*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
{ Sila lawat Laman Hizbi-Net - http://www.hizbi.net }
{ Hantarkan mesej anda ke: [EMAIL PROTECTED] }
{ Iklan barangan? Hantarkan ke [EMAIL PROTECTED] }
*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
PAS : KE ARAH PEMERINTAHAN ISLAM YANG ADIL
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Assalamualaikum wbt,
Di sini saya sertakan bhgn kedua dari tajuk ini.
Bukanlah bertujuan utk berdebat, sekadar berkongsi
maklumat. Silalah membaca dan timbang-timbangkanlah
...
Politik Dakwah Dan Dakwah Politik (2)
Tak Silau Janji Sesaat.
Tak usah terlalu berharap pada mereka yang bermain api
demi keuntungan sendiri.
Antara kegiatan dakwah dan aktivitas politik kadang
sulit dibedakan, apalagi dipisahkan. Seorang pemuka
agama, misalnya, menghadap kepala negara kemudian
menyampaikan sebait do'a untuk kesehatan dan
keselamatannya, bisa diartikan sebagai kegiatan
politik. Orang bisa menduga-duga, apa di balik do'a
tersebut.
Rasulullah pernah mendapat teguran dari Allah karena
aktivitasnya sudah memasuki wilayah politik. Ketika
itu ia sedang berbincang serius dengan para tokoh
Quraisy. Dengan matematika politik Nabi menghitung,
jika segelintir kaum elite ini masuk islam maka
pengaruhnya akan sangat besar. Bisa jadi rakyat kecil
tinggal mengikut di belakangnya saja.
Kalkulasi politik seperti inilah yang menjadikan
Rasulullah sangat serius menyampaikan pokok-pokok
ajaran Islam kepada para tokoh Quraisy ini. Saking
seriusnya, ketika salah seorang sahabat yang cacat
bergabung dan ikut bertanya tentang sesuatu,
Rasulullah masam mukanya dan memalingkan wajahnya.
Rasulullah seakan merasa tidak senang direcoki oleh
sahabat yang tidak punya akses politik sedikitpun ini.
Ternyata perhitungan seperti itu tidak tepat,
setidak-tidaknya bagi Rasulullah atau orang yang
sedang mengemban risalah Islam. Itulah sebabnya Allah
menegur Nabi dengan wahyu-Nya yang tercantum dalam
al-Qur'an surah 'Abasa.
Dalam jangka pendek mungkin saja pendekatan politik
ini sangat menguntungkan. Akan tetapi, jika perbuatan
Nabi tersebut tidak mendapat teguran dari Allah, maka
dalam jangka panjang akan merusak missi yang diemban.
Para pengikutnya akan lebih berkonsentrasi berdakwah
hanya di kalangan elite, sementara masyarakat bawah,
yang justru lebih membutuhkan, tidak terlayani. Apa
kata ummatnya nanti jika sekiranya Rasulnya hanya
memihak kepada para pembesar (malak)? Wajar jika
Rasulullah mendapat teguran atas kekhilafan yang belum
sampai terlalu jauh ini.
Ternyata teguran Allah yang ditujukan kepada
Rasulullah itu disampaikan kepada ummatnya tanpa
disembunyikan sedikitpun juga. Biasanya para pemimpin
jika melakukan kesalahan, apalagi mendapat teguran
keras dari atasan, maka sebisa mungkin hal itu
dirahasiakan. Tujuannya supaya kredibitas mereka di
hadapan ummatnya tidak berkurang. Mereka ingin tetap
berwibawa meskipun belepotan dengan dosa.
Nabi Muhammad bukan seorang pemimpin duniawi semata.
Ia adalah pemimpin gerakan dakwah yang menyampaikan
risalah Islam apa adanya, walaupun risalah itu kadang
kurang menguntungkan posisinya. Ia tak hendak
membangun pengaruh untuk mengokohkan kepemimpinannya
di dunia, tapi lebih jauh dari itu ia adalah pemimpin
ukhrawi, yang targetnya melampaui batas-batas ruang
dan waktu.
Di bawah tekanan dan ancaman musuh, Rasulullah tetap
menyampaikan risalah dakwah kepada semua manusia.
Seakan Rasul tidak mempedulikan resiko yang bakal
menghadangnya, juga tak memperhitungkan kekuatan
lawan-lawannya. Ia tak segera berfikir, kapan
kekuasaan itu bisa direbut. Ia hanya berpikir, kapan
kebenaran Islam sampai kepada mereka.
Jika aktor politik targetnya adalah kekuasaan, maka
aktor dakwah mempunyai target yang lebih mulia dari
itu, yaitu diterimanya kebenaran Islam oleh seluruh
lapisan ummat. Kekuasaan itu bukan tujuan, tapi
semata-mata alat. Berdakwah dengan menggunakan alat
itu jelas lebih efektif, tapi jika alat itu belum
dimiliki, bukan berarti dakwah tidak bisa dimulai.
Seperti petani, asal masih punya tangan, ia tak punya
alasan untuk tidak mengolah tanah persawahannya. Ia
harus tetap bekerja walau dengan alat apa adanya,
bahkan tanpa alat sama sekali.
Berdakwah tidak boleh menunggu saat berkuasa. Dalam
keadaan tidak punya kekuasaan atau otoritas sedikitpun
juga, seseorang tetap bisa dan harus melakukan dakwah.
Tak ada halangan bagi bawahan mendakwahi atasan, sebab
posisi atasan dan bawahan itu tidak ada dalam dunia
dakwah. Atasan bawahan itu hanya ada pada strata
sosial, ekonomi, dan politik. Panggung dakwah tak
mengenalnya.
Ketika memulai dakwah, Rasulullah tidak memiliki alat
yang cukup. Bahkan materi dakwahnya masih sangat
terbatas, karena wahyu saat itu baru turun beberapa
ayat. Justru dalam kondisi seperti ini beliau sangat
bersemangat untuk menyebarkannya. Beliau tak kecut
manakala mendapati penganutnya sebagian besar kaum
lemah. Dalam pandangan dakwah, kaum lemah ini memiliki
potensi yang luar biasa.
Betapa gigihnya dakwah Rasulullah, dapat dibaca dalam
sejarah. Ketika dakwah masih harus dilakukan dengan
sembunyi-sembunyi, beliau tak pernah meluangkan waktu
sedikitpun tanpa kegiatan dakwah. Beliau undang sanak-
saudaranya makan-makan di rumah, kemudian sedikit
disampaikan tentang ajaran yang dibawanya. Sekali
ditolak, lain kali diulangi lagi. Begitu seterusnya.
Kadang-kadang Nabi menghadang orang yang lewat untuk
sekadar diajak mampir atau berbincang-bincang sejenak.
Bagi Nabi satu kalimat saja yang diterima oleh mereka
sudah merupakan kebahagiaan tersendiri. Pada saat ini
tidak ada target- target politik. Yang penting adalah
dakwah tersampaikan.
Kekuatan dan kekuasaan bagi sebuah gerakan dakwah
bukan merupakan tujuan. Keduanya bisa jadi alat, tapi
keduanya juga bisa memperalat. Tergantung pada siapa
yang memegangnya. Ketika Nabi diusir oleh penduduk
Thaif, diejek dan dilempari batu sampai luka-luka
wajah dan anggota tubuhnya, datang kepadanya malaikat
Jibril menawarkan bantuan berupa kekuatan untuk
menghancurkan seluruh lawan- lawannya. Bahkan gunung
yang besar itu bisa saja ditimpakan kepada mereka.
Sekali lagi Nabi bukanlah pemimpin dunia semata. Ia
tidak haus kekuatan dan kekuasaan. Ia ingin menawarkan
kedamaian dan keselamatan dengan menyodorkan Islam.
Ketika tawaran itu datang, justru ia berdo'a kepada
Allah, Allahummahdi qaumi fainnahum laa ya'lamuun. Ya
Allah, berilah petunjuk mereka, karena mereka belum
tahu.
Andaikata Nabi seorang politikus murni, tawaran itu
akan diterimanya dengan senang hati. Dengan begitu
jumlah musuh berkurang, sementara musuh-musuh yang
lain akan berkecil hati manakala hendak mengganggu
Nabi. Wibawa dan kharisma Nabi, baik di mata ummatnya
sendiri maupun musuh-musuhnya bertambah besar. Dengan
begitu target-target politik dengan mudah terpenuhi.
Perhitungan yang tidak seperti biasanya, ternyata
justru sangat menguntungkan perjalanan Nabi sendiri.
Meskipun bapak-bapak mereka memusuhi, ternyata
anak-anaknya penduduk Thaif menjadi pengawal setia
perjuangan Islam.
Banyak sekali peristiwa yang dialami Rasulullah yang
membuktikan bahwa beliau bukan seorang politikus,
walaupun hasil-hasil yang diperolehnya jauh melebihi
para politikus manapun. Ketika Ibrahim, putranya dari
ibu Maria Al-Qibthiyah meninggal dunia, Nabi sangat
bersedih. Lebih sedih lagi bahwa ternyata beredar
suatu berita bahwa gerhana matahari yang terjadi
bersamaan dengan kematian Ibrahim ini disebabkan
karena kematian anaknya.
Berita ini secara politis sebenarnya sangat
menguntungkan. Ummat bertambah yakin pada kharisma dan
kehebatan Nabi, sehingga anaknya meninggal saja
membawa pengaruh yang sangat besar, yaitu gerhana
matahari. Betapa sulitnya para politikus mencari
dukungan, berebut pengaruh dengan pihak- pihak lain.
Berita, bahkan pada sebagian malah sudah menjadi
keyakinan tersebut boleh dianggap sebagai propaganda
gratis.
Lagi-lagi Nabi Muhammad tidak ingin memanfaatkan
situasi ini. Beliau segera menuju masjid kemudian
berpidato di muka para jamaah, meluruskan keyakinan
yang bengkok itu. Beliau menyampaikan bahwa gerhana
matahari dan bulan itu merupakan tanda-tanda kekuasaan
dan kebesaran Allah, tidak ada hubungannya dengan
kematian siapapun juga, termasuk kamatiannya anaknya,
Ibrahim.
Andaikata Nabi membiarkan hal ini demi kepentingan
politik praktisnya, tentu Nabi Muhammad akan menjadi
bahan tertawaan saat ini, ketika para ilmuwan
menemukan banyak bukti bahwa gerhana bulan dan
matahari itu merupakan gejala alam biasa. Target
dakwah memang beda, bahkan kadang bertolak belakang
dengan target politik.
Seorang da'i kadang harus mengabaikan opini umum.
Kebenaran harus disampaikan sebagai yang benar
walaupun bertentangan dengan pandangan masyarakat. Di
sini yang diperlukan adalah keberanian disamping
kebijaksanaan. Rasulullah pernah mengambil langkah
berani ketika menikahi Zainab al-Jahsy. Wanita itu
adalah mantan istri Zaid, putra angkat Nabi sendiri
yang sebelumnya adalah seorang budak. Sedang wanita
tersebut tergolong punya hubungan sangat dekat dengan
Nabi (lihat rubrik Sejarah edisi ini). Dalam pandangan
umum, pernikahan ini menimbulkan berbagai dugaan
bahkan gunjingan. Akan tetapi bagi Rasulullah
pernikahan ini sangat strategis.
Pertama, Nabi hendak memutus mitos bahwa wanita mulia
tidak bisa dinikahi oleh bekas budak, terlepas apakah
mantan budak itu akhirnya menjadi anak angkatnya aau
bukan.
Kedua, Nabi bahkan ingin memperkuat pandangan Islam
ini dengan cara mengawini mantan istri seorang budak,
setelah suami istri itu bercerai.
Ketiga, Nabi ingin menepis pandangan bahwa menikahi
sepupu sendiri itu terlarang. Karena kuatnya pandangan
tersebut, barangkali tidak cukup hanya dengan fatwa,
tapi diperlukan contoh kongkret. Nabi sendiri
mengambil langkah berani dengan melakukan itu semua.
Betul, ternyata di masyarakat beredar isu yang
macam-macam. Bahkan sampai sekarang tuduhan keji kaum
orientalis tetap dialamatkan kepada Nabi. Mereka
menuduh bahwa Nabi itu mata keranjang, suka main
perempuan, setidak-tidaknya suka kawin. Mereka membuat
kisah-kisah tambahan yang dibumbui dengan romantisme,
sehingga yang membacanya bisa membenarkan.
Inilah resiko seorang da'i. Andai saja Nabi itu
seorang politikus murni, beliau tak akan berani
mengambil tindakan ini. Sebab jelas-jelas akan
memperkecil pengaruhnya dan mengurangi
kredebilitasnya. Akan tetapi Nabi tidak peduli dengan
semua itu. Beliau lebih berkonsentrasi pada dakwah, di
mana kebenaran harus bisa diterima dan dinyatakan.
Itu pula salah satu garis pembeda da'i dengan
politikus murni. Seorang da'i hanya menargetnya agar
kebenaran itu sampai, jika mungkin diterima
masyarakat. Sedangkan para politikus menargetkan
kekuatan atau kekuasaan. Untuk mendapatkannya mereka
tak segan-segan menjual kebenaran.
Ummat Islam sebenarnya tidak perlu terlalu berharap
pada mereka yang sedang bermain-main api. Biarkan
mereka berjalan pada jalur yang digelutinya, sedangkan
ummat Islam perlu mengambil jalan sendiri. Insya-Allah
dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, akan
terbukti mana yang paling banyak memperoleh hasil.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Talk to your friends online with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
( Melanggan ? To : [EMAIL PROTECTED] pada body : SUBSCRIBE HIZB)
( Berhenti ? To : [EMAIL PROTECTED] pada body: UNSUBSCRIBE HIZB)
( Segala pendapat yang dikemukakan tidak menggambarkan )
( pandangan rasmi & bukan tanggungjawab HIZBI-Net )
( Bermasalah? Sila hubungi [EMAIL PROTECTED] )
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pengirim: Sani Norku <[EMAIL PROTECTED]>