Kenangan Masa Kecil Remaja Palestina dengan Syaikh
Ahmad Yassin
Rabu, 31/03/2010 13:19 WIB | email
| print
| share
Enam tahun telah berlalu sejak syahidnya
(insyaAllah) Syaikh Ahmad Yassin, anak-anak muda Gaza masih mengingat
dengan jelas sosok karismatik Syaikh Ahmad Yassin. Ketika mereka masih
anak-anak, Syaikh Yassin sering merawat dan mengajar mereka tentang
pelajaran-pelajaran agama dan tentang kehidupan mereka sehari-hari. Dan
anak-anak muda tersebut sekarang tumbuh dalam bimbingan serta pendidikan
iman dan keislaman lewat tangan Syaikh Yassin yang lumpuh, pendiri
Gerakan Perlawanan Islam di Palestina Hamas.
Syaikh Ahmad Yassin terkenal karena rasa humorisnya dan kebaikannya
kepada anak-anak di Gaza. Dia mencintai dan bersimpati dengan anak-anak
tersebut dan anak-anak Gaza bahkan menganggap Syaikh Yassin seperti ayah
mereka sendiri yang lembut dalam mendidik mereka.
Koresponden PIC ingin mengingat sisi lain dari aspek kehidupan Syaikh
Ahmad Yassin, ia mewawancarai sejumlah anak muda yang semasa
anak-anaknya mereka sempat shalat subuh bersama dengan Syaikh Yassin,
sebelum akhirnya setelah shalat subuh di lingkungan As-Sabra Gaza di
mana ia tinggal, tembakan rudal dari pesawat tempur Israel menghancurkan
tubuh Syaikh Ahmad Yassin yang renta tersebut.
Penceramah favorit
Musbah Shaghnuby (15 tahun), sangat ingat kenangan ketika ia waktu
masih berusia 8 tahun, Syaikh Yassin sering memanjakan dia dan anak-anak
di lingkungannya. Mereka menganggap Syaikh Yassin sebagai ayah yang
penuh kasih sayang terhadap mereka, Musbah mengatakan: "Semoga Allah
memberkati dia, dia adalah ayah dari semua orang Palestina dan seorang
kakek bagi anak-anak mereka".
Dia menambahkan: "kami sering mengiringi Syaikh
Yassin baik di masjid ataupun di rumahnya yang sederhana, dan ia sangat
menghargai kami ketika kami shalat Subuh di masjid dan mau menghafal
Al-Qur'an".
Musbah melanjutkan: "terus terang, saya tidak terlalu suka
mendengarkan khotbah kecuali khutbah atau ceramah dari Syaikh Yassin,
bukan semata-mata karena dia Syaikh Yassin, tetapi karena kata-kata yang
ia sampaikan memang berasal dari hati dan penuh dengan kata-kata yang
membangkitkan semangat dan menyenangkan. Syaikh Yasin sering menyerukan
kepada orang-orang untuk rajin belajar dengan ketekunan, serta terus
menambah ilmu pengetahuan ".
Musbah juga berbicara tentang syahidnya Syaikh Yassin, waktu itu
ketika ia dan keluarganya sedang tidur tiba-tiba terbangun oleh suara
ledakan yang mengerikan yang ternyata ledakan itu telah menyebabkan
kematian Syaikh dan warga sipil lainnya yang bersama dengan dia. Dia
mengatakan: "Kami semua sangat sedih oleh kematian Syaikh Yassin. Saya
mencintainya lebih dari keluarga saya sendiri. Saya menganggap dirinya
sebagai seorang kakek, pemimpin dan panutan. Saya tidak melihat dan
sepertinya tidak akan pernah melihat orang yang lebih baik daripada dia
saat ini."
Bahkan dalam kesyahidanya, dia mengasihi tetangganya.
Ahmad El-Muzainy, seorang pemuda yang mengenal Syaikh Yassin,
mengatakan: "Syaikh Yassin lebih suka mati sebagai syahid di jalan
Allah, namun tidak di tempat tidurnya, karena ia tidak ingin tetangganya
dirugikan oleh pembunuhan terhadap dirinya yang mungkin menyebabkan
jatuhnya lebih banyak korban. "
El-Muzainy menambahkan: "Syaikh Yassin telah
meninggal, semoga Allah memberkati dia dan memberinya surga-Nya yang
luas. Semua pemuda dari Kompleks Masjid Islam akan mengikuti jalan
Syaikh Yassin dalam segala cara yang bisa dilakukan".
