Seringkali pendapat seorang profesor dianggap “selalu benar” padahal tidak 
selamanya demikian. Contoh : tulisan Prof Syafii Ma’arif yang dimuat di 
Republika, Rubrik Resonansi, hal.12, tanggal 21 Nopember 2006.
 
Ketika itu Syafii Ma’arif mencoba menafsirkan Qs.Al-Baqarah : 62, dengan 
memberi kesan bahwa Al-Quran mengesahkan semua penganut agama : Nasrani, Yahudi 
dan Sabi’in akan menjadi penghuni surga, hanya dengan berbuat kebajikan.
 
Hal itu ditempuh dengan mengutip tafsir Al-Azhar karya mufassir yang mulia 
Prof. DR. Hamka. Padahal isi tafsir Prof.DR. Hamka tidak demikian.
 
Karenanya saya mencoba meluruskan pendapat Syafii Ma’arif agar tidak 
menyesatkan umat, dengan cara membuat tanggapan atas tulisan tersebut dan 
mengirimkannya kepada Republika, tetapi sayangnya sampai hari ini Republika 
seakan-akan enggan memuatnya.
 
Sehingga tanggapan tersebut saya lepaskan kepada pembaca melalui jalur 
internet. Semoga upaya ini menjadi ibadah bagi saya.
 
Bekasi, 27 Nopember 2006
 
 
Hajjah Irena Handono
 
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
KETIKA MURID MENELIKUNG SANG GURU
 
 
Ahmad Syafii Maarif, bekas ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah,   menerima 
pesan singkat dari  jenderal polisi yang bertugas di Poso. Sang jenderal minta 
Syafii  membantunya memahami ayat 62 surat Al-Baqarah. Jenderal itu berharap 
makna ayat itu akan membantunya  mengurai konflik yang terjadi di Poso. (Harian 
Republika, Selasa 21 November 2006 )
 
Syafii Maarif merujuk ke kitab gurunya  Prof. DR. Hamka yakni Tafsir Al- Azhar. 
Sayangnya buku tafsir itu dibaca dengan fikiran  yang berkabut.  Kesimpulannya, 
hal-hal yang benar dari Hamka tertutup dan memunculkan pemikiran Syafii Maarif 
sendiri 
 
Menurut Syafii Maarif, Hamka adalah seorang mufassir yang berani. Saya setuju 
dan benar sekali. Bahkan beliau sudah menafsirkan ayat-ayat Allah dengan tepat 
dan gamblang, termasuk surat  Al-Baqarah ayat 62 dan Al-Maidah ayat 69 serta  
Ali Imran ayat 85 yang terkait dengan ayat 62  surat Al- Baqarah.
 
Tafsir Hamka terhadap surat Al-Baqarah ayat 62: “Sesungguhnya orang-orang yang 
beriman dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabiin,  barang siapa 
yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shaleh, maka untuk 
mereka adalah ganjaran di sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas 
mereka dan tidaklah mereka akan berduka cita “
 
Surat AlMaidah ayat 69: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang 
Yahudi dan (begitu juga) orang Shabiun, dan Nashara, barang siapa yang beriman 
kepada Allah dan Hari Akhirat, dan diapun mengamalkan amal yang shaleh, maka 
tidaklah ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berduka cita.”  
 
Merujuk pada Tafsir Al Azhar. karya Prof.DR Hamka, seharusnya Syafii Maarif 
bisa menjawab  pertanyaan sang jenderal polisi dengan tegas dan benar. Sebab 
pada buku juz  1 halaman 212, Hamka menyatakan sebagai berikut :
”di dalam ayat ini dikumpulkanlah keempat golongan ini menjadi satu. Bahwa 
semua mereka tidak merasakan ketakutan dan dukacita asal saja mereka sudi 
beriman kepada Allah dan Hari Akhirat dan diikuti dengan amal yang saleh. Dan 
keempat-empat golongan itu lalu beriman kepada Allah dan Hari Akhirat itu akan 
mendapat ganjaran di sisi Tuhan mereka.”
 
Jadi, penafsiran Prof DR Hamka, bukan tentang toleransi antar ummat beragama, 
tapi yang paling pokok adalah keempat golongan itu hendaknya  beriman kepada 
Allah dan Hari Akhir. Itulah syarat mutlak untuk mendapatkan ganjaran disisi 
Tuhan mereka. Mestinya penafsiran yang gamblang ini jangan lagi diberi 
bayang-bayang kabut, karena tidak ada ayat Al Quran yang saling bertentangan, 
tapi justru saling melengkapi.
 
Sebaliknya, Syafii Maarif “menjejalkan” fikirannya dengan menggambarkan Hamka 
(gurunya)  sebagai  seorang yang rindu akan dunia yang aman untuk didiami oleh 
siapa saja, mengaku beragama atau tidak, asal saling menghormati dan saling 
menjaga pendirian masing-masing  Jadi, seolah-olah  Hamka menyatakan beragama 
atau tidak bukan masalah, toh semua agama sama.
 
