*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
 {  Sila lawat Laman Hizbi-Net -  http://www.hizbi.net     }
 {        Hantarkan mesej anda ke:  [EMAIL PROTECTED]         }
 {        Iklan barangan? Hantarkan ke [EMAIL PROTECTED]     }
 *~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
          PAS : KE ARAH PEMERINTAHAN ISLAM YANG ADIL
 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
ADAB-ADAB IKHTILAF

Oleh Salim bin Shalih al-Marfadi

----------------------------------------------------------------------
Islam telah meletakkan sendi-sendi adab yang tinggi bagi seorang
muslim yang berjalan diatas manhaj Sunnah, dalam pergaulannya bersama
saudara-saudaranya ketika berselisih faham dengan mereka dalam
masalah-masalah ijtihadiyah. Cukuplah kiranya, sabda Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam, pembawa rahmat dan petunjuk.
"Artinya : Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan
akhlaq-akhlaq yang mulia". [Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam
'Adabul Mufrad' dan Imam Ahmad. Lihat 'Silsilah Ash-shahihah 15']

Di antara adab-adab itu ialah :

[1]. Lapang dada menerima kritik yang sampai kepada anda untuk
membetulkan kesalahan, dan hendaklah anda ketahui bahwa ini adalah
nasehat yang dihadiahkan oleh saudara seiman anda. Ketahuilah ! Bahwa
penolakan anda terhadap kebenaran dan kemarahan anda karena pembelaan
terhadap diri adalah kesombongan -A'aadzanallah. Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam telah bersabda.

"Artinya : Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang
lain". [Hadits Riwayat Muslim]

Banyak sekali contoh sekitar adab yang mulia ini yang telah dijelaskan
oleh para salafus shalih, diantaranya adalah :

Kisah yang diceritakan oleh al-Hafizh Ibnu Abdil Bar, beliau berkata :
"Banyak orang telah membawa berita kepada saya, berasal dari Abu
Muhammad Qasim bin Ashbagh, dia berkata : "Ketika saya melakukan
perjalanan ke daerah timur, saya singgah di Qairawan. Disana saya
mempelajari hadits Musaddad dari Bakr bin Hammad. Kemudian saya
melakukan perjalanan ke Baghdad dan saya temui banyak orang (Ulama)
disana. Ketika saya pergi (dari Baghdad), saya kembali lagi kepada
Bakr bin Hammad (di Qairawan-red) untuk menyempurnakan belajar hadits
Musaddad.

Suatu hari saya membacakan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
dihadapan beliau (untuk mempelajarinya) :

"Artinya : Sungguh telah datang satu kaum dari Muldar yang
(Mujtaabin Nimar)"

Beliau (Bakr bin Hammad) berkata kepadaku "Sesungguhnya yang benar
adalah Mujtabits Tsimar. Aku katakan padanya Mujtaabin Nimar,
demikianlah aku membacanya setiap kali aku membacakannya di hadapan
setiap orang yang aku temui di Andalusia dan Irak"

Beliau berkata kepadaku : "Karena enngkau pergi ke Irak, maka kini
engkau (berani) menentang aku dan menyombongkan diri dihadapanku ?"
Kemudian dia berkata kepadaku (lagi) : "Ayolah kita bersama-sama
bertanya kepada syaikh itu (menunjuk seorang syaikh yang berada di
Masjid), dia punya ilmu dalam hal seperti ini"

Kami pun pergi ke syaikh tersebut dan kami menanyainya tentang hal
ini.

Beliau berkata : "Sesungguhnya yang benar adalah [Mujtaabin Nimar]"
seperti yang aku baca. Artinya  adalah : Orang-orang yang memakai
pakaian, bagian depannya terbelah, kerah bajunya ada di depan. Nimar
adalah bentuk jama' dari Namrah. Bakr bin Hammad berkata sambil
memegangi hidungnya : "Aku tunduk kepada al-haq, aku tunduk kepada
al-haq !" lalu ia pergi. [Mukhtasyar Jaami' Bayanil Ilmi wa Fadlihi,
hal.123 yang diringkas oleh Syaikh Ahmad bin Umar al-Mahmashaani]

