partai yang berkuasa adalah penjelmaan partai masa lalu yang mempertahankan status quo. Partai Keadilan Sejahtera (PKS), adalah salah satu ikon harapan masyarakat tersebut. Terlebih, secara historis, juga kerangka politik yang mereka bangun, hampir bisa dipastikan tidak memiliki akar apapun dengan kekuatan politik Islam yang pernah ada di Indonesia, Masyumi sekalipun.

Benar, sebagian kader PKS berasal dari semua elemen kekuatan organisasi Islam, bahkan pendidikan sekuler. Tapi, setelah itu, dengan formula yang mereka miliki, PKS bisa tampil dengan wajah yang sangat berbeda dari wajah semua kekuatan politik Islam yang ada di Indonesia.Keberhasilan PKS masuk enam besar Pemilu 2004, telah mengantarkan 45 wakil rakyat mereka ke kursi empuk DPR. Ribuan anggota legislatif (aleg) PKS juga tersebar di seluruh Indonesia. Dengan posisi tersebut, PKS ibarat gadis cantik yang siap dipinang oleh presiden pemenang pemilu, SBY-JK. Terjadilah perkawinan politik (sebagian mengistilahkan ''musyarakah politik''), dengan masuknya tiga kader PKS di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB).

Bulan madu kekuasaan ini boleh dikatakan berlangsung mulus. PKS secara terbuka telah menyatakan sebagai partai pendukung pemerintah dengan tidak menghilangkan sikap kritisnya pada masa awal Pemerintahan SBY-JK. Memang, bisa dimaklumi, karena belum ada kebijakan Pemerintah yang perlu dikritisi secara tajam. Barulah ketika akan memasuki masa satu tahun Pemerintahan SBY-JK, banyak kebijakan Pemerintah yang sangat kontraproduktif terhadap kondisi masyarakat. Puncaknya adalah kebijakan menaikkan harga BBM pada kisaran 100 persen pada 1 Oktober. Efek domino kenaikan BBM ini telah berdampak kepada perekonomian masyarakat secara umum.

Secara kuantitas dan kualitas, jumlah penduduk miskin bertambah, penggangguran meningkat, angka gizi buruk naik tajam, angka anak putus sekolah semakin besar, disparitas pendapatan semakin tajam, inflasi yang mencapai dua digit, dan semua persoalan ekonomi yang ada, hadir menghinggapi kehidupan masyarakat.

Dilema PKS
Pada masa-masa kritis ini ''musyarakah politik'' PKS-Pemerintahan SBY-JK diuji. Sejauh mana sikap kritis, bersih, dan peduli --yang selama ini menjadi slogan PKS-- mampu memperbaiki citra pemerintah yang sedang terpuruk ini. Ada beberapa analisa kritis yang bisa dijadikan penilaian terhadap pola hubungan PKS-Pemerintah yang selama ini berjalan.

Pertama, pada dasarnya posisi politik PKS sangat lemah di mata pengambil keputusan, terutama terhadap kebijakan ekonomi yang selama ini bermasalah. Walau mereka (PKS-SBY) memiliki pola komunikasi informal, tetapi tidak cukup kuat untuk diimplementasikan menjadi sebuah kebijakan politik Pemerintah. Posisi menteri pertanian, menpera, dan menpora, menjadi tidak berarti (lemah), atau bahkan bisa dikatakan kartu mati bagi bargaining position politik PKS.

Contoh konkretnya terlihat dalam pengambilan keputusan harga BBM. Berkali-kali Presiden PKS, Tifatul Sembiring, memberikan klarifikasi bahwa kenaikan yang disepakati dengan SBY hanya berkisar 30 persen saja. Tapi kenyataanya, Pemerintah berjalan dengan keputusannya sendiri. Ke depan, jika ''musyarakah politik'' ini masih ingin terus berjalan, minimal PKS harus mendapat jatah menteri keuangan, jaksa agung, atau bahkan seorang menko perekonomian.

Kedua, keberadaan 45 wakil rakyat PKS boleh dikatakan belum menunjukkan kinerja memuaskan --baik di tingkat individu, komisi, maupun fraksi. Bahkan, untuk beberapa komisi tertentu, kompetensi aleg PKS cenderung dipaksakan. Mungkin, yang masih menyelamatkan citra partai ini adalah keberadaan aleg PKS di daerah yang masih bersikap kritis, dan beberapa aksi sosial yang dilakukan.

