Makalah ini dibacakan pada acara Bedah Buku Maling Republik, Kampus FPBS, 
27 November 2005


Menulis Tanpa Luka yang Menanti Sembuh

Oleh I Wayan Artika


Mungkin pembicara lain berbicara dengan baik dari dalam diri Maling 
Republik. Saya berbicara dari luar Maling Republik.


        Saya tidak membicarakan secara langsung dan mendalam novel Maling 
Republik. Saya mau cerita kepada hadirian soal yang sepele.Anggap saja 
keterdekatan saya dengan novelis Sunaryono Basuki K.S. Hal itu saya rasa 
dari sudut saya sendiri. Di Kampus IKIP Negeri Singaraja, beliau 
dipanggil Pak Bas. Saya menggunakan sebutan itu pula dalam tulisan ini. 
Saya simpulkan, satu-satunya sastrawan Indonesia yang paling saya kenal 
akrab adalah Pak Bas. Banyak sastrawan lain juga saya tahu tetapi hanya 
sepintas.
        Saya akan bercerita beberapa hal: Siti Nurjanah, dedikasi Pak 
Bas, motivasi itu, semangat itu, perjuangan seorang penulis, Kampus IKIP 
yang seolah tidak mengapresiasinya dengan baik: apa karena ia orang Jawa? 
Apa karena ia novelis? Maaf dari segi ini sering kita menghancurkan 
negeri imajinasi dalam pikiran kita, seperti apa yang dikatakan oleh 
Benedict Anderson dalam Komunitas Terbayang. Negeri imajinasi itu 
adalah “Indonesia”. Di Bali sendiri muncul “lawan” ”Indonesia”, yaitu 
ajeg Bali.  
        Saya juga akan ngomongin ala kadarnya mengenai perjuangan seorang 
pembaca dalam menghadapi bacaannya sendiri.Dalam hal ini saya. Bisa gagal 
jadi pembaca bisa pula sukses jadi pembaca.

Siti Nurjanah
        Antara 1997-2000 saya kuliah di UGM, di Fakultas Ilmu Budaya 
(nama baru untuk Fakultas Sastra). Betapa tersanjung rasanya diri saya 
ketika Profesor Dr. Rachmat Djoko Pradopo membicarakan Siti Nurjanah. 
Mengapa? Mungkin rasa dekat itu. Pak Bas bekerja di Kampus IKIP Negeri 
Singaraja dan saya juga bekerja di sini. Topik pembicaraan kali ini 
adalah alur novel ini dan disejajarkan dengan alur Atheis (Achadiat 
Kartamihardja). Saya tidak merasa malu karena saya telah membaca novel 
ini. Rasanya saya harus membaca ulang novel tersebut. Dalam studi sastra, 
satu novel lumrah dibaca beberapa kali. Pembacaan kedua saya terhadap 
Siti Nurjanah agak lain dengan pembacaan pertama. Kali ini saya merasa 
lebih cermat. Kali ini saya rasa agak teliti. Kali ini saya menjiwai.
        Waktu liburan semester saya kembali ke Singaraja dan memenuhi 
keinginan saya, bertemu Pak Bas. Saya bercerita mengenai Siti Nurjanah 
yang dikopi oleh mahasiswa. Saya bercerita bahwa novel itu bacaan wajib 
mahasiswa PPS (Ilmu Sastra) UGM. Pak Bas gembira sekali. 
        Di pihak lain, karya yang paling berkesan buat saya adalah Maut 
di Pantai Lovina. Kisahnya dimulai pagi ketika telepon itu berdering, 
membangunkan Kapten Diantha. Sejak itu saya berkenalan dengan karya-karya 
lainnya: Di Sudut Hyde Park, Scrap Merah Hati, Hunus, Topeng Jero Ketut, 
Teman Seperjalanan, dan lain-lain.  

Dedikasi Pak Bas
        Ketika saya tamat S2, ketika saya sedikit PD, mungkin karena 
tambahan ilmu, saya mulai berani membuka diskusi dengan Pak Bas. Yang 
saya tangkap adalah dedikasinya di dunia menulis. Begitu besar. Yang saya 
maksud dengan dedikasi adalah stamina menulis. “Pak, saat ini sedang 
menulis apa?” Pertanyaan ini selalu saya ajukan. Bagi saya telah jadi 
salam. Rutin. Saya sampaikan setiap bertemu. Tapi tidak demikian bagi Pak 
Bas. Baginya pertanyaan itu amat serius. Beliau selalu menjawab. “Saya 
sedang menulis ….” 
        Terkadang terjadi diskusi yang panjang lebar. Sebenarnya tidak 
diskusi betul karena saya hanya mendengar. Di sini saya mendapat 
informasi-informasi baru. Misalnya buku apa yang terbit bulan-bulan itu. 
Saya tahu, apa arti kirmizi, dari Beliau. Ini contoh kecil.

Motivasi
        Pak Bas selalu memotivasi anak-anak muda agar berkarya (menulis). 
Secara tulus Beliau sering saya tangkap kecewa. Beliau menyayangkan rekan-
rekan yang potensial yang dinilainya mandeg. Atau agak terlalu banyak PD. 
Saya menikmati motivasi seperti itu. Walaupun jarang, Pak Bas mau juga 
bertanya, apa yang sedang saya kerjakan (menulis apa). Saya tidak selalu 
bisa menjawab dengan pasti. Terkadang saya jawab dengan keluhan 
ini. “Pak, ketika saya selesai menulis satu cerpen, saya tidak bisa lagi 
cepat menulis.” Dalam hati saya berpikir betapa lama sekali luka yang 
ditorehkan oleh proses menulis itu saya rasakan. Beberapa minggu, saya 
sesungguhnya belum tamatkan satu tulisan. Akan tamat, akan luka sembuh, 
ketika saya memulai tulisan baru, dengan luka baru. Tidak demikian halnya 
dengan pak Bas. Beliau menulis tanpa luka yang menanti sembuh. 
        Saya tahu teori Julia Kristeva soal kepengarangan dan teks. 
Semesta ini adalah teks. Pengarang adalah talang air. Jadi, betapa hebat 
kualitas talang air tersebut. Yang saya maksud dengan talang air di sini 
adalah Pak Bas. Kosep kepengarangannya ada pada sang cerita. Pak Bas 
sangat tanggap atau peka. Dari berbincang-bincang di Lobi FPBS saya tahu 
bagaimana sebuah cerpen menjadi cerpen, pada diri Pak Bas. Tentu tidak 
sekadar menulis atau mengetik. Ada beberapa contoh yang perlu saya 
sebutkan. Kasus dukun santet di Banyuwangi beberapa tahun silam 
melahirkan cerpen Perempuan Cantik Menebar Harum Bunga. Demikian pula 
sepasang kera yang berjalan dari Pulaki ke Ponjok Batu, waktu lalu. 
Cerpen ini, masuk Cerpen Pilihan Kompas 2004. Di kelas, Dayu mungkin 
menangis dan di wajah itu Pak Bas membayangkan Tanaka. Pak Bas, lewat 
contoh-contoh tersebut, sangat produktif. Beliau membaca banyak buku. 
Beliau menulis banyak buku.

Perjuangan Seorang Penulis
        Bagi Pak Bas, menulis sama sekali bukan perjuangan. Yang saya 
maksud dengan perjuangan di sini adalah hal-hal teknis dalam menulis 
(memilih topik, menggunakan bahasa, menyusun komposisi, dan lain-lain). 
Ketika karyanya semakin bertambah, publikasi di koran saja tidak cukup. 
Tidak baik secara dokumentasi. Mudah hilang. Maka di sinilah pengarang 
berjuang, mencari pabrik atau penerbit. Pengarang sekaliber Pak Bas pun 
tidak mudah mendapatkan penerbit. Di sini ia berjuang. Dilakukan dengan 
gigih. Pak Bas tidak mau diam. Tidak mau menunggu penerbit mengontaknya. 
Setiap naskahnya ia tawarkan ke berbagai penerbit. Ada yang sukses dan 
ada pula yang gagal. Ini pelajaran berharga bagi penulis atau pengarang 
juga calon-calon pengarang. 



Kampus IKIP yang seolah tidak mengapresiasinya dengan baik: apa karena ia 
orang Jawa? Apa karena ia novelis?

        Saya yakin hal ini bukan karena Pak Bas Jawa. Minimnya apresiasi 
warga Kampus IKIP Negeri Singaraja terhadap Pak Bas disebabkan oleh 
keterbatasan wawasan. Sastra adalah barang kelas dua. Yang dipilih untuk 
menakarnya adalah ilmiah atau tidak ilmiah. Kampus tidak terbatas pada 
hal-hal ilmiah. Di kampus juga ada teknik dan seni. Teknik, anehnya 
selalu diartikan milik orang-orang fisika. Dikira orang-orang sosial 
tidak memakai teknik. 
        Karena itu, rasanya tidak ada penghargaan yang wajar kepada Pak 
Bas. Paling hanya dapat mobil pinjaman plus sopir, ketika Pak Bas harus 
menghadiri undangan. Mesti beli bensin, mesti kasi sopir tip, kasi makan, 
dan lain-lain. Sering pula, sisa kursi di mobil dihadiahkan Pak Bas untuk 
rekan-rekan lainnya. Bisa pula mahasiswa. Dengan demikian, warga IKIP 
bisa hadir lebih banyak di suatu forum.Saya sering ikut Pak Bas. Saya 
membayangkan, saya tengah mengiringi perjalanan seorang bagawanta. 
        Pikiran yang merendahkan teks sastra dilakukan oleh (justru) 
beberapa guru besar di Kampus IKIP Negeri Singaraja. Saya dengar hal ini. 
Hal ini terjadi ketika Pak Bas mau usul ke guru besar. Novelnya yang 
telah terbit katanya hanya novel. Bikin malu juga. Bukan karena saya 
orang sastra. Tetapi komentar itu kan menunjukkan kualitas diri seorang 
guru besar? Kok sepele dan sempit sekali. Saya, meski orang sastra, 
membaca juga buku Darwin, The Origin of Species. Tapi, apakah ada anak 
MIPA yang baca Saman? Apakah guru besar di kampus ini baca Arus Balik-nya 
Pramoedya Ananta Toer? Mungkin tak banyak seperti Profesor Nyoman Tirta. 
Suatu kali datang ke dan berdiskusi soal Chomsky.  
        Tujuan utama saya dari acara ini adalah mengetuk hati warga 
kampus bahwa aset IKIP Negeri Singaraja adalah orang-orang seperti Pak 
Bas. Jadi tidak semata-mata lab komputer, tidak semata-mata jaringan 
intranet yang ngadat, tidak semata-mata taman kampus. Itu semua tidak 
dilihat di nasional. Yang dilihat di nasional adalah karya dan nama 
tenar. Satu caranya adalah lewat kepengarangan Pak Bas. Sayang, warga 
kampus ini terlalu banyak yang tidak bisa menghargainya.
        Saya optimis, di tingkat fakultas, Pak Bas bisa lebih dihargai 
lagi. Tidak cukup hanya beli buku-buku Pak Bas. Saya kira harus ada 
wujudnya. Semacam penghargaan untuk novelis ini. Jika IKIP mau, mungkin 
lebih bagus. Mengapa hanya ada pengenalan guru besar? Setelah upacara 
selesai, apa kabar guru besar dan quo vadis? 
        Lewat forum ini, saya usulkan agar FPBS berani bikin semacam 
anugrah bahasa dan seni. Calon pertama yang saya usulkan untuk menerima 
adalah Pak Bas. Tak perlu banyak, mungkin Rp 5.000.000. Hal ini dilakukan 
tiap tahun dan lewat seleksi, bersifat nasional. Saya kira banyak dimensi 
positifnya. Dari mana dananya? Ya, dianggarkan lewat usulan dana di FPBS. 
Gagasan ini, segi teknisnya, harus digodok lagi. Mudah-mudahan Bapak 
Dekan FPBS setuju atau tertarik.
   
Perjuangan Pembaca
        Siapa bilang membaca itu mudah? Terkadang membaca adalah 
perjuangan. Perlu stamina dan daya untuk membangun minat. Hal ini saya 
alami dalam membaca Maling Republik. Bagian awal novel ini, bagi saya 
sangat sulit saya masuki. Hal ini saya kira hanya soal selera. Saya tidak 
berselera. Saya kira perjuangan pembaca adalah usaha membangun selera. 
Jika demikian halnya, betapa sulitnya jadi pengarang jika untuk memenuhi 
setiap selera pembaca. 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/iEagnA/LpQLAA/HwKMAA/igXolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

----------------------------------------------------
Mail Archives: http://groups.yahoo.com/group/himasad/

Untuk keluar dari keanggotaan milis:
kirim e-mail kosong ke alamat [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/himasad/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke