Terbit Dulu, Porno Kemudian

Oleh :

Siti Nuryati
Peneliti pada Lembaga Studi elKAJI Bogor

Meski ramai dikritik, majalah Playboy versi Indonesia tetap terbit. Edisi perdana dicetak 100 ribu eksemplar dan beredar Jumat (7/4). Konsumen bisa mendapatkan majalah bulanan khusus pria dewasa seharga Rp 39 ribu (khusus Jawa) ini di toko-toko buku dan eceran kaki lima. Sampul depan bernuansa warna merah diisi gambar artis Andhara Early memakai kemben dan tersenyum lebar. Di sampulnya juga ada tulisan khusus dewasa.

Para agen di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, mengaku kehabisan stok. Lima ratus eksemplar Playboy ludes sejak pukul 09.00 WIB. Hal yang sama juga terjadi di tingkat pengecer. Mereka kehabisan stok sejak pagi. Padahal, para pengecer menerima 50 hingga 100 eksemplar. Bahkan, beberapa pengecer mengaku tidak kebagian majalah berlogo kelinci berdasi itu (Liputan 6 SCTV).

Melihat antusiasme pembeli, kita mendapat gambaran bahwa tak sedikit masyarakat kita yang memang doyan dengan tontonan berbau porno. Setidaknya hal ini terekam dari kekecewaan mereka saat membuka majalah Playboy yang baru dibelinya. Impian melihat gambar-gambar berbau pornografi buyar. Yang mereka dapatkan adalah tulisan tentang sastrawan Pramoedya Ananta Toer dan sejumlah artikel lain yang memang tak nyenggol-nyenggol hal-hal yang porno.

Secara keseluruhan, majalah tersebut juga tak bersih betul dari unsur-unsur pornografi. Cover depannya saja memampang foto artis yang hanya memakai kemben. Gambar wanita berbikini pun masih ditemui di majalah ini. Majalah yang diterbitkan PT Velvet Silver Media sekaligus pemegang lisensi Playboy di Indonesia itu selanjutnya akan terbit pada pekan pertama setiap awal bulan. Director Velvet Silver yang merangkap editor in chief Playboy, Erwin Arnada, mengaku investasi awalnya sekitar Rp 3-4 miliar digunakan untuk infrastruktur dan pembelian lisensi. Sebuah angka yang terbilang besar, tentu.

Skenario
Ada fenomena yang cukup mengherankan di balik peluncuran edisi perdana itu. Kalau memang majalah tersebut merupakan turunan Playboy Amerika (konon majalah ini telah diterbitkan dalam 20 versi di berbagai negara di dunia), mengapa untuk versi/edisi Indonesia, Playboy's International Publishing Group (IPG), sang pemberi lisensi, dengan mudah meng-iya-kan isi Playboy Indonesia seperti yang ada sekarang ini: jauh dari identitas Playboy yang di belahan dunia manapun identik dengan pose-pose telanjang itu. Ada apakah di balik persetujuan itu?

Yang tak kalah mengherankan, mengapa PT Velvet Silver Media dengan nilai investasinya yang tak sedikit itu --terutama untuk pembayaran lisensi-- masih ngotot menerbitkan Playboy kalau isinya jauh dari brand yang sudah tertancap kuat di tengah-tengah masyarakat, bahwa yang namanya Playboy itu mesti kental dengan hal-hal porno?

Asumsinya, jika pangsa pasar yang hendak dibidik PT Velvet Silver Media adalah para penggemar pornografi, hal itu kemungkinan besar tak akan didapatkannya lantaran Playboy Indonesia paling tidak ditunjukkan dengan edisi perdananya masih juga memuat menu-menu yang tak ada hubungannya hal-hal porno (sesuatu yang ingin di dapatkan pembaca dengan membeli Playboy). Sejumlah bahasan seperti politik, ekonomi, budaya atau yang lainnya tampak diberi ruang di majalah ini. Ini berarti pembaca akan kehilangan selera karena majalah tersebut terkesan setengah-tengah. Setengah porno, setengah bau-bau urusan publik.

Apakah tidak menjadi kekhawatiran bagi penerbit bahwa nantinya Playboy Indonesia akan ditinggalkan pembacanya, karena setting yang setengah-setengah tersebut. Melihat kondisi tersebut, tidakkah kita boleh berwacana bahwa sebenarnya sebuah skenario telah disiapkan oleh pihak penerbit?

Gelombang penentangan yang marak disuarakan sejak rencana penerbitan Playboy Indonesia bergulir telah mampu menggumpalkan energi di tengah masyarakat. Energi yang menggumpal itu tidak mustahil dapat mengganjal bahkan membatalkan beredarnya majalah tersebut di Indonesia. Karena itu, daripada tak bisa terbit sama sekali, dibuatlah skenario ''pelan namun pasti''.

Artinya, pelan-pelan dulu, tahan dulu keinginan untuk menampilkan Playboy Indonesia selevel dengan Playboy-Playboy versi lain di dunia. Jika nanti Playboy ini sudah eksis setelah masyarakat sudah berhasil diyakinkan bahwa Playboy Indonesia bukanlah majalah porno, maka secara pelan-pelan bobot porno itu bisa saja ditingkatkan hingga brand Playboy yang sesungguhnya akan didapatkan.

