Bismillahirrahmanirrahim
Dalam Surah Al Mulk ayat 3 dan 4,
Allah berfirman ;
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak
melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka
lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?
Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu
dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan
payah. Al Mulk:3-4
Kata profesional (itqaan) artinya teliti, sungguh-sungguh, serius, rapi dan
sempurna. Tidak ada di dalamnya main-main. Semua perbuatan Allah mutqin. Maka
ciptaan-Nya sangat sempurna. Ayat di atas menggambarkan salah satu contoh dari
kesempurnaan ciptaan Allah. Imam Ash Shuyuthi menulis sebuah buku berjudul Al
Itqaan fii uluumil Quran. Dan siapapun yang membaca buku ini, benar-benar
tahu bahwa buku tersebut mencerminkan judulnya. Apa saja yang berkenaan dengan
ilmu-ilmu Al Quran dibahasa oleh Imam Ash shuyuthi secara mendalam. Tidak
hanya itu, buku ini sangat lengkap, mencakup berbagai pembahasan yang berkenaan
dengan Ulumul Quran ilmu-ilmu tentang Al Quran-. Para ulama mengatakan bahwa
buku inilah yang paling pertama dan sempurna membahas tentang ilmu-ilmu yang
berkaitan dengan Al Quran. Siapapun yang ingin memahami seluk-beluk Al Quran,
sangat di anjurkan kalau tidak mau dikatakan diwajibkan- membaca buku ini.
Allah Tidak Pernah Main-main
Ayat di atas menggambarkan betapa Alah swt. dalam menciptakan langit
benar-benar rapi dan seimbang. Tidak cacat sedikitpun. Perhatikan Allah
menantang siapa saja, untuk melihat dan melihat sekali lagi. Lihatlah dengan
kaca mata biasa atau lihatlah dengan kaca mata tehnologi yang paling canggih.
Itu semua akan membuktikan bahwa penciptaan langit benar-benar sempurna. Dari
ayat ini nampak beberapa makna yang penting untuk kita garis bawahi dalam
pembahasan ini:
Pertama, bahwa Allah swt. tidak pernah main-main dalam segala ciptaan-Nya.
Setiap ciptaan Allah di alam semesta ini adalah mengagumkan. Maka sungguh tidak
masuk akal jika kamudian manusia main-main. Tidak bersungguh-sungguh mentaati
Allah swt.
Coba renungkan, alasan apa untuk kita main-main? Akal sehat yang mana yang
mengatakan bahwa semua ciptaan yang demikian agung ini tujuannya hanya untuk
tertawa-tawa, makan-minum-tidur? Sebegitu serius Allah menciptakan langit, lalu
kemudian manusia yang diam di bawahnya tidak pernah memperhatikannya. Kalaupun
memperhatikannya dan melakukan penelitian untuknya tetapi semua penelitian itu
tidak untuk mengenal Pencipta-Nya, melainkan hanya sekedar untuk menjadi
dokumentasi pengetahuan belaka.
Yang lebih celaka lagi, adalah justru setelah menyaksikan keagungan angkasa
raya, malah mengatakan semua itu terjadi dengan sendirinya, tanpa ada yang
menciptakan-Nya? Benarkan kerapian sistem yang demikian luar biasa ini terjadi
dengan sendirinya? Akal sehat yang mana yang mau menerima pernyataan bahwa itu
terjadi dengan sendirinya?
Di dalam Al Quran Allah swt. selalu mengingatkan tentang bukti-bukti
keagungan ciptaan-Nya, supaya manusia tahu bahwa tidak mungkin itu terjadi
tanpa ada yang menciptakannya. Dalam surat Ar Rahman Allah swt. secara khusus
mengulang-ulang pertanyaan untuk menggugah akal manusia. Menggugah agar melihat
bahwa semua itu karena Allah swt. yang mengaturnya. Bahkan
pertanyaan-pertanyaan itu diulang sampai 31 kali. Dan di antara yang Allah
sebutkan adalah penciptaan langit, Allah berfirman:
Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).
Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah
timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. Ar Rahman
7-9.
Sungguh luar biasa keseimbangan yang Allah tegakkan. Karena itu Allah
berpesan dalam ayat ini: Janganlah sekali-kali kamu melanggar keseimbangan ini.
Sebab sedikit kita melanggar, pasti akan membawa malapetakan, tidak saja kepada
lingkungan di mana kita hidup, tetapi kapada diri kita sendiri. Akibat lebih
jauh, Allah sangat murka kepada orang-orang yang asal-asalan berbuat di muka
bumi. Asal-asalan maksudnya tidak mau ikut aturan yang telah Allah letakkan.
Kemurukaan Allah kalau tidak segera dibalas dengan taubat- tentu pada
gilirannya dilanjutkan dengan adzab-Nya. Itulah yang pernah Allah tunjukkan
kepada kaum Aad, Tsamud dan kaum Firaun.
Perhatikan betapa setiap perbuatan yang didasarkan atas main-main pasti akan
membawa malapetaka terhadap kemanusiaan. Karena itu tidak ada pilihan dalam
mejalani ketaatan kepada Allah kecuali bersungguh-sungguh dengan penuh
keseriusan tanpa sedikitpun main-main.
Kedua, bahwa Allah menantang challange siapapun untuk benar-benar mengecek
kerapian ciptaan-Nya. Mengapa? Supaya manusia tahu bahwa semua itu tidak pantas
dibalas dengan main-main. Tapi sayangnya, masih banyak, bahkan mayoritas
manusia yang main-main. Karena itu seorang mumin dalam menegakkan ibadah
kepada Allah jangan asal-asalan. Dalam pembukaan surah Al Muminun ketika Allah
swt. menyebutkan ciri-ciri orang beriman hakiki, menyebutkan di antaranya bahwa
shalat harus khusyu (alladziina hum fii shalaatihim khaasyiun) bukan asal
shalat. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam buknya Majmu Fatawa, bahwa
khusyu dalam shalat merupakan kwalitas yang harus dicapai. Sebab Allah swt.
dalam surat Al Muminun tersebut menjadikannya sebagai syarat untuk mencapai
kebahagiaan. Artinya seseorang tidak akan bisa meraih kebahagiaan jika
shalatnya tidak khusyu.
Dalam banyak ayat mengenai shalat, Allah swt. selalu menggunakan kata aqaama -
yuqiimu yang artinya menegakkan. Dalam pembukaan surat Al Baqarah misalnya
Allah berfirman: wayuqiimuunash shalaata. Mengapa Allah tidak berfirman:
wayushalluuna? Imam Al Jashshash dalam tafsirnya Ahkamul Quran membahas
rahasia ungkapan ini secara mendalam dan panjang lebar. Kesimpulannya bahwa di
dalam kata aqaama-yuqiimu terkandung maknan keharusan menegakkan dengan serius
dan sungguh-sungguh. Maksudnya bahwa seseorang dalam menegakkan shalat harus
benar-benar memenuhi hak shalat, rukun dan khusyunya, ketepatan waktunya,
dikerjakan secara berjamaah di masjid, wudhunya pun sebagai syarat sahnya
shalat harus juga benar. Tempat dan pakaian harus bersih dan suci. Semua itu
adalah gambaran dari kesungguhan seseorang dalam menegakkan solat.
Keharusan Profesionalisme Dalam Berdakwah
Bila dalam ayat di atas Allah swt. menunjukkan bahwa segala ciptaan-Nya
sangat rapi, itu menunjukkan bahwa tidak benar seseorang dalam menyembah Allah
asala-asalan. Apalagi dalam berdakwah kepada-Nya, yang segala gerak dan arahnya
sangat berkaitan dengan selamat tidaknya orang banyak. Maksudnya bila seseorang
berdakwah ke jalan yang salah, berapa banyak manusia yang tersesat karenanya.
Sebaliknya bila seseorang berdakwah ke jalan yang benar, maka sungguh begitu
banyak manusia yang akan menikmati buah keselamatan karenanya.