Kondisi ini terjadi karena PKS menyatakan diri sebagai pendukung Pemerintah, sehingga daya kritis para anggota Dewan-nya terkesan mandul. Bahkan, untuk beberapa kebijakan tertentu, terkesan sudah tidak memiliki sense terhadap kondisi masyarakat. Hal ini terlihat dari persetujuan Fraksi PKS terhadap perubahan anggaran, di mana salah satu poinnya adalah kenaikan harga BBM.

Parahnya, kebijakan itu dilanjutkan dengan menaikkan tunjangan anggota Dewan sebesar Rp 10 juta per bulan. Apapun dalihnya, tindakan ini jelas sangat memukul harapan masyarakat akan pembela nasib dan suara mereka di parlemen. Bisa dimaklumi jika kemudian bendera PKS turut dibakar mahasiswa yang kecewa terhadap kebijakan politik PKS. Ketiga, dalam mendukung Pemerintahan SBY-JK, jelas PKS tidak berada sendirian. Selain PKS, terdapat partai pendukung utama Pemerintah, yaitu Partai Golkar. Pada awal reformasi, hampir semua pengamat menilai PKS tidak akan mungkin berkoalisi dengan Golkar. Hampir tidak ada titik temu yang cukup kuat untuk mempertemukan.

Tapi kepentingan politik telah mengubah segalanya. Tidak ada lagi sekat dan batasan yang jelas antara kepentingan ideologi dan politik. Tidak cukup kuat mengatakan bahwa PKS berkoalisi dengan SBY, bukan dengan Golkar. Kondisi tersebut benar, ketika Akbar Tandjung masih menjadi ketua umum Golkar. Sekarang, kondisinya sangat berbeda. Keempat, godaan kekuasaan dan materi telah membuat perangkap yang cukup ampuh bagi kekuatan politik manapun. Memang, dalam hal ini, belum bisa dibuktikan ada efek yang negatif terhadap ''pejabat publik PKS'' di manapun mereka berkiprah. Tetapi sikap politik dan sikap individu ''pejabat publik PKS'' ini menunjukkan gejala yang mengarah kepada sikap yang mulai tidak proporsional terhadap kerja-kerja kader PKS di tingkat kecamatan (DPC) bahkan sampai ke kelurahan (DPRa).

Kerja dakwah tanpa pamrih, door to door, kadangkala tidak mendapat apresiasi yang memadai. Bahkan persoalan ekonomi yang melilit pendukung PKS dipinggiran, atau di daerah seringkali tidak cukup menjadi beban bagi sebagian elite untuk mulai bergaya hidup mapan, selaku pejabat publik, baik di legislatif atau pemerintahan. Sehingga dikhawatirkan, sikap ini akan memupuk jurang komunikasi yang dalam dengan para konstituen di pinggiran dan daerah, sehingga menyebabkan semakin merebaknya kekecewaan para pendukung partai ini, dan bahkan cenderung bersifat apatis terhadap persoalan politik.

Kelima, sejarah perjuangan partai-partai Islam telah memberikan sebuah catatan yang sangat pantas untuk dikaji ulang. Belum pernah satu kekuatan politik Islam yang mampu bertahan dalam ''koalisi'' kekuasaan yang panjang, bahkan Masyumi sekalipun. Tantangan terberat yang dialami parpol Islam adalah tarik menarik antara kepentingan ideologi dan politik. Konsekuensi yang akan dihadapi hanya berada dalam dua pilihan: larut dalam kekuasaan dengan segala macam masalahnya atau terpental dari kekuasaan yang menggiurkan dan itu terjadi pada Masyumi. Dan pelajaran berharga ini harus menjadi modal berharga bagi PKS dalam menentukan pilihan politiknya di kemudian hari.

Mau tidak mau, suka tidak suka, pasca-satu tahun Pemerintahan SBY-JK, PKS harus kembali menentukan sikap politiknya. PKS harus mampu mengevaluasi pencapaian yang sudah mereka lakukan dalam satu tahun ini. Keputusan yang akan ditunggu oleh seluruh pendukungnya, atau bahkan seluruh rakyat yang masih menginginkan perubahan.

Minimal, PKS masih memiliki komitmen dengan janji semula, yaitu baru akan ''berkuasa'' jika jumlah anggota parlemennya sudah mencapai angka 20 persen. Sehingga mereka punya kekuatan untuk mengambil setiap keputusan penting di republik ini dengan ''bersih dan peduli''. Semuanya akan sangat bergantung kepada hasil evaluasi internal yang mereka lakukan. Dan itu, hanya Allah dan elite PKS lah yang tahu.

Sumber : http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=221342&kat_id=16



--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise.

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke