Penyakit Wahn
Oleh : Dindin Jaenudin
Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, ''Akan terjadi 
masa di mana umat-umat di luar Islam berkumpul di samping kalian, wahai umat 
islam. Sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang menyantap hidangan.'' Lalu, 
seorang sahabat bertanya, ''Apakah kami pada saat itu sedikit, wahai 
Rasulullah?'' Beliau menjawab, ''Tidak. Bahkan, ketika itu, jumlah kalian 
banyak. Akan tetapi, kalian ketika itu bagaikan buih di lautan. Ketika itu, 
Allah hilangkan dari musuh-musuh kalian rasa segan dan takut terhadap kalian 
dan kalian tertimpa penyakit wahn.'' Sahabat tadi bertanya lagi, ''Wahai 
Rasulullah, apa yang baginda maksud dengan wahn itu?'' Rasulullah menjawab, 
''Cinta dunia dan takut mati.'' (HR Abu Dawud).
Kehidupan manusia di dunia ini dimulai saat Allah SWT meniupkan ruh kepada 
janin yang berada di dalam rahim ibu. Kemudian, jika ia ditakdirkan hidup di 
dunia, ia pun dilahirkan dan menjalani kehidupan dunia. Selanjutnya, ia akan 
tumbuh untuk menghabiskan sesaat kehidupan di dunia ciptaan-Nya. Saat ajal 
tiba, itulah akhir kehidupan manusia di dunia, namun pada saat itu pula 
dimulailah masa penantian yang panjang di alam barzah. Tatkala Allah 
perintahkan sangkakala untuk ditiup, saat itulah manusia bersiap-siap dengan 
penuh harap cemas akan nasib yang sebentar lagi akan ia jalani tanpa batas 
waktu.
Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda, ''Saat manusia tumbuh menjadi besar, ada 
dua hal yang ikut menjadi besar bersamanya, yakni cinta harta dan 
berangan-angan akan panjang usianya.'' (HR. Bukhori).
Dalam hadis di atas, Rasulullah SAW menjelaskan kecenderungan manusia secara 
umum. Kecintaan kepada harta akan muncul seiring dengan berulangnya kepuasan 
untuk menutupi segala kebutuhannya dengan harta. Begitu pula angan-angan akan 
panjangnya usia semakin meningkat seiring dengan berulangnya kenikmatan yang ia 
dapatkan dari masa ke masa.
Kedua hal tersebut tidak hanya kita pandang dari sisi negatifnya saja yang 
berakhir dengan ketamakan dan ketakutan terhadap kematian. Namun, juga dari 
sisi positifnya, kedua hal tersebut akan mengarahkan manusia kepada 
pemberdayaan potensi masyarakat dan keberlangsungan estafet dakwah. Namun, 
tidak dapat dipungkiri bahwa kedua kecenderungan itu sering kali mengarahkan 
manusia kepada sisi negatif. Maka, di sinilah pentingnya semangat mencari ilmu 
pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan agama yang akan membimbing manusia 
kepada pemahaman hakikat kehidupan yang benar.



      

Kirim email ke