Para ulama terdahulu terkenal dengan keitqaanannya (baca: jiwa profesional)
dalam mencari ilmu, mendokumentasikan dan mengamalkannya. Berbagai buku yang
mereka tulis dalam berbagai bidang: tafsir, hadits, kedokteran, sejarah dan
sebagainya semua mencerminkan bahwa itu semua merupakan buah kerja keras yang
sangat serius. Bukan kerja main-main dan asal-asalan. Bahwa itu lahir dari
spirit kesadaran amanah yang kelak di hari Kiamat pasti akan mereka
pertanggungjawabkan. Mereka takut kalau ternyata ilmu yang mereka berikan salah.
Karena itu banyak kisah-kisah yang sangat mengesankan tentang perjuangan
mereka dalam berdakwah dan mencari Ilmu. Disebutkan bahwa Imam Al Ahmad bin
Hanbal pernah berjalan kaki sejauh 30 ribu mil untuk mencari hadits. Disebutkan
bahwa Iman Ibnu Hibban berlajar hadits dari 2000 syaikh.
Di lapangan dakwah kita tidak bisa melukiskan dengan kata-kata bagaimana
agungnya pengorbanan para sahabat, para tabiin dan para ulama untuk mengajarkan
dan menyebarkan ajaran Allah di muka bumi. Tidak terhitung dari mereka yang
mati syahid dalam berbagai pertempuran karena membela agama Allah. Tidak
sedikit dari para ulama yang meninggalkan tanah air mereka untuk mengajarkan
hukum-hukum Allah. Bahkan banyak dari mereka yang meniggal dunia di tempat yang
jauh dari negeri kelahiran mereka.
Bila kita teliti dari perjuangan Rasulullah saw. para sahabat dan para
salafush shaleh dalam berdakwah, ada beberapa ciri yang menunjukkan keitqaanan
yang mereka lakukan.
1. Mereka benar-benar serius mencari ilmu dan mengajarkannya. Mereka tahu
bahwa agama ini tidak mungkin tegak tanpa pemahaman yang benar. Karenanya
masalah ilmu bagi para ulama adalah fondasi utama yang harus dicapai sebelum
langkah-langkah lainnya.
2. Mereka benar-benar paham Islam secara komprehensif, karenanya mereka
mengajarkan agama Islam secara utuh, bukan sepenggal-sepenggal.
3. Mereka benar-benar berkorban waktu, pikiran, tenaga dan bahkan jiwa raga
dalam berusaha dalam menyebarkan ajaran Allah.
4. Mereka benar-benar jujur dalam berdakwah. Artinya mereka tidak hanya
mengajak orang lain mentaati Allah, melainkan mereka sendiri bersunggu-sungguh
mengamalkannya.
5. Mereka benar-benar paham bahwa dakwah bukan hanya bicara dan pidato,
melainkan kesungguhan bergerak secara kolektif dan kerjasama, dalam bentuk
organisasai yang rapi.
6. Mereka benar-benar berusaha menyatukan umat Islam, bukan memecah belah di
antara mereka. Sebab mereka tahu bahwa keberkahan dan pertolongan Allah akan
turun ketika umat ini bersatu. Pun mereka tahu bahwa dakwah yang benar adalah
ajakan istiqamah mengamalkan Islam, bukan ajakan fanatik kepada golongan.
7. Lebih dari itu, mereka benar-benar ikhlash dalam beramal menyebarkan Islam.
Sebab mereka tahu bahwa kunci sukses dalam mendapatkan kemenangan adalah
ikhlas. Pun mereka tahu bahwa Allah tidak akan menurunkan bantuan-Nya tanpa
keikhlasan. Lebih jauh bahwa syetan tidak akan mampun menghalang-halangi
langkah-langkah dakwah selama para pelaku dakwan berjiwa ikhlas.
Inilah beberapa ciri itqaan dalam berdakwah, dari sini nampak bahwa keharusan
membangun spirit itqaan dalam beramal di lapangan dakwah adalah prinsip yang
tidak bisa disepelekan. Wallahu alam bishshawab.
Di petik dari http://pkslarangan.multiply.com/journal
---------------------------------
Sent from Yahoo! Mail.
A Smarter Email.