=======================================================================================
Cinta perdamaian dan keharusan mempertebal semangat jihad.
***8:61**
61. Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan
bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.
***8:62**
62. Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah
(menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan
dengan para mu'min,
***8:63**
63. dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman) [622] .
Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu
tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan
hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.
[622] Penduduk Madinah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj selalu bermusuhan
sebelum Nabi Muhammad s.a.w hijrah ke Medinah dan mereka masuk Islam,
permusuhan itu hilang.
***8:64**
64. Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang
mu'min yang mengikutimu.
***8:65**
65. Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu'min untuk berperang. Jika ada dua
puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua
ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya
mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan
orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. [623]
[623] Maksudnya: mereka tidak mengerti bahwa perang itu haruslah untuk membela
keyakinan dan mena'ati perintah Allah. Mereka berperang hanya semata-mata
mempertahankan tradisi jahiliyah dan maksud-maksud duniawiyah lainnya.
***8:66**
66. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa
padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar,
niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika
diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan
dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.
***8:67**
67. Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat
melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah
sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana.
***8:68**
68. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah,
niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.
***8:69**
69. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu,
sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah;
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
***8:70**
70. Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: "Jika
Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan
kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan
mengampuni kamu". Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
***8:71**
71. Akan tetapi jika mereka (tawanan-tawanan itu) bermaksud hendak berkhianat
kepadamu, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini,
lalu Allah menjadikan(mu) berkuasa terhadap mereka. Dan ALlah Maha Mengetahui
lagi Maha Bijaksana.
***8:72**
72. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan
harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat
kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama
lain lindung-melindungi [624] . Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi
belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka,
sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan
kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan
kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan
Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
[624] Yang dimaksud "lindung melindungi" ialah: di antara Muhajirin dan Anshar
terjalin persaudaraan yang amat teguh, untuk membentuk masyarakat yang baik.
Demikian keteguhan dan keakraban persaudaraan mereka itu, sehingga pada
pemulaan Islam mereka waris-mewarisi seakan-akan mereka bersaudara kandung.
***8:73**
73. Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi
sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang
telah diperintahkan Allah itu [625] , niscaya akan terjadi kekacauan di muka
bumi dan kerusakan yang besar.
[625] Yang dimaksud dengan apa yang telah diperintahkan Allah itu: keharusan
adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin.
***8:74**
74. Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah,
dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada
orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman.
Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni'mat) yang mulia.
***8:75**
75. Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad
bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang
mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya
(daripada yang bukan kerabat) [626] di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu.
[626] Maksudnya: yang jadi dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan
kerabat, bukan hubungan persaudaraan keagamaan sebagaimana yang terjadi antara
Muhajirin dan Anshar pada permulaan Islam.
PENUTUP
Surat Al Anfaal menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada
umumnya, khususnya menerangkan Perang Badar, yaitu peperangan yang menentukan
jalan sejarah Islam dan muslimin, bahkan tidak akan salah kiranya kalau
dikatakan bahwa Perang Badar itu menetukan jalan sejarah umat manusia pada
umumnya. Sebahagian besar surat ini mengandung hal-hal yang berhubungan dengan
perdamaian dan peperangan; tingkah laku orang-orang kafir, orang- orang munafik
dan sebahagian orang-orang Islam yang tidak kuat imannya dalam peperangan.
Kemudian ditegaskan bahwa Allah menolong orang-orang yang beriman dan
menghancurkan orang-orang kafir dan munafik itu, adalah merupakan sunnah-Nya
yang tidak dapat dimungkiri berlakunya, sebagaimana pernah terjadi pada Fir'aun
dan kaumnya serta umat-umat yang sebelumnya.
PERSESUAIAN SURAT AL ANFAAL DENGAN SURAT AT TAUBAH
Sebagaimana halnya hubungan surat-surat yang lain dengan surat-surat yang
sesudahnya, maka hal yang dikemukakan oleh surat Al Anfaal, seperti hal-hal
yang berhubungan dengan pokok-pokok agama dan furu'nya, sunnah Allah, syari'at
hukum-hukum perjanjian dan janji setia, hukum perang dan damai dan sebagainya
disebutkan dalam surat At Taubah, umpamanya:
1. Perjanjian yang dikemukakan surat Al Anfaal dijelaskan oleh surat At Taubah,
terutama hal-hal yang berhubungan dengan pengkhianatan musuh terhadap
janji-janji mereka.
2. Sama-sama menerangkan tentang memerangi orang-orang musyrikin dan Ahli Kitab.
3. Surat Al Anfaal mengemukakan bahwa yang mengurus dan memakmurkan
Masjidilharam itu ialah orang-orang yang bertakwa, sedang surat At Taubah
menerangkan bahwa orang-orang musyrik tidak pantas mengurus dan memakmurkan
mesjid, bahkan mereka akan menghalang-halangi orang-orang Islam terhadapnya.
4. Surat Al Anfaal menyebut sifat-sifat orang-orang yang sempurna imannya, dan
sifat-sifat orang-orang kafir, lalu pada akhir surat diterangkan pula tentang
hukum perlindungan atas orang-orang muslim yang berhijrah, orang-orang muslim
yang tidak berhijrah serta orang-orang kafir. Hal yang serupa dikemukakan pula
pada surat At Taubah.
5. Surat Al Anfaal menganjurkan agar bernafkah di jalan Allah, sedang surat At
Taubah menegaskan sekali lagi. Begitu pula dalam surat Al Anfaal diterangkan
tentang penggunaan harta rampasan perang, sedang surat At Taubah menerangkan
penggunaan zakat.
6. Surat Al Anfaal mengemukakan tentang orang-orang munafik dan orang- orang
yang ada penyakit dalam hatinya, kemudian surat At Taubah menerangkannya lebih
luas.
Kalau kita perhatikan, ternyata bahwa antara surat Al Anfaal dan surat At
Taubah terdapat hubungan yang erat sekali. Seakan-akan keduanya merupakan satu
surat, bahkan sebahagian ahli tafsir mengatakan bahwa: Kalau tidaklah karena
ketentuan Allah, maka mereka akan memandang surat Al Anfaal dan surat At Taubah
sebagai satu surat.
#####################
Noorshamsudin Bin Hj. Mohd. Darus
IS Audit, Audit & Compliance Division, AFFINBANK
1st Floor, Menara AFFIN, 80 Jalan Raja Chulan
50200 Kuala Lumpur, W. Persekutuan
MALAYSIA
Tel: 03 - 27315246 / 03 - 27315242 Fax: 03 - 20264081 - H/P: 012 -
2923403
"BANKING WITHOUT BARRIERS"