PERANAN
AKIDAH  6
PERANAN
AKIDAH DALAM MEMBINA MANUSIA
Ilmu dan
Iman

Akidah adalah tali penghubung antara ilmu dan iman. Oleh karena itu, ilmu tanpa
imam bagaikan tanaman yang tak berbuah. Ilmu mengajak kepada iman dan iman
menganjurkan para pengikutnya untuk mencari ilmu. Memisahkan keduanya akan
membuahkan akibat-akibat yang buruk. Syahid Murtadla Mutahhari menulis:
“Pengalaman-pengalaman sejarah telah membuktikan bahwa memisahkan ilmu dari
iman telah melahirkan bahaya-bahaya yang tidak dapat dihindari. Oleh karena
itu, iman harus berada di bawah lentera ilmu sehingga iman itu akan
terselamatkan dari kepercayaan-kepercayaan tahayul. Dengan memisahkan ilmu dari
iman, iman itu akan kering, tercemari oleh fanatisme buta, kegoncangan jiwa dan
menahan laju pemiliknya (menuju tingkatan-tingkatan spiritual). Muslimin yang
tidak berilmu akan diperalat oleh munafikin, sebagaimana realita pahit ini
dapat kita saksikan pada kaum Khawarij di masa permulaan Islam dan masa-masa
setelah itu dengan bentuk yang beraneka ragam (meskipun esensinya sama). Dan
ilmu tanpa iman bagaikan pelita di tangan pencuri yang digunakan untuk mencuri
barang berharga di tengah malam. Atas dasar ini, seorang alim yang tidak
beriman, tidak berbeda sedikitpun dengan orang bodoh, baik ditinjau dari sisi
perangai atau esensinya”.[85]

Oleh karena itu, ilmu memerlukan iman sebagaimana badan membutuhkan ruh. Karena
ilmu dengan sendirinya tidak akan mampu untuk membina manusia sempurna. Ilmu
hanya mampu mendidik sebagian sisi dari sekian banyak sisi yang dimiliki oleh
manusia. Mungkin ilmu tersebut mampu untuk menjadikannya berprestasi dalam
segala bidang keilmuan, akan tetapi ia tidak akan mampu untuk membinanya
menjadi manusia ideal. Ilmu hanya mampu membina manusia dari satu sisi, yaitu
sisi materi. Sementara iman dapat membentuk kepribadian manusia dengan berbagai
dimensinya.

Bangsa Eropa berbangga diri dengan ilmu pengetahuan sehingga mereka menuhankan
ilmu pengetahuan tersebut. Hanya saja mereka tidak menciptakan ritus-ritus
keagamaan khusus untuk ilmu pengetahuan itu. Oleh karena itu, ketika mereka
melihat agama terfokuskan pada hal-hal yang ghaib, mereka menganggapnya suatu
realita yang tidak ilmiah.

Atas dasar ini, muncullah satu keinginan kuat di kalangan mereka untuk
memisahkan agama dari ilmu pengetahuan. Dan ini adalah satu realita yang tidak
dapat diterima oleh agama Islam. “Dalil nyata atas adanya korelasi yang kuat
antara agama dan ilmu pengetahuan (dalam agama Islam) adalah ajakan agama ini
untuk menggali ilmu di setiap kesempatan dalam umur kita dan penghargaannya 
terhadap
ilmu pengetahuan dan ulama. Dan jika dalam perjalanan sejarah pernah terjadi
pertentangan antara ilmu pengetahuan dan agama, sebagaimana yang pernah dialami
oleh agama Kristen, hal itu tidak ada hubungannya dengan agama. Jikapun pernah
terjadi, agama itu bukanlah agama yang otentik”.[86]

Yang sangat disayangkan, ada suara-suara sumbang (di antara para pemeluk agama
sendiri) yang mengumandangkan pemisahan antara agama dan ilmu pengetahuan.
Dengan alasan, bangsa Eropa ketika memisahkan diri dari agama, mereka mengalami
kemajuan pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban. Sementara kita,
karena kita berpegang teguh dengan tali agama, akibatnya kita ketinggalan
zaman.

Hal itu mungkin timbul dari ketidakmampuan akal mereka untuk memahami tugas ilmu
pengetahuan yang sebenarnya. Ilmu pengetahuan adalah satu sarana untuk
menyingkap realita-realita tematis (al-haqaiq al-maudlu’iyyah) dan menjelaskan
kenyataan secara netral dan jeli, tidak lebih dari itu. Atau hal itu timbul
dari kebodohan mereka tentang agama Islam yang senantiasa mengajak kita untuk
selalu menggali ilmu pengetahuan.

Akan tetapi, orang-orang yang memiliki pendapat semacam itu pada umumnya adalah
antek-antek bayaran yang selalu siap mempropagandakan statemen-statemen
musuh-musuh Islam di mata dunia. Dan mereka lupa akan akibat jelek yang akan
terlahirkan dari pemisahan agama dari ilmu pengetahuan ini.

“Contoh yang paling jelas dari (akibat pemisahan agama dari ilmu pengetahuan)
itu adalah zaman kita sekarang ini. Satu zaman yang telah mencapai kemajuan
dalam bidang ilmu pengetahuan dan materi, sementara budaya saling membunuh
secara liar dan percekcokan telah memasyarakat. Sebagai akibat, putuslah
korelasi antar manusia dan ketakutan melanda di mana-mana. Di samping itu,
masyarakat insani telah berubah dalam memandang tujuan hidup. Tujuan hidup yang
utama -menurut mereka - adalah harta dan kesenangan hidup dengan segala
coraknya. Hal inilah yang mengakibatkan merajalelanya dekadensi moral dan
permainan seks bebas yang binatang-binatang di sekitar kitapun muak melihat
kenyataan ini”.[87]

Melihat kenyataan ini, akidah Islam memiliki peranan yang sangat besar dalam
mendidik dan membina manusia. Karena akidah memandang perlunya keselarasan
antara peranan agama dan ilmu pengetahuan dalam membina kepribadian manusia,
dan dengan memisahkan kedua unsur penting itu, manusia laksana jarum kompas
yang bergerak menunjuk arah Utara dan Selatan tergantung di mana kompas itu
diletakkan. Atas dasar ini, ia sangat memerlukan satu kekuatan yang mampu 
mewujudkan
revolusi dalam dirinya dan membekalinya dengan teori-teori etika murni yang
dapat merealisasikan kemanusiaannya. Dan ilmu pengetahuan tanpa bantuan agama
tidak akan mampu mewujudkan hal itu.


[85] Al-Insan wal Iman, Syahid Mutahhari 1 : 5, cet. Kementerian Penerangan
Islam.

[86] Dauruddin fi Hayatil Insan, Syeikh Al-Ashifi : 69, Darut Ta’aruf cet. 2.

[87] Manhajut Tarbiyah Al-Islamiyah, M. Qutub : 115.

__________________________________________________
Anda Ber-Yahoo!?
Bosan dengan spam?  Mel Yahoo! mempunyai perlindungan spam yang paling baik
http://my.mail.yahoo.com 

Kirim email ke