Anda terdaftar dengan alamat: arch...@mail-archive.com

e-JEMMi -- Samuel Zwemer
No.25, Vol.15, Juni 2012

SEKILAS ISI
TOKOH MISI: SAMUEL ZWEMER
SUMBER MISI: RAVI ZACHARIAS INTERNATIONAL MINISTRIES (RZIM)

Shalom,

Bekerja di ladang Tuhan adalah panggilan untuk semua orang percaya. Namun perlu 
diingat bahwa panggilan Tuhan bukan hanya untuk "ladang-ladang" subur saja, 
melainkan juga untuk "daerah-daerah" tandus, seperti "dunia sepupu": ladang 
yang paling sering dihindari anak-anak Tuhan karena berbagai alasan. Samuel 
Zwemer adalah pemuda yang dipanggil Allah ke "ladang" paling tandus tersebut 
dan dia memenuhi panggilan ini. Salah satu kisahnya diangkat dalam sajian 
e-JEMMi minggu ini. Semoga menginspirasi Anda untuk mulai bekerja di 
"ladang-ladang" tandus di sekitar Anda. Selamat membaca!

Redaksi Tamu e-JEMMi,
Berlian Sri Marmadi
< http://misi.sabda.org/ >


TOKOH MISI: SAMUEL ZWEMER

Kekuatan yang menjadi ciri khas para sukarelawan mahasiswa, yang menyebar ke 
seluruh dunia pada akhir abad ke-19, adalah kualitas yang menjadi ujung tombak 
dalam usaha pelayanan misi ke "dunia sepupu", sebuah tempat yang menolak 
kekristenan dengan begitu keras. Pelayanan misi pertama ke "dunia sepupu" 
dilakukan oleh Raymond Lull pada abad ke-13. Pada saat itu, ia hampir dapat 
dikatakan seorang diri menginjili "orang sepupu" daripada memerangi mereka. 
Pada abad berikutnya, menurut Stephen Neill, "tanah sepupu" sangat tidak 
diperhatikan oleh pelayanan misi Kristen, dibandingkan dengan ladang lain yang 
lebih produktif. Keadaan tersebut berubah pada akhir abad ke-19, sebuah masa 
yang ditandai dengan dimulainya pertemuan yang lebih nyata antara iman kepada 
Yesus Kristus dan iman kepada "nabi sepupu". Gereja Anglikan memasuki "wilayah 
sepupu" pada tahun 1860-an, dan denominasi lain perlahan-lahan mengikutinya. 
Tetapi Samuel Zwemerlah, seorang mahasiswa yang menjadi sukarelawan dan tanpa 
dukungan denominasi mana pun, yang mengoordinasi usaha pelayanan misi kepada 
"orang-orang sepupu", serta menarik perhatian dunia kepada "masyarakat sepupu" 
dan kebutuhan mereka akan Kristus. Banyak sukarelawan mahasiswa yang lain, 
termasuk W.H. Temple Gairdner, Dr. Paul Harrison, dan William Borden, yang juga 
menyerahkan hidup mereka untuk bekerja keras dalam pelayanan misi yang paling 
sulit dan hampir tanpa penghargaan ini.

Samuel Zwemer, rasul kepada "orang-orang sepupu", lahir di dekat Holland, 
Michigan, pada tahun 1867, sebagai anak ke-13 dari 15 bersaudara. Ayahnya 
adalah seorang pendeta Gereja Reformed, sehingga sangat wajar jika setelah 
Samuel dewasa, ia pun memasuki ladang pelayanan. Empat dari lima saudara 
laki-lakinya yang masih hidup juga melayani, sedangkan saudarinya, Nelie Zwemer 
menyerahkan 40 tahun hidupnya untuk melayani Tuhan sebagai utusan Injil ke 
Tiongkok. Ketika ia menjadi mahasiswa di Hope College, Zwemer baru merasakan 
pentingnya pelayanan misi luar negeri. Tahun-tahunnya di universitas 
dipengaruhi oleh khotbah Robert Wilder (seorang pendukung utusan Injil yang 
juga memberikan pengaruh kepada John R. Mott dan Mount Hermon Hundred). Ia dan 
lima dari tujuh teman sekelasnya menjadi sukarelawan untuk pelayanan misi di 
luar negeri.

Setelah mengikuti pendidikan di seminari dan menjalani pelatihan medis, Zwemer 
dan seorang mahasiswa di seminari itu, James Cantine, mengajukan diri mereka 
kepada Reformed Board untuk melayani di dunia Arab; namun mereka ditolak karena 
anggapan pada masa itu, bahwa pelayanan misi semacam ini adalah sesuatu "yang 
tidak berguna". Tanpa kenal takut, kedua pemuda ini membentuk tim misi mereka 
sendiri bernama "American Arabian Mission" dan mulai menggalang dukungan. 
Zwemer melakukan perjalanan kira-kira sejauh 5.200 kilometer dan mengunjungi 
hampir setiap gereja di Ohio bagian Barat, sementara Cantine melakukan 
perjalanan ke Timur. Metode perwakilan mereka cukup unik, mereka tidak meminta 
dukungan untuk diri mereka sendiri, tetapi Zwemer meminta dukungan untuk 
Cantine, dan Cantine meminta dukungan untuk Zwemer. Ketidaktertarikan para 
pendeta terhadap misi ini merupakan sesuatu kemunduran, tetapi ada pula 
gangguan-gangguan kecil, "Hari Sabat yang lalu, saya berkhotbah tentang misi di 
sebuah kebaktian sore -- walaupun saya tidak dapat menggantung bagan yang saya 
bawa! Ternyata di gereja itu selalu diadakan latihan olah vokal untuk pemuda 
setelah kebaktian -- tetapi dengan pertolongan Allah, saya dapat berbicara 
tanpa bagan itu -- dan saya berhasil."

Pada tahun 1889, perjalanan Cantine berakhir dan ia berlayar menuju tanah Arab, 
dan Zwemer yang menyusulnya pada tahun 1890. Keteguhan hati dan pengabdian 
mereka akhirnya mendapat perhatian para pemimpin gereja, sebab pada tahun 1894 
badan misi yang baru ini mendapat undangan untuk bermitra dengan Reformed 
Church of America. Kemajuan yang lambat dan penolakan selama tahun-tahun 
pertama pelayanan mereka di Teluk Persia tidak melemahkan semangat mereka, 
kesulitan itu hanya membuktikan apa yang sudah mereka perhitungkan. Awalnya, 
Zwemer dan Cantine tinggal dengan dua utusan Injil Anglikan, tetapi ketika 
pasangan utusan Injil Anglikan itu dipindahtugaskan, maka mereka sendirian dan 
hanya tinggal bersama dengan seorang petobat baru dari Suriah yang datang untuk 
bekerja dengan mereka. Kematian mendadak pemuda Suriah itu, hanya 6 bulan 
setelah kedatangan Zwemer, merupakan kemunduran yang menyakitkan bagi pelayanan 
itu.

Pada tahun 1895, setelah 5 tahun dalam kesendirian sebagai seorang utusan Injil 
tunggal, Zwemer jatuh hati pada Amy Wilkes, seorang utusan Injil perawat dari 
Inggris, yang disponsori oleh Church Missionary Society of the Anglican Church. 
Meskipun ia adalah seorang penginjil, tetapi masa perkenalan dan pernikahannya 
dengan Amy bukanlah tanpa halangan. Untuk mengelak dari "peraturan yang sangat 
ketat mengenai utusan Injil perempuan dalam memiliki teman laki-laki", yang 
dibuat oleh Church Missionary Society merupakan kesulitan tersendiri. 
Pernikahan berarti menghadapi tantangan yang lebih berat lagi, terutama bagi 
utusan Injil muda yang terbatas dalam hal keuangan. Penulis biografi Zwemer 
menulis, "Church Missionary Society tidak melepaskan harga mereka tanpa sebuah 
perjuangan, sebab sama seperti budaya dalam perkumpulan yang lain, bahwa 
sebagian biaya transportasi harus dibayarkan kepada mereka jika seorang anggota 
baru tidak bertahan dalam jangka waktu yang telah ditetapkan di lapangan. 
Peraturan ini harus dipenuhi. Jadi, Samuel Zwemer membeli istrinya seperti 
dalam adat oriental."

Setelah berlayar ke Amerika Serikat untuk cuti pada tahun 1897, keluarga Zwemer 
kembali ke Teluk Persia untuk melayani di antara "orang-orang sepupu" di Pulau 
Bahrain. Pasangan ini menyalurkan bahan literatur dan mengadakan penginjilan di 
jalan-jalan yang ramai maupun di rumah-rumah, tetapi mereka jarang mendapat 
tanggapan yang positif. Keadaan hidup mempersulit usaha mereka untuk 
mengerjakan pelayanan misi yang sukses. Pada zaman sebelum ada pendingin 
ruangan, temperatur di tempat itu hampir tak dapat tertahankan -- mencapai 107 
derajat Fahrenheit (41,5 derajat Celcius) di tempat terdingin, di beranda. 
Dukacita pun terjadi di tengah-tengah pelayanannya, dua putri kecil keluarga 
ini, masing-masing berumur 4 dan 7 tahun, meninggal dalam jarak waktu 8 hari. 
Meskipun mengalami kesulitan dan dukacita, Zwemer mengerjakan pelayanannya 
dengan sukacita. Ia bahkan dapat melihat hari-hari itu, suatu hari 50 tahun 
kemudian, sambil berkata, "Sukacita semata yang dialami pada hari-hari itu 
seakan kembali, dan dengan senang hati aku akan mengulangi masa itu lagi...."

Setelah tahun 1905, perjalanan misi Arab yang dikerjakan oleh Zwemer berhasil 
mendirikan empat pos pelayanan. Walaupun mereka kekurangan sumber daya manusia, 
para petobat baru itu menunjukkan keberanian yang sangat luar biasa dalam iman 
mereka yang baru. Pada tahun itu pula, keluarga Zwemer kembali ke Amerika 
Serikat, meskipun mereka belum mengetahui, itulah peristiwa yang menandai usaha 
perintisan pelayanan mereka di tengah-tengah "orang sepupu". Di Amerika, Zwemer 
berbicara atas nama pelayanan misi kepada "orang-orang sepupu". Dengan penuh 
semangat ia menggalang dana, menyingkirkan segala bentuk filosofi Hudson Taylor 
yang mengatakan bahwa segala kebutuhan dana tidak perlu diketahui oleh orang 
lain. Kemudian pada tahun 1906, beliau menjabat sebagai ketua konferensi besar 
pertama para utusan Injil yang melayani di "dunia sepupu" yang diadakan di 
Kairo.

Selama di Amerika Serikat, Zwemer menerima sebuah panggilan penting untuk 
menjadi sekretaris bagi "Volunteer Movement", sebuah jabatan yang benar-benar 
tepat untuknya. Pada saat yang sama, Zwemer juga menjabat sebagai sekretaris 
lapangan bagi "Reformed Board of Foreign Missions", sehingga waktunya 
dihabiskan untuk bepergian dan membawakan ceramah. Tidak seperti pelayanannya 
di "dunia sepupu", pelayanan yang dikerjakannya kali ini memperoleh banyak 
tanggapan yang antusias, dan banyak mahasiswa yang mendengar ceramahnya 
memenuhi panggilan untuk pelayanan misi luar negeri. Kendati demikian, Zwemer 
tidak sabar untuk kembali ke pos pelayanannya di Arab Saudi; dan pada tahun 
1910, menyusul Edinburgh Missionary Conference dan perjalanan kembali ke 
Amerika, Zwemer kembali berlayar ke Bahrain untuk melanjutkan pelayanannya.

Istri dan kedua anaknya yang termuda menemaninya saat kembali ke wilayah Teluk, 
tetapi tidak untuk waktu yang lama. Rencana hidup kedua anaknya yang tertua di 
Amerika tidak seperti yang diharapkan, begitu pula dengan tidak tersedianya 
pendidikan bagi kedua anaknya yang termuda ini di ladang misi. Karena itulah, 
Amy kembali ke Amerika Serikat untuk mengurus masalah keluarga ini, sebuah 
situasi yang membuat keluarga ini seperti yang diutarakan Zwemer, "berada di 
ujung tiga tanduk dilema" -- sebuah masalah tanpa pemecahan yang nyata. "Jika 
istrinya pulang bersama dengan anak-anak, hal itu akan menunjukkan bahwa Zwemer 
seolah-olah tidak mencintai istrinya karena membiarkan istrinya pergi seperti 
sendirian. Jika anak-anaknya ditinggal di Amerika, maka anak-anaknya dianggap 
telah ditelantarkan oleh orang tua mereka. Jika suami-istri ini menghabiskan 
banyak waktu untuk mengambil cuti, maka orang akan menuduh mereka tidak 
bertanggung jawab dalam pelayanan mereka di ladang misi."

Kembali ke ladang misi, Zwemer merasa sulit untuk menyesuaikan dirinya dengan 
pelayanan yang ada. Kemampuannya dalam hal memimpin sangat dibutuhkan, namun 
rencana konferensi serta jadwalnya sebagai pembicara sering membuatnya jauh 
dari pos pelayanannya. Pada tahun 1912, ia menerima panggilan dari United 
Presbyterian Mission di Mesir, yang diikuti oleh Church Missionary Society, 
yang juga berlokasi di sana untuk memintanya pindah ke Kairo, dan berkoordinasi 
dengan pelayanan misi untuk seluruh "dunia sepupu". Nile Mission Press yang 
terkenal karena penyaluran bahan-bahan literatur kepada "orang-orang sepupu", 
juga turut ambil bagian dalam proyek tersebut, begitu pula YMCA dan American 
University of Cairo, sehingga membuat Zwemer tidak memiliki pilihan lain selain 
mengiyakan permintaan itu.

Di Kairo, Zwemer menemukan masyarakat yang lebih terbuka, di mana para pemuda 
yang terpelajar sangat ingin mendengarkan utusan Injil yang cerdas dan 
mengesankan dari Barat ini. Zwemer menghabiskan waktu berjam-jam setiap 
minggunya untuk mengunjungi kampus-kampus, dan menurut Sherwood Eddy, Zwemer 
bahkan mendapat akses kepada para pemimpin Universitas Al Ahzar yang bergengsi 
dan berpengaruh itu. Terkadang Zwemer mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh 
dua ribu "orang sepupu," tetapi pertobatan yang sebenarnya jarang terjadi, 
sebaliknya pertentangan terhadapnya tetap tinggi. Pada suatu waktu, ia sempat 
dipaksa untuk meninggalkan Kairo atas tuduhan telah menyebarkan traktat-traktat 
secara ilegal kepada para mahasiswa, tetapi insiden itu terbayar oleh 
pertobatan salah seorang mahasiswa tersebut. Seorang profesor di kampus itu 
dengan geram merobek salah satu traktat yang disebarkan oleh Zwemer di depan 
kelas yang dipimpinnya; seorang mahasiswanya yang penasaran mengapa selebaran 
kecil semacam itu dapat menimbulkan kemarahan yang begitu besar, memungut 
sobekan-sobekan traktat tersebut dan menyatukannya kembali, dan kemudian 
bertobat dan memeluk kekristenan.

Selama tahun pertamanya di Kairo, Zwemer ditemani oleh William Borden, seorang 
sukarelawan mahasiswa dari Yale yang telah menandatangani "Princeton Pledge" 
(ikrar yang berisi tekad untuk menjadi utusan Injil ke luar negeri oleh 
pendengar khotbah misi di Princeton University, Red) sebagai hasil dari khotbah 
yang dibawakan oleh Zwemer. Kerendahan hati Borden dan hasratnya dalam 
membagi-bagikan traktat sembari menyusuri jalanan Kairo yang panas itu dengan 
sepedanya, menyangkali fakta bahwa sebenarnya ia terlahir sebagai orang kaya 
dan adalah ahli waris dari harta keluarga Borden yang melimpah. Sebelum 
berjuang di ladang misi, Borden telah mempersembahkan ratusan ribu dollar 
kepada berbagai organisasi Kristen, dan pada saat yang sama ia menolak godaan 
untuk membeli mobil bagi dirinya sendiri, karena menganggap hal itu sebagai 
"kemewahan yang tak dapat dibenarkan". Tujuan yang ada dalam benaknya hanya 
satu, yaitu menjalani hidupnya untuk melayani sebagai utusan Injil. Itulah yang 
dilakukannya, walau hanya dalam waktu yang singkat. Empat bulan sejak 
kedatangannya di Kairo, Borden meninggal setelah serangan penyakit meningitis 
tulang belakang.

Selama 17 tahun, Zwemer menjadikan Kairo sebagai markasnya. Dari sanalah, ia 
melakukan perjalanan ke berbagai penjuru dunia, ikut serta dalam 
konferensi-konferensi, menggalang dana, dan mendirikan pelayanan bagi 
"orang-orang sepupu" di India, Cina, Indochina, dan Afrika Selatan. Metode 
penginjilan Zwemer adalah gabungan antara penginjilan tradisional dengan konsep 
"berbagi" yang lebih kontemporer, yang menjadi karakteristik sukarelawan 
mahasiswa. Ia memperlakukan "orang-orang sepupu" sejajar dengan dirinya -- ia 
membagikan imannya kepada mereka (sebuah teologi yang konservatif) sembari 
berusaha untuk memahami iman mereka, dengan demikian ia selalu menunjukkan rasa 
hormat yang sungguh-sungguh kepada "orang-orang sepupu". Walaupun orang-orang 
yang bertobat lewat pelayanannya sangatlah sedikit -- mungkin hanya setengah 
lusin selama empat puluh tahun pelayanannya -- Zwemer telah membuat kemajuan 
dalam membangkitkan perhatian orang-orang Kristen terhadap kebutuhan 
penginjilan di antara "orang-orang sepupu".

Pada tahun 1918, Zwemer mendapat tawaran yang menggoda untuk bergabung dengan 
sebuah fakultas di Princeton Theological Seminary, namun kepentingan yang 
mendesak akan pelayanannya di Kairo begitu besar, sehingga ia menolak tawaran 
tersebut. Pada tahun 1929, pelayanannya di Kairo telah berkembang dan ketika 
itu tawaran dari universitas tersebut datang kembali, kali ini ia dapat pergi 
dengan keputusan yang bijaksana untuk memulai karier yang baru sebagai pemimpin 
fakultas Sejarah Agama dan Misi Kristen.

Selain pengajarannya, peninggalan Zwemer yang lain adalah ceramah-ceramah dan 
tulisan-tulisannya. Selama 40 tahun, ia menjadi editor untuk "Moslem World" 
(jurnal paling bergengsi dalam lingkupnya di negara-negara berbahasa Inggris di 
dunia, menurut J. Herbert Kane), dan ia juga menulis ratusan traktat dan hampir 
lima puluh buku. Zwemer adalah seorang yang dipenuhi oleh "energi gugup" dan 
aktivitas mental yang tak pernah berhenti. Seorang teman seperjalanannya pada 
suatu waktu dengan segan menceritakan pengalamannya ketika menginap bersama 
Zwemer, "... ia tidak dapat diam di tempat tidur untuk setengah jam saja ... 
karena ia akan segera menyalakan lampu, bangkit dari tempat tidurnya, mengambil 
secarik kertas dan pensil, menulis beberapa kalimat, dan kemudian kembali lagi 
ke tempat tidur. Ketika kelopak mata saya mulai berat, Zwemer mulai terbangun 
lagi, menyalakan lampu, dan sekali lagi membuat beberapa catatan ... kemudian 
kembali lagi ke tempat tidur."

Sepanjang hidupnya, Zwemer menghadapi tragedi dan kesulitan. Ia meratapi 
kematian kedua putrinya, teman dekatnya, dan 2 orang istrinya (yang pertama 
pada tahun 1937 dan yang kedua pada tahun 1950). Namun demikian, ia tetap 
bersukacita dan optimis, ia juga selalu memiliki waktu untuk bersenang-senang 
dan berkelakar. Di suatu kesempatan di sebuah restoran di Grand Rapids, 
Michigan, kelakarnya menjadi begitu "riuh dan liar", sehingga kepala pelayan 
harus turun tangan untuk menertibkan keadaan. Zwemer betul-betul menghargai 
sisi terang dalam kehidupan, dan dalam banyak hal, kepribadiannya secara unik 
cocok dengan tahun-tahun yang penuh kerja keras di tanah yang tandus di "dunia 
sepupu". (t\Yudo)

Diterjemahkan dari:
Judul buku: From Jerusalem To Irian Jaya
Penulis: Ruth A. Tucker
Penerbit: Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman: 276 -- 280


SUMBER MISI: RAVI ZACHARIAS INTERNATIONAL MINISTRIES (RZIM)

Situs ini adalah situs resmi dari lembaga pelayanan Ravi Zacharias 
International Ministries (RZIM). Di dalamnya Anda dapat menemukan bahan-bahan 
apologetika berkualitas, tidak hanya dalam bentuk teks, tetapi juga audio dan 
video. Tersedia pula informasi mengenai acara-acara yang diadakan oleh RZIM 
berdasarkan region (Asia-Pasifik, Kanada, Eropa, Hong Kong, India, dan Amerika 
Serikat).

Bahan-bahan apologetika berbentuk teks yang dapat disimak adalah bahan-bahan 
pengajaran Ravi Zacharias untuk program siaran radio yang berjudul "Just 
Thinking", yang ditulis ulang dalam format artikel. Bahan-bahan ini ada yang 
ditulis sendiri oleh Ravi Zacharias dan ada juga yang ditulis oleh timnya, 
seperti Jill Carattini, Margie Zacharias, dan John Njoroge. Karena artikel ini 
selalu di "update", maka RZIM.org juga menyediakan halaman arsip, yang dapat 
Anda diakses. Selain artikel, situs ini juga menyediakan bahan-bahan renungan 
dengan nama "A Slice of Infinity". Bahan renungan ini terintegrasi dengan 
Facebook, sehingga Anda bisa membaca renungan "A Slice of Infinity" di dinding 
Anda.

Di situs ini Anda juga bisa mendengarkan siaran radio bertajuk "Just Thinking" 
dan "Let My People Think", serta menonton video-video acara diskusi Ravi 
Zacharias di universitas-universitas di Amerika. Singkatnya, situs ini 
benar-benar dapat memberi informasi yang dibutuhkan oleh orang-orang Kristen, 
yang ingin lebih dalam mempelajari apologetika. Jika Anda rindu mendalami dan 
mendapatkan bahan-bahan apologetika berkualitas, segera kunjungi situsnya. (YSY)

==>  www.rzim.org
==>  http://rzim.christianbook.com


"WHEN WE PUT OFF TODAY'S TASKS WE ADD TO TOMORROW'S BURDENS"


Kontak: < jemmi(at)sabda.org >
Redaksi: Novita Yuniarti dan Yosua Setyo Yudo
(c) 2012 -- Yayasan Lembaga SABDA
< http://www.ylsa.org >
Rekening: BCA Pasar Legi Solo;
No. 0790266579
a.n. Yulia Oeniyati
< http://blog.sabda.org/ >
< http://fb.sabda.org/misi >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org >

Kirim email ke