*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
{ Sila lawat Laman Hizbi-Net - http://www.hizbi.net }
{ Hantarkan mesej anda ke: [EMAIL PROTECTED] }
{ Iklan barangan? Hantarkan ke [EMAIL PROTECTED] }
*~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*
PAS : KE ARAH PEMERINTAHAN ISLAM YANG ADIL
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
NO. 27/XXX/3 - 9 September 2001
Nasional
Setelah Dani Tergolek di Kramatjati
Demi Daulah Islam Nusantara, kaum mujahidin diduga
melakukan aksi teror di Malaysia, Indonesia, dan
Filipina. Benarkah kelompok lokal terlibat?
-------------------------------------------------------
Di Rumah Sakit Kramatjati, Jakarta Timur, kini masih
tergolek tubuh Taufik Abdul Halim alias Dani. Satu
kaki pemuda berusia 26 tahun asal Malaysia itu sudah
diamputasi. Rambutnya pun telah dipotong pendek. Tapi
ia masih ke-lihatan gagah karena dagunya yang kekar
dan sorot matanya yang tajam. Pekan lalu, korban
sekaligus pelaku ledakan bom di Plaza Atrium Senen,
Jakarta, itu melontarkan pengakuan penting. Ucapannya
memperjelas sebuah dugaan: adanya jaringan teroris
internasional yang telah merambah ke negeri ini.
Dimuat dalam sebuah koran Malaysia, The Star, edisi 30
Agustus lalu, Dani mengaku sebagai pembawa bom yang
meledak di Senen sebulan silam itu. Bom yang dicampuri
paku dan baut itu dibawanya bersama tiga rekannya.
Benda berbahaya itu keburu meledak sebelum perintah
datang. Keterangan alumni Universitas Teknologi Mara,
Johor Baru, yang pernah bergerilya di Pakistan selama
tiga tahun ter-sebut tak berhenti di situ. Ia juga
mengungkapkan bahwa ledakan sepekan sebelumnya di
Gereja Santa Anna, Jakarta Timur, merupakan hasil
kerja kelompoknya.
Dani datang ke Indonesia sekitar Juni tahun lalu. Ia
menyusup secara ilegal karena paspornya A 6057149
sudah ditahan oleh imigrasi Malaysia. Pemuda yang suka
memakai nama samaran Dodi itu masuk lewat Nunukan,
Kalimantan Timur, sempat transit di Sulawesi, lalu
menjejakkan kakiknya di daerah konflik di Maluku. "Di
sana saya ikut menjaga kampung-kampung dari serangan
musuh," katanya.
Pengakuan Dani menjadi bahan kajian kalangan intelijen
Indonesia, kepolisian, dan bahkan interpol. Diduga,
sekitar delapan orang Malaysia yang menyusup bersama
Dani masih berkeliaran di Indonesia. Terang-terangan,
Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Sofjan Jacoeb,
menyebut adanya kaki tangan jaringan teroris
antarbangsa yang membuat onar di Indonesia. Kata
Sofjan, mereka berasal dari kelompok jihad di
Malayasia yang masuk lewat berbagai pintu, antara lain
Manado, Tarakan (Kalimantan Timur), Ambon, dan
Tanjungpriok. Masalah ini juga menjadi pembicaraan
saat Presiden Megawati bertemu dengan Perdana Menteri
Malaysia beberapa waktu silam.
Menurut sumber TEMPO di Mabes Polri, kelompok Islam
garis keras itu mulai berkembang di Asia lima tahun
silam, seiring dengan memanasnya konflik di
Afghanistan. Kelompok mujahidin (pembela agama Islam)
di sana merekrut banyak pemuda dari Malaysia, Aceh,
dan Filipina Selatan. Ini juga diakui oleh Jafar Umar
Thalib, Panglima Laskar Jihad Ahlussunah Wal Jamaah,
yang pernah tinggal di negeri itu selama dua tahun.
Kata Jafar, kelompok ini dikenal radikal dan gampang
mengafirkan orang lain, termasuk pemerintah.
