assalamualaikum w.b.t.
Bismillah-ir Rahman-ir Rahim
MENCARI ILMU BAGI KAUM WANITA
Allah Ta’ala berfirman:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." [Al-Mujaadilah: 11]
Dia juga berfirman:
"Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang
tidak mengetahui.’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima
pelajaran." [Az-Zumar: 9]
Dia pun berfirman:
"Katakanlah, ‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’ "
[Thaahaa: 114]
Dari ‘Utsman Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa salam bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” [HR.
Al-Bukhari]
Dari Zaid bin Tsabit, dia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
“Allah akan memperindah seseorang yang mendengarkan satu hadits dari kami, lalu
dia menghafalnya ketika dia mendapatkannya. Sebab, berapa banyak orang yang
membawa fiqih kepada orang yang lebih ahli darinya. Dan berapa banyak orang
yang membawa fiqih tetapi dia bukan seorang ahli fiqih.” [HR. Abu Dawud dengan
sanad yang shahih]
Dalil-dalil ini dan juga yang semisalnya bersifat umum dan tidak ada
pengkhususan baginya.. Dan berkumpul untuk mencari ilmu di masjid-masjid adalah
lebih baik dan lebih utama.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa menghilangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan dunia yang
diderita oleh seorang mukmin, maka kelak pada hari Kiamat Allah akan
menghilangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan akhirat yang dideritanya.
Barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang berada dalam suatu ke-susahan,
maka Allah akan memudahkannya, baik di dunia maupun di akhirat.. Dan Allah akan
selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya. Barangsiapa
menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan
menuju ke Surga. Dan tidaklah orang-orang berkumpul pada salah satu dari
rumah-rumah Allah Ta’ala (masjid-masjid) , sedang mereka membaca kitab Allah
dan mempelajarinya di antara mereka melainkan akan turun ketenangan kepada
mereka serta diliputi oleh rahmat dan mereka akan dikelilingi oleh para
Malaikat. Allah akan menyebut-nyebut mereka kepada siapa saja yang berada di
sisi-Nya. Barangsiapa yang diperlambat amal
perbuatannya, maka dia tidak akan dipercepat oleh nasab (keturunan)nya.” [HR.
Muslim]
Diriwayatkan juga dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir, dia berkata, “Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar sementara kami masih berada di suffah,
lalu beliau bersabda, ‘Siapakah di antara kalian yang ingin pergi setiap hari
ke Buthan atau ke al-‘Aqiq, lalu darinya dia datang dengan membawa dua unta
yang berpunuk besar tanpa berbuat dosa dan tanpa pemutusan hubungan
silaturahmi?”
Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami menyukai hal tersebut.” Beliau
bersabda,
‘Tidakkah salah seorang di antara kalian pergi ke masjid, lalu mengajar atau
membaca dua ayat dari Kitabullah Azza wa Jalla, maka yang demikian itu lebih
baik baginya daripada dua ekor unta. Dan tiga ayat itu lebih baik baginya dari
pada tiga ekor unta. Dan empat ayat itu lebih baik baginya daripada empat ekor
unta dan begitu seterusnya.’”
Dalil-dalil di atas bersifat umum dan tidak dikhususkan bagi kaum laki-laki
saja, bahkan pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kaum wanita banyak
yang pergi ke masjid-masjid untuk menimba ilmu. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam sendiri telah mengkhususkan untuk menyampaikan nasihat (kepada kaum
wanita).
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Fathimah binti Qais Radhiyallahu 'anha
bahwasanya dia berkata di dalam haditsnya yang panjang di dalam kisah
al-Jassasah, dia berkata, “Ketika masa ‘iddahku berakhir, aku mendengar seruan
seorang penyeru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berseru, ‘Shalat
berjama’ah akan dilakukan.’ Lalu aku berangkat ke masjid dan mengerjakan shalat
bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku berada di dalam
barisan wanita yang langsung berada di belakang suatu kaum. Dan setelah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai mengerjakan shalatnya, beliau
duduk di atas mimbar dan beliau tertawa seraya berucap, ‘Hendaklah setiap orang
selalu mendatangi tempat shalatnya.’
Kemudian beliau bertanya, ‘Tahukah kalian, mengapa aku kumpulkan kalian?’Mereka
menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.’
Beliau bersabda:
‘Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengumpulkan kalian karena suatu keinginan
atau rasa takut, tetapi aku mengumpulkan kalian karena Tamim ad-Dari, yaitu
seorang laki-laki yang beragama Nasrani. Dimana dia datang dan berbai’at serta
menyatakan masuk Islam…’”
Dari ‘Amrah binti ‘Abdirrahman dari saudara perempuan ‘Amrah, dia berkata, “Aku
menghafal: Þ. æóÇáúÞõÑúÂäö ÇáúãóÌöíÏö ‘Qaaf. Demi al-Qur-an yang mulia,’ dari
mulut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jum’at, di mana beliau
membacanya di atas mimbar setiap hari Jum’at.” [HR. Muslim]
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku bersaksi atas Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. -Atau Atha’ berkata, ‘Aku bersaksi atas Ibnu
‘Abbas’- bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar rumah
bersama Bilal. Lalu beliau mengira bahwa beliau belum memperdengarkan kepada
kaum wanita, maka beliau menasihati mereka dan memerintahkan kepada mereka
untuk bersedekah. Lalu ada seorang wanita yang melemparkan anting dan cincin.