Kondisi ini paling tidak dapat diharapkan lantaran selama ini banyak media porno yang pada awal terbitnya mendapat penentangan keras, namun lambat laun bisa melenggang. Apalagi pemberantasan pornografi di Indonesia selama ini terkesan terseok-seok. Kelemahan itu bisa saja dimanfaatkan pihak penerbit, sembari menunggu iklim penerbitan di Indonesia. Apalagi, hingga kini RUU Antipornografi dan Pornoaksi (APP) belum juga menuai kata sepakat.

Selain harus berhadapan dengan pembacanya sendiri, pihak penerbit masih harus berhadapan dengan masyarakat yang antipornografi. Porsi-porsi porno yang juga masih tampak dalam terbitan perdana tersebut tetap akan mengundang protes. Argumentasi penerbit bahwa kalaupun masih ada porsi porno akan dikemas secara lebih elegan sehingga tidak terkesan porno, dapat dibantah. Karena sebenarnya kemasan dan pornografi adalah dua hal yang berbeda.

Dikemas seperti apapun, pornografi tetaplah pornografi. Pria normal tetap bergairah ketika melihat foto wanita telanjang, walau dikemas dengan cita rasa seni yang paling indah dan paling elegan sekali pun. Bisa jadi kemasan yang elite, elegan, dan bercita rasa seni tersebut, hanyalah alasan agar majalah tersebut bisa diterima.

Ciri khas
Rasanya tidak mungkin Playboy akan meninggalkan ciri khasnya yang mengeksploitasi fisik wanita. Rasanya tidak mungkin Playboy Indonesia tampil seperti majalah Gatra atau Sabili. Bagaimana pun kemasannya, ada satu hal yang rasanya sangat pasti: Playboy Indonesia pastilah tetap berisi halaman-halaman yang mempertontonkan tubuh wanita yang nyaris tanpa busana.

Tak hanya itu, masyarakat yang antipornografi dapat menuntut janji penerbit yang mengatakan peredaran majalah ini akan menggunakan sistem berlangganan di mana setiap calon pelanggan mesti menunjukkan identitas diri (KTP). Namun bebasnya majalah itu ditemui di lapak-lapak kaki lima menunjukkan bahwa penerbit telah ingkar janji. Majalah itu pun bisa diakses via internet. Bukankah internet juga bisa diakses siapa saja, termasuk anak di bawah umur?

-Dari sini tampak, di balik nekadnya penerbitan Playboy Indonesia ini, sesungguhnya kedua tangan penerbit ibarat tengah memegang bara ap: kalau tak pandai memainkan dapat memberangus dirinya sendiri.

-Iktisar
*Patut dipertanyakan mengapa Playboy's International Publishing Group (IPG), pemberi lisensi Playboy, mudah mengiyakan Playboy Indonesia terbit tanpa identitas Playboy: pose-pose telanjang.

*Patut dipertanyakan juga, mengapa PT Velvet Silver Media dengan nilai investasi tak sedikit masih ngotot menerbitkan Playboy yang jauh dari brand Playboy yang kental dengan hal-hal porno.

* Setelah maraknya penentangan, daripada tak bisa terbit, dibuatlah skenario ''pelan namun pasti''. Setelah eksis dan diterima masyarakat, pelan-pelan bobot porno ditingkatkan sesuai brand Playboy.

*Tak mungkin Playboy akan meninggalkan ciri khasnya. Bagaimana pun kemasannya, Playboy Indonesia pastilah tetap berisi halaman-halaman yang mempertontonkan tubuh wanita yang nyaris tanpa busana.



 
Moderator
Hidayahnet
Subscribe: [EMAIL PROTECTED]

Group Information

  • Members: 8376
  • Category: Islam
  • Founded: Sep 6, 2003
hidayahnet ยท eGroup For The Muslim Ummah (Malay)

Assalamualaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh

Hidayahnet is for Muslims to share their knowledge and discuss issues pertaining Muslim ummah. Postings either in Malay or English. We encourage participation from Malay-based communities such as from Malaysia, Indonesia, Singapore, Brunei and whoever can read Malay.

 


{Invite (mankind,O Muhammad) to the Way of your Lord (i.e. Islam) with wisdom (i.e. with the Divine Inspiration and the Qur'an) and fair preaching, and argue with them in a way that is better. Truly, your Lord knows best who has gone astray from His Path, and He is the Best Aware of those who are guided.}(Holy Quran-16:125)



--------------------------------------------------------------------------

All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise.

If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".

--------------------------------------------------------------------------

Recommended sites:
Angkatan Belia Islam Malaysia  : http://www.abim.org.my
Jamaah Islah Malaysia          : http://www.jim.org.my
Radio Islam Kuliyyah           : http://www.kuliyyah.com
Palestinkini Info              : http://www.palestinkini.info
Partai Keadilan Sejahtera      : http://pk-sejahtera.org
Fiqh Siber                     : http://al-ahkam.net/
The Muslim Brotherhood         : http://ikhwanweb.com




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke