Poso
ISAK TANGIS WARNAI PELEPASAN
( Jakarta, al-bunyan.net, 26 Oktober 2000 ).
Setelah berada di pengungsian hampir enam bulan, 75 pengungsi
Poso yang ada di Palu diberi kesempatan untuk
pulang ke kampung asalnya masing-masing selama tiga hari.
Hal itu dimaksudkan agar pengungsi dapat melihat langsung
rumah, kebun, dan harta mereka yang ditinggalkan cukup lama.
Sebelum diberangkatkan di halaman gedung DPRD Sulawesi Tengah
oleh Ketua DPRD setempat, Prof (Em) Drs H
Aminuddin Ponulele MS, beberapa pengungsi sempat meneteskan
air mata. Para pengungsi, terutama janda, kembali
menceritakan bagaimana suami dan anggota keluarganya yang
lain dibantai perusuh. Mereka menuntut, siapa saja yang
terlibat dalam pembantaian sadis itu harus diproses secara
hukum.
"Saya tinggal di Km 9, Desa Sintuwu Lemba. Suami dan 35 anggota
keluarga saya yang lainnya habis dibantai. Meski
kami semua sekarang jadi janda, kami tetap mau pulang ke
kampung asalkan ada jaminan keamanan. Kami masih memiliki
tanah dan kebun di sana," kata Ny Karno dan Ny Katinah dengan
mata yang berkaca-kaca. Sebelumnya, mereka tinggal
di kompleks Pesantren Walisongo, daerah yang paling banyak
warganya dibantai.
Dari 75 pengungsi yang dipulangkan Kamis (26/10) pagi, 16
di antaranya adalah wanita. Mereka diangkut dengan dua
bus ber-AC. Sejak berangkat sampai kembali nanti, para pengungsi
itu dikawal sejumlah polisi lengkap dengan senjata
serta petugas kesehatan.
Koordinator penanggung jawab pengungsi, Yus Mangun dan pelaksana
tugas Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial, Andi
Azikin Suyuti, menjelaskan mereka sengaja dipulangkan selama
tiga hari ke daerah asalnya masing-masing untuk melihat
langsung rumah dan kebunnya. Apakah rumah mereka masih ada
atau sudah rata dengan tanah dibakar. Demikian pula
kebunnya, apakah coklatnya sudah dapat dipanen atau sudah
habis dipanen penjarah.
Tapi yang penting, kata Yus Mangun, mereka diberangkatkan
untuk melihat langsung kondisi keamanan daerah asalnya.
Sebab, selama ini mereka hanya mendengar cerita bahwa Poso
belum aman. Padahal, sekarang kondisi bekas daerah
konflik itu berangsur-angsur mulai aman. "Bila selama tiga
hari di kampungnya merasa aman, pasti setelah kembali nanti
mereka akan menceritakan kepada teman-temannya sehingga berkeinginan
segera kembali ke kampung asalnya
masing-masing," kata Yus Mangun.
Jadi, kata Andi Azikin, mereka yang diberangkatkan adalah
duta-duta pengungsi pilihan. Apa yang disaksikan selama
berada di kampungnya, diharapkan dapat diceritakan kepada
pengungsi lainnya. "Mereka ini sebenarnya menjadi
motivator setelah kembali melihat kampungnya masing-masing.
Merekalah yang akan menceritakan bahwa Poso
sebenarnya sudah aman," kata Andi Azikin.
DJ. Sumber Berita : Astaga.com 26/10/2000
(Al-BunYan: Sya)