Saran saya supaya tidak terkesan menelikung  pemikiran Prof. Hamka, hendaknya 
Syafii Maarif juga mengutip pemikiran beliau pada halaman 214 dan 215  yaitu, 
”kerapkali menjadi kemuskilan bagi orang yang membaca ayat ini,  karena disebut 
yang pertama sekali ialah orang-oang yang beriman, kemudiannya baru disusul 
oleh Yahudi, Nashrani dan Shabiin. Setelah itu disebutkan bahwa semuanya akan 
diberikan ganjaran oleh Tuhan apabila mereka beriman kepada Allah dan Hari 
Akhirat, lalu beramal yang saleh. Mengapa orang yang beriman disyaratkan 
beriman lagi ?”
 
Lebih jauh Hamka berpendapat, “setengah ahli tafsir mengatakan bahwa yang 
dimaksud disini barulah iman pengakuan saja. Misalnya mereka sudah mengucapkan 
dua kalimah syahadat, mereka telah mengaku dengan mulut, bahwa tidak ada Tuhan 
melainkan Allah dan Muhammad utusan Allah. Tetapi pengakuan tadi baru pengakuan 
saja,belum diikuti oleh amalan, belum mengerjakan rukun Islam yang lima 
perkara, maka iman mereka itu masih sama saja dengan iman Yahudi, Nashrani dan 
Shabiin. Apatah lagi orang Islam peta bumi saja atau Islam turunan, maka Islam 
yang semacam itu masih sama saja dengan Yahudi, Nashrani dan Shabiin. Barulah 
keempat itu terkumpul menjadi satu, apabila semuanya memperbaharui iman, 
kembali kapada  Allah dan Hari Akhirat, serta mengikutinya dengan perbuatan dan 
pelaksanaan.”
 
Itulah syarat mutlak sehingga keempat golongan itu menjadi satu dan padu yaitu 
beriman kepada Allah, Hari Akhir dan beramal shaleh. Adapun yang tidak dikutip 
oleh Syafii Maarif sehingga pemikirannya berkabut  adalah kalimat Prof. Hamka  
pada halaman 215 yaitu, “Apabila telah bersatu mencari  kebenaran dan 
kepercayaan, maka pemeluk segala agama itu akhir kelaknya pasti bertemu pada 
satu titik kebenaran.”
 
Ciri yang khas  dari titik kebenaran itu adalah menyerah diri dengan penuh 
keikhlasan kepada Allah yang SATU ; itulah Tauhid, itulah Ikhlas, dan itulah 
Islam ! Maka dengan demikian orang yang telah memeluk Islam sendiripun 
hendaklah menjadi Islam yang sebenarnya. Inilah sebenarnya pemikiran Islami 
dari Prof. DR. Hamka yang ditelikung oleh Syafii Maarif, sang murid. 
 
 
Di sisi lain, pernahkah terfikirkan oleh Syafii Maarif bahwa keyakinan 
Kristiani menyatakan Allah dalam Al Quran bukan Tuhan dalam Bible (Lihat buku 
.The Islamic Invasion, karya Robert Morey, edisi Bahasa Indonesia, Halaman 62, 
yang isinya sebagai berikut: “Ketika kita bandingkan sifat-sifat Tuhan Al Kitab 
(Bible) dengan sifat-sifat Tuhannya Al Quran, muncul  dengan jelas, bahwa 
keduanya bukanlah dari Tuhan yang sama!” Bahkan pada halaman yang sama  
tertulis bahwa : ”Latar belakang sejarah mengenai asal-usul dan makna kata Arab 
“Allah” bukanlah Tuhan yang menjadi sesembahan orang Yahudi dan orang Kristen. 
Allah hanyalah suatu berhala Dewa Bulan bangsa Arab yang dimodifikasi dan 
ditingkatkan maknanya.”
 
Pada halaman yang sama Robert Morey mengutip pendapat Doktor Samuel Schlorff, 
yang menyatakan dalam tulisannya mengenai perbedaan mendasar antara Allah dalam 
Al Quran dan Tuhan dalam Al Kitab (Bible) sebagai berikut : ” Saya percaya 
bahwa kunci masalahnya adalah pertanyaan mengenai hakekat Tuhan dan bagaimana 
Tuhan berhubungan dengan ciptaannya ; Islam dan Kristen, meskipun mempunyai 
kesamaan secara formal, sesungguhnya sangat jauh berbeda dalam masalah 
tersebut.”
 
Nah marilah kita merenung kembali, samakah semua agama, samakah semua kitab 
suci ? Dan seharusnya Syafii Maarif  meyakini bahwa : ”satu-satunya agama di 
sisi Allah adalah Islam.”
 
 
Bekasi, Rabu 22 Nopember 2006
 
 
Hajjah Irena Handono
Pendiri Irena Center,
Ketua Umum Gerakan Muslimat Indonesia (GMI),
Penasehat Muslimah Peduli Ummat (MPU).


 
____________________________________________________________________________________
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
http://new.mail.yahoo.com

Kirim email ke