PERISTIWA DI PERANCHIS
[email protected]
sabah
 
SALJUsudah sekian lama berada di pekan kecil Oloron yang kira-kira lima ratus 
kilometer jauhnya dari kota Paris . Ia kelihatannya berbentuk semacam serpihan 
kecil yang bagaikan kupu-kupu putih terbang bebas di angkasa luas. Di samping 
itu suasana di pekan Oloron kala itu agak hening dan misterius kelihatannya. 
Tidak ada suara apa-apapun yang saya dengar. Benar-benar hening dan misterius.
 
Salju itu semakin lama semakin kian menompok di atas atap rumah-rumah di 
sekitar tempat saya tinggal yang menyebabkan dedaun pohonan dan ranting-ranting 
kayu jua kelihatan memutih sama. Sementara jalanan atau lorong-lorong yang 
selalunya gelap kala malam tiba kelihatan bagai hamparan kapas.
 
Saya terus berada di jendela rumah sambil melihat ke bawah dan kekadang 
mengalihkan pandangan saya ke langit yang hanya ada tompok-tompok awan yang 
mungkin bercampur apa-apaan. Saya lihat awan dan apa-apaan itu semacam 
berlari-lari atau berkejar-kejaran yang dikira akhirnya bakal menyatu dan akan 
pasti saja menyembah bumi jua sudahnya. Seperti biasa. Apa maksud apa-apaan iya?
 
Nah, kapan saja saya kembali melihat apa yang ada di hadapan saya yang 
kebetulan di depan rumah tempat saya nginap, maka ada dua orang lelaki 
Peranchis secara beratur mendorong gundukan salju dari atas atap rumah mereka 
yang tidaklah jauh sangat dari jendela tempat saya berdiri ketika itu. Sesuatu 
yang jarang atau tidak pernah berlaku di kampung halaman saya di Pedalaman.
 
Saya terus saja memerhatikan perolahan mereka berdua dengan penuh hati-hati. 
Memang benarlah katanya penulis Itali yang namanya Alberto Moravia yang saya 
temui di Universiti Huesca Sepanyol sepuluh tahun dulu bahawa katanya kala 
musim salju seperti itu tiba, maka akan pasti ada orang naik  atau berjalan di 
atas atap untuk mendorong salju yang singgah sebentar dan rupanya keadaan 
semacam itu  mengingatkan saya akan sesuatu. Sesuatu kala saya berada di Chiba 
Jepun yang keadaannya sama saja sehingga Vione Tanaka ketika itu segera 
menelefon anak buah saya di Sembulan dan mengatakan di depan rumah mereka ada 
kerbau putih turun dari langit. Padahal Vione sendiri tidak pernah melihat 
kerbau kecuali lewat foto yang dihantar kepadanya.
 
Kedua-dua pemuda Peranchis yang saya perhatikan itu terus saja mendorong salju. 
Perlahan-lahan dan penuh hati-hati yang ditakuti atap itu bakal pecah. Sesudah 
salju didorong ke hujung atap rumah mereka, maka salju itu akan segera jatuh ke 
tanah dan kemudian bertahan di tempatnya jatuh yang akhirnya menjadikan seperti 
timbunan sampah putih yang hanya menunggu waktu untuk menjadi air.
 
Memang salju itu akan mencair bila disinari matahari yang menjelma kala pagi 
tiba dan segera pula menetes ke mana-mana saja dan akhirnya ia bakal melewati 
parit kecil di pinggir jalanan menuju ke kota dan akan mengalir pula ke parit 
besar yang entah ke mana perginya.
 
Nah, di sanalah ia akan jatuh sambil menimbulkan sejenis lagu yang sendu, sedih 
dan keadaan itu rupanya menyebabkan saya segera teringat kampung halaman saya 
di Pedalaman yang penuh damai sambil kala pagi akan ada burung-burung cancuriak 
bertinggiran di dahan-dahan pohonan sambil menyanyi ria yang seolah-olah 
mengatakan selamat pagi duhai tetamu malam yang sudah sekian lama ditunggu.
 
