Ribuan jamaah berkumpul bersama, berzikir, memohon ampunan dan kebaikan
dari Allah SWT. Pakaian putih-putih jamaah semakin menggetarkan hati.
Di tempat lain, masjid besar sampai tidak bisa menampung peserta tablig
akbar dari ustadz muda yang sering muncul di televisi. Tidak
ketinggalan, para eksekutif dari berbagai perusahaan swasta maupun BUMN
menangis tersedu-sedu menyadari kesalahan selama ini dalam training
eksekutif di ruang ber-AC yang luas. Sungguh, pemandangan yang
menyenangkan hati. Sepertinya, semangat keislaman semakin
menggembirakan di tengah-tengah umat Islam.

Tidak hanya itu,
setiap tahun sekitar 200 ribu jamaah haji Indonesia berangkat ke Makkah
untuk menunaikan ibadah haji. Bersama umat Islam dari belahan dunia
lain, mereka berkumpul bersama melakukan tawaf, wukuf, melempar jumrah
dan rangkaian manasik haji lainnya.

Di bidang pendidikan,
sekolah-sekolah Islam unggulan pun semakin banyak muncul, mengisi
kekosongan pendidikan resmi selama ini yang cenderung sekular. Dengan
riang gembira, murid-murid sekolah unggulan ini melafalkan ayat-ayat
suci al-Quran. Para murid pun diajarkan tatacara wudhu, shalat, dan
ibadah lainnya. Sekolah-sekolah ini melengkapi ribuan pesantren yang
telah lama berdiri sebelumnya.

Di bidang ekonomi, bank-bank
syariah pun bermunculan. Menariknya, bank-bank konvensional ribawi pun
mendirikan bank syariah seperti BNI syariah, Bank Syariah Mandiri dan
lain-lain. Bank Muamalat sebagai pelopornya juga diminati. Lembaga atau
badan ZIS (Zakat Infak dan Sedekah) banyak berdiri. Pendirinya mulai
dari masyarakat biasa, ormas sampai partai politik. Memang, belum
mencerminkan sistem ekonomi Islam secara menyeluruh. Akan tetapi,
keinginan untuk berekonomi berdasarkan syariah sudah mulai tampak;
meskipun ada juga yang semata-mata bermotif profit.

Dunia fesyen
pun tidak ketinggalan. Berbagai model busana Muslim muncul dengan
berbagai corak; baik yang benar-benar memenuhi syarat syar‘i dengan
kerudung dan jilbabnya atau hanya sekadar kerudung kecil di kepala
dengan celana panjang yang masih ketat.

Dunia seni pun sama.
Muncul penyanyi-penyanyi religius dengan kemasan apik yang membawakan
lagu-lagu islami yang menggetarkan hati. Berbagai konser yang berlabel
Islam pun digelar. Cukup banyak juga yang hadir menikmati.

Sementara
itu, media massa Indonesia pun mendapat imbas dari semangat keislaman
ini. Berbagai sinetron yang religius menghiasi layar kaca; meskipun ada
juga yang religius sekadar judulnya, sementara filmnya sendiri penuh
dengan kemusyrikan. Para artis juga tidak ketinggalan. Pada bulan
Ramadhan mereka menggenakan busana Muslim, bahkan membawakan acara
keislaman di beberapa televisi.

Fenomena di atas tentu saja
menggembirakan. Lepas dari berbagai kekurangan di sana-sini, semuanya
mengisyaratkan hal yang kuat tentang semangat keislaman yang semakin
menggairahkan. Islam memang tidak bisa disingkirkan dari kehidupan umat
Islam, bagaimanapun penampakannya.

Ironi Semangat Keberislaman

Namun
demikian, naiknya semangat keberislaman di atas bukan tanpa kritik.
Tidak sedikit yang melihat ada ironi di depan mata. Di satu sisi
semangat keislaman menguat, di sisi lain kemaksiatan pun seakan semakin
merebak di sana-sini, mulai dari kemaksiatan individual sampai sosial.
Pelacuran, pornografi, seks bebas, dan aborsi, angka-angkanya semakin
meningkat secara tajam. Kriminalitas, korupsi, dan kolusi sebagai
kemaksiatan sosial pun tetap saja merebak. Agama juga seperti tidak
bisa berbuat banyak untuk menghentikan gelombang kemiskinan yang
semakin besar.

Pejabat sering berwajah ganda. Para pejabat
tampil salih dalam ibadah ritual seperti shalat Idul Fitri, Idul Adha,
atau acara keagamaan seperti Isra Mikraj dan Maulid Nabi. Mereka pun
bersama-sama pergi memenuhi seruan Allah, melaksanakan ibadah haji.
Namun, di sisi lain, para pejabat itu menampilkan wajahnya yang buas
dengan kebijakannya yang menyengsarakan rakyat. Mereka tega menaikkan
harga BBM, biaya pendidikan, dan biaya rumah sakit. Mereka juga tega
melakukan penggusuran dengan alasan keindahan. Muncul pernyataan sinis:
haji kok korupsi; shalat iya, maksiat juga iya. Muncul juga pertanyaan:
mengapa semangat keberagamaan itu tidak berbanding lurus dengan
kesejahteraan, keadilan dan keamanan masyarakat?

Kritik lain
muncul terhadap kecenderungan komersialisasi dakwah. Tidak jarang
terdengar, ada tarif khusus yang dibuat oleh seorang mubalig.
Tawar-menawar tarif dakwah kemudian menjadi ukuran untuk menerima
panggilan dakwah atau tidak. Dakwah yang seharusnya berpijak pada
keikhlasan untuk mengajak perubahan di tengah masyarakat, dengan sistem
tarif, dikhawatirkan cenderung terjebak pada komersialisasi.

Tentu
saja bukan berarti seorang mubalig tidak boleh menerima pemberian atau
hadiah. Namun, ketika besarnya tarif menentukan penerimaan panggilan
dakwah, ini yang menjadi masalah. Masyarakat pun dikhawatirkan
mempersepsikan seorang pengemban dakwah bagaikan artis. Dakwah pun
menjadi semacam entertainment atau hiburan, bukan sebagai petunjuk
hidup atau upaya untuk mengubah kebatilan.

“Dakwah
entertainment” ini bisa jadi pada awalnya dimaksudkan untuk lebih
menarik masyarakat—lewat musik, film, atau tablig bersama artis
terkenal. Namun, tidak jarang, ketika unsur entertainment-nya lebih
mendominasi, inti dakwah pun menjadi terabaikan. Hal ini bisa terlihat
di layar kaca pada saat bulan Ramadhan. Acara dakwah ini lebih banyak
diisi dengan dialog-dialog tanpa makna, penuh canda tawa, bahkan sering
terpeleset dengan tindakan atau kata-kata porno dan konyol.

Kondisi
yang sama bisa dilihat dari film-film yang diklaim religius. Paling
banter, yang masih berhubungan dengan agama adalah judul filmnya,
seperti Hidayah, Jalan Ilahi, dan lain-lain. Isi filmnya malah
bertentangan dengan agama seperti kemusyrikan atau adegan-adegan yang
cenderung porno. Ironis memang.

Komersialisasi dakwah pun sering
mengaburkan isi dakwah. Dakwah kemudian dikemas sekadar untuk
menyenangkan pendengar atau penonton. Dakwah yang seharusnya juga
merupakan upaya amar makruf nahi mungkar justru terabaikan. Tidak
jarang hal ini membuat mubalig segan untuk mengkritisi kemaksiatan yang
dilakukan obyek dakwahnya. Ketika diundang pejabat, alih-alih
mengingatkan pejabat untuk menghentikan kemaksiatannya, mereka malah
menghibur pejabat tersebut agar ‘istiqamah’ dengan kemaksiatannya.
Kedekatan ulama atau pendakwah dengan pejabat seharusnya membawa
perubahan berarti pada diri pejabat. Kenyataannya tidak selalu begitu.

Dakwah yang Mengaburkan

Melihat
perkembangan kondisi dakwah sekarang ini, para pengemban dakwah
tampaknya perlu untuk mengkaji ulang gerak dakwah terkini. Di balik
semangat keberislaman yang semakin meningkat di tengah masyarakat,
harus ada kejelasan arah dakwah yang dilakukan. Hal ini bukan berarti
menafikan konstribusi dakwah yang telah dilakukan oleh siapa pun.
Namun, karena arah dakwah yang tidak jelas, semangat keberislaman yang
sudah muncul tidak akan terarah. Seyogyanya semangat keberislaman yang
kuat akan semakin membentuk masyarakat yang baik; bukan hanya baik
secara individual, tetapi juga secara sosial.