Saudaraku, cobalah anda perhatikan -semoga Allah senantiasa menjaga
anda- betapa menakjubkan sikap Adil ini ! Alangkah perlunya kita pada
sikap adil seperti sekarang ! Akan tetapi mana mungkin hal itu terjadi
kecuali bagi orang yang ikhlas niatnya karena Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Inilah dia Imam Malik rahimahullah (pada masa hidupnya-red)
pernah berkata : "Tidak ada sesuatupun yang lebih sedikit dibandingkan
dengan sifat adil pada zaman sekarang ini" [Mukhtasyar Jaami' Bayanil
Ilmi wa Fadlihi, hal . 120 yang diringkas oleh Syaikh Ahmad bin Umar
al-Mahmashaani]

Maka apa lagi dengan zaman sekarang ini yang sudah demikian
berkecamuknya hawa nafsu!! -Kita berlindung kepada Allah dari fitnah
yang menyesatkan-.

[2]. Hendaklah memilih ucapan yang terbaik dan terbagus dalam
berdiskusi dengan sesama saudara Muslim. Allah berfirman.

"Artinya : Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia"
[Al-Baqarah : 83]

Dari Abu Darda' Radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan
seorang mukmin pada hari kiamat dibanding akhlaq yang baik, dan
sesungguhnya Allah murka kepada orang yang keji dan jelek
(akhlaqnya)". [Hadits Riwayat Tirmidzi).

[3]. Hendaklah diskusi yang dilakukan terhadap saudara sesama Muslim,
dengan cara-cara yang bagus untuk menuju suatu yang lebih lurus.

Yang menjadi motiv dalam berdiskusi hendaklah kebenaran, bukan untuk
membela hawa nafsu yang sering memerintahkan pada kejelekan. Akhlak
anda ketika berbicara terletak pada keikhlasan anda. Jika diskusi
(tukar fikiran) sampai ketingkat adu mulut, maka katakanlah :
"salaam/selamat berpisah !" dan bacakanlah kepadanya sabda Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Saya adalah pemimpin di sebuah rumah di pelataran sorga
bagi orang yang meninggalkan adu mulut meskipun ia benar" [Hadits
Riwayat Abu Daud dari Abu Umamah al-Bahily]

Al-Hafizh Ibnu Abdil Bar menyebutkan dari Zakaria bin Yahya yang
berkata : "Saya telah mendengar Al-Ashma'i berkata : "Abdullah bin
Hasan berkata : Adu mulut akan merusak persahabatan yang lama, dan
mencerai beraikan ikatan (persaudaraan) yang kuat, minimal (adu mulut)
akan menjadikan mughalabah (keinginan untuk saling mengalahkan) dan
mughalabah adalah sebab terkuat putusnya ikatan persaudaraan.
[Mukhtasyar Jaami' Bayan al-Ilmi wa Fadlihi hal. 278]

Dari Ja'far bin Auf, dia berkata : saya mendengar Mis'ar berkata
kepada Kidam, anaknya :
Kuhadiahkan buatmu wahai Kidam nasihatku
Dengarlah perkataan bapak yang menyayangimu
Adapun senda gurau dan adu mulut, tinggalkanlah keduanya
Dia adalah dua akhlak yang tak kusuka dimiliki teman
Ku pernah tertimpa keduanya lalu akupun tak menyukainya
Untuk tetangga dekat ataupun buat teman
Para salaf shalih telah membuat permisalan yang sangat cemerlang
tentang etika ikhtilaf (perselisihan pendapat), diantaranya adalah :

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Hushain bin
Abdurrahman, dia berkata : "Saya berada di tempat Said bin Jubair,
lalu ia berkata : "Siapakah diantara kalian yang melihat bintang jatuh
tadi malam ?
Saya jawab : "Saya, tetapi ketahuilah bahwa saya tidak dalam keadaan
shalat, saya kena sengat binatang berbisa!".
Sa'id bertanya : "Apa yang kau perbuat ?"
Saya menjawab : "Saya melakukan ruqyah (baca-bacaan sebagai obat)"
Said bertanya : "(Dalil) apakah yang membawamu untuk melakukan itu ?"
Saya jawab : "Sebuah hadits yang diceritakan kepada kami oleh
As-Sya'bi".
Sa'id berkata :"Apa yang diceritakan Asy-Sya'bi kepadamu ?"
Saya jawab : "Dia bercerita kepada kami dari Buraidah bin Al-Hushain
bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Tidak ada ruqyah kecuali (pada penyakit yang timbul) dari
mata (orang yang dengki) dan bisa (racun) hewan"

Dia berkata : "Sungguh bagus orang yang berpedoman pada apa (riwayat)
yang ia dengar, akan tetapi Ibnu Abbas menceritakan kepada kami bahwa
.....(sampai akhir hadits)"

Perhatikanlah adab mulia yang dimiliki pewaris ilmunya Ibnu Abbas
Radhiyallahu 'anhu ini, ia tidak memaki Hushain bin Abdurrahman (orang
yang berselisih dengannya), bahkan menganggapnya baik karena Hushain
mengamalkan dalil yang ia ketahui. Kemudian baru setelah itu. Sa'id
bin Jubair menjelaskan hal yang lebih utama (untuk dilakukan) dengan
cara yang lembut dan dikuatkan dengan dalil.

Akhirnya melalui hadits ini kita dapat mengambil beberapa kesimpulan
berikut.

1.. Ikhtilaf, meskipun ia sudah menjadi perkara yang ditakdirkan
oleh Allah akan tetapi wajib bagi kita untuk menjauhinya dan tidak
punya keinginan untuk berikhtilaf pada suatu yang boleh selama kita
masih ada jalan untuk menghindarinya.

2.. Perkara-perkara yang diperbolehkan ijtihad padanya, memiliki
beberapa syarat dan ketentuan-ketentuan yang diatur oleh ilmu dan
keikhlasan bukan diatur oleh perkiraan dan kemauan hawa nafsu.

3.. Ahlu Sunnah memiliki manhaj dalam memahami ikhtilaf yang diambil
dari Al-Qur'an dan Sunnah. Diantara adab-adabnya adalah mengikuti
akhlak para salaf shalih dalam pergaulan dengan sesama mereka ketika
terjadi ikhtilaf.

4.. Tidak boleh bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari
akhir untuk menuduh saudaranya memisahkan diri dari manhaj Ahlus
Sunnah kecuali berdasarkan ilmu dan keadilan, bukan berdasarkan
kebodohan dan kezhaliman.

5.. Tidak mencampur adukkan antara masalah-masalah ijtihadiyah
dengan masalah iftiraq (perpecahan) demikian juga tidak boleh
mencampur-adukkan antara orang yang membuat bid'ah juz'iyah dengan
orang yang meninggalkan sunnah dengan bid'ah kulliyah.
[Demikianlah, semoga tulisan terjemahan dari majalah al-Ashalah ini
dapat memberikan tambahan pemahaman kepada pembaca sekalian tentang
Fiqh Ikhtilaf atau perbedaan pendapat]



----------------------------------------------------------------------
Disadur dari Majalah Al-Ashalah tgl.15 Dzul Hijjah 1416H, edisi 17/Th
III hal. 78-89, karya Salim bin Shalih Al-Marfadi, dan dimuat di
Majalah As-Sunnah edisi 06/Tahun V/1422H/2001M, hal. 30-32 Adab-AdaB
Ikhtilaf merupakan bagian ketiga dari tiga bagian,  diterjemahkan oleh
Ahmad Nusadi.

----------------------------------------------------------------------



**********************************************************************
This email and any files transmitted with it are confidential and
intended solely for the use of the individual or entity to whom they
are addressed. If you have received this email in error please notify
the system manager.
**********************************************************************


 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
 ( Melanggan ? To : [EMAIL PROTECTED]   pada body : SUBSCRIBE HIZB)
 ( Berhenti ? To : [EMAIL PROTECTED]  pada body:  UNSUBSCRIBE HIZB)
 ( Segala pendapat yang dikemukakan tidak menggambarkan             )
 ( pandangan rasmi & bukan tanggungjawab HIZBI-Net                  )
 ( Bermasalah? Sila hubungi [EMAIL PROTECTED]                    )
 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pengirim: "Mohd Yaakub Mohd Yunus" <[EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke