*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
 {  Sila lawat Laman Hizbi-Net -  http://www.hizbi.net     }
 {        Hantarkan mesej anda ke:  [EMAIL PROTECTED]         }
 {        Iklan barangan? Hantarkan ke [EMAIL PROTECTED]     }
 *~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
          PAS : KE ARAH PEMERINTAHAN ISLAM YANG ADIL
 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Assalamu alaikum,
(Sambungan dari DI MANA ALLAH ? (I))

Ketiga

Penunjukan Beberapa Dalil dari Al-Qur'an dan Hadits yang Shahih
Firman Allah 'Azza wa Jalla.
Artinya :
"Apakah kamu merasa aman terhadap DZAT yang di atas langit, bahwa Ia akan 
menenggelamkan ke dalam bumi, maka tiba-tiba ia  (bumi) bergoncang ?" 
(Al-Mulk : 16)
"Ataukah kamu (memang) merasa aman terhadap DZAT yang di atas langit bahwa 
Ia akan mengirim kepada kamu angin yang mengandung batu kerikil ? Maka kamu 
akan mengetahui bagaimana ancaman-Ku". (Al-Mulk : 17).
Berkata Imam Ibnu Khuzaimah -setelah membawakan dua ayat di atas di  
kitabnya "At-Tauhid" (hal : 115).
Artinya :
"Bukankah Ia telah memberitahukan kepada kita -wahai orang yang berakal- 
yaitu ; apa yang ada diantara keduanya sesungguhnya Ia di atas langit".
Berkata Imam Abul Hasan Al-Asy'ary di kitabnya "Al-Ibanah Fi 
Ushulid-diayaanah hal : 48) setelah membawakan ayat di atas : "Di atas 
langit-langit itu adalah 'Arsy, maka tatkala 'Arsy berada di atas 
langit-langit.
Ia berfirman : "Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang berada di atas 
langit ?" Karena sesungguhnya Ia istiwaa (bersemayam) di atas 'Arsy yang 
berada di atas langit, dan tiap-tiap yang tinggi itu dinamakan 'As-Samaa" 
(langit), maka 'Arsy berada di atas langit. Bukankah yang dimaksud apabila 
Ia berfirman : "Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang diatas langit ?" 
yakni seluruh langit !
Tetapi yang Ia kehendaki adalah 'Arsy yang berada di atas langit".  Saya 
berpandangan (Abdul Hakim bin Amir Abdat) : Dua ayat di atas sangat tegas 
sekali yang tidak dapat dibantah dan ta'wil bahwa lafadz "MAN" tidak mungkin 
difahami selain dari Allah 'Azza wa Jalla. Bukan Malaikat-Nya sebagaimana 
dikatakan oleh kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengannya, yang telah merubah 
firman Allah 'Azza wa Jalla. Bukankah dlamir (kata ganti) pada fi'il (kata 
kerja) "yakhtsif" (Ia menenggelamkan) dan "yartsil" (Ia mengirim)adalah 
"huwa" (Dia) ? siapakah Dia itu kalau bukan Allah  'Azza wa Jalla.
Firman Allah :
Artinya :

  "Mereka (para Malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas 
mereka, dan mereka mengerjakan apa-apa yang  diperintahkan". (An-Nahl : 50).
Ayat ini tegas sekali menyatakan bahwa Allah 'Azza wa Jalla berada di atas 
bukan di mana-mana tempat. Karena lafadz "fawqo" (di atas) apabila di majrur 
dengan huruf "min" dalam bahasa Arab menunjukan akan ketinggian tempat. Dan 
tidak dapat di ta'wil dengan ketinggian martabat, sebagaimana dikatakan kaum 
Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka. Alangkah zhalimnya mereka ini yang 
selalu merubah-rubah firman Tuhan kita Allah Jalla Jalaa Luhu.

  Berkata Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya "At-Tauhid" (hal : 111): "Tidaklah 
kalian mendengar firman pencipta  kita 'Azza wa Jalla yang mensifatkan 
diri-Nya.
Artinya :

  "Dan Dialah (Allah) yang Maha Kuasa di atas hamba-hamba-Nya". (Al-An'am : 
18 ; 61).
Berkata Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya  tersebut : "Tidakkah kalian 
mendengar wahai penuntut ilmu. Firman-Nya Subhanahu wa Ta'ala kepada Isa bin 
Maryam :
Artinya :

  "Wahai Isa ! Sesungguhnya Aku akan  mengambilmu dan mengangkatmu 
kepada-Ku" (Ali Imran : 55)
Ibnu Khuzaimah menerangkan : Bukankah "mengangkat" sesuatu itu dari bawah ke 
atas (ke tempat yang tinggi) tidak dari  atas ke bawah!. Dan firman Allah 
'Azza wa Jalla.
Artinya :

  "Tetapi Allah telah mengangkat dia (yakni Nabi Isa) kepada-Nya" (An-Nisa' 
: 158).
Karena "Ar-raf'ah" = mengangkat dalam bahasa Arab yang dengan bahasa mereka 
kita diajas berbicara (yakni Al-Qur'an) dalam bahasa Arab yang hanya dapat 
diartikan dari bawah ke tempat yang tinggi dan di atas" (kitab At-Tauhid : 
111).

