*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
 {  Sila lawat Laman Hizbi-Net -  http://www.hizbi.net     }
 {        Hantarkan mesej anda ke:  [EMAIL PROTECTED]         }
 {        Iklan barangan? Hantarkan ke [EMAIL PROTECTED]     }
 *~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
          PAS : KE ARAH PEMERINTAHAN ISLAM YANG ADIL
 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Adakah dikalangan usahawan dihnet ini yang mempunyai
jejak langkah perniagaan yang sama dgn Puspo Wardoyo?


Berlabel Islam, Siapa Takut? 

Dikelola secara islami, restorannya justru sukses.
Pembelinya banyak kalangan Cina.

Adakah hubungan antara ayam bakar dan jihad? Tanyalah
kepada Puspo Wardoyo (42 tahun), pemilik rumah makan
Ayam Bakar Wong Solo (WS). Agaknya, bagi Puspo,
demikian biasa dipanggil, keduanya bertalian erat.
Dengan ayam bakar ia berjihad. Sebaliknya, karena
jihadlah usaha ayam bakarnya jadi sukses. 

WS cukup kondang. Berpusat di Medan Sumatera, kini WS
punya 9 cabang yang tersebar di Medan, Aceh,
Pekanbaru, Denpasar, Solo, dan Surabaya. 

Di mana pun cabang berada, suasana islami tampak
sangat kental. Seluruh karyawatinya berjilbab, bahkan
untuk setingkat manajer harus lancar membaca
al-Qur'an, �Dan siap jadi khatib,� ujar Sugiri,
Manajer WS Surabaya. Soalnya, di restoran itu digelar
shalat Jum'at. 

Kepada karyawannya juga diminta untuk mengutamakan
shalat berjamaah. Sebelum pekerjaan dimulai selalu
diawali kultum (kuliah tujuh menit). Biasanya
dibacakan hadits-hadits pendek, sekaligus pembagian
tugas untuk hari itu. 

Walau begitu, bukan berarti WS hanya ingin membidik
orang-orang Islam. Sebagaimana pengamatan Sahid di
cabang Surabaya dan Medan, kebanyakan pembelinya
justru orang-orang Cina. "Servisnya bagus, ramah, dan
penyajiannya cepat. Enak lagi," ujar salah seorang
warga keturunan yang mengaku sebagai pelanggan di WS
cabang Polonia, Medan. 

Puspo memulai usahanya benar-benar dari bawah. Semula,
pria asli wong Solo ini seorang guru di SMA Negeri
Blabak Muntilan, Jawa Tengah. Lalu merantau ke Riau
pada tahun l989. Sama ketika di Muntilan, di sana
Puspo juga menjadi guru di Perguruan Wahidin
Bagansiapi-api. Puspo digaji Rp 150 ribu per bulan.
Jumlah itu masih dipotong separo untuk urusan
macam-macam. Entah karena gajinya kecil, mantan santri
Pondok Pesantren Al-Amin Muntilan ini merasa tidak
bisa konsentrasi menjalankan profesinya yang mulia
itu. �Jiwa saya sebenarnya bukan di situ,� akunya
kemudian. Akibatnya, setiap kali mengajar, pikirannya
justru melayang ke dagangan. 

Kakek dan orang tuanya memang pedagang. Dari sanalah
mungkin darah pedagangnya itu mengalir. Ia kemudian
memutuskan keluar sebagai guru dan merintis usaha
sendiri. Pilihannya adalah warung kaki lima di Medan.
Sama dengan nenek moyangnya, Puspo memilih ayam bakar
sebagai andalannya. 

Namanya juga masih merintis, jalan usahanya,
menurutnya, awalnya masih berat. "Sehari paling banter
cuma motong 3-5 ekor ayam," tuturnya. Tapi karena
iaberlaku hemat dan rajin menabung, akhirnya uang
mengumpul juga. "Hingga dalam dua tahun terkumpul
1.300.000 rupiah," kenangnya. 

Rencananya, uang itu akan digunakan untuk menambah
modal. Malang tak bisa ditolak untung tak bisa diraih.
Tiba-tiba salah seorang karyawannya datang mengadu,
"Saya mau pinjam uang karena rumah orangtua saya mau
digusur," tutur Puspo menirukan keluhan karyawannya. 

Berat bagi Puspo menolak peminjaman itu. Namun
akhirnya ia relakan yang 800 ribu untuk meringankan
beban anak buahnya. �Saya percaya, menolong mereka
yang dalam keadaan susah tidak akan percuma (begitu
saja),� katanya. Maksudnya, mungkin, Allah pasti
menggantinya, entah di akhirat kelak atau di dunia.
Begitulah janji Allah kepada hamba-hamba-Nya yang taat
menjalankan perintah. 

Nyatanya benar. �Dari sana pintu rezeki kami mulai
cerah,� Puspo mengakui. Ceritanya begini. Salah
seorang dari keluarga karyawan tadi punya kenalan
seorang wartawan. Nah, wartawan itu kemudian menulis
warung Puspo di koran terbitan lokal. �Alhamdulillah,
sejak saat itu kami kebanjiran pembeli,� kata ayah
empat anak ini. Tetapi saat itu juga tamatlah karir si
wartawan. Bukan dipecat, �Tapi saya tarik menjadi
karyawan kami, sebagai ucapan terima kasih,� ujar
Puspo. 

Usaha Puspo terus berkembang. Ia tidak puas hanya
punya cabang di 5 kota. Ia bertekad menyaingi Mc
Donald's. Targetnya sampai tahun 2005 nanti WS sudah
ada di seluruh propinsi Indonesia. �Kalau orang lain
bisa mengapa kita (ummat Islam -red) tidak?� tekadnya.


Menariknya, WS kini dikelola dengan sistem franchise
(waralaba). Artinya, setiap orang �termasuk
non-Muslim� bisa membuka cabang WS dengan membeli
merek kepada Puspo. Di samping itu, juga ada standar
manajemen dan kualitas yang dipenuhi pembeli merek.
Misalnya, dalam hal bumbu WS sudah punya patokan, agar
cita rasanya sama. Dua cabangnya di Medan dan
Denpasar, sudah dikelola dengan sistem franchise. Tapi
kepada pembeli merek non-Muslim, Puspo memberi syarat
khusus. �Manajernya harus Muslim, dan menyedian ruang
untuk mushala,� kata peraih penghargaan �The Best
Young Executive l999 ini. 

Soal manajer harus Muslim, itu memang penting. Sebab,
segala menu masakan harus terjamin bukan saja halal,
tapi juga thoyyib (baik, sehat, dan bergizi). Kepada
seluruh karyawannya, Puspo tidak cuma memprioritaskan
ketrampilan semata. �Akhlak dan kejujuran menjadi
modal penting dalam usaha kami,� tegas pria yang
sebentar lagi insya Allah akan mendapat penghargaan
sebagai Pria Terpopuler 2000 dari yayasan PWI Semarang
ini. Karena itu, ia banyak merekrut lulusan dari
madrasyah aliyah dan pondok pesantren, di samping juga
dari sekolah umum. 

Setiap bulan gaji karyawan dipotong 2,5% untuk zakat.
" Tapi untuk sementara baru tingkat pimpinan, manager,
dan staf," kata Adi Syahroni yang pernah ditunjuk
sebagai pengelola Amil Zakat WS Medan. Menurut Roni,
setidaknya setiap bulan terkumpul 15 juta rupiah. Uang
sebesar itu dipergunakan untuk bantuan sosial, di
antaranya untuk membiayai 'santri Wong Solo' yang saat
ini sedang belajar di Pondok Pesantren Al-Iman
Muntilan. 

�Kami ingin menampilkan warung bernuansa islami yang
bukan hanya sebatas label, tapi juga pada aspek
amaliah, ibadah, dan dijalankan dengan cara
profesional,� tutur Puspo yang beristri tiga ini. 

Ia tidak segan terang-terangan memakai label Islam,
lantaran takut usahanya tidak laku. Perjalanannya
membuktikan bahwa usahanya malah makin berkembang.
�Kami makin percaya bila menegakkan kebenaran dan
jihad fii sabilillah, maka keberuntungan yang
diperoleh akan lebih banyak, baik untuk dunia maupun
akhirat,� katanya mantap. Nah, terang-terangan
berlabel Islam, siapa takut?
-------------------------------------------------------
Antara Poligami dan Bisnis
Tidak banyak orang berani terus terang berpoligami.
Tapi tidak dengan Puspo Wardoyo, bosnya rumah makan
ayam bakar Wong Solo (WS). Ia blak-blakan mengaku
beristri tiga. Malah ia tampak bersemangat menjawab
hal yang oleh sebagian besar orang dianggap aib ini.
�Pokoknya kalau tanya soal poligami, saya jawab
semua,� tegasnya ramah. �Karena memang perlu
sosialisasi terus menerus,� sambungnya kemudian. 

Puspo bukan tanpa menyadari kesan buruk terhadap orang
yang berpoligami. Orang yang menunaikan sunnah Nabi
ini, kata Puspo, seakan-akan menjadi tertuduh,
dianggap pria nakal dan karena itu layak dicibir.
Lebih-lebih kaum perempuan, pasti menentang
habis-habisan. Laki-laki dianggapnya mau menang
sendiri. �Mereka kan lebih mengedepankan perasaan
ketimbang rasio,� kata Puspo seakan menjawab tudingan
itu. 

Yang kerap dijadikan kambing hitam untuk menolak
poligami adalah soal keadilan (QS an-Nisaa':3).
Padahal, menurut para penentang poligami itu, tidak
ada manusia di bumi ini yang mampu bertindak adil.
Bagi Puspo, pengertian adil itu tidak berarti sama
persis. �Yang penting sesuai kebutuhan. Asal tidak
terlalu condong saja (kepada salah seorang istri), itu
masih dalam kerangka adil,� tambahnya sambil mengutip
surat an-Nisa' ayat 28: �Dan kamu sekali-kali tidak
akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu),
walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena
itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu
cintai), sehingga kamu biarkan yang lain
terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan
dan memelihara diri (dari kecurangan), maka
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.� 

Menarik mengetahui liku-liku Puspo menaklukkan istri
pertamanya, Rini Purwanti (36), sebelum ia mengambil
istri kedua. Awalnya, ketika Puspo menerangkan
poligami menurut pandangan Islam, Rini
manggut-manggut. �Wah, baik sekali itu,� katanya
menirukan ucapan istrinya. Eh, begitu ia minta izin
mau kawin lagi, istrinya sewot. �Aku belum siap,� ujar
Rini ditirukan Puspo. 

Namun Puspo nekad, sebab ia merasa memang harus kawin
lagi, demi menghindari penyelewengan. Apalagi ia
merasa mampu secara ekonomi maupun psikologi. �Kalau
menunggu siap, perempuan tidak akan pernah siap,�
ujarnya. Maka diam-diam ia menikahi Supianti (26),
wanita asli Medan, dengan nikah sirri. Istri dan
keluarga yang lain tidak ada yang tahu. Enam bulan ia
menyembunyikan perkawinannya itu. Begitu tahu, Rini
marah besar. �Lebih baik aku mati,� katanya kesal
sambil menangis. Bahkan mengancam minta cerai saja. 

Puspo tidak meladeni. Ia tetap tenang, berlaku baik
dan tetap menunjukkan kasih sayang kepada istri yang
telah memberinya dua momongan itu. Dengan sikap
seperti itu, akhirnya Rini luluh juga. �Wong saya
tetap utuh gini,� Puspo mengguraui istrinya. 

Pernikahannya ketiga, dengan Anisa Nasution (22),
katanya, sudah lancar, tanpa ada gejolak. 

Menurut pangakuan Puspo, ketiga istrinya yang semuanya
tinggal di Medan, berperan penting dalam menunjang
kelancaran usahanya. �Istri-istri saya selalu
mendukung dan menjaga iman suami dalam situasi
apapun,� ujarnya. 

Mau menikah lagi? �Insya Allah,� ujarnya sambil
terkekeh. Menurut Puspo, poligami adalah alternatif
yang diberikan Allah untuk menyelesaikan kasus-kasus
sosial, terutama yang berkaitan dengan seks. Apalagi,
katanya, antara perempuan dan laki-laki jumlahnya
lebih banyak perempuan. �Jadi, kalau satu dapat satu,
banyak perempuan tidak kebagian dong.� katanya. Betul
juga!
 



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Talk to your friends online with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
 ( Melanggan ? To : [EMAIL PROTECTED]   pada body : SUBSCRIBE HIZB)
 ( Berhenti ? To : [EMAIL PROTECTED]  pada body:  UNSUBSCRIBE HIZB)
 ( Segala pendapat yang dikemukakan tidak menggambarkan             )
 ( pandangan rasmi & bukan tanggungjawab HIZBI-Net                  )
 ( Bermasalah? Sila hubungi [EMAIL PROTECTED]                    )
 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pengirim: Sani Norku <[EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke