*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
{ Sila lawat Laman Hizbi-Net - http://www.hizbi.net }
{ Hantarkan mesej anda ke: [EMAIL PROTECTED] }
{ Iklan barangan? Hantarkan ke [EMAIL PROTECTED] }
*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
PAS : KE ARAH PEMERINTAHAN ISLAM YANG ADIL
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tentera Allah Turun di Ambon
Pasukan kafir itu lari terbirit-birit. Ribuan
jundullah cilik menyerang mereka dengan keberanian
luar biasa. Tragedi Ambon telah lewat sebulan. Namun,
asapnya masih belum pupus benar. Meski berangsur
pulih, denyut kehidupan di Ambon masih belum normal.
Apalagi, darah masih terus tumpah di beberapa tempat
di sekitar Kepulauan Maluku. Lagi-lagi, seperti pada
tragedi Iedul Fithri Kelabu di Ambon, korbannya
kebanyakan juga kaum muslimin. Seperti diketahui,
dalam prahara Ambon, kaum muslimin menjadi korban
kebiadaban kaum kafirin. Mereka dibantai dan disiksa
dengan cara amat keji. Sejumlah kaum muslimah
diperkosa. Sementara puluhan ribu orang jadi pengungsi
lantaran rumah dan toko mereka dibakar. Belum lagi
belasan masjid yang dihancurkan atau dibakar. Namun
tak banyak yang tahu, di tengah segala kengerian itu
terjadi peristiwa-peristiwa yang menakjubkan. Allah
swt menurunkan bala tentara-Nya ketika umat Islam
nyaris jadi korban. Firman Allah swt yang turun saat
perang Badar berkecamuk belasan abad silam, terbukti
di bumi jihad Ambon:
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada
Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya
Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan
seribu malaikat yang datang berturut-turut." (QS
Al-Anfaal: 9).
Kejadian-kejadian menakjubkan itu diceritakan K.H.
Abdul Aziz Arbi, MA, Imam Besar Masjid Jami' Al Fatah
Ambon, kepada wartawan SABILI, M. Lili Nur Aulia dan
Rizki Ridyasmara yang menemuinya Ahad pagi (20/2) di
Jakarta. Dalam wawancara selama satu setengah jam ini,
Ustadz Abdul Aziz menuturkan kesaksiannya tentang
turunnya bantuan Allah berupa sepasukan mujahidin
cilik berjubah dan bersongkok putih. "Saya terpaksa
mengungsikan istri dan kelima anak saya karena situasi
Ambon yang masih sangat rawan. Tapi insya Allah, saya
akan segera kembali ke sana," tutur alumnus
Universitas Ummul Qura Makkah ini. Berikut uraiannya:
RIBUAN JUNDULLAH CILIK
Pada malam pertama kerusuhan Ambon, 19 Januari 1999
yang bertepatan dengan 1 Syawal 1419 H, saya berada di
rumah bersama keluarga di dalam kompleks Masjid Raya
Al-Fatah. Suasana malam itu terasa amat mencekam. Tiap
setengah jam sekali terdengar tiang listrik dipukul
bertalu-talu�tanda adanya serangan dari pihak Nasrani.
Ibu-ibu dan anak-anak semuanya dicekam ketakutan yang
luar biasa. Para penyerang itu menggunakan berbagai
macam senjata. Mereka berteriak-teriak dengan bengis.
Itu terjadi sepanjang malam. Tak pernah berhenti. Kita
hanya bisa menahan serangan mereka.
Pada malam kedua, saya dijemput dua puluh tentara dari
Kostrad. Saya diberitahu bahwa saya adalah orang
pertama yang akan dibunuh. Saat itu terjadi
penyerangan yang cukup hebat terhadap Masjid Raya
Al-Fatah. Sejak dini hari hingga tengah malam,
orang-orang Nasrani itu menyerang kita secara
bergelombang. Mereka bersenjatakan panah-panah api dan
racun, parang, tombak, batu, kayu, besi, senapan
berburu, bom molotov, hingga bom ikan. Pasukan Muslim
hanya berbekalkan senjata seadanya: parang, kayu,
batu, dan senjata apa saja yang bisa diraih. Ada
kalanya kita mendesak mereka, namun sewaktu-waktu
mereka ganti mendesak kita.
Sekitar pukul 24.00 hingga pukul 01.00 malam waktu
setempat, umat Islam terdesak mundur. Musuh-musuh
Islam itu, Nasrani-Nasrani itu, maju hingga mencapai
pagar Masjid Raya. Mereka benar-benar ingin
menghancur-leburkan Masjid Raya kebanggaan kota Ambon
itu. Di dalam Masjid berkumpul lima ribuan pengungsi
yang kebanyakan terdiri dari ibu-ibu dan anak kecil.
Para penyerang itu tampak sudah sedemikian dekat
dengan pagar Masjid. Beberapa dari mereka bahkan telah
melompati pagar. Umat Islam panik bercampur marah.
Para pengungsi histeris ketakutan. Gambaran kehancuran
Masjid dan pembantaian pengungsi sudah terbayang di
pelupuk mata. Keadaan sudah sedemikian gawat.
Nyaris tanpa harapan.
