Temubual ekslusif dari relawan Indonesia yang memasuki Gaza Q - Bagaimana Ibu melihat kondisi anak-anak Palestina saat ini? A - Saya lihat, mereka memang, dalam kondisi seperti itu, mereka tetap menjadi bangsa yang optimis, dilihat dari orasi-orasi para pimpinannya. Kemudian, yang paling haru lagi, mereka kan baru mewisuda 10 ribu penghafal Alquran pada liburan musim panas kemarin, Juni-Juli. Anak-anak dilatih selama 60 hari hafal 30 juz. 60 HARI 30 JUZ! Bulan Juli itu diwisuda sekitar 2.500, tapi kemarin kan kita ketemu Walikota Beit Lahiya di Gaza itu, dia katakan, 'Sekarang sudah 10 ribu,' kata menterinya itu, kami sudah menyiapkan pemimpin yang hafal Alquran dari tingkat presiden sampai lurah! Jadi, sampai-sampai lurahnya pun penghafal Alquran! Karena mereka sudah menyiapkan hafizh yang begitu banyak. Jadi, ini kan pelajaran buat kita. Dalam kondisi tekanan ekonomi, dalam kondisi perang seperti itu, anak-anak mereka berprestasi. Mereka cenderung homeschooling karena tidak aman mereka keluar apartemen untuk sekolah, jadi ibu-ibu di sana sudah sangat kompak. Anak-anak mereka juga tidak diajarkan meminta, tidak ada anjal, saya bertemu dengan Persatuan Dokter Arab di sana menceritakan, salah satu yang ikut dalam perang Gaza kemarin, betapa anak di sana tidak meminta-minta, tahu etika meminta itu tidak baik. Ketika perang, ada seorang anak yang dalam kondisi perang, dengan di bawah dentuman senjata, dia jualan teh manis. Dokter-dokter ini mengumpulkan orang sampai 2 ribu dollar untuk menyumbang kepada anak yang berani, dalam kondisi perang kok mau jualan teh manis. Terus disumbangkan, ternyata anak itu bilang, 'Saya cukup untuk kehidupan saya dari berjualan teh manis. Uang sebesar itu sebaiknya Anda berikan kepada tentara Hamas. Yang lebih membutuhkan dari saya.' Ya Allah, anak kita, 100 dollar aja diterima! ikuti seterusnya di www.eramuslim.com