Kapan ingatan saya semakin mendekat yang seolah-olah benar-benar berada di 
Pedalaman dan kemudian bersenda gurau dengan kerbau di sawah yang asyik memakan 
rumputan sambil di belakangnya ada burung-burung bangau, maka saya segera 
mencuba mengingatkan betapa seronoknya saya berlari di permatang dan  betapa 
seronoknya saya menangkap ikan haruan di kali atau di lopak Bom dekat Selombak 
di tebasan padi arwah ayah saya.
 
Iya, betapa seronoknya saya melastik buah getah dan buah belunu milik Tangah 
Mail Tala dan kemudian saya suka melihat beburung hutan bersiulan ria atau 
betapa seronoknya saya merentasi bukit dan danau yang ada umbutan dan kala pagi 
menjelma pula akan segera memetik kulat tiong yang kala itu memerah di dalam 
hutan dekat belakang sulap dan yang paling menyeronokkan pula ialah kala solat 
Jumaat di masjid desa di mana guru Jais dan Tengah Muntil atau Bang Mahadi akan 
berkhotbah bermacam hal tentang betapa harusnya kita mematuhi perintah Allah 
yang ada di langit untuk maksud berbuat baik sesama.
 
Dan yang paling saya ingat dan tidak akan saya lupakan sampai kapanpun ialah 
pertanyaan saya pada Pak Muntil tentang sebab-sebabnya orang Islam tidak 
dibenarkan meminum apa saja minuman yang bisa memabukkan atau menyebabkan 
peminum bisa bertindak di luar jangkaan.
 
“Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi ini orang yang akan membuat 
kerosakan padanya dan menumpah darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan 
memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Kata Iblis yang menurut Pak Muntil 
keadaannya ketika itu  agak tidak senang kala Allah mencipta Adam. Memang 
Iblis  tidak menyenangi akan wujudnya Adam yang semacam mencabar dirinya kala 
Adam asalnya dari tanah liat yang katanya Iblis menjijikkan, sedang Iblis dari 
api yang dianggap mulia.
 
“Sungguh Aku Maha Mengetahui apa yang tak kau ketahui” Jawab Allah yang Pak 
Muntil kata konon Allah marah ketika itu dan akhirnya Allah menghalau Iblis 
yang dulunya adalah golongan malaikat yang tinggal di syurga.
 
Saya memangnya asyik sangat mendengar penjelasan Pak Muntil ketika itu yang 
kelihatannya bersungguh-sungguh. Bersungguh-sungguh agar saya cepat mengerti 
dan sesudah itu dia mengharapkan saya bisa menyampaikan cerita sama kepada 
Mantalua, Lagai, Sinam, Pinin, Saili, Wasli, Seruji, Juar dan ramai lagi 
kawan-kawan saya yang lain nantinya. Iya, saya ingat benar akan keinginannya 
itu hingga saya dapat membayangkan bagaimana keadaannya wajah Pak Muntil kala 
ini.
 
“Kami lebih taat kepada-Mu daripada anak Adam” 
"Nyah kamu dari sini!"
"Kami akan pujuk anak Adam agar menyukai kemungkaran"
"Nyah kamu dari sini!" Tuhan benar-benar marah dan sejak itulah, menurut Pak 
Muntil Iblis dikeluarkan dari syurga dan kemudian peranannya hanya menyesatkan 
dan menjadi musuh Allah buat selama-lamanya.
 
“Silalah kamu pilih dua malaikat" Pak Muntil bercerita lagi. Saya terus 
mendengarnya. Penuh perhatian. Sungguh-sungguh. Kali ini lain pula ceritanya. 
Saya sempat menangkap yang Pak Muntil  menyebut  surah Al Baqarah: ayat 201. 
Begitulah kalau tak silap saya.
 
"Untuk apa?"
"Untuk diuji.”
"Diuji?"
"Iya."
“Nah, inilah kedua malaikat Harut dan Marut”
“Turunlah ke bumi dengan dilengkapi syahwat yang ada pada anak Adam”
"Baiklah!"
 
