Anda terdaftar dengan alamat: arch...@mail-archive.com

e-JEMMi -- Penginjil dan Alkitab
No. 23, Vol. 16, Agustus 2013

Shalom,

Sering kali, ketika memberitakan firman Tuhan, kita diperhadapkan dengan 
orang-orang yang mempertanyakan keabsahan Alkitab. Beberapa dari mereka mungkin 
ingin menjatuhkan, tetapi sering kali mereka yang bertanya adalah orang-orang 
yang hanya ingin tahu lebih dalam sebelum siap membuka hati demi Injil. Namun 
demikian, pertanyaan-pertanyaan yang tajam semacam itu juga bisa menyurutkan 
kepercayaan kita terhadap firman Allah. Bagaimana seharusnya kita memandang 
Alkitab?

Pada edisi ini, kami mengajak Pembaca e-JEMMi untuk merenungkan tentang 
keabsahan Alkitab serta penyertaan Tuhan Allah atas wahyu-Nya di dunia ini. 
Dalam edisi ini, kami juga mengajak Pembaca untuk berdoa bagi Suku Belide. 
Bertekunlah dalam pelayanan bagi Tuhan Yesus Kristus. Kiranya Tuhan memberkati 
kita sekalian!

Pemimpin Redaksi e-JEMMi,
Yudo
< yudo(at)in-christ.net >
< http://misi.sabda.org/ >


RENUNGAN MISI: ALKITAB

Berbagai pertanyaan mungkin timbul dalam pikiran kita tentang kebenaran 
Alkitab. Bukankah Alkitab itu hanya ditulis oleh manusia? Kalau demikian, 
apakah Alkitab tidak ada salahnya? Apakah maksudnya bahwa Alkitab ditulis 
dengan ilham Allah? Apakah perbedaan antara Alkitab dan buku-buku lainnya? 
Apakah dalam zaman modern ini kita masih perlu membaca Alkitab; bukankah 
Alkitab sudah ketinggalan zaman?

Ada beberapa pendapat yang salah mengenai Alkitab sehingga kadang kala membuat 
kita bingung. Misalnya, ada pendapat yang mengatakan bahwa Alkitab ditulis oleh 
orang-orang jenius. Bila pendapat ini benar, maka Alkitab pasti ada salahnya 
atau tidak sempurna. Pendapat lain mengatakan bahwa Alkitab ditulis sepenuhnya 
oleh Allah sendiri. Pendapat ini menyangkal campur tangan manusia. Ada juga 
yang mengatakan bahwa hanya sebagian Alkitab diilhamkan oleh Allah -- Alkitab 
terdiri dari firman Tuhan, namun secara keseluruhan bukan firman Tuhan. 
Kelemahan pendapat ini ialah bagaimana kita yang membacanya dapat mengetahui 
mana yang diilhamkan Allah, mana yang bukan. Pendapat lain lagi mengatakan 
bahwa Tuhan memberikan ilham dalam pikiran si penulis, lalu terserah bagaimana 
si penulis itu menyampaikannya. Bagaimana kita bisa tahu bahwa yang ditulis si 
penulis itu benar?

Mungkin Anda juga pernah berpikir seperti salah satu pendapat di atas, namun 
semua pendapat di atas tidak benar. Sesungguhnya, Alkitab ditulis oleh 
ilham/wahyu/inspirasi dari Tuhan yang diberikan kepada manusia secara penuh, 
lengkap, dan sempurna dalam bahasa aslinya, bahkan sampai kepada penggunaan 
kata-katanya. Dua Timotius 3:16, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang 
bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki 
kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."

Salah satu hal yang membuat Alkitab berbeda dari buku-buku lainnya ialah bahwa 
dalam Alkitab dituliskan mengenai berbagai macam keajaiban. Pelayanan Musa 
dalam memimpin orang Israel keluar dari Mesir disertai dengan banyak keajaiban 
(Keluaran pasal 7 sampai 12). Api turun dari langit pada saat utusan Raja 
Ahazia menghadap hamba Tuhan, Elia (2 Raja-raja 1:10-15). Selain itu, 
keajaiban-keajaiban yang tertulis dalam Alkitab juga diteguhkan oleh 
sumber-sumber lain. Para arkeolog meneguhkan mengenai kejadian runtuhnya tembok 
Yerikho. Seorang sejarawan bernama Josephus (orang Yahudi, bukan Kristen) dalam 
buku-bukunya menuliskan mengenai keajaiban-keajaiban yang dilakukan Yesus. 
Bahkan, sampai saat ini pun, kita masih dapat mengalami tanda-tanda dan 
mukjizat sesuai dengan apa yang tertulis dalam Alkitab (Markus 16:17, 20; 
Ibrani 2:4).

Namun, keajaiban-keajaiban yang terjadi dalam Alkitab saja tidak cukup untuk 
membuktikan bahwa Alkitab itu lain dengan buku-buku lainnya. Dalam Alkitab, ada 
sekitar 3856 nubuat. Dalam hidup Yesus sendiri, ada 300 nubuat yang digenapi. 
Kalau hanya 48 nubuat digenapi, kemungkinan itu terjadi secara kebetulan adalah 
1:10. Ini sama halnya bila kita ingin mencari sebuah elektron dalam jagat raya. 
Jadi, apa yang digenapi dalam Alkitab bukanlah sekadar kebetulan.