  Sekarang dengarlah wahai orang yang berakal, kisah Fir'aun bersama Nabi 
Allah Musa 'Alaihis Salam di dalam kitab-Nya yang mulia, dimana Fir'aun 
telah mendustakan Musa yang telah mengabarkan kepadanya bahwa Tuhannya Allah 
Subhanahu wa Ta'ala di atas langit :   Artinya :
  "Dan berkata Fir'aun : Hai Haman! Buatkanlah untukku satu bangunan yang 
tinggi supaya aku (dapat) mencapai jalan-jalan. (Yaitu) jalan-jalan menuju 
ke langit supaya aku dapat melihat Tuhan(nya) Musa, karena sesungguhnya aku 
mengira dia itu telah berdusta".
(Al-Mu'min : 36-37. Al-Qashash : 38).   Perhatikanlah wahai orang yang 
berakal!.
Perintah Fir'aun kepada Haman -menterinya- untuk membuatkan satu bangunan 
yang tinggi supaya ia dapat jalan ke langit untuk melihat Tuhannya Musa. Hal 
ini menunjukkan bahwa Nabi Musa telah memberitahukan kepadanya bahwa 
Tuhannya -Allah Subhanahu wa Ta'ala- berada di atas langit-.

  Kalau tidak demikian, yakni misalnya Nabi Musa mengatakan bahwa Tuhannya 
ada dimana-mana tempat -sebagaimana dikatakan kaum Jahmiyyah- tentu Fir'aun 
yang disebabkan karena kekafirannya dan pengakuannya sebagai Tuhan, akan 
mengerahkan bala tentaranya untuk mencari Tuhannya Musa di istananya, di 
rumah-rumah Bani Israil, di pasar-pasar dan di seluruh tempat di timur dan 
di barat !?. Tetapi tatkala Nabi Musa dengan perkataannya: "Sesungguhnya aku 
mengira dia ini berdusta !". Yakni tentang perkataan Musa bahwa Tuhannya di 
atas langit.

  Perhatikanlah, wahai orang yang berakal !. Keadaan Fir'aun yang 
mendustakan Nabi Musa dengan kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka 
yang telah merubah firman Allah dengan mengatakan : Allah ada di segala 
tempat !.

  Ketahuilah ! Bahwa pemahaman di atas bukanlah hasil dari pikiran saya 
(Abdul Hakim bin Amir Abdat) tetapi pemahaman  Ulama-ulama kita diantaranya 
:

  1. Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya "At-Tauhid" (hal : 114-115) diantara 
keterangannya : "Perkataan Fir'aun (sesungguhnya aku menyangka/mengira ia 
termasuk dari orang-orang yang berdusta) terdapat dalil bahwa Musa telah 
memberitahukan kepada Fir'aun :" Bahwa Tuhannya Yang Maha Besar dan Maha 
Tinggi berada di tempat yang tinggi dan di  atas".

2. Berkata Imam Al-Asy'ary setelah  membawakan ayat di atas : "Fir'aun telah 
mendustakan Musa tentang perkataannya :  Sesungguhnya Allah di atas langit" 
(Al-Ibanah : 48).

  3. Berkata Imam Ad-Daarimi di kitabnya "Raddu 'Alal Jahmiyyah hal : 37 
Setelah membawakan ayat di atas : " Di dalam ayat ini terdapat keterangan 
yang sangat jelas dan dalil yang nyata, bahwa Musa telah mengajak Fir'aun 
mengenal Allah bahwa Ia berada di atas langit. Oleh karena itu Fir'aun 
memerintahkan membuat bangunan yang  tinggi".

4. Berkata Syaikhul Islam Al-Imam As-Shaabuny di kitabnya "Itiqad Ahlus 
Sunnah wa Ashabul Hadits wal A'imah " (hal : 15) : "Bahwasanya Fir'aun 
mengatakan demikian (yakni menuduh Musa berdusta) karena ia telah mendengar 
Musa AS menerangkan bahwa Tuhannya berada di atas langit. Tidakkah engkau 
perhatikan perkataannya : "Sesungguhnya aku mengira dia itu berdusta" yakni 
tentang perkataan Musa : Sesungguhnya di atas langit ada Tuhan".

5. Imam Abu Abdillah Haarits bin Ismail Al-Muhaasiby diantara keterangannya 
: "Berkata Fir'aun : (Sesungguhnya aku mengira dia itu berdusta) tentang apa 
yang ia (Musa) katakan kepadaku : Sesungguhnya Tuhannya berada di atas 
langit". Kemudian beliau menerangkan : "Kalau sekiranya Musa mengatakan : 
"Sesungguhnya Allah berada di tiap-tiap tempat dengan Dzatnya, nisacaya 
Fir'aun akan mencari di rumahnya, atau di hadapannya atau ia merasakannya, 
-Maha Tinggi Allah dari yang demikian- tentu Fir'aun tidak akan menyusahkan 
dirinya membuat bangunan yang tinggi". (Fatwa Hamawiyyah Kubra : 73).

  6. Berkata Imam Ibnu Abdil Bar :
"Maka (ayat ini) menunjukan sesungguhnya Musa mengatakan (kepada Fir'aun) : 
"Tuhanku di atas langit ! sedangkan Fir'aun menuduhnya berdusta". (baca 
Ijtimaaul Juyusy Al-Islamiyyah hal : 80).

  7. Berkata Imam Al-Waasithi di kitabnya "An-Nahihah fi Shifatir Rabbi 
Jalla wa 'Alaa" (hal : 23 cetakan ke-3 th 1982 Maktab Al-Islamy) : "Dan ini 
menunjukkan bahwa Musa telah mengabarkan kepadanya bahwa Tuhannya yang Maha 
Tinggi berada di atas langit. Oleh karena itu Fir'aun berkata : 
"Sesungguhnya aku mengira dia ini berdusta".

Demikianlah penjelasan dari tujuh Imam besar di dalam Islam tentang ayat di 
atas, selain masih banyak lagi yang kesimpulannya: "Bahwa mendustakan Allah 
Subhanahu wa Ta'ala berada di atas langit di atas 'Arsy-Nya, Ia istiwaa 
(bersemayam) yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, adalah; 
sunnahnya Fir'aun". Na'udzu billah !!.
  Sampai disini pembahasan beberapa dalil dari kitab Allah -salain masih 
banyak lagi- yang cukup untuk diambil pelajaran bagi mereka yang ingin 
mempelajarinya. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.   Artinya
:
  "Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang mempunyai pandangan !" 
(Al-Hasyr : 2).
Adapun dalil-dalil dari hadits Nabi SAW banyak sekali. Di bawah ini akan 
disebutkan beberapa diantaranya
:
  Nabi kita SAW telah bersabda :   Artinya
:
  "Orang-orang yang penyayang, mereka itu akan disayang oleh Allah Tabaaraka 
wa Ta'ala (Yang Maha berkat dan Maha Tinggi). oleh karena itu sayangilah 
orang-orang yang di muka bumi, niscaya Dzat yang di atas langit akan 
menyayangi kamu". (Shahih. Diriwayatkan oleh Imam-imam : Abu Dawud No. 4941. 
Ahmad 2/160. Hakim 4/159. dari jalan Abdullah bin 'Amr bin 'Ash. Hadits ini 
telah dishahihkan oleh Imam Hakim dan telah pula disetujui oleh Imam 
Dzahabi. Demikian juga Al-Albani telah menyatakan hadits ini shahih 
dikitabnya "Silsilah Shahihah No. 925".

  "Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang di muka bumi, niscaya tidak 
akan disayang oleh Dzat yang di atas langit". (Shahih, diriwayatkan oleh 
Imam Thabrani di kitabnya "Mu'jam Kabir No. 2497 dari jalan Jarir bin 
Abdullah. Imam Dzahabi di kitabnya "Al-Uluw" hal : 83 diringkas oleh 
Al-Albani) mengatakan : Rawi-rawinya tsiqaat/kepercayaan).

  "Tidakkah kamu merasa aman kepadaku padahal aku orang kepercayaan Dzat 
yang di atas langit, datang kepadaku berita (wahyu) dari langit di waktu 
pagi dan petang". (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim 3/111 dan 
Ahmad 3/4 dari jalan Abu Sa'id Al-Khudry).

  "Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya ! Tidak seorang suamipun yang 
mengajak istrinya ke tempat tidurnya (bersenggama), lalu sang istri 
menolaknya, melainkan Dzat yang di atas langit murka kepadanya sampai 
suaminya ridla kepadanya ".(Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim 4/157 dari 
jalan Abu Hurarirah).

