25 Desember dan 'Hari
Raya' Dakwah Umat Islam

 

Tiap kali 25 Desember
tiba, ummat Islam terbagi-bagi

dalam menyikapinya. Ada
yang mengucapkan selamat Natal

(bahkan ikut dalam
perayaan Natal bersama), dengan

alasan toleransi
beragama, kerukunan hidup beragama,

atau imbal balik atas
ucapan selamat Idul Fitri. Ada

pula yang tegas menolak
dan tak mau mengucapkan

selamat Natal, dengan alasan
bahwa perayaan Natal

terkait dengan prinsip
akidah, dan bahwa MUI

jelas-jelas sudah
mengeluarkan fatwanya tentang

haramnya mengikuti
perayaan Natal bersama (fatwa tahun

1981) (1). Banyak pula
yang merasa kikuk: Kalau tak

mengucapkan selamat
Natal, merasa "tak enak dengan

tetangga".

 

Lebih dari duapuluh tahun
sejak MUI mengeluarkan fatwa

haramnya bagi ummat Islam
untuk mengikuti perayaan

Natal bersama; hari ini
di tahun 2003, kita masih saja

terus bergulat dengan
definisi "toleransi beragama".

Masih saja ada media
massa yang mempromosikan opini,

bahwa toleransi beragama
tidak mengenal batas dan

dapat dicampur adukkan
dengan toleransi akidah:

mengikuti perayaan Natal
bersama, adalah bagian wajar

dari upaya untuk
menyuburkan keharmonisan hubungan

antar ummat beragama (2).
Sedangkan ulama'pun sudah

menyatakan bahwa,
-jangankan menghadiri perayaan

Natal-mengucapkan selamat
Natalpun haram hukumnya (3).

 

Haram mengucapkan selamat
Natal? Ah, tidakkah ini

berlebihan? Mengapa hanya
sekedar turut menyampaikan

rasa gembira -sebagai
wujud dari rasa hormat dan

cinta- kepada
saudara-saudara ummat Kristen yang

tengah bersuka cita
merayakan kelahiran Yesus saja

dilarang? Kalau begini
caranya, alangkah gersangnya

hidup kebersamaan
bertetangga. Alangkah tak adilnya,

ketika mereka dengan
tulus mengucapkan selamat

lebaran, kita diam saja
menolak untuk membagi salam

Natal ....

 

Sesungguhnya, ketika kita
mengucapkan selamat Natal

teriring senyuman,
tuluskah hati kita berpartisipasi

dalam kesuka citaan
handai taulan kita ummat Kristen

menyambut Natal? Di satu
pihak, kita meyakini bahwa

Isa AS hanyalah seorang
Nabi dan bukan Tuhan (QS

4:171; QS 19:30; QS
43:59), bahwa kita dilarang

menyembahnya (QS 5:116),
bahwa Isa AS tidak mati

disalib (QS 4:157), dan
bahwa kafirlah orang-orang

yang menyatakan bahwa Isa
AS itu Tuhan (QS 5:73).

Dengan demikian, seberapa
jujur, tulus, dan gembira

kita mengucap selamat
Natal kepada saudara-saudara

ummat Kristen, ketika
kita tahu bahwa Alloh SWT

menjanjikan siksaan pedih
bagi mereka yang memuja

Trinitas? "Selamat
Natal saudara-saudaraku, selamat

jalan ke neraka,"
begitukah kita hendak menyalami

saudara-saudara kita yang
belum paham dengan

kekeliruannya?

 

Adalah rasa sayang kita
yang tulus, rasa cinta kita

yang ikhlas jualah, yang
seharusnya menyingkirkan

segenap kegamangan sikap
kita. Diam mulut kita yang

tak mau mengucapkan salam
Natal, penolakan kita untuk

mengikuti perayaan Natal
bersama, adalah wujud kasih

sayang kita yang sejati
sebagai ummat Islam terhadap

saudara-saudara kita
ummat Kristen agar tidak terus

menerus mabuk dalam ilusi
tentang "Tuhan Yesus".

 

25 Desember, adalah
momentum bagi ummat Islam menyapa

kaum kerabat Kristen, dan
berusaha menyadarkan, bahwa

Yesus tidak dilahirkan
pada tanggal 25 Desember.

Kepercayaan Natal 25
Desember -sebagaimana halnya

dengan dogma Trinitas-
merupakan hasil sinkretisme

dari ajaran Paulus dengan
berbagai kepercayaan kuno,

antara lain Mithraisme
(4). Yesus bukanlah Tuhan.

Bahwa kepercayaan
Trinitas merupakan hasil evolusi

panjang dari pergumulan
-dan bahkan pertentangan- yang

keras dan kotor di
kalangan pendeta dan pengikut

Kristen awal (al.
perseteruan antara Arius yang pro

monotheisme versus
Athanasius yang pro Trinitas), dan

bukan berasal dari ajaran
Yesus sendiri (5,6).

Perdebatan tentang
siapakah Yesus itu: Tuhan atau

manusia, bahkan tidak
selesai sampai sekarang.

Upaya-upaya para sarjana
Kristen untuk menemukan Yesus

historis membentur
kenyataan, bahwa hanya 16-18% dari

Bibel -satu-satunya
sumber sejarah bagi mereka tentang

Yesus- yang dapat
dianggap berasal dari Yesus (baik

ucapan mau pun perbuatan)
(7).