Entah mengapa, tiba-tiba para penyerang itu berbalik
dan lari terbirit-birit. Kelihatannya mereka sangat
ketakutan. Kita sama sekali tidak menyangka. Sungguh
kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata
mereka menyaksikan apa yang tidak bisa kita lihat. Ini
kita ketahui melalui cerita seorang Nasrani yang
berhasil ditawan: "Saya melihat ribuan kanak-kanak
berusia sekitar sepuluh tahun, memakai baju dan
songkok putih berlari kencang keluar dari dalam Masjid
ke arah kita. Seorang tua berjubah dan bersorban putih
dengan tongkat di tangannya tampak memimpin pasukan
itu. Jumlahnya sangat besar dan keberaniannya
menyerang sangat luar biasa. Itulah yang membuat kami
takut dan berbalik lari meninggalkan Masjid."
Subhanallah... Allahu Akbar!
Itu terjadi pada malam Kamis.
TIUPAN MALAIKAT
Pada malam Jum�at, Masjid Al-Fatah kembali diserang.
Kali ini mereka menyerang dari Jalan Baru�jalan ini
terletak di depan masjid. Dengan memanfaatkan tiupan
angin yang mengarah ke Masjid Al-Fatah, penyerangan
dilakukan dengan membakar beberapa rumah di ujung
selatan Jalan Baru. Mereka menggunakan anak panah yang
menyala. Namun ketika mereka menghujani rumah-rumah
Muslim dengan ratusan anak panah berapi, panah-panah
itu malah jatuh di rumah-rumah Nasrani tetangganya.
Tapi karena saat itu angin bertiup sangat kuat,
rumah-rumah Muslim yang letaknya bersebelahan ikut
terbakar. Api merembet dengan cepat ke arah masjid.
Tiupan angin kian mempercepat rembetan itu. Penduduk
berhamburan keluar menyelamatkan diri ke Masjid
Al-Fatah.
Penduduk Muslim yang laki-laki bertempur di bawah
kobaran api yang membumbung tinggi, menahan gelombang
serbuan kafirin yang berusaha menerobos ke masjid.. Di
masjid, para pengungsi kembali panik. Kaum ibu
berteriak histeris. Anak-anak menangis ketakutan. Hawa
malam itu terasa demikian panas. Bercampur rasa kalut
dan pasrah. Melihat keadaan demikian, saya perintahkan
semua wanita yang ada di dalam masjid mengenakan
pakaian sholatnya.
Saya komandokan mereka bertakbir mengagungkan nama
Allah swt. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Gemuruh takbir kian lama kian kompak dan bergemuruh.
Takbir yang diteriakkan oleh jiwa yang pasrah dan
sungguh-sungguh mengharap pertolongan Allah membahana
hingga ke luar masjid. Warga di Gang Diponegoro dan
Batu Merah yang terletak di dekat Al-Fatah menangis
saat mendengar takbir yang begitu memilukan. Kita
bertakbir dari pukul 23.00 hingga 01.00 malam.
Di malam yang penuh kekalutan itu, orang- orang yang
berada di sekitar Masjid tiba-tiba dikejutkan oleh
sebersit cahaya terang berwarna biru yang jatuh dari
langit. Bola cahaya itu membelah kepekatan malam,
meluncur turun tepat di atas Masjid Raya Al-Fatah.
Entah apa sebabnya, tiba-tiba angin berbalik arah dan
berhembus amat sangat kencang. Yang tadinya bertiup ke
arah Masjid, kini berbalik seratus delapan puluh
derajat menuju Gereja Silo. Seandainya angin masih
tetap meniup ke arah Masjid, bukan tidak mungkin
seluruh rumah Muslim akan habis. Tapi dengan izin
Allah swt angin itu berbalik, dan akhirnya membakar
gereja Silo yang berjarak kurang lebih tiga ratus
meter dari Al-Fatah.
Curangnya Pemda Ambon, khususnya petugas pemadam
kebakaran, mereka telah memarkir dua unit mobil
pemadam kebakaran di samping gereja Silo, namun tidak
di Masjid Al-Fatah. Mereka memadamkan api yang
menjilat gereja Silo. Kita di masjid tetap
mengumandangkan takbir. Itu membuat orang-orang kafir
makin kalap. Mereka kian bengis menyerang kita.
Seorang pengungsi berkata pada saya, "Ustadz, hentikan
takbir. Mereka makin kalap menyerang." Takbir sejenak
kita hentikan. Namun setelah berhenti, mereka tetap
menyerang kita. Takbir akhirnya kita lanjutkan. Kita
kembali menyusun pertahanan. Dengan takbir tersebut,
kita memompa semangat jihad kawan-kawan. Mereka
akhirnya bisa kita pukul mundur. Entah mengapa,
seiring dengan terpukulnya pasukan kafir itu, angin
kembali bertiup sangat kencang menuju gereja Silo. Api
kembali membakar gereja itu. Mobil-mobil pemadam
kebakaran pun berusaha keras memadamkan api kembali.
Itu terjadi pada malam Jum�at, 22 Januari 1999. Kita
tidak bakar gereja, mereka sendirilah yang
membawa-bawa api.
RIBUAN MUJAHIDIN BERJUBAH PUTIH
Pada hari Jum�at, 23 Januari 1999, masyarakat Desa
Hitu - kurang lebih berjarak 25 kilometer dari Ambon -
ingin pergi ke Ambon bergabung dengan Muslim lainnya
membela agama Allah yang telah diinjak-injak kaum
kafirin. Mereka baru mengerti, pengiriman orang-orang
Nasrani dari kampung-kampung ke Ambon sebelum Idul
Fitri ternyata mengandung rencana busuk. Pada Hari
Raya, jumlah Muslimin di Ambon berkurang drastis
karena banyak yang mudik. Sedang orang-orang kafir
bertambah banyak. Itu sebabnya mereka berani menyerang
umat Islam.
Kabar yang beredar di masyarakat Desa Hitu dan
sekitarnya menyebutkan bahwa dalam penyerangan Kamis
malam, Masjid Raya Al-Fatah telah terbakar dan
saya�Imam Masjid tersebut�telah terbunuh oleh
orang-orang Kristen. Kaum Muslimin Desa Hitu itu
berkata, "Kalau Masjid Raya telah terbakar dan Ustadz
telah terbunuh, untuk apa lagi kita hidup! Mari
bersama-sama kita jihad fi sabilillah!"
Di Ambon, jika orang ingin jihad fi sabilillah, mereka
melakukan upacara ritual dulu: mereka mandi
membersihkan segala najis yang mungkin masih melekat
di sekujur tubuh, disusul dengan berwudhu, lalu
mengenakan baju perang berupa jubah putih. Setelah
itu, pasukan jubah putih�dari Desa Hitu, Mamala,
Maurela, dan Wakal�yang berjumlah sekitar empat puluh
orang mulai bergerak. Mereka tidak banyak. Orang yang
sungguh-sungguh siap untuk jihad fi sabilillah
bukanlah orang sembarangan. Mereka harus mengerti
betul apa hakikat jihad fi sabilillah tersebut.
Setibanya di Paso, mereka dihadang barikade pasukan
Brimob. Pasukan Brimob itu memberi tahu bahwa Masjid
Raya Al-Fatah tidak terbakar. Namun pemberitahuan itu
tidak membuat pasukan jubah putih itu surut langkah.
Mereka telah siap berjihad. Karena tidak mau kembali
ke Hitu, akhirnya pasukan Brimob tersebut melepaskan
beberapa tembakan ke arah mereka. Namun aneh, tak
sebutir peluru pun sanggup menembus jubah putih
mereka. Peluru terakhir yang ditembaki malah mental
dan berbalik menuju aparat yang menembaknya. Ini
diakui oleh si penembaknya sendiri.
Anggota Brimob itu menuturkan, "Setelah menembak
mereka, peluru itu langsung mental, berbalik ke saya.
Untung saya cepat menghindar. Setelah itu seluruh
badan ini bergetar hebat. Gemetar. Senjata yang saya
pegang jatuh. Akhirnya saya bilang sama komandan bahwa
mereka ini bukan orang-orang biasa." Dalam penglihatan
pasukan Brimob itu, empatpuluh orang pasukan jubah
putih tampak berjumlah ribuan orang. Empat orang tua
berjubah dan bersorban putih yang duduk di atas empat
kuda putih tampak memimpin pasukan besar tersebut.
Padahal orang-orang Muslim itu tidak melihat
siapa-siapa selain keempatpuluh warga Desa Hitu dan
sekitarnya itu, dan tak satupun yang mengendarai kuda.
Setibanya di pinggiran Ambon, mereka dihadang tentara
lagi. Mereka dinasehati agar kembali saja ke Hitu,
sebab Masjid Al-Fatah tidak terbakar dan Ustadz Abdul
Aziz masih hidup. Setelah mengecek kebenaran berita
itu, akhirnya mereka pulang dengan damai. Dalam
perjalanan pulang ke Hitu, mereka dihadang orang-orang
Kristen. Terjadilah pertempuran hebat. Dalam waktu
singkat seluruh orang-orang kafir itu berhasil
ditumpas. Pertempuran itu menyebabkan hancurnya
seluruh perkampungan kafirin dan sejumlah gereja.
Andai saja pasukan jubah putih itu tidak dihadang dan
diserang, hal tersebut tak akan pernah terjadi. Siapa
menabur angin akan menuai badai.
JUNDULLAH CILIK LAGI
Ada pula kejadian di Belakang Kota, ini nama suatu
perkampungan Arab di Ambon, tempat penjualan kayu.
Pada malam kelima, perkampungan itu juga diserang
musuh. Padahal banyak penghuni kampung tersebut telah
mengungsi. Ketika diserang, Kampung Belakang Kota
waktu itu hanya dihuni beberapa pemuda. Walau
demikian, serangan kaum kafirin itu tidak
menggentarkan pemuda-pemuda Muslim. Mereka melawan
dengan gagah berani sambil meneriakkan takbir.
Disebabkan kalah dalam segi jumlah personil maupun
senjata, lama-kelamaan para pemuda itu terdesak.
Namun, lagi-lagi kejadian aneh terjadi. Para penyerang
yang jumlahnya sangat banyak itu tiba-tiba mundur dan
lari tunggang-langgang.
Esok paginya orang-orang ramai membicarakan hal
tersebut. Dari penuturan para penyerang, tersiar kabar
bahwa mereka mundur disebabkan adanya segerombolan
kanak-kanak kecil berbaju dan bersongkok putih.
Kanak-kanak itu dipimpin seorang tua berjubah serba
putih dan memegang tongkat. Pasukan serba putih itu
menyerang mereka dengan gagah berani. Sama seperti
yang mereka lihat di Masjid Raya Al-Fatah beberapa
malam yang lalu. Mereka berkata, "Kita heran dengan
orang-orang Islam. Kita sudah punya peralatan,
rencana, dan senjata yang begitu kuat, kesiapan yang
lengkap, ternyata itu semua tak sanggup untuk
menghancurkan mereka. Entah, kanak-kanak itu datangnya
dari mana."
Dalam kerusuhan Ambon, target bunuh pertama
orang-orang Kristen itu adalah para ulama, lalu
orang-orang Arab, pemuka-pemuka Islam, yang keempat
barulah BBM (Buton, Bugis, Makasar). Ternyata setelah
�BBM� ini banyak yang mengungsi ke kampungnya,
ternyata orang-orang Kristen itu tetap memerangi
orang-orang Ambon yang Muslim. Ini terjadi di Pelauw.
BBM ternyata bukan sekedar Buton, Bugis, Makasar, tapi
lebih kepada "Bakar, Bunuh Muslim"! Itu pengertian BBM
sekarang ini, sebab hal tersebut terus saja berjalan.
Keadaan di sana masih mencekam, terutama di Paso,
sekitar delapan kilometer dari Kota Ambon.
TRAGEDI BOSNIA TERULANG DI AMBON
Ujian yang dialami kaum Muslimin di Karang Tagepe
tidak kalah beratnya. Rumah dan kampung mereka habis
dibakar orang-orang kafirin. Di sana, menurut mereka,
wanita-wanita Muslimah yang sedang hamil dibelah
perutnya. Lalu dikeluarkan janinnya, dan
dicincang-cincang. Anak-anak kecil yang lari ketakutan
dan berusaha menyelamatkan diri ditangkapi lalu
dilempar ke dalam api yang menyala. Jerit tangis
bocah-bocah mungil itu sangat menyayat hati.
Perlakuan iblis itu dilakukan orang-orang Nasrani di
sana atas nama agamanya. Gadis-gadis Muslimah
diperkosa beramai-ramai. Payudaranya ditoreh tanda
salib dengan parang, lalu dipotong. Setelah puas
barulah dibunuh. Banyak di antara para Muslimah sudah
syahid sebelum dibunuh kaum kafirin. Rasa sakit yang
tak terperikan menghentikan detak jantungnya. Semoga
Allah swt berkenan menerima mereka di jannah seperti
yang dijanjikan-Nya.
Kejadian yang berlangsung di Rumah Sakit Umum (RSU) di
daerah Kudamati juga memilukan. Ketika terjadi
penyerangan di hari pertama, banyak orang Islam
terluka. Mereka dibawa ke RSU di Kudamati. Walau
mereka tahu Kudamati merupakan basis Nasrani, namun
mungkin disebabkan lebih dekat maka mereka ke sana.
Para penyerang itu diberitahu bahwa orang Islam banyak
yang dirawat di RSU tersebut.
Akhirnya orang-orang Nasrani itu menyerang RSU.
KTP-KTP pasien digeledah untuk mengetahui pasien
tersebut Islam atau non-Islam. Jika si pasien Islam
maka langsung dibantai. Ibu-ibu hamil yang ada di
rumah sakit itu pun banyak yang hilang. Mendengar
kejadian tersebut, akhirnya banyak orang yang berobat
ke Rumah Sakit Bersalin (RSB) yang ada di dalam
kompleks Masjid Raya Al-Fatah. RSB Al-Fatah beralih
fungsi jadi Rumah Sakit Umum.
Di hari pertama kerusuhan pula, bertepatan dengan Idul
Fitri 1 Syawal 1419 H, nasib naas menimpa satu
keluarga dengan dua orang anak yang tinggal di Desa
Wayame. Berawal dari suasana gembira lebaran, mereka
silaturrahmi ke rumah salah seorang saudara mereka
yang juga merangkap toko di Pasar Mardika. Pasar itu
kemudian dibakar. Dengan cepat, suasana yang tadinya
gembira berubah drastis menjadi suasana yang sangat
mencekam. Terjadi keributan di Batu Merah, Mardika,
dan tempat lainnya. Akhirnya keluarga ini pun tidak
bisa pulang ke rumahnya di Desa Wayame.
Esoknya, kerusuhan meluas. Tengah malam Pasar Mardika
dibakar. Sang bapak menuntun ibu dan dua anaknya yang
masih kecil-kecil menyelamatkan diri dari kobaran api.
Mereka berlindung di sebuah rumah yang tidak jauh dari
pasar Mardika. Pagi harinya mereka menyempatkan diri
untuk sholat Dhuha dan berdoa agar diselamatkan Allah
swt dari kekalutan ini. Dua jam mereka memanjatkan
sholat dan berdoa, sampai pukul 9.00 pagi. Setelah itu
satu keluarga ini keluar menuju jalan raya. Sang bapak
menggendong anak sulungnya di pundak, sedang ibunya
menggendong si bungsu. Di jalan yang berada di pinggir
laut, suasana sangat kalut dan mencekam. Keluarga ini
berlari kecil menuju arah desanya. Si bapak dengan
tangan terangkat ke atas memegangi anaknya yang duduk
di pundaknya. Tiba-tiba, saat mereka sedang berlari,
dari arah yang berlawanan segerombolan anak muda
memanggil-manggil mereka dengan panggilan yang
bersahabat. Di tangan mereka tergenggam parang,
tombak, dan persenjataan lainnya. Si bapak yang baik
hati ini mendengar panggilan itu dan berbaik sangka,
dikiranya anak-anak muda itu akan menolongnya. Maka
berlarilah keluarga ini mendekat ke mereka.
Dengan terengah-engah keluarga ini menghampiri
anak-anak muda itu. Sebuah pertanyaan kasar tiba-tiba
terdengar dari mereka: "Islam atau Kristen!!?" Dengan
refleks si bapak menjawab, "Islam." Dalam sekejap mata
sebuah parang yang panjang dan tajam disabetkan ke
pinggang si bapak yang tangannya masih terangkat
memegangi anak sulungnya. Si bapak menjerit dan
tersungkur. Anaknya pun jatuh tak jauh dari bapaknya.
Berikutnya terjadilah drama seram yang disaksikan oleh
ibu dan kedua anaknya. Si bapak berlutut dan
mengiba-iba, tangannya terangkat
tinggi-tinggi,"Tolong... jangan lukai saya. Saya tidak
bersenjata..." Tapi jawaban yang diterima malah sebuah
balok kayu yang tepat menghantam kepalanya. Sang bapak
jatuh tersungkur.
Secepat kilat sebilah parang membelah kepalanya,
diikuti puluhan parang dan tombak yang mencincang
tubuhnya. Sungguh pedih penderitaan yang harus dialami
keluarga tersebut. Dengan sigap, sang ibu menggendong
kedua anaknya dan berlari menjauhi tempat tersebut dan
bersembunyi di sebuah gudang hotel. Ia terpaksa
meninggalkan suami tercinta dan ayah kedua anaknya
itu.
Alhamdulillah, mereka selamat
Peristiwa mengenaskan terjadi di sebuah SMEA pada hari
ketujuh setelah kerusuhan. Siswa dan siswi yang Islam
pada waktu itu disuruh bersembunyi oleh guru-guru
mereka yang Kristen, "Hai kamu sekalian sembunyi saja
di satu ruangan. Kalau orang-orang itu tahu akan habis
kalian ini." Akhirnya para siswa-siswi itu bersembunyi
di satu ruangan kelas. Ternyata ada guru lain,
Kristen, yang memberi tahu para penyerang bahwa di
sekolah tersebut ada anak-anak Islam yang tengah
bersembunyi. Akhirnya orang-orang Kristen itu
mendatangi SMEA tersebut dan membantai semua
siswa-siswinya yang beragama Islam.
Dalam melakukan penyerangan, orang-orang Kristen itu
bersenjata sangat lengkap. Dari jauh mereka
menggunakan panah. Setelah agak dekat menggunakan
tombak. Lebih dekat lagi pakai parang. Sedang kita
semua tidak punya itu. Kita tidak memiliki niat untuk
melakukan hal yang jelek. Karena mereka menyerang
kita, maka kita membalas dengan bersenjatakan apa
saja.
Ada yang pergi ke dapur lalu menjumpai pisau, pisau
itulah yang dipergunakan. Ada golok kita pakai, ada
bambu kita runcingkan. Mereka memakai kain merah dan
ungu yang diikatkan di kepalanya. Yang berwarna merah
bertugas melakukan penyerangan. Sedang yang berikat
kepada ungu melakukan penghancuran. Terlihat jelas
adanya koordinasi di antara mereka. Dalam kerusuhan
Ambon, orang-orang Cina selamat. Saya melihat, pada
saat terjadinya penyerangan, orang-orang Cina itu
mengeluarkan saputangan putih yang dipinggirnya
berwarna merah. Itu membuat mereka tidak diserang.
Semua pertokoan Muslim terbakar, sementara toko mereka
selamat. Di pasar Mardika, di satu tempat yang
merupakan terminal, ada Batu Merah, Galunggung, dan
sebagainya itu, semua punya Cina dan tidak dibakar. Di
tempat lain, toko-toko Muslim semuanya terbakar.
Sebelum penyerangan mereka melihat peta, yang mana
pertokoan Muslim dan yang mana punya Cina. Mereka tahu
tempatya.
Banyak warga Ambon yang mengungsi. Tanggal 8 Februari
1999, saya dan keluarga meninggalkan Ambon. Arus
pengungsi sangat banyak. Di pelabuhan ada sekitar
16.000 pengungsi yang harus dibawa menuju Buton dan
Ujung Pandang.
Kapasitas Kapal Siguntang itu hanya muat 7.000 orang.
Karena orang yang harus diangkut terlalu banyak, kapal
itu akhirnya mengangkut 9.000 pengungsi. Lebih dari
itu kapal akan tenggelam. Itu dari Ambon saja.
Sebelumnya dari Banda, dari Tual, banyak kapal-kapal
sudah membawa ribuan pengungsi. Saya dan keluarga
berjalan dari bawah ke atas kapal itu memakan waktu
tiga jam!
Padahal jika normal paling satu menit sudah sampai.
Itu disebabkan membludaknya jumlah pengungsi.
Barang-barang tidak bisa lagi kita jinjing, itu semua
harus dikerek ke atas kapal.
Kaum Muslimin Buton, Bugis, dan Makasar yang pulang ke
daerahnya sesungguhnya hanya untuk mengantar anak dan
isterinya saja ke tempat tinggal yang aman. Setelah
itu mereka akan kembali semua ke Ambon bersama sanak
famili yang laki-laki. Mereka akan mempertahankan
Ambon sampai tetes darah terakhir. Mereka sudah
bertekad untuk jihad fi sabilillah. Mereka bilang sama
saya, "Ustadz, kita ini orang yang sudah banyak dosa.
Kapan lagi kita akan menemukan hal yang seperti ini.
Agama kita dihina. Harga diri umat Islam sudah
diinjak-injak. Nabi Muhammad sudah dicaci maki. Kapan
lagi saya mau membela jika bukan sekarang!."
Kaum Muslimin yang belum ke luar Ambon kini tinggal di
rumah-rumah orang Islam yang rumahnya tidak terbakar.
Yang terbakar, mereka masih mendiami Taman Hiburan
Rakyat Waihao, Masjid Raya Al-Fatah, Wayami, dan
sebagainya.
Orang-orang Islam rata-rata mendapat luka di tangan.
Ada pula yang di kaki. Rata-rata kena panah. Agaknya
panah-panah itu diberi racun, karena banyak yang
tetanus setelah kena panah. Ada juga yang kena parang.
Hari Sabtu, hari kelima setelah kerusuhan, para pemuka
Islam menghadap Kapolda dan minta izin, "Bila kita
seperti ini terus, sampai kapan keadaan ini akan
tuntas. Tolong, izinkan kami untuk berhadapan langsung
dengan mereka. Izinkan kami untuk bertempur dengan
orang-orang Nasrani itu. Kami hanya minta waktu empat
jam. Jika mereka menang dalam pertempuran selama empat
jam itu, kita umat Islam akan keluar dari Ambon. Tapi
kalau mereka kalah, mereka harus keluar dari Ambon,
dan Ambon untuk orang Islam." Itu sudah kami lakukan,
tapi aparat tidak mengizinkan.
Kita terpaksa melakukan hal itu sebab aparat sangat
tidak adil. Mereka memihak. Yang paling memihak adalah
aparat kepolisian dan Brimob yang kebanyakkan Kristen.
Aparat yang Islam kan sedang cuti, mudik lebaran.
Ketika orang Kristen menyerang dibiarkan, tapi giliran
kita mau membalas, mereka melepaskan tembakan
peringatan. Malah ada orang kita yang ditembak mereka
dan meninggal. Itu terjadi di hari kedua. Mayat-mayat
yang mereka bantai tidak bisa kita lihat, sebab banyak
yang terjadi di daerah mereka.
Di Kudamati. Misal, di hari kelima kerusuhan, ada
kejadian sedih yang menimpa orang Waihao. Ada
pengusaha ikan, namanya Haji Lasanu. Orang Buton ini
disuruh bosnya yang Taiwan untuk mengambil uang di
Mangga Dua, basis Kristen. Dia mengajak anak buahnya
empat orang dan seorang anaknya, Musthofa, yang baru
berumur 17 tahun. Sebenarnya Musthofa ini sedang
tidur, tapi dibangunkan ayahnya. Sang isteri
melarangnya mengajak anak itu. Tapi Haji Lasanu tetap
bersikeras. Akhirnya berangkatlah mereka berenam ke
Mangga Dua.
Ketika berangkat dan sampai di sana tidak ada kejadian
apa-apa. Begitu akan turun, anak dan empat anak
buahnya di mobil terdepan, sedang si ayah satu mobil
dengan bosnya di belakang. Di tengah perjalanan, sang
bos ini lupa membawa handphonenya, entah disengaja
atau tidak, akhirnya satu mobil kembali ke Mangga Dua.
Mobil anaknya terus turun. Di tengah perjalanan mereka
dihadang orang-orang Nasrani, orang di mobil tersebut
tidak dapat berbuat apa-apa sebab jumlah penghadang
jauh lebih banyak.
Kelima orang itu langsung dibunuh oleh kafirin.
Setelah dibunuh, mayatnya dipotong-potong. Kepalanya
dipisahkan dari lehernya, pangkal tangannya juga
dipisahkan dengan badannya. Para penyerang itu
kemudian menghancurkan mobil, menyiramkan bensin, dan
membakarnya. Mayat yang sudah hancur itu dilemparkan
begitu saja ke api yang tengah menyala. Kejadian ini
disaksikan banyak orang, berlangsung di tengah jalan
raya.
Di rumah sang ibu sudah cemas sebab sampai sore
anaknya tidak juga pulang. Di malam hari terdengar
kabar bahwa anaknya itu telah dibunuh dan dibakar. Dua
hari setelah kejadian itu, ada kabar mayatnya akan
dibawa ke Waihao. Di Waihao sendiri telah disiapkan
kain kafan, dan lima liang kubur telah digali di
sekitar rumah. Kita tidak mungkin menguburkannya di
pekuburan Islam sebab terletak di Mangga Dua, daerah
Kristen. Pekuburan tersebut sebenarnya tanah wakaf.
Namun sampai saat ini surat-suratnya belum
diterbitkan, sebab pejabat-pejabat yang berwenang
kebanyakan Kristen. Akhirnya tanah itu diduduki orang
Kristen. Mereka buat gereja, buat rumah di atas tanah
itu. Dari siang hingga tengah malam, kelima jenazah
itu tidak juga didatangkan.
Sebenarnya itu tidak mungkin. Untuk menenangkan
keluarga di Waihao itu, pihak kepolisian mengatakan
pada mereka bahwa kelima korban itu sudah dikuburkan
secara Islam. Padahal itu tidak benar.
Penyerangan orang-orang Nasrani terhadap umat Islam di
Ambon dan sekitarnya bukanlah tindak kriminal murni.
Mereka melihat itu sebagai bagian dari perang sucinya.
Semestinya umat Islam dari luar Ambon�tanpa diminta
oleh kita�wajib datang, merasa terpanggil. Sebab
bukankah kita bersaudara? Rasul saw mengatakan bahwa
kita ini ibarat satu tubuh. Satu bagian yang dicubit,
maka sakitlah seluruh badan.
Kita sekarang amat sangat butuh bantuan dari
saudara-saudara seiman. Terutama untuk membangkitkan
rasa percaya diri dan semangat jihad. Jika umat Islam
sudah memiliki kepercayaan diri, kemudian dibangkitkan
izzatun nafsnya, insya Allah, walau tidak ada bantuan
dari luar Ambon, kita, umat Islam di Ambon bisa
mengatasi mereka. Kalau saja aparat memberi izin kita
untuk bertempur dengan orang-orang kafir itu selama
empat jam saja, secara adil, maka insya Allah, kita
yakin bisa mengatasi mereka semua. Namun kita tetap
membutuhkan bantuan dari saudara-saudara seiman di
luar Ambon.
KH. Rusyad Nurdin
Adanya pertolongan Allah kepada umat Islam di Ambon
dalam tragedi �Iedul Fitri kelabu adalah sangat
mungkin. Allah swt itu berbuat sesuai kehendak-Nya.
Ketika Rasulullah saw dihadang dan diancam orang
kafir, entah disebabkan apa, tiba-tiba orang kafir itu
lari ketakutan. Ternyata dalam penglihatan mereka,
tampak seekor unta sangat besar berdiri di samping
Rasulullah saw dan hendak menerkam mereka. Walau
Rasulullah sendiri tidak melihatnya.
Jika sekarang hal-hal seperti itu terulang kembali,
saya rasa mungkin saja. Saya percaya dengan kenyataan
yang terjadi di Ambon itu. Sebab bukankah Allah telah
menjanjikan, "In tanshurullaha yanshurkum", bila
kalian menolong agama Allah, maka Allah akan menolong
kalian. Kadang-kadang pertolongan Allah swt itu tidak
masuk akal manusia, syukurlah kalau hal itu benar
terjadi.
Dan kita berdo�a pada Allah, semoga ummat Islam di
sana mendapat pertolongan-Nya.
AM. Furqan.
KH. Syukron Makmun
Ini fenomena yang luar biasa. Allah sudah menurunkan
pertolongan-Nya pada Muslim di sana. Bukan mustahil
itu. Dalam perang Badar, Allah menurunkan tentara
langit berjubah putih. Sayyidina �Ali yang saat itu
masih kecil melihat peristiwa itu. Terkadang orang
Islam itu pedangnya belum sampai ke leher musuh, sudah
putus kepalanya. Kezaliman mereka di Ambon sudah
melampaui batas. Hamba-hamba yang dicintai Allah tentu
dibela-Nya. Allah turunkan para malaikat langit,
sebagaimana terjadi pada perang Badar.
Rivai Hutapea
Dr. Salim Segaf Al-Djufri
Kalau memang keanehan-keanehan itu terjadi, bukan
hanya Mujahidin Badar, tapi juga terjadi di Bosnia, di
Afghan, dan juga di beberapa daerah, tidak mustahil
terjadi yang seperti itu. Apalagi bila hal tersebut
diberitakan oleh orang-orang yang jujur dan akhlaqnya
baik, tidak bohong, itu termasuk karomah semuanya.
Kejadian seperti itu sangat mungkin bisa juga terjadi
sekarang.
Artinya dulu yang menolong itu, sekarang juga itu, kan
tidak ada perubahan. Kita tidak mungkin mengetahui apa
latar belakang Allah swt sampai menurunkan para
malaikat-Nya, hanya Allah swt yang Maha Tahu. Doanya
orang-orang yang dizalimi dan ditindas itu kan tidak
ada hijab dengan Allah swt. Saya rasa mereka-mereka
itu kan dizalimi, mereka tidak berdosa, tak berbuat
apa-apa, pasti Allah membantu. Kalau mereka membela
hartanya, membela kehormatannya, dan gugur maka ia
syahid. Kalau orang mau dibunuh, kan dia bela dirinya,
bela keluarganya, hartanya, itu dibolehkan dalam
agama. Jadi sangat mungkin hal-hal itu terjadi lagi.
M. Lili NA
KH. Firdaus AN
Apa yang terjadi di Ambon itu merupakan pertolongan
Allah swt dalam melindungi hamba-hamba-Nya. Seperti
dalam perang Badar, ribuan pasukan malaikat turun dan
membantu pasukan kaum Muslimin dalam menghadapi
serangan kaum kafir Quraisy, tanpa diketahui oleh
pasukan Muslimin itu sendiri.
Ini membuat pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya
sangat banyak, tidak sebanding dengan jumlah pasukan
kaum Muslimin tersebut, gentar. Akhirnya kemenangan
dipetik oleh pasukan Muslim dengan gilang-gemilang.
Hal yang sama saat ini bisa saja terjadi lagi.
Kapanpun, jika umat Islam teraniaya dan ditindas
disebabkan keyakinannya, maka Allah swt akan segera
memberikan pertolongan-Nya. Kita harus yakin akan hal
itu. Allah swt selalu bersama kaum Muslimin.
AM. Furqan
KH. Abd. Rasyid Syafi�i
Turunnya pertolongan Allah seperti yang terjadi di
Ambon itu sangat bisa terjadi. Itu disebabkan oleh
ketaqwaan dan keimanan yang tidak setengah-setengah,
jika demikian Allah swt takkan menyia-nyiakan
umat-Nya.
