Title: Republika Online : http://www.republika.co.id
26 Oktober 2004

Kualitas Puasa

Laporan :FIRDAUS

Saat ini kita sudah melaksanakan puasa Ramadhan selama beberapa hari. Bagi banyak Muslim, puasa Ramadhan tahun ini merupakan puasa untuk yang kesekian kalinya. Alangkah baiknya, puasa yang telah dilakukan tersebut dievaluasi agar diketahui kualitas pelaksanaannya.

Ada tiga tingkatan kualitas puasa yang dilakukan Muslim. Pertama, puasa yang dilakukan kebanyakan orang atau disebut shaum al-umum. Biasanya, puasa yang dilakukan kelompok ini sekadar menahan diri dari makan, minum, melakukan hubungan seksual, dan segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Kedua, puasa orang-orang saleh atau disebut pula shaum al-khusus. Puasa yang dilakukan kelompok ini bukan semata menahan lapar dan haus, tetapi diiringi dengan memuasakan diri mereka dari segala perbuatan dosa dan hal-hal yang bisa merusak puasa.

Ketiga, puasa para rasul, siddiqin, dan muqarrabin. Puasa ini disebut dengan shaum khusus al-khusus. Mereka yang termasuk kelompok ini berhasil memuasakan diri mereka dari keinginan yang bersifat duniawi dan memikirkan keduniaan serta hati mereka selalu ingat kepada Allah SWT.

Selaku orang yang berusaha menjadi Muslim sejati, kita tentu berupaya agar puasa Ramadhan tahun ini bergeser dari puasa kebanyakan orang menuju puasa orang saleh, meskipun belum mencapai kualitas puasa para rasul. Untuk itu, ada beberapa hal yang harus dipenuhi, antara lain, kita harus menundukkan pandangan dari melihat yang tercela, dilarang agama, dan melihat segala sesuatu yang melalaikan hati dari ingat kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda, ''Pandangan mata kita bisa dimasuki oleh unsur iblis laknatullah. Siapa yang mampu mengendalikan pandangannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah rasakan kepada orang itu manisnya iman di dalam hatinya.''

Kita dituntut pula memelihara lisan dari ucapan yang tidak dibolehkan agama, seperti bohong, bergunjing, dan fitnah. Lisan digunakan hanya untuk mengucapkan perkataan yang baik, seperti zikir dan membaca Alquran. Daripada mengucapkan kata-kata kotor dan dilarang agama lebih baik diam, seperti sabda Rasulullah SAW, ''Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia mengucapkan perkataan yang baik atau lebih baik diam.'' (HR Bukhari).

Untuk mencapai puasa berkualitas, kita perlu mengendalikan pendengaran dari mendengarkan yang makruh dan diharamkan agama. Hal ini diikuti pula oleh upaya menahan dan mengendalikan seluruh anggota tubuh dari melakukan dosa dan melanggar larangan agama.

Selain itu, kita dituntut bersikap sederhana dan tidak berlebih-lebihan ketika berbuka puasa. Ini penting karena orang yang penuh perutnya menjadi berat dan malas beribadah, khususnya mendirikan malam-malam Ramadhan dengan berbagai amalan ibadah. Karena itu, sikap berlebih-lebihan dalam berbuka tidak disenangi Allah.

Puasa Ramadhan seharusnya melatih Muslim untuk merasakan keprihatinan orang-orang miskin yang biasa lapar dan serba kekurangan. Secara matematis pun, dengan berkurang frekuensi dan jadwal makan seharusnya secara ekonomi, pengeluaran selama Ramadhan semakin berkurang. Andaikan melonjak pengeluaran rumah tangga, lebih banyak karena digunakan untuk menyantuni fakir miskin dan kepentingan di jalan Allah.

Dengan memperhatikan beberapa pedoman tersebut, mudah-mudahan puasa kita tahun ini lebih berkualitas dari sebelumnya. Wallahu a'lam.




Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/asp/koran_detail.asp?id=176676&kat_id=14

Terima Kasih, anda telah mengunjungi Group Hidup Muslim

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Moderator, Hidup Muslim



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Reply via email to