 

Bahwa pendiri agama
Kristen sesungguhnya bukanlah

Yesus, tetapi seseorang
bernama Paulus dari Tarsus:

Paulus yang semula
merupakan musuh hebat dari para

pengikut Yesus, tapi
kemudian berbalik sepenuhnya

menjadi "pengikut
setia" Yesus, yang kemudian

menyebarkan ajaran atas
nama Yesus, sekalipun tidak

pernah bertemu dengan
Yesus, dan tidak pernah menjadi

muridnya (8, 9, 10). Paulus
inilah yang memutar balik

ajaran Yesus dan
murid-muridnya, dari sebuah ajaran

yang asal muasalnya
terbatas hanya untuk kalangan

Yahudi menjadi ajaran
untuk orang-orang non Yahudi

(Gentile) (11). Yesus
datang untuk meneguhkan

pelaksanaan hukum-hukum Taurat
(Matius 5:17),

sedangkan Paulus
merubahnya (8). Para pengikut Yesus

yang sejati, yang
dipimpin oleh Yakobus saudara Yesus,

masih mempertahankan
hukum-hukum Taurat seperti

bersunat, menghindar dari
makanan-makanan haram

tertentu, dan berqurban,
sementara Paulus menghapusnya

agar adaptif bagi cita
rasa pemeluk Kristen dari

kalangan non
Yahudi/Romawi(8, 10). Pauluslah juga yang

merubah citra Yesus yang
semula adalah manusia biasa

dari Nazareth, seorang
Nabi, menjadi Tuhan Romawi

(11). Itu sebabnya
terjadi pertentangan keras antara

pengikut Yesus yang asli
(Gereja Jerusalem/ Gereja

Sunat) dengan Paulus
(Gereja Gentile) yang antara lain

tercermin dalam
satu-satunya surat Yakobus di dalam

kitab Perjanjian Baru (5,
8, 9, 10). Paulus dianggap

sebagai penghianat dan
murtad (9, 10).

 

Sayangnya, ajaran
pengikut Yesus yang asli

lama-kelamaan hilang dari
panggung sejarah, sementara

ajaran distortif Kristen
versi Paulus yang dipengaruhi

tradisi
Hellenistik-Yunani-Romawi justru berkembang

pesat, bahkan menjadi
agama resmi negara Romawi dan

seluruh wilayah
jajahannya sejak era Kaisar Konstantin

(9). Yang menarik,
sisa-sisa pengikut Arianisme

(merujuk pada Arius,
seorang pemimpin gereja abad 4 M,

yang menentang pendapat
tentang ketuhanan Yesus, dan

dengan demikian agak
lebih dekat kepada ajaran Tauhid)

seperti gereja Unitarian,
masih bertahan hingga

sekarang, meskipun harus
melalui berbagai persekusi

gereja Kristen.
Keberadaan minoritas pengikut

Arianisme di dalam tubuh
ummat Kristen ini menunjukkan

bukti akan sisa-sisa
ajaran Yesus yang asli (10, 12).

 

Tidakkah kita
berkewajiban mengungkap semua fakta itu

kepada kaum kerabat kita
ummat Kristen? 25 Desember

adalah saat yang tepat
untuk "merayakan hari dakwah"

dengan membagi-bagikan
informasi tentang Yesus

historis, seorang Nabi
yang sesungguhnya membawa

ajaran Islam; dalam
bentuk seminar-seminar, menulis

opini di media massa,
menyebar pamflet, atau sekedar

mengobrol santai.
Barangkali aksi-aksi seperti ini

lebih jujur daripada
basa-basi akrab semu

salam-salaman Natal atas
nama kerukunan dan toleransi

beragama, tetapi
hakekatnya menutup-nutupi kebenaran,

dan membiarkan
saudara-saudara Kristen yang kita

cintai terus bergelimang
di dalam kekeliruan akidah

dan sejarah.

Wallahu a'lam bish
shawwab.

 

Maraji':

1. Fatwa MUI: Perayaan
Natal Bersama

http://www.mui.or.id/b3_28.htm;

2. Kompas, "Belajar
dari Ngepeh dan Mojowangi", Sabtu,

29 November 2003

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0311/29/UTAMA/709932.htm;

3. Dalil Dilarangnya
Mengucap Selamat Natal

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=4136;

4. Saul of Tarsus, Mithraic Cults, and Christ's Blood

http://www.sullivan-county.com/news/pmithra/;

5. Dr C Groenen OFM,
"Sejarah Dogma Kristologi",

Yayasan Kanisius, 1988.

6. Dr Hudoyo Hupudiyo,
MPH, "Sejarah Trinitas"

http://sp-www.ip.titech.ac.jp/~dany/islam/trinitas.html;

7. The Jesus Seminar

http://www.westarinstitute.org/Jesus_Seminar/jesus_seminar.html;

8. Paul the Apostle and Salvation thru
Faith (12

Heresies of Christianity)

http://www.sullivan-county.com/news/paul/paul2.htm;

9. Steve Mizrach, "The Dead Sea Scrolls Controversy"

http://www.dreamscape.com/morgana/carme.htm;

10. Bilal Cleland, "Islam and
Unitarians - The Quest

for Truth and Justice (Part 1),
"Salam" Mei-Juni 2003

11. Marvin Perry, "Western
Civilization, Ideas,

Politics, and Society", 2nd ed.,
Houghton Mifflin

Company, hal. 150-167

http://www.sullivan-county.com/news/mine/jesus.htm;

12. Rev. Roderick M. Brown,
"Celebrating Our Christian

Heritage"

http://www.unitarianscalgary.org/html/sermon_7.html;


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke