Muntahar al Zaidi: Mengapa Saya Melemparkan Kasut Kepada Bush

Khamis, 24/09/2009 20:30

Muntahar Al-Zeidi, wartawan Irak yang melemparkan kasut kearah  George W. 
Bush,dibebaskan dari penjara minggu lepas. Al-Zeidi dihukum tiga tahun penjara 
namun hukuman itu kemudian dikurangi menjadi satu tahun. Banyak yang ingin tahu 
apakah  motif serangannya terhadap Bush yang kemudian menjadi titik sejarah 
itu. Berikut laporan dari guardian.
___________________________________________________________________________
 
Sekarang saya sudah bebas. Tapi negara saya masih menjadi tawanan perang. 
Telah  banyak orang berbincang mengenai tindakan saya, tentang keberanian dan 
kepahlawanan,  simbol dan tindakan simbolik.
Tapi, sederhana saja, bagi  saya:
 
apa yang memaksa saya untuk bertindak seperti itu adalah ketidakadilan yang 
menimpa rakyat saya, dan bagaimana para penjajah amerika  memalukan tanah air 
saya dengan menginjak-injaknya.
Selama beberapa tahun terakhir, lebih dari satu juta orang telah mati oleh 
peluru penjajah dan Irak sekarang dipenuhi lebih dari lima juta anak-anak 
yatim, jutaan janda dan ratusan ribu orang cacat. Banyak jutaan orang yang 
kehilangan tempat tinggal di dalam dan di luar negeri.
Kami pernah menjadi suatu bangsa di mana orang Turki, Kurdi, Asiria, Sabean dan 
Yazid berbagi roti setiap harinya. Kami berkongsi  rasa lapar di bawah 
blokade/sanksi selama lebih dari satu dekad. Kesabaran dan solidariti kami 
tidak membuat kami lupa kepada penindasan amerika ( sebelum mereka menjajah). 
Kini  penjajahan mencerai-beraikan kami, saudara dari saudara, tetangga dari 
tetangga. Menghambat kami dari rumah  ke khemah-khemah pelarian dan tempat 
kematian.
 
Saya bukanlah pejuang, tapi saya mempunyai pendirian dan sikap. Memalukan 
sekali melihat negara saya begitu dihina, Baghdad dibakar, dan rakyat kami 
dibunuh. Ribuan peristiwa yang begitu  tragis bersarang  di kepala saya, ini 
mendorong saya untuk melakukan konfrontasi.
Skandal di Penjara Abu Ghraib. serangan keatas  Fallujah, Najaf, Haditha, Sadr, 
Basra, Diyala, Mosul, Tal Afar, dan setiap inci tanah kami yang terluka. Saya 
berjalan di atas tanah yang terbakar dan melihat dengan mata kepala sendiri 
penderitaan mangsa, mendengar dengan telinga saya sendiri jeritan anak-anak 
yatim dan mereka yang bersedih. Yang lebih parah adalah perasaan malu yang 
teramat dan menghantui saya  kerana saya tak mampu berbuat apa-apa.
 
Setelah  menyelesaikan tugas kewartawanan dalam melaporkan kejadian harian, 
sementara saya membersihkan sisa-sisa runtuhan rumah-rumah rakyat Irak, atau 
darah yang terkena pakaian, saya selalu merapatkan gigi dan berjanji akan 
membalas dendam terhadap mangsa dan korban di Iraq.
 
Kesempatan itu datang, dan saya menerimanya.
 
Saya mengambilnya dari kesetiaan kepada setiap titisan darah yang menitik dari 
mangsa mangsa yang  tidak bersalah, dari setiap jeritan ibu yang berduka, dan 
dari jeritan anak-anak yatim piatu, kepiluan dan kesedihan oleh 
mangsa perrkosaan.
 
Saya berkata kepada orang-orang yang mencela saya, apakah anda tahu berapa 
banyak rumah yang sudah ibinasakan ? Berapa kali kah kasut-kasut mereka telah 
menginjak darah mangsa  yang tidak bersalah? Mungkin kasut  adalah jawaban yang 
paling tepat ketika semua nilai itu dilanggar.
Ketika saya melemparkan kasut kearah George Bush, saya menyampaikan penafian 
terhadap pembohongannya dengan penjajahan terhadap negara saya, berterusan 
mencuri kekayaan negara saya, menghancur infrastrukturnya, dan yang lebih 
perit, mengusir anak-anak lelaki kami, -ramai yang hilang sehingga sekarang.
 
Saya mohon maaf, jika saya menyalah gunakan tugas kewartawan ini. Apa yang saya 
lakukan hanyalah luahan  perasaan dan hati nurani seorang warganegara yang 
melihat tanah airnya dinodai setiap hari. Kewartawanan ditangisi di bawah 
naungan penjajahan yang tidak boleh bersuara lebih dari suara patriotisme.
 
Dan jika patriotisme boleh berbicara, maka kewartawanan/profesionalisma harus 
bersama  dengannya.
 
Saya tidak melakukannya supaya nama saya masuk terpapar dalam sejarah atau 
untuk keuntungan kebendaan. Yang saya inginkan hanyalah untuk membela negara 
saya. (guardian)
 
http://www.eramuslim.com/
 


      

Kirim email ke