Title: Republika Online : http://www.republika.co.id
05 Maret 2005
Kekuatan Istighatsah
A Ilyas Ismail

Diceritakan, pada waktu Perang Badar ketika Rasulullah melihat kaum Muslimin sangat sedikit, sedangkan tentara kafir Quraisy sangat banyak, beliau segera menghadap kiblat dan berdoa kepada Allah SWT dengan penuh kesungguhan, hingga selendangnya jatuh dari pundaknya tanpa terasa. Lalu, Abu Bakar meletakkannya kembali di pundak Nabi. Namun, Nabi terus saja berdoa, sampai-sampai Abu Bakar berbisik kepadanya, ''Cukup, cukup, Allah pasti mengabulkan doa Tuan.''

Lalu, tak lama kemudian, diturunkan kepada Nabi wahyu yang mengabarkan kemenangan dan dikabulkannya doa beliau seperti terbaca dalam ayat ini: ''Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: 'Sesungguhnya aku akan mendatangkan balabantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut'.'' (Al-Anfal: 9).

''Memohon pertolongan'' dalam ayat di atas, Alquran menggunakan kata istighatsah (tastaghitsu). Istighatsah berasal dari kata al-ghauts yang berarti al-nashr (pertolongan). Secara umum istighatsah menunjuk pada usaha seseorang untuk memperoleh pertolongan.Dalam Alquran, usaha orang Israel untuk memperoleh bantuan Nabi Musa sewaktu bertengkar dengan orang Mesir dinamai istighatsah (Al-Qashsash: 15). Begitu juga, usaha ibu-bapak yang bermohon kepada Allah agar anak mereka beriman, dinamakan pula istighatsah (Al-Ahqaf: 17).

Secara syar'i, istighatsah bermakna kegiatan zikir dan doa untuk memohon bantuan dan pertolongan dari Allah SWT, terutama dalam menghadapi musuh atau dalam menghadapi bencana nasional dan malapetaka besar. Sebagai bagian dari zikir dan doa, istighatsah merupakan ibadah murni dan tergolong ritual keagamaan yang bersifat sakral. Bahkan, istighatsah memperlihatkan semangat tauhid yang sangat tinggi di mana seseorang memusatkan diri kepada Allah dan memohon hanya kepada-Nya, sesuai prinsip, ''Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.'' (Al-Fatihah: 5).

Istighatsah diakui pakar tafsir Rasyid Ridha sebagai salah satu faktor kekuatan dan kemenangan yang bersifat rohani. Tapi, menurut Ridha, istighatsah tidak boleh menafikan sebab-sebab lahiriyah yang secara rasional harus dipersiapkan. Di samping itu, seseorang harus tahu pula posisinya, adakah ia dalam posisi ikhtiar (maqam al-ikhtiyar) atau dalam posisi tawakal (maqam al-tawakkul). Ini berarti usaha dan doa harus selalu menyertai kehidupan kaum Muslim. Sufi besar Sheikh Abdul Qadir Jaelani pernah memberi nasihat agar kaum Muslim tidak hanya tawakal (berdoa) dalam arti pasrah tanpa usaha dan tanpa memperhatikan sebab-akibat.

Dalam bahasa modern, sufi besar itu hendak menyatakan bahwa alam ini tidak bersifat absolut dan deterministik (kepastian), tetapi relativitas dan probabilitas (serba kemungkinan). Dalam alam ini selalu ada ''ruang kosong'' yang tidak dapat diterangkan oleh hukum sebab-akibat. Di situlah agaknya tempat mukjizat, karamah, dan kekuatan doa dan istighatsah. Wallahu a'lam.




Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/Kolom_detail.asp?id=189919&kat_id=14

Terima Kasih, anda telah mengunjungi Group Hidup Muslim

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Moderator, Hidup Muslim



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
Children International
Would you give Hope to a Child in need?
 
Click Here to meet a Girl
And Give Her Hope
Click Here to meet a Boy
And Change His Life
Learn More


Yahoo! Groups Links

Reply via email to