Mungkinkah Alkitab hanya ditulis oleh manusia? Alkitab ditulis oleh 40 penulis 
yang berbeda latar belakangnya: dokter, raja, nabi, nelayan, dsb.. Mereka 
menuliskan suatu topik yang sangat luas, ditulis dalam tiga bahasa (Ibrani, 
Aram, dan Yunani) dalam kurun waktu ± 1600 tahun. Isinya tidak ada kontradiksi, 
bahkan saling meneguhkan. Hal ini membuktikan bahwa sesungguhnya hanya ada satu 
penulis Alkitab, yaitu Allah sendiri.

Setelah kita mengetahui bahwa Alkitab ditulis berabad-abad yang lalu, apakah 
Alkitab tidak ketinggalan zaman? Perkiraan bahwa Alkitab sudah ketinggalan 
zaman tidak terbukti. Sebaliknya, Alkitab lebih maju dari ilmu pengetahuan 
manusia, dan manusialah yang ketinggalan zaman. Ketika Columbus menyatakan 
bahwa bumi ini bulat, penemuan ini dianggap penemuan yang besar. Namun 
sebetulnya, 2.500 tahun yang lalu, Alkitab telah menyatakan bahwa bumi ini 
bulat: "Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi ...." (Yesaya 40:22) Juga, 
kehampaan di luar angkasa yang ditemukan ketika satelit Appolo diluncurkan 
telah dicatat Alkitab jauh sebelumnya, ketika Ayub berkata, "Allah 
membentangkan utara di atas kekosongan, dan menggantungkan bumi dalam 
kehampaan" (Ayub 26:7). Ilmu kedokteran pun mau tidak mau harus mengakui bahwa 
Alkitab lebih maju. Dokter mengatakan bahwa stres atau depresi dapat 
mengakibatkan kekurangan kalsium pada tulang. Alkitab mencatat hal ini dalam 
Amsal 17:22, "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tapi semangat yang 
patah mengeringkan tulang" (kurang kalsium).

Pengaruh Alkitab sampai saat ini juga merupakan suatu bukti bahwa Alkitab 
bukanlah sembarang buku. Tidak ada buku lain yang memberi pengaruh sedemikian 
besar kepada semua bangsa dari berbagai macam latar belakang, bahasa, dan 
kebudayaan, selain Alkitab. Sampai saat ini, Alkitab selalu menjadi "best 
seller" dan telah diterjemahkan dalam 1875 bahasa (baik sebagian maupun 
seluruhnya).

Voltaire, seorang ahli filosofi dari Perancis tahun 1700-an, pernah meramalkan 
bahwa Alkitab dan kekristenan akan lenyap dari muka bumi dalam waktu 100 tahun. 
Namun, ramalan ini meleset jauh karena ternyata, setelah 100 tahun pun Alkitab 
tetap ada dan dicetak dalam jumlah banyak. Antara tahun 1815 dan 1975, lebih 
dari 2,5 miliar Alkitab dicetak! Malahan, sampai saat ini, masih ada 8000 
naskah asli dari Alkitab yang ditulis pada abad 4. Tidak ada buku yang dapat 
bertahan sekian lama seperti Alkitab, jadi adanya Alkitab sampai saat ini 
adalah suatu keajaiban. Padahal, sejak dahulu, banyak raja yang ingin 
memusnahkan Alkitab, namun tidak berhasil.

Setelah kita mempelajari apa yang terjadi dengan Alkitab (keajaibannya, 
kesatuan penulisnya, dll.), kita diperhadapkan pada suatu pilihan, apakah kita 
akan membaca Alkitab atau tidak. Tuhan sudah memberikan firman-Nya bagi kita 
untuk kelangsungan kehidupan kita, apakah kita akan membaca dan melakukannya 
atau tidak? Keputusan itu ada di tangan kita.

*Pastor Paul Tan adalah Gembala Sidang IFGF Claremont dan San Bernurdino.

Diambil dan disunting dari:
Judul majalah: HARVESTER, Edisi Januari/Februari, Tahun 1994
Penulis: Pastor Paul Tan
Penerbit: Indonesian Harvest Outreach
Halaman: 6 -- 7


PROFIL BANGSA: BELIDE DI INDONESIA

Sejarah

Orang-orang Belide tinggal di Barat Daya Palembang, di sepanjang Sungai Musi. 
Salah satu dari kerajaan-kerajaan terbesar di sejarah wilayah itu, Kerajaan 
Buddha Sriwijaya, menjadi makmur dan berkembang di tepi Sungai Musi, di 
Sumatera Selatan selama ribuan tahun yang lalu. Kerajaan Sriwijaya adalah 
penguasa maritim utama yang mengendalikan selat-selat terdekat dari Malaka, 
yang merupakan jalan air utama antara Asia dan Eropa. Latar belakang sejarah 
wilayah ini kaya dan menarik. Kerajaan Sriwijaya melakukan perdagangan yang 
cukup ramai dan menguntungkan dengan China kuno selama era dinasti yang 
berkuasa, dan pada tahun 672, sarjana China, I Tsing, mencatat bahwa ribuan 
rahib dan para sarjana agama terlihat mempelajari Sanskerta di tempat yang 
sekarang adalah ibu kota Sumatera Selatan, yaitu Palembang. Namun, hanya ada 
sedikit sisa peninggalan dari era tersebut yang masih bertahan.

Seperti Apa Kehidupan Mereka?

Orang-orang Belide bukan nomad, sebaliknya mereka cenderung tinggal di wilayah 
yang sama seumur hidup mereka. Total kelompok orang-orang Belide terdiri atas 
kira-kira 20 desa. Rumah-rumah adat dibuat dari kayu dengan atap daun kelapa. 
Rumah-rumah dibangun di atas tiang-tiang dari bata atau kayu di atas permukaan 
tanah. Lebih dari setengah pria Belide bekerja sebagai penyadap pohon karet 
atau buruh-buruh di perkebunan nanas. Yang lain bekerja sebagai pedagang atau 
pegawai pemerintah. Masyarakat Belide secara khusus dipimpin oleh tiga orang. 
Seorang pemimpin politik dipilih dan dibayar oleh pemerintah, dan seorang 
kepala desa dipilih oleh masyarakat. Kepala desa tidak dibayar, tetapi menerima 
10% pajak atas penjualan tanah di dalam desa tersebut. Namun, pemimpin ketiga, 
pemimpin agama, jelas memiliki pengaruh yang lebih besar daripada dua pemimpin 
yang lain. Konflik-konflik keluarga diselesaikan oleh kepala keluarga, dan 
seorang pemimpin kerohanian dapat menangani persoalan-persoalan tingkat desa. 
Hukuman untuk pelanggaran ringan ditangani oleh penduduk desa, tetapi kejahatan 
yang lebih serius dirujuk ke polisi.

Orang muda Belide dapat memilih pasangan mereka sendiri dengan persetujuan dari 
keluarga mereka. Jika ada seorang anggota keluarga yang tidak setuju, kepala 
desa diminta untuk memutuskan. Jika ia menyetujui, keluarga itu harus 
mengizinkan pernikahan yang diajukan. Calon mempelai pria harus membayar mas 
kawin. Mempelai wanita akan menggunakan uang itu untuk membeli 
kebutuhan-kebutuhan rumah tangga mereka. Pemimpin-pemimpin kerohanian ditanya 
untuk menentukan hari paling baik untuk pernikahan tersebut. Hal yang umum bagi 
orang-orang Belide bahwa pesta-pesta pernikahan berlangsung dua atau tiga hari. 
Laki-laki Belide menjalankan poligami, tetapi walaupun diperbolehkan, hal itu 
jarang terjadi.

Apa Keyakinan Mereka?

Kebiasaan dan adat telah diwariskan dari generasi ke generasi dan telah 
diharmonikan dengan hukum Islam. Meskipun orang-orang Belide adalah Muslim, 
banyak dari mereka masih percaya dengan takhayul dan roh-roh jahat. Misalnya, 
beberapa percaya bahwa bersiul di dalam rumah pada malam hari akan mengundang 
roh-roh jahat atau berjalan melingkar pada hari jadi seseorang akan membawa 
nasib sial untuk orang tersebut. Banyak tulisan ayat Alquran (Buku Suci Islam) 
di secarik kertas dan membawanya sebagai perlindungan terhadap si jahat. 
Seorang dukun (cenayang/tabib/okultis) sering kali dipanggil untuk menyembuhkan 
yang sakit dan mengusir roh-roh jahat.

Apa Kebutuhan Mereka?

Orang-orang Belide perlu bantuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas 
hasil pertanian mereka. Infrastruktur yang lebih baik di bidang pendidikan dan 
transportasi juga benar-benar dibutuhkan. (t/Anna)

Pokok Doa:

1. Berdoalah kepada Tuhan Yesus agar Ia berkenan membuka hati orang-orang 
Belide kepada Injil.

2. Mintalah kepada Tuhan supaya ada pekerja-pekerja misi yang mau pergi dan 
melayani Suku Belide.

3. Doakanlah agar ada infrastuktur dalam bidang transportasi dan pendidikan 
yang memadai bagi masyarakat Belide.

Diterjemahkan dan diringkas dari:
Nama situs: JoshuaProject.net
Alamat URL: http://joshuaproject.net/people-profile.php
Judul asli artikel: Belide of Indonesia
Penulis: Tidak dicantumkan
Tanggal akses: 15 November 2012


Kontak: jemmi(at)sabda.org
Redaksi: Yudo, Amy G., dan Yulia
Berlangganan: subscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-misi(at)hub.xc.org
Arsip: http://sabda.org/publikasi/misi/arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
(c) 2013 -- Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org >

Kirim email ke