Title: e-JEMMi -- Edisi 11/November/2017
e-JEMMi -- Edisi 11/November/2017
 
Hati bagi Ladang Misi
e-JEMMi -- Edisi 11/November/2017
 

e-JEMMi

DARI REDAKSI:

Menyalakan Semangat untuk Menjangkau

Shalom,

Amanat Agung adalah perintah Allah untuk umat-Nya. Allah memiliki hati untuk menjangkau mereka yang terhilang melalui kita umat-Nya. Karena itu, misi senantiasa menjadi jantung pelayanan bagi gereja dan orang-orang percaya. Apa pun pekerjaan dan profesi kita, masing-masing kita harus siap sedia mewartakan Injil-Nya, terutama berita keselamatan dalam Kristus bagi mereka yang belum percaya kepada-Nya. Namun, bagaimana menyalakan semangat menjangkau orang-orang yang masih terhilang, khususnya mereka yang berada di tempat yang belum terjangkau? Bagaimana gerakan misi dapat menjadi inti pelayanan gereja pada era modern ini?

Edisi e-JEMMi kali ini menyajikan artikel berjudul "Hati bagi Ladang Misi" dan kesaksian "Panggilan Misionaris" yang kami harap dapat menjawab pertanyaan di atas. Seperti yang dinyatakan salah satu kalimat dalam artikel sajian kali ini, "Jika kita mengasihi Allah, mengasihi orang, dan ingin menyatukan keduanya, kita akan menyukai misi," kiranya sajian ini akan menyalakan semangat kita semua untuk menjangkau pribadi-pribadi bagi Allah.

N. Risanti

Pemimpin Redaksi e-JEMMi,
N. Risanti

 

ARTIKEL
Menumbuhkan Hati untuk Misi

Misi. Kata ini bisa menjadi kata yang menakutkan atau membingungkan. Sementara mata Anda melirik kata itu, berbagai gambaran mungkin muncul dalam benak Anda. Pasangan tidak jelas yang tinggal di hutan. Orang-orang berkemeja putih dan berdasi hitam mengendarai sepeda. Membangun rumah di Meksiko. Ketika saya dan istri yang sedang hamil 7 bulan berencana untuk pindah secara permanen ke Thailand sebagai misionaris, orang-orang cenderung memandang kami dengan keheranan, lantas mendoakan agar 'perjalanan' kami menyenangkan. Terlepas dari apa pun pemikiran Anda tentang Misi, pada inti konsepnya, Anda mungkin melihat misi sebagai sesuatu yang dimaksudkan untuk orang lain, atau untuk "orang-orang itu". Apakah misi adalah sesuatu yang harus menjadi perhatian semua orang atau hanya beberapa orang terpilih? Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri adalah bagaimana dengan saya, mengapa saya harus peduli?

Pergeseran dalam pemahaman kita tentang Allah dan dunia kita pasti terjadi. Dalam Matius 28, Yesus meninggalkan murid-murid-Nya dengan mengamanatkan perintah - "Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku." Misi yang benar dapat dijabarkan hanya dengan pernyataan itu, pergi dan menjadikan murid bagi Yesus. Jadi, bagaimana kita menumbuhkan dan menyalakan semangat untuk menjangkau yang terhilang di seluruh dunia? Saya percaya bahwa jika kita ingin menumbuhkan hati yang lebih dalam untuk misi, sebagai orang Kristen, ada tiga hal yang harus kita dapatkan kembali.

1. Pemahaman Sejati tentang Injil

Di sini, di dunia barat, kita hidup dalam budaya pascamodernisme tempat orang memandang semua sistem kepercayaan sama benarnya. Seperti diungkapkan lirik terkenal U2, "Semua warna melebur menjadi satu." Di sinilah letak masalah penjangkauan misional jika kita percaya bahwa: a) semua sistem kepercayaan pada akhirnya akan menciptakan hasil yang sama, atau b) Injil Kristus hanyalah tambahan atau perbaikan dasar dalam hidup kita, maka kita tidak akan pernah terbeban tentang misi. Akan tetapi, jika kita memahami Injil, kita akan memperlakukan orang lain secara berbeda. Penting bagi kita untuk memahami bahwa semua orang mengidap penyakit, yaitu dosa. Penyakit ini tidak hanya mendistorsi dan merusak kehidupan manusia saat ini, tetapi pada akhirnya akan menyebabkan kematian, (dan bahkan neraka, kata yang amat dihindari), kecuali jika seseorang menemukan obat penawarnya.

Gambar: Yesus Kristus

Satu-satunya penangkal itu tidak memerlukan biaya apa pun, ia bersifat gratis, tetapi ia ditemukan di kayu salib, Yesus Kristus, dan pengorbanan-Nya untuk dosa-dosa kita. Orang tidak akan pernah mengalami kasih karunia, damai sejahtera, dan keselamatan selain dengan menerima fakta bahwa Kristus telah mati menggantikan kita; dan dengan menempatkan-Nya sebagai Tuhan atas kehidupan kita. Dengan benar-benar memahami Injil, hidup kita seharusnya didorong untuk mengasihi orang lain, untuk mengasihi orang-orang dari berbagai suku dan bahasa, sebab Allah sendiri mengasihi semua orang. Misi adalah mengumumkan kabar baik kebebasan dalam Kristus kepada semua orang. Semoga hati kita hancur bagi orang-orang yang belum terjangkau di seluruh dunia. Jika kita mengasihi Allah, mengasihi manusia, dan ingin menyatukan keduanya, kita akan menyukai misi.

2. Kesadaran akan Kebutuhan

Bagi sebagian dari kita, masalahnya bukanlah karena kita tidak mengerti Injil, atau karena kita tidak peduli terhadap orang lain, melainkan hanya karena kita tidak menyadari kebutuhan universalnya. Konsep ini ditegaskan kembali dalam Kisah Para Rasul 1:8, "Tetapi kamu akan mendapat kuasa jika Roh Kudus turun ke atas kamu; Dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Kita telah melakukan pekerjaan yang cukup memuaskan dalam memberitakan Injil di Yerusalem (kampung halaman kita), Yudea dan Samaria (daerah sekitarnya), tetapi ujung bumi masih butuh sedikit usaha. Sebagai contoh, berikut terdapat statistik:

  • 95% dari semua pekerja Kristen bekerja di daerah Kristen atau secara nominal Kristen
  • Hanya 1 dari 20.000 orang Kristen yang memberitakan kabar baik kepada orang-orang yang belum pernah mendengarnya sebelum Kisah Para Rasul 4:12
  • 1/3 dari dunia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mendengar Injil
  • kurang dari 0.9% pendapatan orang Kristen diberikan untuk misi
  • Dari 6.900 bahasa, baru 5% yang memiliki Alkitab lengkap, bahasa Inggris memiliki lebih dari 100 terjemahan

Seperti yang bisa kita lihat, upaya penjangkauan terkadang agak berat sebelah. Statistik seperti ini seharusnya menghancurkan hati kita, dan mendorong kita untuk bertindak. Salah satu kunci untuk menumbuhkan hati bagi misi adalah pengetahuan. Jika kita tidak menyadari untuk apa Kristus memanggil kita, jika kita tidak mengetahui kebutuhan yang besar itu, bagaimana kita dapat terbeban untuk misi?

3. Kesadaran Bahwa Semua Orang Dapat Dilibatkan

Mungkin Anda menyadari kebutuhan akan misi, tetapi mengambil bagian di dalamnya adalah hal besar, menakutkan, dan tuntutannya terlalu banyak. Atau, mungkin Anda merasa bahwa tidak ada tempat untuk melibatkan diri. Gambar: Tangan Bersatu Kuncinya adalah Allah telah menciptakan kita semua dengan kemampuan, keterampilan, dan kemungkinan yang berbeda-beda. Salah satu asumsi keliru tentang misi adalah bahwa misi hanya untuk "orang-orang tertentu", atau bahwa semua yang terlibat dalam misi perlu melakukan hal yang sama. Dalam 1 Korintus 12:12-27, Paulus mengemukakan fakta bahwa sebagai gereja, kita adalah satu tubuh dengan banyak peran berbeda. Dan, semua peran itu sama krusial dan sama pentingnya bagi misi gereja. Demikian halnya dengan Misi. Bagaimana dengan Anda? Bidang apakah yang paling cocok bagi Anda? Keterampilan apa yang Allah berikan kepada Anda? Mungkin bagi Anda, Anda dipanggil untuk pergi - entah untuk seumur hidup atau untuk kesempatan jangka pendek. Mungkin Anda adalah pendoa syafaat yang hebat, dan Anda bisa menjadi orang yang membuka pintu dan menghalau kegelapan melalui doa. Mungkin Allah memberkati Anda secara finansial dan Anda bisa menjadi orang yang menciptakan sumber daya bagi orang lain untuk pergi. Atau, mungkin Anda bahkan memiliki cara yang lebih kreatif untuk menjangkau.

Akan tetapi, satu hal yang pasti, hati Allah ialah agar seluruh umat-Nya menjadi satu, dan agar kita melakukannya bersama. Saya tahu saat istri dan saya berkunjung dan berbincang dengan berbagai orang dari organisasi dan denominasi pengirim kami (C&MA), kami merasakan bahwa kami tidak pergi ke Thailand sendirian, tetapi semua di dalamnya beriringan, sebagai satu kesatuan yang mengenyahkan kegelapan di seluruh dunia bersama-sama.

Allah mengasihi semua orang dan rindu untuk kembali bersatu dengan mereka. Untuk alasan tertentu, Dia bermitra dengan bejana-bejana rusak seperti kita untuk membawa kabar baik ke seluruh dunia. Kiranya kita menyadari hak istimewa dan tanggung jawab besar yang kita miliki. Orang yang terhilang di seluruh dunia penting bagi Allah. Apakah mereka penting bagi Anda? (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Kingdom Come Discipleship
Alamat situs : http://kingdomcomediscipleship.com/cultivating-a-heart-for-missions/
Judul asli artikel : Cultivating a Heart for Missions
Penulis artikel : Keith Neigenfind
Tanggal akses : 17 November 2016
 

KESAKSIAN MISI

Panggilan Misionaris

Tuhan memanggil manusia dengan banyak cara, dan jika kita membaca Alkitab, kita akan menemukan bahwa panggilan itu datang kepada orang-orang yang berbeda dengan cara yang berbeda. Panggilan yang Allah minta untuk saya lakukan mungkin sangat berbeda dari panggilan Dia untuk Anda karena Dia membutuhkan banyak jenis rekan kerja.

Gambar: Membaca Alkitab

Nah, jenis panggilan pertama yang saya temukan di dalam Alkitab adalah bagaimana Allah memanggil manusia keluar dari situasi manusia. Mungkin ada orang yang sangat membutuhkan. Mungkin mereka membutuhkan pertolongan rohani, atau mungkin mereka membutuhkan pesan cinta, atau mungkin mereka membutuhkan koreksi moral. Namun, terlepas dari situasi kebutuhan itu, Allah akan tetap memanggil. Apakah Anda ingat penglihatan yang sampai kepada Paulus dan orang dari Makedonia? Kata-kata orang dari Makedonia itu, "Datanglah ke Makedonia dan tolonglah kami," dan Allah memberinya panggilan melalui situasi kebutuhan di Makedonia (Kisah Para Rasul 16:9). Apakah Anda ingat kisah orang Samaria yang baik hati? Dia adalah seorang pria yang menemukan situasi akan adanya kebutuhan. Seorang Imam lewat dan orang Lewi juga melaluinya, tetapi Allah memanggil orang Samaria untuk mengatasi masalah itu (Lukas 10:33). Terkadang, bahkan sampai hari ini, ada situasi yang membutuhkan di dunia ini dan Allah menunjuk seseorang dan memanggilnya, dan berkata, "Aku mau engkau pergi ke sana dan mengatasi masalah itu."

Nah, ada saat-saat lain ketika panggilan Allah datang dengan cara lain. Saat kita memikirkan sebuah karya di mana Allah menginginkan seseorang untuk membantu Dia. Pikirkan sejenak kata-kata alkitabiah yang Allah gunakan untuk menggambarkan orang-orang yang bekerja dengan-Nya. Kadang-kadang, mereka disebut sebagai hamba-hamba-Nya (Lukas 16:13; Roma 16:1; 1 Korintus 7:22; Filipi 1:1; Kolose 4:12), dan terkadang Dia menyebut para hamba-Nya sebagai penuai (Lukas 10:2; Yohanes 4:35), dan kadang-kadang Dia mengatakan penatalayan-Nya (Lukas 16:1-12; 1 Korintus 4:1-2; 1 Petrus 4:10), dan pada waktu lain mengumandangkan duta-duta besar-Nya (2 Korintus 5:20). Dan, kadang-kadang sebagai rekan kerja atau teman sekerja (2 Korintus 6:1). Nah, ini semua adalah jenis kata yang sama karena menyiratkan bahwa mereka bekerja. Semuanya itu menyiratkan bahwa itu adalah pekerjaan Allah, dan bahwa Allah hendak memakai orang-orang untuk membantu-Nya dalam pekerjaan-Nya. Tugas semacam ini berarti orang-orang yang bersangkutan harus bertanggung jawab. Dia menginginkan hamba yang baik. Tidak ada yang menginginkan seorang hamba yang buruk. Jika Anda memiliki rumah tangga, atau kebun anggur, dan Anda menunjuk seseorang sebagai pelayan atasnya, Anda menginginkan orang yang bisa Anda andalkan. Ketika seorang pemerintah atau seorang raja menunjuk seorang duta besar ke negara lain, dia ingin agar duta besar tersebut menjadi juru bicara sejati baginya. Jadi, terkadang Allah memanggil kita untuk membantu Dia dalam pekerjaan-Nya dan untuk mewakili Dia.

Nah, masih ada cara lain bagaimana Allah memanggil orang dan Dia memanggil orang untuk mewartakan firman-Nya. Setidaknya, ada dua cara bagaimana Dia memanggil kita untuk memberitakan Firman-Nya. Ada saat ketika kita harus berbicara mengenai keadilan sosial, seperti yang Allah minta untuk dilakukan oleh Amos waktu Dia mengirimnya ke Bethel untuk menegur orang-orang di pusat perdagangan mereka yang tidak jujur? (Amos 5:10-12). Kita banyak membahasnya di dalam Perjanjian Lama. Akan tetapi, ada cara lain di mana kita mungkin diutus untuk memberitakan Firman-Nya, dan itu adalah memberi tahu orang-orang tentang Juru Selamat dan jalan keselamatan. Keduanya juga adalah pelayanan kenabian. Mereka bernubuat karena orang yang dipanggil itu berbicara untuk Allah. Sebelum Amos berbicara kepada orang-orang di Betel, dia berkata, "Beginilah firman Tuhan," dan di sinilah proklamasi berbeda dari dialog dan berbeda juga dari saksi.

Gambar: Microphone

Orang yang memproklamasikan sesuatu itu seperti seorang pemberita, seorang penyiar, dia mengatakan sesuatu yang telah diperintahkan kepadanya untuk disampaikan secara luas. Dia menerima instruksinya dari seorang kerabat atau pemimpin, atau atasannya. Dia menerima berita dari seseorang di atasnya. Akan tetapi, ketika Allah memanggil saya untuk menjadi saksi, Dia memanggil saya untuk mengatakan apa yang saya ketahui sendiri dan apa yang saya ketahui sebagai kebenaran tentang Dia. Anda ingat pria dalam kisah Injil yang disembuhkan dari semua roh jahat, dan Yesus berkata kepadanya sesudah itu, "Pulanglah kepada sanak saudaramu. Ceritakan kepada mereka semua hal yang telah Tuhan lakukan kepadamu dan bahwa Tuhan berbelas kasihan kepadamu" (Markus 5:19). Nah, dia dipanggil untuk bersaksi karena dia menceritakan pengalamannya sendiri tentang Tuhan kepada sanak saudara di rumah. Akan tetapi, ketika pengkhotbah tersebut memberitakan firman, dia tidak hanya mengatakan sesuatu yang dia tahu, dia mengatakan sebuah firman yang dia terima dari Tuhan yang di atas. Jadi, jika saya berbicara dengan seorang Hindu dan saya ingin mendiskusikan agama dengannya, saya mengajaknya berdialog, jadi kita bisa memberikan pendapat bersama. Itu adalah salah satu cara. Namun, proklamasi berbeda dengan ini. Itu adalah berita dari raja yang diumumkan oleh bentaranya, dan Anda tidak dapat mengubahnya. Anda tidak bisa memperdebatkannya. Jadi, terkadang Allah memanggil kita untuk berdialog, dan terkadang Dia memanggil kita untuk bersaksi, dan terkadang Dia memanggil kita untuk memberitakan Firman-Nya. Namun, Allahlah yang memanggil dan kita harus taat.

Saat Tuhan memanggil seseorang, Dia juga memperlengkapinya. (1 Korintus 12:4; Roma 12:6-8). Allah tidak meminta saya untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin saya lakukan. Dia memberi saya karunia. Semua karunia yang saya miliki berasal dari Dia, dan Dia berkata kepada saya, "Aku ingin kamu menggunakan karunia-karunia ini yang telah Kuberikan untuk pekerjaan-Ku." Dan, jika Dia telah memperlengkapi saya dengan karunia, dan telah memanggil saya untuk pergi dan menggunakan karunia itu, saya tidak berani mengatakan "Tidak". Ketika kita bekerja seperti ini, kita adalah pewaris janji (Galatia 3:29; Ibrani 6:17; 11:9), dan kita adalah penerima karunia-Nya (1 Korintus 12-13). Itu membuat kita dua kali bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan.

Dengan cara ini, kita terlibat dalam cara Allah. Allah berbicara kepada manusia melalui manusia. Jadi, Allah telah menetapkan demikian sehingga Dia siap dan mau bergantung kepada kita untuk setia, dan melakukan pekerjaan-Nya. Dia memberi kita Injil sehingga kita dapat memberikannya kepada orang lain, dan inilah mengapa Paulus dapat berkata, "Injilku" (Roma 2:16; 16:25). Tentu saja itu adalah "Injil Allah", tetapi dia bisa menyebutnya "injilku", karena telah diberikan kepadanya dengan instruksi bahwa dia harus menyebarkannya kepada orang lain.

Semua hal ini ada dalam "panggilan". Allah memanggil kita. Dia memberi kita karunia yang kita butuhkan. Dia mengharapkan kita untuk menggunakannya dan melakukannya bagi kemuliaan-Nya. Dalam buku kecil ini, kami berkonsentrasi terutama pada salah satunya, yaitu panggilan untuk pergi, dan untuk memproklamasikan berita keselamatan. Terkadang, panggilan itu ditujukan ke gereja atau jemaat, dan jemaat mengirim salah satu anggotanya sebagai misionaris dalam Roh (Kisah Para Rasul 13:1-4).

Gambar: Misionaris

Terkadang, panggilan itu ditujukan langsung kepada seseorang, dan di bawah desakan Roh Kudus, dan individu itu pun pergi. Itu adalah kata-kata yang penting, gereja mengutus dan misionaris pergi (Matius 28:18-20). Dan, itulah fondasi teologis yang membuat saya menyusun buku ini. Sekarang, kita harus mengajukan beberapa pertanyaan historis dan menjawabnya. (t/Jing-Jing)

Diambil sebagian dan diterjemahkan dari:
Nama buku : The Deep Sea Canoe
Judul asli artikel : The Missionary Call
Penulis : Alan R. Tippet
Penerbit : William Carey Library, California, 2006
Halaman : 14 - 17
 
Anda terdaftar dengan alamat: arch...@mail-archive.com.
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-JEMMi.
m...@sabda.org
e-JEMMi
@sabdamisi
Redaksi: N. Risanti, Davida, Rostika, dan Yulia Oeniyati.
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
© 2017 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

Kirim email ke