Dari: "Herfano Effendi" <[EMAIL PROTECTED]>
Tanggal: Wed, 22 Feb 2006 11:44:44 +0700
Topik: Yang Untung dari Flu Burung
Rabu, 15 Februari 2006
Yang Untung dari Flu Burung
Teror flu burung, bagi sebagian kecil orang justru berkah. Layaknya keping
mata uang, ketika satu pihak buntung, yang lain justru mengeruk untung.
Fenomena itu awalnya dikupas F William Enghdahl, peneliti dari
GlobalResearch, California, AS. Dia membuat tiga tulisan menarik soal pihak
yang diuntungkan di balik serbuan flu burung. Menurut Enghdahl, segelintir
pihak yang diuntungkan itu adalah para pelaku agrobisnis AS, politikus, sampai
para pejabat negara.
Enghdahl memulai tulisannya dengan dua pertanyaan. Pertama, bagaimana bisa,
hanya ada satu perusahaan yang memonopoli peredaran obat flu burung, Tamiflu,
di seluruh dunia? Hingga kini, monopoli dipegang perusahaan patungan AS-Swiis,
Roche Holdings.
Pertanyaan kedua, tidakkah aneh bila pemusnahan jutaan unggas ternyata lebih
menyentuh unggas-unggas milik peternak kecil di Asia, dibanding ternak milik
perusahaan peternakan raksasa, terutama milik AS?
Kejutan pertama dari Enghdahl diterbitkan Oktober tahun lalu. Judulnya
sensasional, ''Is Avian Influenza Another Pentagon Hoax?'' (Apakah Flu Burung
itu Hanya Gurauan Pentagon?). Hanya berselang satu bulan, terbit tulisan
keduanya, Bird Flu and Chicken Factory Farms: Profit Bonanza for US
Agribusiness (Flu Burung dan Pabrik Peternakan Ayam: Panen Untung Buat
Agrobisnis AS).
Tulisan ketiga Enghdahl bahkan jauh menusuk . Bird Flu: A Corporate Bonanza
for the Biotech Industry, Tamiflu, Vistide and The Pentagon Agenda.. (Flu
Burung: Panen Untung bagi Perusahaan Industri Bioteknologi, Tamiflu, Vistide,
dan Agenda Pentagon).
Menurut Enghdahl, terlepas dari keampuhan Tamiflu memberantas flu burung,
peredarannya yang dimonopoli Roche terbukti hanya menguntungkan segelintir
pihak. Beberapa di antaranya sangat dikenal publik sebagai pejabat dan mantan
pejabat pemerintahan Amerika Serikat (AS), yakni mantan menteri pertahanan,
Donald H Rumsfeld, dan George P Shultz, mantan menteri luar negeri.
Tamiflu ditemukan dan dipatenkan pada 1996 oleh sebuah perusahaan
bioteknologi bernama Gilead Sciences Inc. Gilead saat ini terdaftar di Nasdaq
(bursa kedua di AS) dengan kode GILD. ''Kebetulan'' Rummy (sapaan Donald
Rumsfeld) dan George Shultz sempat duduk di jajaran direksi Gilead.
Rummy masih duduk di kursi dirut sampai menjelang ia diangkat menjadi menteri
pertahanan AS pada 2001. Dalam siaran pers Gilead yang terbit 1997, Rummy duduk
di jajaran direksi perusahaan sejak 1988. Menurut Enghdahl, tahun lalu secara
diam-diam Rummy menambah sahamnya sampai mencapai 18 juta dolar AS. Ada pun
George Shultz, ia dikabarkan meraup untung setidaknya 7 juta dolar AS dari
hasil penjualan saham Gilead, awal tahun lalu. Sejalan dengan menyebarnya flu
burung di berbagai belahan bumi, saham Gilead sejak 2001 terus melejit. Dari
posisi tujuh dolar AS per lembar di 2001, November lalu harganya sampai ke
kisaran 50 dolar AS. Saat ini, nilai kapitalisasi pasar Gilead telah mencapai
22 miliar dolar AS.
Lalu, apa hubungannya Gilead dengan Roche? Selidik punya selidik, ternyata
Gilead menyerahkan hak pemasaran dan paten obat-obatannya (terutama Tamiflu)
kepada Hoffman-LaRoche. Dengan begitu, dari setiap Tamiflu yang dijual Roche,
Gilead mendapat bagian 10 persen keuntungan. Tidak heran, sampai akhir tahun
lalu, pendapatan Gilead dari sisi royalti saja mencapai 219,1 juta dolar AS,
meningkat 166 persen dari 2004.
Dominasi Roche terhadap Tamiflu makin tak tertahan. Semester II tahun lalu,
Roche menolak permintaan Kongres AS yang memintanya melepas hak eksklusif atas
Tamiflu untuk diberikan kepada perusahaan farmasi lain. Alasan penolakan Roche,
saat ini flu burung masih menyerang berbagai penjuru bumi. Menurut Roche,
perusahaan farmasi lain tidak dapat memproduksi Tamiflu dengan kecepatan
produksi sebanding Roche.
Di pihak lain, ada lima perusahaan raksasa AS yang bergerak di industri
peternakan ayam. Mereka adalah Tyson Foods, Goldkist Inc, Pilgrim's Pride, Con
Agra Poultry, dan Perdue Farms. Dari kelimanya, Tyson adalah yang terbesar di
dunia, dengan kapasitas produksi 77,5 juta kilogram daging ayam per pekan.
Anehnya, menurut Enghdahl, kasus flu burung justru tidak muncul dari
perusahaan-perusahaan besar tersebut. Flu burung seolah hanya mau hinggap di
unggas-unggas peternak kecil di Asia. Terhadap hal ini, Dirut Tyson Foods, Greg
Lee, mengatakan industri peternakan AS sangat berbeda dengan Asia. ''Kami lebih
melindungi ternak kami dari penyakit,'' kata Lee, tahun lalu.
Dalam laporan FAO, sepanjang 2004 lalu, flu burung telah mengimbas Asia.
Akibatnya, Thailand dan Cina bahkan dilarang mengekspor ayam ke luar negeri.
Pada saat yang sama permintaan ayam Asia tentu harus dipenuhi. Ketika Thailand
dan Cina dilarang itulah, perusahaan AS masuk. Jepang yang rakyatnya doyan
ayam, harus mengalihkan impor ke AS.
(evy/berbagai sumber )
http://www.republika.co.id/Koran_detail.asp?id=235306&kat_id=3
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
--------------------------------------------------------------------------
All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in
any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved
otherwise.
If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily
digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your
mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the
title "change to daily digest".
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/hidayahnet/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/