Oleh : Basuki

(Penulis aktif dalam "Usrah" Mingguan)

Pada dasarnya Allah telah menggariskan kepada kita tentang sebuah hakikat yang 
harus dijalani dalam seluruh aktifitas kehidupan, yaitu beribadah. Tanpa 
mengenal batas waktu, tempat dan usia. Sebab memang demikian adanya yang telah 
dinukilkan oleh Allah dalam surat Adz Dzariyat ayat 56. Bahwasanya setiap 
manusia diciptakan oleh Allah tidak lain kecuali untuk beribadah.


Dalam perkembangan maknanya, harus kita pahami bahwa ibadah tidak hanya sekedar 
shalat, puasa, zakat dan berhaji saja. Lebih dari itu bagaimana setiap kita 
bisa menjadikan seluruh tingkah laku, perkataan, pikiran, sikap dan potensi 
yang ada sebagai upaya untuk meraih ridha-Nya. Itulah mengapa kemudian pada 
banyak ayatnya Allah selalu mengingatkan manusia untuk selalu ber`amar ma`ruf 
nahi munkar.


Bila kita mengingat ajakan untuk selalu ber`amar ma`ruf nahi munkar, maka kita 
akan terbawa pada sebuah kegiatan yang juga seharusnya memberikan nilai pahala 
tersendiri yaitu berda`wah. Maka, saat mendengar kata-kata berda`wah, jangan 
pernah dibayangkan dalam benak kita bahwa kegiatan yang satu ini hanya terpaku 
pada kegiatan ceramah, ta`lim, wirid, tasqif, daurah atau bahkan kultum semata. 
Sebab, dalam banyak ayat ternyata Allah selalu mengingatkan agar kita bisa 
memenuhi proses mengajak pada kebaikan dan mencegah pada keburukan. Sehingga, 
kita akan memahami bahwa sebenarnya berda`wah adalah bagaimana kita bisa 
mengintegralkan desah nafas kehidupan untuk selalu mengingat hakikat 
penghambaan yang sebenarnya.


Para ulama sepakat bahwa definisi umum tentang da`wah adalah kegiatan menyeru 
manusia kepada jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik sehingga 
mereka yang dida`wahi mengingkari segala bentuk pengabdian kepada selain Allah, 
lalu mereka mengimani Allah, keluar dari kegelapan sistem hidup jahiliyah 
menuju terangnya Islam. Ayat-ayat yang menjadi dalilnya banyak sekali. Beberapa 
diantaranya adalah Surat An Nahl ayat 125, Ali Imran : 104, Ali Imran : 110, Al 
Maidah : 2, dan sebagainya.


Akan tetapi, semakin semakin hari semakin dibutuhkan tenaga yang luar biasa 
untuk dapat memberi pemahaman menyeluruh pada setiap orang akan hakikat da`wah 
yang sebenarnya. Banyak hal yang bisa dijadikan alasan seseorang untuk tidak 
ikut ambil bagian dalam barisan orang-orang mulia ini. Permasalahan kepahaman, 
minimnya ilmu, kurangnya pengalaman, keluarga yang tidak mendukung, bisa 
menjadi salah satu faktornya.


Belum lagi bila pada akhir-akhir ini ternyata ummat Islam sendiri dihadapkan 
pada kondisi dilematis. Tudingan teroris, tak bisa diajak kompromi sampai 
sebutan militan garis keras, semakin menekan keinginan seseorang untuk 
menambatkan hatinya dalam berda`wah.
Padahal, bila kita belajar pada shirah nabawiyah (sejarah nabi), lebih banyak 
sebutan pedas yang semakin hari semakin meninggi menempel pada diri kaum muslim 
saat itu. Mulai dari sebutan orang gila sampai tukang sihir. Hal ini wajar, 
sebab salah satu ciri da`wah adalah sedikit pendukungnya, namun banyak 
penentangnya.





Ada beberapa keutamaan berda`wah yang harusnya dapat menjadi motivasi bagi 
kegiatan amal kita.


Pertama da`wah merupakan sebuah kenikmatan terbesar yang Allah berikan kepada 
kita (a`zhomu ni`amillah). Betapa tidak, dengan menyeru seseorang kepada 
kebaikan, orang yang tadinya bergelimang dengan dosa dapat diselamatkan melalui 
perantaraan kita. Artinya, ia telah mendapatkan hidayah Allah dengan usaha 
maksimal yang kita berikan. Sehingga, bila mengacu pada hadits Rasulullah, 
orang yang telah berhasil mengantarkan seseorang pada nikmatnya hidayah dia 
telah mendapatkan nikmat yang lebih baik dari dunia dan seisinya.


Dengan berda`wah kita telah menjadikan Allah ridha akan segala apa yang kita 
perbuat, Segala langkah kita akan dimudahkan. Walau terkadang di mata manusia 
kita seakan-akan hidup terlunta-lunta, namun sesungguhnya di sisi Allah telah 
dijanjikan banyak kenikmatan yang tak terbatas. Belum lagi ketika kita 
berda`wah, kecintaan kepada Allah (mahabbatullah) akan semakin meningkat, 
terpeliharanya iman dan juga mendapatkan nikmat iman yang luarbiasa.


Mushab bin `Umair pada zaman rasul adalah seorang sahabat yang bergelimang 
dengan harta. Parasnya yang menawan ditambah wangi parfumnya yang bisa 
dideteksi dari jarak puluhan meter, membuat gadis-gadis Quraiys kembang-kempis 
melihatnya.




Tetapi, apa yang terjadi ketika ia telah tersentuh dengan da`wah Islam. Segala 
apa yang dimiliki sebelumnya ia tinggalkan semua. Bahkan sampai harus membuat 
ibu kandungnya rela untuk memutuskan hubungan hanya karena beda prinsip hidup. 
Yang lebih memiriskan hati adalah ketika ia syahid di medan perang. Kain 
penutup tubuhnya tidak mencukupi untuk menyelimuti seluruh bagian tubuhnya. 
Ketika ditarik ke atas kepa, bagian kakinya tersingkap. Dan sebaliknya ketika 
kaki yang ditutupi, maka bagian kepala akan tersingkap.
Demikianlah adanya kenikmatan dari Allah apabila telah hadir pada jiwa 
seseorang. Segala bentuk kejayaan duniawi akan ditinggalkan seluruhnya. 
Kenikmatan yang pernah dirasakan digantikan dengan yang lebih baik oleh Allah 
SWT. Tidak ada target duniawi yang diharapkan. Apalagi pujian dari manusia.


Keutamaan yang kedua adalah orang-orang yang berda`wah telah melakukan amal 
yang terbaik (ahsanul `amal). Dengan berda`wah seseorang tidak akan menjadikan 
keshalehan yang ia miliki hanya terbatas untuk seorang. Melainkan juga miliki 
orang lain. Sebab konsep berda`wah yang baik adalah bagaimana ia yang telah 
shaleh mampu memperbaiki orang lain. Sembari memperbaiki diri sendiri, juga 
mengajak orang lain untuk menerima kebaikan tersebut.
Merujuk pada Al Qur`an Surat Al Fushilat ayat 33. Di sana jelas dikatakan bahwa 
da`wah adalah amal yang paling utama dari sekian banyak amal yang ada.


Ketiga, da`wah adalah tugas utama dari rasul (mihnatur rasul). Oleh sebab itu 
bila kita memang mengakui diri sebagai seorang muslim yang sejati, sudah 
selayaknya mengikuti apa-apa yang telah dicontohkan rasul. Dengan berda`wah 
kita telah memulainya.
Syaikh Mushthafa Masyhur mengatakan dalam buku Fiqh Da`wahnya bahwa jalan 
da`wah adalah jalannya para nabi dan orang shaleh setelahnya. Kerja rasul tidak 
lain dan tidak bukan melainkan hanya berda`wah. Oleh karena itu ketika 
seseorang telah komitmen (iltizam) terhadap jalan da`wah, maka ia telah 
mendapatkan keutamaan yang juga telah diberikan kepada nabi, para sahabat, 
sahabiyah, dan orang-orang beriman sesudahnya.
Yang juga harus kita sadari, dalam da`wah kita tidak mementingkan tampilan 
fisik. Ada hal yang lebih utama dari itu, yaitu substansi. Sehingga, ketika 
mulai menda`wahi seseorang kita memang benar-benar memberikan transfer ruhiyah 
dan keimanan. Bukan sebaliknya, justru mengedepankan tampilan dibandingkan isi. 
Hasilnya, banyak ditemui dalam masyarakat kita yang katanya berperan sebagai 
seorang penda`wah (da`i) dianggap sebagai pelawak ketimbang sebagai seorang 
ulama.


Keutamaan yang terakhir adalah kita akan mendapati kehidupan yang diridhai 
Allah SWT (al hayatu al mubarak). Hidup ini akan selalu penuh dengan 
keberkahan. Beberapa indikasi yang didapatkan adalah kehidupan yang dicintai 
Allah SWT, mendapatkan cinta Allah, rahmatNya, pahala yang tak pernah terputus 
dan juga pahala yang selalu dilipatgandakan.
Jangan pernah berharap ketika telah meng-azzam-kan diri dalam da`wah kita akan 
mendapat keuntungan dalam hidup. Yang didapat justru sebaliknya. Tantangan, 
cobaan, cacian bahkan ancaman nyawa melayang adalah bumbu yang akan menempa 
seorang da`i. Tantangan seperti itulah yang sebenarnya akan membuat pribadi 
seorang da`i menjadi dewasa.


Pada akhirnya, marilah kita membenahi masyarakat yang ada saat ini dengan 
pemahaman da`wah yang komprehensif. Jangan pernah berharap akan mendapati 
masyarakat yang memilki kesadaran berislam yang kuat bila kita tidak pernah 
mengubahnya dari sekarang.. Untuk itu, mari kita perbaiki diri sendiri sembari 
mengajak orang lain agar menuju terangnya cahaya Allah. Tidak ada yang tidak 
bisa dilakukan dalam berda`wah selagi kesemua itu untuk mengharap ridha Allah 
SWT. Maka, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang paling kecil, dan mulai 
sekarang juga.
Fastabiqul khairat. Wallahu a`lam bishshawab.



Kirim email ke