Nah, merekapun turun ke bumi dan di bumi kononnya mereka ketemu seorang wanita 
yang bernama Azzahrah yang memiliki rupa paras yang memangnya amat cantik 
sekali, yang saya kira lebih cantik dari bidadari yang selalu dibicarakan lewat 
Dunia Iris oleh Jasni.
 
Terlalu cantik sekali. Amat cantik sekali.  Kala itulah kedua-dua malaikat itu 
merayu Azzahrah untuk mendapatkan sesuatu, tetapi ditolak kecuali kata Azzahrah 
keduanya bersedia memenuhi syarat yang  diajukan, iaitu mengucap kalimat 
syirik. Sesuatu yang mustahil bakal dilakukan oleh kedua-dua malaikat itu.
 
“Demi Allah kami tidak akan mempersekutukan Allah!"
"Itu bukan Allah bukan keinginan kami"
"Benar?"
"Iya memang benar"
"Sampai kapanpun?"
"Iya, tidak akan kami lakukan!" kata kedua-dua Malaikat Harut dan Marut. 
Azzahrah mendiamkan diri  sebentar kerana kelihatannya ia gagal memujuk. 
Pujukannya tak mengena dan tak menjadi. Tapi Azzahrah tidak mungkin berputus 
asa. Azzahrah memang punya sikap tidak akan berputus asa ketika itu dan pantang 
berhenti selagi hajat tak sampai. Dia akan terus berusaha dan terus berusaha. 
Tidak lama sesudah itu, Azzahrah berkata lagi sambil di tangannya mengendong 
anak kecil.
 
 
“Nah, bunuhlah anak ini."
"Untuk apa?"
"Saya akan penuhi permintaan kamu.”
"Demi Allah kami tidak akan membunuh manusia.”
"Membunuh tanpa sebab dilarang oleh Allah!"
"Allah Maha Penyayang."
"Allah Maha Pengasih."
"Allah samseng."
"Tidak!"
"Siapa kata?"
" Ada yang kata."
"Orang gila."
"Jangan kata semacam itu."
"Kenapa?"
"Sifat Allah tidak begitu." Kelihatannya Azzahrah gagal lagi, tapi dia tidak 
akan berputus asa, malah terus saja berusaha. Maka Azzahrah pun diam dan pergi 
untuk sementara saja dan tidak lama kemudian Azzahrah membawa dua gelas air 
khamar dan menyerahnya kepada Harut dan Marut yang ketika itu memangnya 
kehausan sangat dan Azzahrah yakin sangat yang mereka tidak mungkin menolak dan 
ternyata mereka terus saja meminum air khamar itu. Tak cukup segelas, mereka 
minta lagi dan terus meminumnya tanpa henti-henti. Semakin banyak semakin enak 
terasakan hingga kedua-duanya mabuk dan tak sedarkan diri. Lalu bakal 
terjadilah apa-apa.
 
Memang pada mulanya mereka tidak mabuk, tetapi kelihatan ada yang pura-pura 
mabuk atau untuk merasa enaknya mabuk dan setelah benar-benar mabuk, lalu tanpa 
mereka sedari mereka termakan pujuk Azzahrah untuk maksud berzina dan akhirnya 
berlakulah apa yang diinginkan oleh Azzahrah. Nah, sesudah berzina lalu 
Azzahrah memerintahkan mereka membunuh anak kecil yang tadinya digendong dan 
anak itu segera mereka bunuh dan sesudah membunuh, lalu mereka berkata pada 
Azzahrah.
 
"Semua yang kami tolak…"
"Telah kamu perbuat di kala kami mabuk.”
"Engkau telah menipu kami."
"Tidak, kamu yang rela."
"Azzahrah penipu."
"Tidak!"
"Azzahrah penipu!"
"Tidak!"
"Azzahrah penipu!" Demikian kata mereka berdua secara berulang-ulang dengan 
penuh penyesalan yang amat sangat. Nah, itulah sebab-sebabnya Allah tidak 
membenarkan kita meminum apa saja minuman yang memabukkan seperti arak, lihing, 
mantako, bir atau wisky. Tapi apa yang telah terjadi? Yang pasti ramai sangat 
kalangan kita tidak memperdulikan. Malah mereka terus saja melanggar perintah 
itu atau paling tidak mempermainkan perintah Allah.
 
"Maka keduanya diizinkan oleh Allah untuk memilih azab dunia dan azab akhirat" 
Katanya Pak Muntil lagi yang saya lihat wajahnya amat sedih sekali. Saya amat 
senang mendengar cerita Pak Muntil ketika itu. Apa lagi tentang sebab-sebabnya 
Allah  melabelkan yang air khamar haram buat orang kita yang Islam agamanya.
 
Apapun sebaiknya tidak usah sesiapapun terus percaya akan benarnya cerita Harut 
dan Marut itu kerana asal usul cerita tersebut datangnya dari orang Yahudi. 
Yang nyata cerita itu punya perselisihannya dengan bukti-bukti akliah dan 
nakliah. Lagi pula tidak ada keterangan yang sah dari Rasulullah walaupun 
keterangan yang dhaif atau berbentuk kias. Begitulah!
 
Nah, tiba-tiba saya terkejut ketika mendengar suara Patricia memanggil nama 
saya. Suara itu datangnya dari bawah. Saya segera melihat ke bawah dan memang 
saya lihat Patricia begitu seronok bermain dengan salju sambil merasa menggigil 
kesejukan akibat salju dan angin yang  sesekali menghembus lewat lorong-lorong 
dan jalanan yang kelihatannya memutih.
 
"Turunlah!"
"Tak mahu!"
"Temankan!"
"Tak mahu!"
"Marilah!"
"Tak tahan! Sejuk sangat!"
"Tidak! Aku tidak kesejukan pun!"
"Cepatlah turun!"
"Tak mahulah!"
"Kita sama-sama main salju!"
"Malaslah!"
"Turun dulu, nanti dipanaskan!"
"Tak mau!"
"Marilah!"
"Tak mahulah"
"Benar?"
"Iya."
"Apa maunya?"
"Tak mahu apa-apa"
"Cakaplah!"
"Memang tak mahu apa-apa."
"Bohong."
"Benar!"
"Bohong!" Patricia berdiri tegak. Patricia terus melihat saya yang ketika itu 
masih berdiri dekat jendela memerhatikan dia bermain salju. Kami tidak 
berbicara setelah itu. Kami diam sebentar tapi ia saya lihat tersenyum manja. 
Cukup menarik. Memang dia cantik. Memang Patricia menarik. Memang dia cantik. 
Tiba-tiba kedua-dua bola mata kami bertatapan yang semacam ada rahsia yang mahu 
diperkatakan. Saya lihat matanya. Patricia lihat mata saya. Ada sesuatu dalam 
mata. Kemudian dia kelihatan memberikan kucupan dengan menggunakan tangan 
kanannya. Terlalu manja kelihatannya Patricia kala itu. Memang begitulah selalu 
dilakukannya pada saya dan sesudah itu kami sama-sama ketawa dan diapun entah 
ke mana pergi setelah gagal memujuk saya untuk sama bermain salju petang itu.
 
Saya hanya teringatkan Patricia melangkahkan kakinya dan meluncur pergi hingga 
tidak kelihatan lagi kala ia melewati tompokan salju yang kemudian menghilang 
entah ke mana tapi suaranya masih ada di sekitar. Tentunya tidak jauh dan dia 
tidak akan ke mana-manapun, itu katanya Patricia sebab manusia bisa saja 
merubah keinginannya. Entahlah sejauh mana benarnya kata-kata Patricia. Tapi 
sejak kebelakangan ini saya lihat Patricia agak lain sedikit. Ada perubahan 
yang begitu ketara. Menimbulkan keraguan. Bukan sedikit, tapi banyak sangat. 
Iya, banyak sangat!
 
Saya masih terus berdiri dekat jendela untuk melihat luar dan memerhati 
kalau-kalau Patricia tiba-tiba muncul semula seperti selalu. Memang Patricia 
pernah hilang dan muncul kembali. Muncul dan hilang. Hilang dan muncul. Muncul 
dan hilang kembali. Agak lama saya menunggu akan kemunculannya, tapi ternyata 
tidak ada.
 
Apapun, nyatanya Patricia sudah tidak ada. Memang dia tidak ada. Tafsiran saya 
mungkin saja dia tidak akan ada. Tapi saya akan terus menunggunya. Akan terus 
saja menunggu akan kehadirannya meski saya kelihatannya seperti menunggu Godot 
yang tak kunjung tiba. Saya terus menunggunya hingga malam menjelma sambil 
terus berdiri di jendela. Pun kelihatannya tak ada. Tidak akan ada. Iya, memang 
tidak akan ada. Suaranya tidak lagi saya dengar berteriak untuk memanggil saya 
bermain salju seperti sebelumnya. Ke mana perginya Patricia?
 
Tiba-tiba saja entah bagaimana kala saya terbangun untuk solat Subuh Patricia 
tertidur dekat saya sambil memakai pakaian baju kurung yang saya hadiahkan 
sempena ulang tahunnya minggu lalu. Memang kala tidur Patricia akan terus 
memakai baju kurung itu. Alasannya konon terasakan yang saya sedang memeluk dia 
kala tidur.
 
Patricia tengah kesejukan yang sama sekali di luar jangkaan saya. Saya 
perhatikan wajahnya ketika  saya bangun dan segera menutup tubuhnya dengan 
selimut tebal. Saya lihat Patricia agak keletihan sangat setelah sekian lama 
bermain salju. Kasihan sangat dia!
 
.Iya, sesudah saya mandi dan sebelum mengambil air wudhu untuk solat Subuh, 
tiba-tiba saya mendengar giginya Patrcia bernyanyi yang kata ibunya Patricia 
yang berasal dari Guetmala itu menyatakan bahawa kononnya itulah tanda-tandanya 
dia akan bersedih lagi kerana yang disayanginya bakal hilang. Iya, bakal hilang 
kala malam bertambah malam.
 
Iya, kala malam bertambah malam yang menyebabkan Tak Cukup Sedih/itu jodol 
novel Putuwijaya dan kemudian penulis itu pernah berkata kepada saya kala kami 
sama-sama duduk di Taman Ismail Marzuki di Indonesia bahawa "Sebaiknya Ismaily 
tidak usah sedih sangat." Kata Putuwijaya kala saya kepingin sangat menulis 
sesuatu. Iya, sesuatu yang belum pasti.
 
Apakah Patricia akan kehilangan saya atau saya akan kehilangan Patricia? Atau 
kami akan sama-sama merasakan kehilangan? Memang kami akan merasakan 
kehilangan. Biasalah. Inilah juga yang membikin saya benar-benar resah. 
Benar-benar gelisah. Perit duka derita tak ada hentinya.
 
Sebaik saja pagi menjelma, tiba-tiba Patricia memeluk saya dari belakang dan 
segera dia minta cium pipinya bertalu-talu yang katanya ciuman itu merupakan 
denda kerana saya tidak mahu bermain salju dengan dia.
 
Iya, Patricia memang manja dan nakal sangat, tapi saya suka sangat dan terlalu 
sayang padanya. Saya cium pipinya seperti yang diminta. Sesudah itu diapun 
berangkat ke sekolah bersama kawan-kawannya. "Patricia baru saja berusia tujuh 
tahun" kata ibunya, ayahnya meninggal dunia lewat kecelakaan 11 September yang 
lalu di New York. Sedih!
 
 ISMAILY BUNGSU
UMS-SABAH
[email protected]
[email protected]
[email protected]
019-8400005/016-8222262
014-5555175

Kirim email ke