Bantuan Allah itu terdiri dari bermacam-macam bentuk.
Termasuk diantaranya dalam bentuk terjadi suatu hal
yang di luar kebiasaan, yang belum pernah terjadi
sebelumnya. Hal itu�insya Allah�terus berlaku hingga
akhir zaman. Jika di bumi Allah ini masih ada orang
atau segolongan orang yang beriman, itu tetap akan
berlaku. Seseorang dalam mempertahankan kehormatan,
hartanya sekalipun, di jalan yang benar, itu kan
diridhoi Allah swt. Andaikata ia mati, maka ia mati
syahid. Menurut saya, apa yang terjadi di Ambon itu
sudah bisa digolongkan sebagai jihad fisabilillah.
Rizki Ridyasmara
==============================
Senin, 1 Maret 1999
Oknum Polisi Berondong Jamaah Sholat
9 Tewas, Habibie Sudah Tahu
Reporter: Sigit Widodo
detikcom - Jakarta, Presiden B. J. Habibie telah
mengetahui adanya kasus penembakan jamaah sholat Subuh
di Ambon Senin (1/3/1999). Perihal tersebut
diungkapkan menteri agama, Malik Fadjar di Istana
Negara Jakarta Senin (1/3/1999) sore setelah diterima
oleh Habibie.
Malik mengakui bahwa dia sudah mengetahui insiden
tersebut sejak pagi hari. "Saya mendapat informasi
dari kakanwil Depag Maluku, Drs Hasyim Marabessy, SH,
sekitar pukul 05:30 WIB melalui telepon," ujar Malik.
Menurut Malik insiden tersebut jelas-jelas merupakan
pelanggaran Hak Asasi Manusia.
Sementara itu menteri peranan wanita yang juga ketua
umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), Tutty
Alawiyah merasa prihatin dan terkejut dengan peristiwa
ini. Tutty berharap pemerintah dan pihak berwajib
segera dapat mengusut pelaku penembakan tersebut.
"Jika tidak, hal ini dapat menimbulkan keresahan di
masyarakat," kata Tutty.
Insiden penembakan itu terjadi pagi hari sekitar pukul
05:00 WIT. Saat itu sekitar 100 jamaah baru saja
selesai menunaikan ibadah sholat Subuh di masjid
Al-Huda. Masjid ini terletak di daerah Auhura, sekitar
10 kilometer di sebelah Timur pusat kota Ambon.
Saat jamaah akan meninggalkan masjid, tiba-tiba saja
beberapa oknum aparat kepolisian, tanpa jelas
alasannya, memberondongkan tembakan ke arah mereka.
Tak pelak lagi, korban tewas pun berjatuhan.
Gerombolan yang menembak itu, entah polisi-polisian,
entah polisi asli.
Berapa jumlah korban yang tewas? Masih simpang siur.
Namun sumber detikcom menyebutkan, setidaknya 9 orang
tewas. Sedangkan yang luka-luka bisa mencapai puluhan
orang.
Oknum polisi itu rupanya tak hanya menyerang para
jamaah yang baru saja menjalani sholat Subuh. Mereka,
dengan membabibuta juga menyerang rumah-rumah penduduk
yang ada di sekitar masjid tersebut. Penyerangan yang
dipimpin oleh beberapa perwira pertama ini tentu saja
menerbitkan rasa takut warga. Rasa takut itu mencekam
hingga ke seluruh warga di Ambon.
Maklum saja, mereka, warga Ambon itu terus didesa oleh
bentrokan antar warga secara terus menerus. Apalagi
bentrokan itu berkaitan dengan soal agama. Tak heran
jika hingga pukul 20.30 WIT, suasana di seputar kota
Ambon terlihat sepi dan mencekam.
Hingga berita ini diturunkan, detikcom belum berhasil
mendapatkan konfirmasi dari pihak kepolisian. Baik
Polda Maluku maupun Mabes Polri hingga saat ini belum
memberikan keterangan resmi. Namun sumber detikcom di
Polda Maluku menyatakan, mereka-mereka yang melakukan
penembakan itu sudah diciduk.
Untuk diketahui, kerusuhan yang berlarut-larut di
pulau rempah-rempah ini telah menyebabkan eksodus
besar-besaran. Pada hari Minggu (28/2/1999) lebih dari
1.300 orang berjejalan pada kapal-kapal yang
meninggalkan Ambon. Kerusuhan yang dimulai semenjak
hari lebaran 19 Januari 1998 lalu hingga saat ini
sudah menewaskan 200 orang.
--------------------------------------------------------------------------------
01/05/98 Abu Aqeedah
Mati Hanya Sekali, Jadikannya Pada Jalan Allah
Try Yahoo! Auctions
More...
It's Free
Yahoo! Auctions is a free service
- No listing fees
- No commissions
That's right, free!
Visit Yahoo! Auctions
[Close]
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Talk to your friends online with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
( Melanggan ? To : [EMAIL PROTECTED] pada body : SUBSCRIBE HIZB)
( Berhenti ? To : [EMAIL PROTECTED] pada body: UNSUBSCRIBE HIZB)
( Segala pendapat yang dikemukakan tidak menggambarkan )
( pandangan rasmi & bukan tanggungjawab HIZBI-Net )
( Bermasalah? Sila hubungi [EMAIL PROTECTED] )
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pengirim: Comb attt <[EMAIL PROTECTED]>