Sementara Bilal mengambil dari ujung bajunya..” [HR. Al-Bukhari]
Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah keluar pada waktu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fithri ke tempat shalat (tanah
lapang), maka beliau melintasi sekumpulan wanita, seraya bersabda:
‘Wahai sekalian wanita, bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya kalian pernah
diperlihatkan kepadaku sebagai penghuni Neraka yang paling banyak.’ Mereka
bertanya, ‘Karena apa, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Kalian banyak
melaknat dan mengingkari suami. Aku tidak melihat pihak yang memiliki
kekurangan pada akal dan agama yang lebih cepat menghilangkan akal orang
laki-laki yang teguh melebihi salah seorang di antara kalian.’ Mereka bertanya,
‘Lalu apa kekurangan agama dan akal kami, wahai Rasulullah?’ Beliau bertanya,
‘Bukankah kesaksian seorang wanita itu seperti setengah kesaksian orang
laki-laki?’ Mereka menjawab, ‘Benar.’ Beliau bersabda, ‘Demikianlah bagian dari
kekurangan akalnya. Bukankah jika sedang haid, dia tidak shalat dan tidak
berpuasa?’ Mereka menjawab, ‘Benar.’ Beliau pun bersabda, ‘Demikianlah bentuk
kekurangan agamanya.’” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Kaum wanita pernah
berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kami dikalahkan oleh kaum
laki-laki untuk belajar kepadamu, karena itu, berikanlah satu hari untuk kami
dari waktumu.”
Lalu beliau menjanjikan kepada mereka satu hari untuk menemui mereka, lalu
beliau menasihati mereka sekaligus menyuruh mereka, dimana di antara yang
diucapkan oleh beliau kepada mereka adalah:
“Tidak ada seorang wanita pun di antara kalian ditinggal mati oleh tiga orang
anaknya, melainkan mereka akan menjadi pembatas dari Neraka.”
Kemudian ada seorang wanita berkata, “Termasuk juga dua orang anak?” Beliau
menjawab, “Termasuk juga dua orang anak.” [HR. Bukhari]
Satu dalil dari dalil-dalil yang banyak ini cukup untuk mematahkan ungkapan
seorang:
Kaum wanita tidak mempunyai hak membaca dan menulis
Mereka untuk kita dan hendaklah mereka tetap dalam keadaan junub.
Demikian juga orang yang menyatakan bid’ah bagi tindakan kaum wanita yang
menimba ilmu di masjid. Bahkan yang lebih aneh dari ini adalah bagaimana
mungkin dia melarang isterinya pergi ke rumah-rumah Allah untuk menuntut ilmu
sementara dia memberi izin kepadanya untuk bermain dari rumah ke rumah dan dari
toko ke toko lain.
Sedangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
“Janganlah kalian melarang hamba-hamba wanita Allah untuk pergi ke masjid.”
Lalu dengan dalil apa orang bodoh itu menilai bid’ah terhadap penuntutan ilmu
bagi kaum wanita di masjid dan membolehkannya di rumah.
Oleh karena itu, kita dan juga para ulama kita, ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah
tidak akan pernah rela jika masjid-masjid yang ada hampa dari halaqah-halaqah
ilmiah dan hanya mengadakannya di rumah-rumah saja. Sebab, kami tidak melihat
adanya berkah ilmu dan pengajaran, kecuali di dalam masjid, baik bagi laki-laki
maupun wanita. Dan barangsiapa hendak memisahkannya, maka dia harus memberikan
dalil, wallaahul musta’aan. Dan kita memo-hon kepada Allah Yang Mahaagung agar
Dia menjadikan kita memahami agama serta menjadikan kita bermanfaat bagi Islam
dan kaum muslimin. Sesungguhnya Dia Penguasa semuanya itu dan berkuasa atas
segala sesuatu.
[Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah
Abdul Ghoffar EM]
.
" wahai tuhan ku, aku tak layak kesyurgamu ...namun tak pula aku sanggup
keNerakamu.. .......,kami lah hamba yang mengharap belas darimu ........Ya
Allah jadikan lah kami hamba2 mu yang bertaqwa.... ..ampunkan dosa2 kami, kedua
ibubapa kami, dosa semua umat2 islam yang masih hidup mahupun yang telah
meninggal dunia.
__________________________________________________________________________________________
Surf faster. Internet Explorer 8 optmized for Yahoo! auto launches 2 of your
favorite pages everytime you open your browser. Get IE8 here!
http://downloads.yahoo.com/my/internetexplorer/