Nah, setelah konflik di Afghanistan mereda, para
pemuda yang terlatih ini kembali ke negaranya
masing-masing. Dikendalikan dari Malaysia, kata sumber
di kepolisian, mereka masih mengadakan koordinasi dan
melibatkan diri dalam berbagai aksi. Kelompok yang
oleh kepolisian Malaysia disebut Kumpulan Mujahidin
Malaysia ini menyokong perjuangan suku Moro di
Filipina. Mereka bergabung dalam kubu Abu Sayyaf, yang
sering melakukan penyanderaan.
Sebagian alumni mujahidin Afghanistan juga bergabung
dengan Gerakan Aceh Merdeka. Dan ketika pemerintah
Indonesia me-lakukan operasi besar-besaran, mereka
balik lagi ke Malaysia. Demikian pula saat konflik
SARA di Maluku meletup, mereka pun me-libatkan diri.
Selain mengirimkan orang, mereka juga berupaya
menyelundupkan senjata. Akhir Juli lalu, polisi
Malaysia menahan belasan warga Malaysia dan Indonesia
di Sabah. Mereka ditangkap karena membawa dua senjata
M-16 dan enam pistol yang diduga akan diselundupkan ke
Ambon.
Tak cuma itu. Di Indonesia, mereka juga terlibat dalam
sejumlah aksi pengeboman gereja, seperti diakui oleh
Dani. Menurut sumber TEMPO di interpol, pola kegiatan
dan jenis bom yang mereka gunakan mirip dengan yang
meledak di kota-kota di Filipina. Bom itu umumnya
berdaya ledak rendah, sehingga harus dicampuri paku,
mur, atau baut agar bisa melukai orang. Hanya, sejauh
ini Dani tidak mau dikaitkan dengan Kumpulan
Mujahidin.
Dalam kaitan dengan teror bom ini, satu simpul lain
telah mencuat di Bandung. Ini gara-gara pengakuan
Iqbaluzzaman, pelaku peledakan bom pada malam Natal
tahun lalu, yang telah divonis 15 tahun penjara. Dulu,
Iqbal pernah aktif di kelompok Negara Islam Indonesia
(NII) yang dipimpin Abdul Fatah Wiragapati. Lelaki
berkumis tipis dan berjenggot pendek berusia 45 tahun
itu mengisyaratkan adanya keterlibatan orang Malaysia
bernama Hambali. Dialah yang mengatur rencana
pe-ledakan bom dan menjanjikan iming-iming duit 25
ribu ringgit (sekitar Rp 60 juta).
Lahir di Cianjur, Jawa Barat, Hambali sudah 10 tahun
tinggal di Malaysia dan beristri wanita sana. Kaitan
antara Hambali dan Kumpulan Mujahidin memang belum
terbukti. Yang jelas, sampai sekarang ia masih dicari
oleh polisi Indonesia dan Malaysia (lihat boks
wawancara Iqbal: "Saya Dizalimi Orang Malaysia").
Lalu, apa sebetulnya motivasi kaum mujahidin? Dibentuk
pada 1988, Kumpulan Mujahidin Malaysia bertujuan
memperjuangan tegaknya syariat Islam. Pemimpinnya
bernama Nik Adli Abdul Aziz, 34 tahun, anak Menteri
Besar Kelantan. Kelompok ini mempunyai cabang di
Selangor, Kedah, Perak, Johor, Terangganu, dan
Kelantan. Dengan membuat kekacauan di Malaysia,
Indonesia, dan Filipina, diduga mereka ingin
mendirikan Negara Daulah Islam Nusantara.
Malah, menurut Jafar Umar Thalib, Kumpulan Mujahidin
ini telah masuk dalam jaringan Osama bin Laden. Tokoh
teroris kaya asal Arab Saudi ini sampai sekarang masuk
daftar orang yang paling dicari oleh pemerintah
Amerika Serikat. Sebelum mengembangkan sayapnya ke
mana-mana, gerakan Osama mula-mula berkosentrasi di
Sudan, Afghanistan, dan Yaman.
Di Indonesia pun, kata Jafar, jaringan Kumpulan
Mujahidin Malaysia sudah menancapkan akarnya.
Organisasi yang dibentuk bernama Laskar
Mujahidin�bukan Laskar Jihad Mujahidin seperti yang
pernah dilontarkan polisi. Beranggotakan sekitar 100
orang, mereka bermarkas di daerah Airkuning, Ambon.
"Orang-orang dari Kumpulan Mujahidin Malaysia juga
menyelinap di antara mereka," katanya.
Ada juga yang mengaitkan dengan Majelis Mujahidin yang
diproklamasikan pada kongres di Yogyakarta, Agustus
tahun lalu. Gerakan ini merupakan payung dari berbagai
komunitas, termasuk kelompok NII. Majelis Mujahidin
menjadi sorotan karena salah satu tokohnya, K.H.
Abubakar Ba'asyir, kini tengah dicari oleh polisi
Malaysia. Lelaki berusia 62 tahun itu sekarang tinggal
di Pondok Pesantren Al-Mukmim, Ngruki, Sukohardjo,
Jawa Tengah. Ia memang pernah menetap di Malaysia
sejak 1985, setelah menjalani hukuman penjara 3 tahun
10 bulan. Ia dihukum karena dituduh terlibat Komando
Jihad, yang ingin mendirikan NII pada 1978.
Di Malaysia, Abubakar sering memberikan ceramah dalam
berbagai pengajian, tapi ia mengelak jika dikaitkan
dengan Kumpulan Mujahidin. Kata Irfan Suryahadi Awwas,
Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin, tidak
mungkin Abubakar terlibat dalam organisasi itu. Sebab,
ia sudah kembali ke Indonesia dua tahun silam, ketika
nama Majelis Mujahidin belum terdengar. Tapi Irfan
mengakui salah satu anggotanya, Ustadz Iqbal
Abdurrachman, kini tengah ditahan polisi Malaysia. "Ia
dikait-kaitkan dengan Kumpulan Mujahidin karena sering
memberikan ceramah di sana," ujarnya kepada L.N.
Idayanie dari TEMPO.
Bagi Irfan, mencuatnya organisasi Kumpulan Mujahidin
Malaysia hanyalah rekayasa pemerintahan Mahathir
Mohamad. Wadah itu sebetulnya tidak ada, cuma semacam
organisasi tanpa bentuk. Manuver Mahathir ini, menurut
Irfan, merupakan bagian dari konspirasi anti-Islam.
Dampaknya di Indonesia bisa seperti di era Orde Baru,
berbagai rekayasa dilakukan untuk memojokkan gerakan
Islam. Irfan hanya bisa berharap agar Ketua Badan
Intelijen Negara, A.M. Hendropriyono, tidak ter-jebak
pada kesalahan yang dulu dilakukan oleh Ali Moertopo.
Sepintas berbagai aksi teror memang gampang
dihubungkan dengan gerakan Islam radikal. Dani sudah
mengaku, Iqbal di Bandung pun sudah bernyanyi. Yang
jadi soal, benarkah mereka melakukan aksi demi
perjuangan Islam. Ini susah dibuktikan. Bisa jadi,
mereka sekadar menerima pesanan dari pihak lain. Lagi
pula, di balik peledakan bom di Indonesia, kelompok
Islam cuma salah satu kemungkinan. Masih banyak lagi
yang di-tuding, antara lain kelompok Tommy Soeharto,
preman bayaran, dan juga Gerakan Aceh Merdeka.
Kini, masyarakat menanti polisi menguji asumsi tadi.
Sulit memang. Tapi mengaitkan aksi pengeboman di
negeri ini dengan jaringan teroris Islam tampaknya
terlalu menyederhanakan masalah. Dan polisi tentu tak
segegabah itu, sebelum ditemukan bukti lengkap.
Gendur Sudarsono, Rinny S., Raihul Fadjri, Muchid
Albintani (Malaysia)
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Everything you'll ever need on one web page
from News and Sport to Email and Music Charts
http://uk.my.yahoo.com
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
( Melanggan ? To : [EMAIL PROTECTED] pada body : SUBSCRIBE HIZB)
( Berhenti ? To : [EMAIL PROTECTED] pada body: UNSUBSCRIBE HIZB)
( Segala pendapat yang dikemukakan tidak menggambarkan )
( pandangan rasmi & bukan tanggungjawab HIZBI-Net )
( Bermasalah? Sila hubungi [EMAIL PROTECTED] )
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pengirim: =?iso-8859-1?q?hadi=20hadad?= <[EMAIL PROTECTED]>