Dakwah yang tidak
terarah dan tanpa konsep yang jelas malah bisa menyebabkan pemahaman
masyarakat menjadi tidak utuh. Dakwah yang cenderung parsial, pada
aspek tertentu saja, bisa dapat membuat pemahaman masyarakat tentang
Islam pun menjadi tidak utuh. Penolakan sebagian masyarakat terhadap
poligami bisa jadi menjadi salah satu pelajaran. Penolakan kadang
justru dilakukan oleh ibu-ibu anggota jamaah pengajian yang selama ini
aktif mengaji dan mungkin dakwah. Dakwah yang hanya menyentuh hati atau
akhlak tetapi tidak memberikan gambaran jelas tentang syariah bisa jadi
bumerang. Syariah Islam yang sebenarnya harus diterima secara total,
kemudian dipilah berdasarkan selera. Syariah yang dipersepsikan tidak
menyenangkan seperti jihad, amar makruf nahi munkar, termasuk poligami
pun ditolak.

Yang paling mengkhawatirkan, dakwah yang tidak
terarah ini menimbulkan salah persepsi masyarakat tentang Islam. Ajaran
Islam dianggap tidak menyelesaikan persoalan masyarakat. Islam dan
persoalan real masyarakat seperti kemiskinan, kebodohan, dan
ketidakadilan seperti dua kutub yang saling berjauhan satu sama lain.
Dengan orientasi dakwah yang parsial, tidak utuh, bahkan cenderung
komersial, ajaran Islam malah dianggap tidak ada hubungannya dengan
persoalan real masyarakat. Akibatnya, agama dianggap gagal. Karakter
khas ajaran Islam sebagai problem solving pun semakin jauh.

Sangat
jarang ulama yang muncul menentang kebijakan penguasa yang
menyengsarakan rakyat; seakan-akan fungsi ulama dipersempit pada urusan
ibadah ritual. Fungsi penting ulama mengoreksi penguasa yang menyimpang
dari syariah Islam pun menjadi terabaikan. Yang lebih menyedihkan
ketika ada ulama yang malah membela kebijakan penguasa yang menambah
derita rakyat. Ulama diposisikan sebagai ‘bemper’ oleh para penguasa
untuk membenarkan kebijakan kejamnya. Hal ini bisa membuat masyarakat
semakin jauh dari ulama yang seharusnya membimbing dan menyelamatkan
mereka.

Kondisi ini diperparah dengan keberadaan partai-partai
Islam di pentas politik. Tidak sedikit partai Islam yang terjebak pada
pragmatisme politik. Yang lebih dipentingkan adalah bagaimana meraih
suara dan kedudukan sebagai pejabat tertinggi. Koalisi dengan partai
sekular pun dijalin dengan meninggalkan idealisme politik Islam.
Praktik politik uang dan kolusi juga menjerat beberapa partai Islam.
Isu syariah Islam malah semakin jarang dihembuskan. Tentu saja kondisi
ini membuat umat Islam semakin apatis terhadap partai Islam dan
cenderung alergi terhadap politik Islam. Pikiran mereka sederhana, toh
tidak ada bedanya antara partai Islam dan yang bukan. Dampaknya, umat
malah mencibir Islam politik.

Kecenderungan ini jelas sangat
berbahaya. Ketika Islam dianggap gagal, agama pun bisa diabaikan oleh
masyarakat. Agama sekadar menjadi simbol-simbol ritual, yang dibutuhkan
kalau perlu. Padahal Rasulullah saw. diutus oleh Allah SWT justru untuk
menyelesaikan seluruh persoalan manusia, bukan hanya meluruskan
tatacara ibadah dan akhlaknya saja. Rasulullah juga membangun negara
yang menerapkan syariah Islam yang bisa menyelesaikan seluruh persoalan
masyarakat, termasuk persoalan-persoalan sosial seperti kesejahteraan,
keadilan, kemiskinan, dan lain-lain.

[Farid Wadjdi]
http://hizbut-tahrir.or.id/main.php?page=alwaie&id=368





____________________________________________________________________________________
Now that's room service!  Choose from over 150,000 hotels
in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit.
http://farechase.yahoo.com/promo-generic-14795097

Kirim email ke