Kisah Nabi Uzair
a.s.<http://laman-seri.blogspot.com/2010/04/kisah-nabi-uzair-as.html>

  <http://laman-seri.blogspot.com/2010/04/kisah-nabi-uzair-as.html>

<http://2.bp.blogspot.com/_oV1RUxbNq84/S7q_NvhjVeI/AAAAAAAAD4w/jdfBvOIt4Gg/s1600/uzair.jpg>
Di dalam al-Quran, Allah SWT berfirman yang bermaksud, “Atau apakah (kamu
tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah
roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali
negeri ini setelah hancur?”, maka Allah mematikan orang itu seratus tahun,
kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapa lama kamu tinggal
di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.”
Allah berfirman: “Sebenarnya kamu tinggal di sini selama seratus tahun
lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum berubah; dan
lihatlah kepada keledaimu itu (yang telah menjadi tulang-belulang): Kami
akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada
tulang- belulang keldai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian
Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya
(bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: “Saya yakin
bahawa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”” (Surah al-Baqarah ayat 259)

Yang popular menurut kaum salaf dan kaum khalaf bahawa Uzair adalah pahlawan
dalam kisah ini yang diceritakan oleh Allah SWT. Dikatakan bahawa Uzair
adalah seorang Nabi dari nabi-nabi Bani Israil. Dialah yang menjaga Taurat,
lalu terjadilah peristiwa yang sangat mengagumkan padanya. Allah SWT telah
mematikannya selama seratus tahun kemudian dia dibangkitkan kembali. Selama
Uzair tidur satu abad penuh, terjadilah peperangan yang didalangi oleh
Bakhtansir di mana ia membakar Taurat. Tidak ada sesuatu pun yang tersisa
kecuali yang dijaga oleh kaum lelaki. Mukjizat yang terjadi pada Nabi Uzair
adalah sumber fitnah yang luar biasa di tengah kaumnya.

Pada suatu hari, tampak bahawa cuaca sangat panas dan segala sesuatu merasa
kehausan. Sementara itu, desa yang didiami oleh Uzair hari itu nampak tenang
kerana sedang melalui musim panas di mana sedikit sekali aktiviti di
dalamnya. Uzair berfikir bahawa kebunnya perlu untuk disaliri dengan air.
Kebun itu cukup jauh dan jalan menuju ke sana sangat berat dan disela-selai
dengan tanah perkuburan. Sebelumnya, tempat itu adalah kota yang indah dan
ramai di mana penghuninya cukup asyik tinggal di dalamnya lalu ia menjadi
kota mati.

Uzair berfikir dalam hatinya bahawa pohon-pohon di kebunnya pasti merasakan
kehausan lalu ia menetapkan untuk pergi memberinya minum. Hamba yang soleh
dan salah seorang nabi dari Bani Israil ini pergi dari desanya. Matahari
tampak masih baru memasuki waktu siang. Uzair menunggang keldainya dan
memulai perjalanannya. Beliau tetap berjalan hingga sampai di kebun. Beliau
mengetahui bahawa pohon-pohonnya tampak kehausan dan tanahnya tampak
terbelah dan kering. Uzair menyirami kebunnya dan ia memetik dari kebun itu
buah tin (sebahagian buah tin) dan mengambil pohon anggur. Beliau meletakkan
buah tin di satu keranjang dan meletakkan buah anggur di keranjang yang
lain. Kemudian ia kembali dari kebun sehingga keldai yang dibawanya berjalan
di tengah-tengah terik matahari.

Di tengah-tengah perjalanan, Uzair berfikir tentang tugasnya yang harus
dilakukan keesokkan harinya. Tugas pertama yang harus dilakukannya adalah
mengeluarkan Taurat dari tempat persembunyiannya dan meletakkannya di tempat
ibadah. Beliau berfikir untuk membawa makanan dan memikirkan tentang anaknya
yang masih kecil, di mana beliau teringat oleh senyumannya yang manis, dan
beliau pun terus berjalan dan semakin cepat. Beliau menginginkan keldainya
untuk berjalan lebih cepat.

Lalu Uzair sampai di suatu kuburan. Udara panas saat itu semakin menyengat
dan keldai tampak kepayahan. Tubuhnya diselimuti dengan keringat yang tampak
menyala kerana tertimpa sinar matahari. Keldai itu pun mulai memperlambatkan
langkahnya ketika sampai di kuburan. Uzair berkata kepada dirinya, “Mungkin
aku lebih baik berhenti sebentar untuk beristirahat, dan aku akan
mengistirahatkan keldai. Lalu aku akan makan siang.”

Uzair turun dari keldainya di salah satu kuburan yang rosak dan sepi. Semua
desa itu menjadi kuburan yang hancur dan sunyi. Uzair mengeluarkan piring
yang dibawanya dan duduk di suatu naungan. Ia mengikat keldai di suatu
dinding, lalu ia mengeluarkan sebahagian roti kering dan menaruhnya di
sampingnya. Selanjutnya, ia memerah di piringnya anggur dan meletakkan roti
yang kering itu di bawah perahan anggur. Uzair menyandarkan punggungnya di
dinding dan agak menjulurkan kakinya. Uzair menunggu sampai roti itu tidak
kering dan tidak keras.

Kemudian Uzair mulai mengamati keadaan di sekelilinginya dan tampak
keheningan dan kehancuran meliputi tempat itu: rumah-rumah hancur berantakan
dan tampak tiang-tiang pun akan hancur, pohon-pohon sedikit saja terdapat di
tempat itu yang tampak akan mati kerana kehausan, tulang-tulang yang mati
yang dikuburkan di sana berubah menjadi tanah. Alhasil, keheningan
menyeliputi tempat itu. Uzair merasakan betapa kerasnya kehancuran di situ
dan ia bertanya dalam dirinya sendiri, “Bagaimana Allah SWT menghidupkan
semua ini setelah kematiannya? Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri
ini setelah hancur?”

Uzair bertanya, “Bagaimana Allah SWT menghidupkan tulang-tulang ini setelah
kematiannya, di mana ia berubah menjadi sesuatu yang menyerupai tanah.”
Uzair tidak meragukan bahawa Allah SWT mampu menghidupkan tulang-tulang ini,
tetapi ia mengatakan yang demikian itu kerana rasa hairan dan kekaguman.
Belum lama Uzair mengatakan kalimatnya itu sehingga ia mati. Allah SWT
mengutus malaikat maut padanya lalu rohnya dicabut sementara keldai yang
dibawanya masih ada di tempatnya ketika melihat tuannya sudah tidak lagi
berdaya. Keldai itu tetap di tempatnya sehingga matahari tenggelam lalu
datanglah waktu subuh. Keldai berusaha berpindah dari tempatnya tetapi ia
terikat. Ia pun masih ada di tempatnya dan tidak boleh melepaskan ikatannya
sehingga ia mati kelaparan.

Kemudian penduduk desa Uzair merasa gelisah dan mereka ramai-ramai mencari
Uzair di kebunnya, tetapi di sana mereka tidak menemukannya. Mereka kembali
ke desa dan tidak menemukannya. Lalu mereka menetapkan beberapa kelompok
untuk mencarinya. Akhirnya, kelompok- kelompok ini mencari ke segala penjuru
tetapi mereka tidak menemukan Uzair dan tidak menemukan keldainya.
Kelompok-kelompok ini melewati kuburan yang di situ Uzair meninggal, namun
mereka tidak berhenti di situ. Tampak bahawa di tempat itu hanya diliputi
keheningan. Seandainya Uzair ada di sana nescaya mereka akan mendengar
suaranya. Kemudian kuburan yang hancur ini sangat menakutkan bagi mereka,
kerana itu mereka tidak mencari di dalamnya.

Lalu berlalulah hari demi hari, dan orang-orang putus asa dari mencari
Uzair, dan anak-anaknya merasa bahawa mereka tidak akan melihat Uzair kedua
kalinya dan isterinya mengetahui bahawa Uzair tidak mampu lagi memelihara
anaknya dan menuangkan rasa cintanya kepada mereka sehingga isterinya itu
menangis lama sekali. Sesuai dengan perjalanan waktu, maka air mata pun
menjadi kering dan penderitaan makin berkurang. Akhirnya, manusia mulai
melupakan Uzair dan mereka tetap menjalankan tugas mereka masing-masing. Dan
berjalanlah tahun demi tahun dan masyarakat mulai melupakan Uzair kecuali
anaknya yang paling kecil dan seorang wanita yang bekerja di rumah mereka di
mana Uzair sangat cinta kepadanya. Usia wanita itu dua puluh tahun ketika
Uzair keluar dari desa.

Berlalulah sepuluh tahun, dua puluh tahun, delapan puluh tahun, sembilan
puluh tahun sehingga sampai satu abad penuh. Allah SWT berkehendak untuk
membangkitkan Uzair kembali. Allah SWT mengutus seorang malaikat yang
meletakkan cahaya pada hati Uzair sehingga ia melihat bagaimana Allah SWT
menghidupkan orang-orang mati. Uzair telah mati selama seratus tahun.
Meskipun demikian, ia dapat berubah dari tanah menjadi tulang, menjadi
daging, dan kemudian menjadi kulit. Allah SWT membangkitkan di dalamnya
kehidupan dengan perintah-Nya sehingga ia mampu bangkit dan duduk di
tempatnya dan memperhatikan dengan kedua matanya apa yang terjadi di
sekelilingnya.

Uzair bangun dari kematian yang dijalaninya selama seratus tahun. Matanya
mulai memandang apa yang ada di sekelilingnya lalu ia melihat kuburan di
sekitarnya. Ia mengingat-ingat bahawa ia telah tertidur. Ia kembali dari
kebunnya ke desa lalu tertidur di kuburan itu. Inilah peristiwa yang
dialaminya. Matahari bersiap-siap untuk tenggelam sementara ia masih
tertidur di waktu Zohor. Uzair berkata dalam dirinya, “Aku tertidur cukup
lama. Barangkali sejak Zohor sampai Maghrib.” Malaikat yang diutus oleh
Allah SWT membangunkannya dan bertanya, “Berapa lama kamu tinggal di sini?”

Malaikat bertanya kepadanya, “Berapa jam engkau tidur?” Uzair menjawab,
“Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Malaikat yang mulia itu
berkata kepadanya, “Sebenarnya kamu tinggal di sini selama seratus tahun
lamanya. Engkau tidur selama seratus tahun. Allah SWT mematikanmu lalu
menghidupkanmu agar engkau mengetahui jawapan dari pertanyaanmu ketika
engkau merasa hairan dari kebangkitan yang dialami oleh orang-orang yang
mati.” Uzair merasakan kehairanan yang luar biasa sehingga tumbuhlah
keimanan pada dirinya terhadap kekuasaan al-Khaliq (Sang Pencipta). Malaikat
berkata sambil menunjuk makanan Uzair, “Lihatlah kepada makanan dan
minumanmu yang belum berubah.”

Uzair melihat buah tin itu lalu ia mendapatinya seperti semula di mana
warnanya tidak berubah dan rasanya pun tidak berubah. Telah berlalu seratus
tahun tetapi bagaimana mungkin makanan itu tidak berubah? Lalu Uzair melihat
piring yang di situ ia memerah buah anggur dan meletakkan di dalamnya roti
yang kering, dan ia mendapatinya seperti semula di mana minuman anggur itu
masih layak untuk diminum dan roti pun masih tampak seperti semula, di mana
kerasnya dan keringnya roti itu dapat dihilangkan ketika dicampur dengan
perahan anggur. Uzair merasakan kehairanan yang luar biasa, bagaimana
mungkin seratus tahun terjadi sementara perahan anggur itu tetap seperti
semula dan tidak berubah. Malaikat merasa bahawa seakan-akan Uzair masih
belum percaya atas apa yang dikatakannya, kerana itu, malaikat menunjuk
keldainya sambil berkata, “Dan lihatlah kepada keledaimu itu (yang telah
menjadi tulang- belulang).”

Uzair pun melihat ke keldainya tetapi ia tidak mendapati kecuali ia tanah
dari tulang-tulang keldainya. Malaikat berkata kepadanya, “Apakah engkau
ingin melihat bagaimana Allah SWT membangkitkan orang-orang yang mati?
Lihatlah ke tanah yang di situ terletak keledaimu.”


<http://4.bp.blogspot.com/_oV1RUxbNq84/S7q-7RgS2fI/AAAAAAAAD4o/duyrnWtZ2AM/s1600/keldai.jpg>
Kemudian malaikat memanggil tulang-tulang keldai itu lalu atom-atom tanah
itu memenuhi panggilan malaikat sehingga ia mulai berkumpul dan bergerak
dari setiap arah lalu terbentuklah tulang-tulang. Malaikat memerintahkan
otot-otot saraf daging untuk bersatu sehingga daging melekat pada
tulang-tulang keldai. Sementara itu, Uzair memperhatikan semua proses itu.
Akhirnya, terbentuklah tulang dan tumbuh di atasnya kulit dan rambut.

Al-hasil, keldai itu kembali seperti semula setelah menjalani kematian.
Malaikat memerintahkan agar roh keldai itu kembali kepadanya dan keldai pun
bangkit dan berdiri. Ia mulai mengangkat ekornya dan bersuara. Uzair
menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah SWT tersebut terjadi di depannya. Ia
melihat bagaimana mukjizat Allah SWT yang berupa kebangkitan orang-orang
yang mati setelah mereka menjadi tulang belulang dan tanah. Setelah melihat
mukjizat yang terjadi di depannya, Uzair berkata, “Saya yakin bahawa Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Uzair bangkit dan menunggangi keldainya menuju desanya. Allah SWT
berkehendak untuk menjadikan Uzair sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya kepada
masyarakat dan mukjizat yang hidup yang menjadi saksi atas kebenaran
kebangkitan dan hari kiamat. Uzair memasuki desanya pada waktu Maghrib. Ia
tidak percaya melihat perubahan yang terjadi di desanya di mana rumah-rumah
dan jalan-jalan sudah berubah, begitu juga manusia dan anak-anak yang
ditemuinya. Tak seorang pun di situ yang mengenalinya. sebaliknya, ia pun
tidak mengenali mereka. Uzair meninggalkan desanya saat beliau berusia empat
puluh tahun dan kembali kepadanya dan usianya masih empat puluh tahun.
Tetapi desanya sudah menjalani waktu seratus tahun sehingga rumah-rumah
telah hancur dan jalan-jalan pun telah berubah dan wajah-wajah baru
menghiasi tempat itu.

Uzair berkata dalam dirinya, “Aku akan mencari seorang lelaki tua atau
perempuan tua yang masih mengingat aku.”

Uzair terus mencari sehingga ia menemukan pembantunya yang ditinggalnya saat
berusia dua puluh tahun. Kini, usia pembantu itu mencapai seratus dua puluh
tahun di mana kekuatannya sudah sangat merosot dan giginya sudah ompong dan
matanya sudah lemah. Uzair bertanya kepadanya, “Wahai perempuan yang baik,
di mana rumah Uzair.”

Wanita itu menangis dan berkata, “Tak seorang pun yang mengingatinya. Ia
telah keluar sejak seratus tahun dan tidak kembali lagi. Semoga Allah SWT
merahmatinya.” Uzair berkata kepada wanita itu, “Sungguh aku adalah Uzair.
Tidakkah engkau mengenal aku? Allah SWT telah mematikan aku selama seratus
tahun dan telah membangkitkan aku dari kematian.”

Wanita itu kehairanan dan tidak mempercayai omongan itu. Wanita itu berkata,
“Uzair adalah seseorang yang doanya dikabulkan. Kalau kamu memang Uzair,
maka berdoalah kepada Allah SWT agar aku dapat melihat sehingga aku dapat
berjalan dan mengenalmu.”

Lalu Uzair berdoa untuk wanita itu sehingga Allah SWT mengembalikan
penglihatan matanya dan kekuatannya. Wanita itu pun mengenali Uzair. Lalu ia
segera berlari di negeri itu dan berteriak, “Sungguh Uzair telah kembali!”
Mendengar teriakan wanita itu, masyarakat bingung dan merasa hairan. Mereka
mengira bahawa wanita itu telah gila.

Kemudian diadakan pertemuan yang dihadiri orang-orang pandai dan para ulama.
Dalam majlis itu juga dihadiri oleh cucu Uzair di mana ayahnya telah
meninggal dan si cucu itu telah berusia tujuh puluh tahun sedangkan
datuknya, Uzair, masih berusia empat puluh tahun. Di majlis itu mereka
mendengarnya kisah Uzair lalu mereka tidak mengetahui apakah mereka akan
mempercayainya atau mengingkarinya. Salah seorang yang pandai bertanya
kepada Uzair, “Kami mendengar dari ayah-ayah kami dan datuk-datuk kami
bahawa Uzair adalah seorang Nabi dan ia mampu menghafal Taurat. Sungguh
Taurat telah hilang dari kita dalam peperangan Bukhtunnashr di mana mereka
membakarnya dan membunuh para ulama dan para pembaca Kitab suci itu. Ini
terjadi seratus tahun lalu yang engkau katakan bahawa engkau menjalani
kematian atau engkau tidur. Seandainya engkau menghafal Taurat, nescaya kami
akan percaya bahawa engkau adalah Uzair.”

Uzair mengetahui bahawa tidak seorang pun dari Bani Israil yang mampu
menghafal Taurat. Uzair telah menyembunyikan Taurat itu dari usaha musuh
untuk menghancurkannya. Uzair duduk di bawah naungan pohon sedangkan Bani
Israil berada di sekitarnya. Lalu Uzair menghapusnya huruf demi huruf sampai
selesai lalu ia berkata dalam dirinya, “Aku sekarang akan mengeluarkan
Taurat yang telah aku simpan.” Uzair pergi ke suatu tempat lalu ia
mengeluarkan Taurat di mana kertas yang terisi Taurat itu telah rosak. Ia
mengetahui mengapa Allah SWT mematikannya selama seratus tahun dan
membangkitkannya kembali. Kemudian tersebarlah berita tentang mukjizat Uzair
di tengah-tengah Bani Israil. Mukjizat tersebut membawa fitnah yang besar
bagi kaumnya.

Sebahagian kaumnya mendakwa bahawa Uzair adalah anak Allah. Allah SWT
berfirman yang bermaksud, “Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair adalah anak
Allah.’” (Surah at-Taubah ayat 30)

Mula-mula mereka membandingkan antara Musa dan Uzair dan mereka berkata,
“Musa tidak mampu mendatangkan Taurat kepada kita kecuali di dalam kitab
sedangkan Uzair mampu mendatangkannya tanpa melalui kitab.” Setelah
perbandingan yang salah ini, mereka menyimpulkan sesuatu yang keliru di mana
mereka menisbatkan kepada nabi mereka hal yang sangat tidak benar. Mereka
mendakwa bahawa dia adalah anak Tuhan. Maha Suci Allah dari semua itu, “Tidak
layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan
sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah’, maka jadilah
ia.”(Surah Maryam ayat 35)

Dipetik dari sumber :
JAiP-gov<http://jaipk.perak.gov.my/index.php/Kisah-Para-Anbia-/Nabi-Uzair-a.s.html>

--
~ 睡眠不足のママ ~
http://laman-seri.blogspot.com
http://little-kiosk.blogspot.com
Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing
himself. – Leo Tolstoy

¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Firman Allah SWT :
[7:179] Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan
dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya
untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.
Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Hadis Rasulullah SAW:
Dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah SAW., sabdanya: "Siapa yang tasbih
tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, takbir tiga puluh tiga
kali, jadi jumlahnya sembilan puluh sembilan kali, kemudian dicukupkannya
seratus dengan membaca: "La ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu lahul
mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai-in qadir. Maka diampuni Allah
segala kesalahannya, walaupun sebanyak buih di lautan." (Hadis riwayat
Muslim)
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤

Kirim email ke