Syaikh Yassin adalah ikon keIslaman, nasional dan sosial yang akan
tetap terukir dalam memori semua orang Palestina dan umat Muslim di
seluruh dunia, khususnya mereka yang dekat dengannya saat mereka
mengingat dirinya yang telah mempengaruhi diri mereka dalam semua aspek
kehidupan. Semoga Allah memberkati Syaikh Yassin dan para pemimpin
rakyat Palestina dan umat Muslim di dunia untuk mengikuti jalan-Nya.
Kesyahidannya
Abil Qadir Abdil Aal, seorang pemuda 19 tahun yang tinggal di dekat
rumah Syaikh Yassin, mengatakan: "Saya bersama Syaikh Yassin beberapa
saat sebelum ia syahid ketika kami shalat subuh bersama di kompleks
Masjid Islam yang dekat dengan rumah kami.
Beberapa menit setelah shalat subuh berakhir, Syaikh Yassin meminta
semua anak muda di dalam masjid untuk segera pulang ke rumah mereka
masing-masing, sehingga merekapun meninggalkan masjid. Begitu mereka
tiba di rumah mereka, mereka terkejut dengan suara bom yang ternyata
menargetkan tubuh lumpuh Syaikh Yassin".
Abdiel Aal menyebutkan beberapa kegiatan yang sering Syaikh Yassin
lakukan di komplek Masjid Islam di dekat rumahnya: "Syaikh Yassin sering
mendorong kami sebagai anak-anak muda untuk rajin berlatih olahraga, ia
sangat menghargai kam."
Selain itu, ia juga sering mengatur kegiatan-kegiatan yang memotivasi
para pemuda dan anak-anak untuk datang ke masjid serta mendorong para
anak muda untuk lebih bertanggung jawab. Ia sangat bermurah hati dan
tidak pernah menolak setiap pengemis yang mendekatinya. Ia juga
mencintai Jihad dan perlawanan untuk membebaskan Palestina dari
pendudukan zionis Israel."
Di saat-saat sebelum Syaikh Yassin terbunuh, sambil menangis Abdil
Aal mengatakan: "Saya sedang duduk bersama sepupu saya, asy syahid Amir
Abid Aal, dan asy syahid Mu'min Al Yazuri yang ikuta mati syahid bersama
dengan Syaikh Yassin.
Di belakang Syaikh Yassin, ada dua pengawalnya, lalu Syaikh Yassin
bertanya kepada mereka: "Bagaimana cuaca di luar?" Lalu salah seorang
dari mereka menjawab: "cuaca terlalu dingin. Jadi, jangan keluar dulu
nanti malah menjadi 'sakit'. Ini merupakan upaya para anak muda untuk
mencegah Syaikh keluar dari masjid, sehingga pesawat bisa menyerangnya. "
Dia dengan susah payah melanjutkan: "Langit penuh dengan puluhan
pesawat dari semua jenis, jika saya tidak melebih-lebihkan." Kami hanya
menyadari sesaat kemudian bahwa ternyata mereka sedang menunggu Syaikh
Yassin untuk diserang. Saya berkata kepada Syaikh: "langit mendung
dengan banyak pesawat dan situasi sangat berbahaya. Syaikh Yassin dengan
tenang menjawab: "Anakku ..Tak ada yang bisa lolos dari takdir-Nya "
Anak Palestina itu mengatakan bahwa Syaikh meminta semua anak muda
yang berada di masjid untuk segera pulang ke rumah mereka masing-masing
demi keselamatan mereka.
Syaikh kemudian menunggu sampai semua dari mereka pulang ke rumah
mereka masing-masing, kecuali Mu'min Al Yazouri, Amir Abid Aal dan
pengawal yang tinggal bersamanya. Lalu, saat mereka keluar dari masjid,
tidak lama kemudian pesawat-pesawat Zionis menyerang mereka. Syaikh
Yassin syahid (insyaAllah) bersama dengan teman-temannya, Mu'min dan
Amir.(