Perdana Menteri Turki Recep Tayep Erdogan memiliki kebiasaan yang patut 
diteladani. Di sela-sela kesibukannya sebagai PM di bulan Ramadhan, Erdogan 
senantiasa menyempatkan diri untuk berbuka puasa bersama rakyatnya, khususnya 
keluarga menengah kebawah di negerinya.
Dalam aktivitasnya itu, Erdogan tidak menggelar acara secara resmi dan 
besar-besaran, apalagi diliput oleh media. Erdogan melakukannya hampir secara 
sembunyi-sembunyi, dan akan menjadi kejutan bagi pihak yang dikunjunginya untuk 
berbuka.
Seperti pada hari Selasa (25/8) kemarin, Erdogan beserta beberapa orang stafnya 
mendatangi rumah keluarga nenek tua Eyse Olcun (74) yang terletak di bilangan 
Bagcilar, di pinggiran kota Ankara.
Ketika adzan maghrib berkumandang, Erdogan mengetuk pintu rumah itu. Dan, 
betapa terkejutnya sang pemilik rumah ketika mengetahui jika yang mengetuk 
pintu adalah perdana menteri mereka.
Keterkejutan Eyse Henim (nyonya) pun kian bertambah ketika Erdogan menyatakan 
dirinya ingin berbuka puasa bersama di rumah itu. "Henim, saya ingin berbuka 
bersama keluarga anda, bolehkah?" tanya Erdogan dengan senyum.
Entah seperti apa perasaan yang dirasakan Eyse Henim ketika itu. Yang jelas, ia 
pun dengan penuh suka cita segera mempersilahkan Erdogan dan beberapa orang 
yang menemaninya masuk rumah. Meski hidangan buka puasa sangat seadanya dan 
sederhana, tetapi suasana kebahagiaan dan keberkahan terasa demikian kuat 
menyelimuti rumah mungil itu.
Setelah selesai berbuka, Erdogan lalu shalat maghrib berjama'ah bersama 
keluarga Eyse Hanim. Setelah itu, Erdogan pun berbincang-bincang dengan anggota 
keluarga itu, banyak bertanya tentang kabar dan keadaan mereka.
Eyse Henim memiliki seorang suami yang kini sudah tidak lagi dapat bekerja. 
Selain karena sudah berusia uzur, suami Eyse Henim juga telah beberapa tahun 
terserang lumpuh.
Mereka juga bercerita kepada Erdogan tentang banyak hal lainnya, tentang 
keluhan-keluhan, dan Erdogan pun mendengarkannya dengan seksama, saling 
menimpali dengan memberi banyak nasihat, serta memberikan sejumlah uang untuk 
biaya kebutuhan rumah tangga itu.
Di tengah-tengah suasana buka puas itu, umdah (bupati) bilangan Bagcilar 
menyusul datang. Mungkin sang bupati mendengar kabar kedatangan Erdogan yang 
tengah berbuka puasa di bilangannya.
Saat datang, Erdogan sempat mencandai bupati itu. "Pak bupati, bolehkah saya 
meminta sesuatu hal kepada anda?" tanya Erdogan.
"Ketaatan ada pada tuan Perdana Menteri," jawab bupati itu.
Erdogan lalu merogoh saku jas bupati itu, lalu mengeluarkannya kembali dengan 
menggenggam sepak rokok.
"Aku yakin ini adalah bungkus terakhir yang akan anda hisap, tuan bupati," kata 
Erdogan.
Pak bupati pun hanya tersenyum bercampur gugup. Dan mau tak mau ia pun 
menyanggupi permohonan Erdogan, agar ia tidak akan merokok lagi.
Erdogan lalu mengambil pena, menuliskan sesuatu di atas pak rokok pak bupati 
itu. Di sana, Erdogan menulis nama bupati itu, tanggal ketika peristiwa 
menggelikan ini terjadi, sekaligus ditandatanganinya.
Erdogan lalu meminta kepada salah seorang stafnya untuk menyimpan kotak rokok 
itu, karena akan ditaruh di museum kotak dan bungkus rokok di Ankara.
Kebiasaan Erdogan yang memberi kejutan kepada rakyatnya, utamanya kalangan 
menenangah kebawah, dengan berbuka puasa bersama ini telah dilakukannya 
semenjak ia menjabat wali kota Istanbul, jauh-jauh hari sebelum Erdogan 
dikukuhkan sebagai PM Turki pada 2002 silam. (L2-AGS/db)


      

Kirim email ke