  Keterangan :

  "Dzat yang di atas langit yakni Allah 'Azza wa Jalla (perhatikan empat 
hadits diatas)".
"Silih berganti (datang) kepada kamu Malaikat malam dan Malaikat siang dan 
mereka berkumpul pada waktu shalat shubuh dan shalat ashar. Kemudian naik 
malaikat yang bermalam dengan kamu, lalu Tuhan mereka bertanya kepada 
mereka, padahal Ia lebih tahu keadaan mereka : "Bagaimana (keadaan mereka) 
sewaktu kamu tinggalkan hamba-hamba-Ku ? Mereka menjawab : "Kami tinggalkan 
mereka dalam keadaan shalat dan kami datang kepada mereka dalam keadaan 
shalat". (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari 1/139 dan Muslim 2/113 
dll).   Keterangan
:
  "Sabda Nabi SAW : "Kemudian NAIK Malaikat-malaikat yang bermalam ...dst" 
Menunjukan bahwa Pencipta itu Allah Subhanahu wa Ta'ala berada di atas. Hal 
ini juga menunjukkan betapa rusaknya pikiran dan fitrahnya kaum Jahmiyyah 
yang mengatakan Pencipta kita, tidak berada di atas tetapi di segala tempat 
? Maha Suci Allah ! Dan Maha Tinggi Allah dari segala ucapan kaum Jahmiyyah 
dan yang sepaham dengan mereka !.
  "Jabir bin Abdullah telah meriwayatkan tentang sifat haji Nabi dalam satu 
hadits yang panjang yang didalamnya diterangkan khotbah Nabi SAW di padang 
'Arafah : "(Jabir menerangkan) : Lalu Nabi SAW mengangkat jari telunjuknya 
ke arah langit, kemudian beliau tunjukkan jarinya itu kepada manusia, 
(kemudian beliau berdo'a) : "Ya Allah saksikanlah ! Ya Allah saksikanlah ! ( 
Riwayat Imam Muslim 4/41).
  Sungguh hadits ini merupakan tamparan yang pedas di muka-muka kaum Ahlul 
Bid'ah yang selalu melarang kaum muslimin merisyarat dengan jarinya ke arah 
langit. Mereka berkata : Kami khawatir orang-orang akan mempunyai i'tiqad 
bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala berada di atas langit ! Padahal Allah tidak 
bertempat tetapi Ia berada di segala tempat !?.
  Demikianlah kekhawatiran yang dimaksudkan syaithan ke dalam hati 
ketua-ketua mereka. Yang pada hakekatnya mereka ini telah membodohi Nabi SAW 
yang telah mengisyaratkan jari beliau ke arah langit.
Perhatikanlah perkataan mereka : "Allah tidak bertempat tetapi Ia berada di 
segala tempat !?"   Perhatikanlah ! Adakah akal yang shahih dan fitrah yang 
bersih dapat menerima dan mengerti perkataan di atas !?.

  Mereka mengatakan Allah tidak bertempat karena akan menyerupai dengan 
mahluk-Nya. Tetapi pada saat yang sama mereka tetapkan bahwa Allah berada di 
segala tempat atau di mana-mana tempat !?.   Ya Subhanallah !   Artinya
:
  "Dari Ibnu Abbas (ia berkata) : "
Bahwa Rasulullah SAW berkhotbah kepada manusia pada hari Nahr (tgl. 10 
Zulhijah) -kemudian Ibnu Abbas menyebutkan khotbah Nabi SAW- kemudian beliau 
mengangkat kepalanya (ke langit) sambil mengucapkan : Ya Allah bukankah Aku 
telah menyampaikan ! Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan !. (Riwayat 
Imam Bukhari Juz 2 hal : 191).   Perhatikan wahai orang yang berakal ! 
Perbuatan Rasulullah SAW mengangkat kepalanya ke langit mengucapkan : Ya 
Allah !.

  Rasulullah SAW menyeru kepada Tuhannya Allah Subhanahu wa Ta'ala yang 
berada di atas langit yakni di atas 'Arsy di atas sekalian mahluk-Nya. 
Kemudian perhatikanlah kaum Jahmiyyah yang mengatakan Allah ada di segala 
tempat, di bawah mahluk, di jalan-jalan, di tempat-tempat yang kotor, dan di 
perut-perut hewan !?

  Maha Suci Allah ! Maha Suci Allah dari apa yang disifatkan oleh kaum 
Jahmiyyah dan yang sama dengan mereka !.   Artinya
:
  "Dari Aisyah, ia berkata : "Nabi SAW mengangkat kepalanya ke langit. 
(Riwayat Imam Bukhari 7/122).

(BERSAMBUNG.....)
________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com


 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
 ( Melanggan ? To : [EMAIL PROTECTED]   pada body : SUBSCRIBE HIZB)
 ( Berhenti ? To : [EMAIL PROTECTED]  pada body:  UNSUBSCRIBE HIZB)
 ( Segala pendapat yang dikemukakan tidak menggambarkan             )
 ( pandangan rasmi & bukan tanggungjawab HIZBI-Net                  )
 ( Bermasalah? Sila hubungi [EMAIL PROTECTED]                    )
 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pengirim: "k b" <[EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke