Keempat-empat Imam Mazhab Mewajibkan Kita Mentaati Hadis Sahih

Pernyataan keempat-empat imam tersebut itu sudah jelas tidak boleh dibantah dan 
diputarbalikkan lagi. Mereka mewajibkan berpegang pada semua Hadis yang sahih 
sekalipun bertentangan dengan sebahagian pendapat mereka tersebut dan sikap 
semacam itu tidak dikatakan menyalahi mazhab mereka dan keluar dari kaedah 
mereka, bahkan sikap itulah yang disebut mengikuti mereka dan berpegang pada 
tali yang kuat yang tidak akan putus.
Mereka yang menolak hadis-hadis yang sahih seperti membantah Rasulullah.

    "Demi Tuhanmu, mereka itu tidak dikatakan beriman sehingga mereka 
menjadikan kamu sebagai hakim dalam menyelesaikan sengketa diantara mereka, 
kemudian mereka tidak berkeberatan terhadap keputusanmu dan menerimanya dengan 
sepenuh ketulusan hati". [An-Nisa': 65]

Allah juga berfirman.

    "Orang-orang yang menyalahi perintahnya hendaklah takut fitnah akan 
menerima mereka atau azab yang pedih akan menimpa mereka". [An-Nur: 63]


Imam Hafizh Ibnu Rajab berkata:

    "Kewajiban orang yang telah menerima dan mengetahui perintah Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah menyampaikan kepada ummat, menasihati 
mereka, dan menyuruh mereka untuk mengikutinya sekalipun bertentangan dengan 
pendapat majoriti ummat. Perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
lebih berhak untuk dimuliakan dan diikuti dibandingkan dengan pendapat tokoh 
mana pun yang menyalahi perintahnya, yang terkadang pendapat mereka itu salah. 
Oleh kerana itulah, para sahabat dan para tabi'in selalu menolak pendapat yang 
menyalahi Hadis yang sahih dengan penolakan yang keras 1 yang mereka lakukan 
bukan kerana benci, tetapi kerana rasa hormat. Akan tetapi, rasa hormat mereka 
kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam jauh lebih tinggi daripada yang 
lain dan kedudukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam jauh di atas makhluk 
lainnya. Bila perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ternyata 
berlawanan dengan perintah yang lain, perintah
 beliau lebih utama didahulukan dan diikuti, tanpa sikap merendahkan orang yang 
berbeda dengan perintah beliau, sekalipun orang itu mendapatkan ampunan dari 
Allah. 2

Bahkan orang yang mendapat ampunan dari Allah, yang pendapatnya menyalahi 
perintah Rasuluallah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak merasa benci bila 
seseorang meninggalkan pendapatnya, ketika ia mendapati bahawa ketentuan 
Rasulullah berlawanan dengan pendapatnya. 3

Mereka (keempat-empat imam) mewajibkan para pengikutnya untuk meninggalkan 
pendapat-pendapat mereka bila bertentangan dengan Hadis Nabi Shallallahu 
'alaihi wa sallam. Bahkan Imam Syafie menyuruh para muridnya untuk 
mengatasnamakan dirinya terhadap setiap Hadis yang sahih, sekalipun beliau 
tidak meriwayatkannya, atau bahkan pendapatnya bertentangan dengan Hadis itu. 
Oleh kerana itu, Ibnu Daqiq Al-'Id mengumpulkan berbagai Hadis yang 
dikategorikan bertentangan dengan pendapat dari salah satu atau seluruh imam 
yang empat, dalam sebuah buku besar. Beliau mengatakan pada pendahulunya:

    "Mengatasnamakan para imam mujtahid tentang berbagai masalah yang 
bertentangan dengan Hadis sahih adalah haram". Para ahli fiqih yang taqlid 
kepada mereka wajib mengetahui bahawa tidak boleh mengatasnamakan masalah itu 
kepada mereka. sehingga berdusta atas nama mereka. 4



Disalin dari Mukadimah Shifatu Shalati An-Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa 
sallama min At-takbiri ilaa At-Tasliimi Ka-annaka Taraahaa edisi Indonesia 
Sifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

-----------------------------------------------------------------

1.      Menurut Muhammad Nasiruddin Al-Albani: Bahkan bapak-bapak dan 
ulama-ulama mereka juga begitu, sebagaimana diriwayatkan oleh Thahawi dala 
Syarah Ma'anil Atsar (I/372). Abu Ya'la dalam Musnad-nya (III/1317) dengan 
sanad jayyid dan rawi-rawinya orang kepercayaan, dari Salim bin Abdullah bin 
Umar, ujarnya:
"Saya pernah duduk bersama Ibnu 'Umar di dalam masjid. Tiba-tiba salah seorang 
laki-laki dari penduduk Syam datang kepadanya, lalu menanyakan masalah umrah 
dalam haji tamattu". Ibnu Umar menjawab:"Baik". Orang itu bertanya lagi: 
"Benarkan bapakmu dahulu melarang melakukan hal ini?" Jawabnya "Celakalah 
engkau. Sekiranya bapakku dulu pernah melarang, Rasulullah Shallallahu 'alaihi 
wa sallam pernah melakukannya dan menyuruh berbuat seperti itu. Apakah engkau 
akan mengambil ucapan bapakku ataukah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
?" Orang itu berkata: "Mengambil perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam". Ibnu Umar berkata: "Pergilah dari aku" (Hadis Riwayat Ahmad, Hadis No. 
5700).
Semakna dengan riwayat ini disebutkan oleh Tirmidzi pada Syarah Tahfah (II/82) 
dan disahkan olehnya. Diriwayatkan pula oleh Ibnu 'Asakir (VII/51/1)
Dari Ibnu Abu Dzi'ib. Ia berkata: "Sa'ad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin 'Auf 
pernah menjatuhkan hukuman kepada seseorang berdasarkan pendapat Rabi'ah bin 
Abi Abdurrahman, lalu saya sampaikan kepadanya riwayat dari Rasulullah yang 
berlainan dengan hukum yang telah ditetapkannya. Sa'ad berkata kepada Rabi'ah: 
'Orang ini adalah Ibnu Abi Dzi'ib, seorang yang saya pandang dapat dipercaya. 
Dia meriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam riwayat yang berlainan 
dengan ketetapan yang aku putuskan. 'Rabi'ah berkata kepadanya: 'Anda telah 
berijtihad dan keputusan Anda ada lebih dulu'. Sa'ad berkata:'Duhai, apakah 
ketetapan Saad terus berlaku dan ketetapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam tidak diberlakukan ? Mestinya aku menolak ketetapan Sa'ad bin Ummi Sa'ad 
dan aku jalankan ketetapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam'. Lalu 
Sa'ad meminta surat keputusannya, kemudian merobeknya dan membuat ketetapan 
baru ini kepada orang yang dikenai
 putusan".
2.     Menurut Muhammad Nasiruddin Al-Albani: Bahkan orang seperti itu mendapat 
pahala sebagaimana sabda Rasulullah Shallalalhu 'alaihi wa sallam:
"Apabila seorang hakim berijtihad dalam menetapkan suatu hukum dan ijtihadnya 
benar, ia mendapat dua pahala; jika ia berijtihad dalam menetapkan hukum dan 
ijtihadnya salah, ia mendapat satu pahala". (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim 
dan lain-lain).
3.     Beliau nukil dalam Kitab Ta'liq 'ala Iqazhul Humam hal. 93
4.     Al-Filani hal. 99




Kirim email ke