~~~~~~~Forum Diskusi Software dan Internet untuk Kristen-Katolik~~~~~~~




> Hi Bung David,
>
> masih mengenai "Xmas", kalo menurut saya, teman2 Bung yg sekular bisa
> saja sengaja menulis XMas untuk menghindari menulis Christ tapi
> sejarah mengatakan bahwa penulisan XMas itu benar2 berasal dari bahasa
> Yunani dan sudah dipraktekkan sejak abad pertengahan. Jika kemudian
> di zaman sekarang disalahartikan dan disalahgunakan, saya pikir kita
> tetap perlu melihat sejarah seperti apa adanya.

"X" untuk melambangkan "Chi" memang berasal dari bahasa Yunani dan memang
"XP" (Chi-Rho) sudah sejak semula melambangkan "Christos". Tapi "Xmas"
sendiri *bukan* bahasa Yunani, silahkan buka kamus Yunani Anda untuk mencari
kata ini. Penulisan "Xmas" yang walaupun mencantumkan abjad Yunani tidak
menjadikan kata "Xmas" adalah berasal dari bahasa Yunani. Siapa yang memulai
penulisan "Xmas" ini pada abad pertengahan? Theologians? Humanists? Saya
akan sangat kaget sekali bila ternyata Theologians-lah yang memulai
penulisan ini karena sampai sekarang jarang/tidak pernah saya temui
theologians yang menulis "Xtian", "Xmas", "Xtianity" di dalam tulisan
mereka. Kalau bukan karena konotasi negative-nya, lalu mengapa?

Sumber yang Anda berikan itu memang sudah baik di dalam menjelaskan sejarah
asal muasal penulisan "Xmas", tapi semua hanya menjelaskan arti "X" di
"Xmas", bukan berarti lalu mereka menganjurkan penulisan "Xmas", "Xtian",
apalagi setelah penulisan ini akhirnya telah melenceng dari tujuan
semulanya. Mungkin saja tujuan semulanya memang "murni" tapi bila akhirnya
telah dilencengkan dan disalah-pahami, untuk apa kita harus pergunakan
penulisan "Xmas" ini? Dunia sekuler sudah sangat senang sekali telah
mendapati term "Xmas" ini karena dapat memisahkan antara suatu hari perayaan
besar dari kata "Christ", mengapa kita tidak mencoba mengembalikkan
kesalahan besar ini dengan menulis "Christmas" instead of "Xmas".

Contoh lainnya adalah kasus budak, misalnya. Di Alkitab bagian manakah
memiliki budak itu dilarang? Tetapi jaman telah berubah dan memiliki budak
dianggap suatu hal yang negative, lalu siapa harus ngotot tetap ingin
memiliki budak hanya karena hal tersebut tidak dilarang di Alkitab? Sama
halnya dengan lelaki berambut panjang yang tidak pernah menjadi suatu
masalah di Alkitab tetapi menjadi suatu masalah bagi kita sekarang. Memang
bagus bila kita mengetahui asal muasal/sejarah dari sesuatu, tapi tidak
berarti kita harus tetap mempergunakkan/membiarkan hal tersebut, bukan?

>
> Berikut ini saya kutipkan berbagai sumber tulisan saya, baik yang
> sekular maupun yang kristiani. Apakah menurut Bung, sumber-sumber ini
> tidak benar atau tidak kredibel? Mohon pencerahannya.

Saya tidak meragukan kebenaran sumber Anda sejak semula. Saya tidak
mempermasalahkan sejarah penulisan "Xmas", tetapi yang permasalahkan dan
kesampingkan adalah sikap seakan-akan penulisan "Xmas" adalah hal yang
lumrah dan OK-OK saja seperti yang sumber-sumber Anda berikan.

Pendapat pribadi saya, marilah kita menulis "Christmas" as it is, bukan
"Xmas" atau singkatan apapun. Janganlah kita terlalu malas untuk menulis
"Christ" dan menggantikan dengan "Chi" ataupun hanya "X". What is at stake
when we write "Christmas" instead of "Xmas"? On the other hand, what is
really at stake when we use "Xmas" instead of "Christmas"?

Setelah ini, terserah bila Anda tetap menganggap penulisan "Xmas" (dengan
semua konotasi negative yang telah, unfortunately, dikandungnya) untuk
menggantikan "Christmas", tetapi bagi saya pribadi, penulisan "Christmas"
lebih tepat dan menunjukkan arti sebenarnya tanpa ada konotasi negative
apapun, so why not use it?

Terima kasih atas penjelasan Anda mengenai arti "Xmas". Menambah wawasan
saya, thanks.

salam,
-dave



------ Hemat Bandwith : Hapus pesan yang tidak perlu sebelum reply ------
SUBSCRIBE---> To:   [EMAIL PROTECTED], Isi/Body: kosong
UNSUBSCRIBE---> To: [EMAIL PROTECTED], Isi/Body: kosong
Moderator: Ronny <[EMAIL PROTECTED]>, Alex <[EMAIL PROTECTED]>
Web : http://hub.xc.org/cgi-bin/lyris.pl?enter=i-kan-software

Kirim email ke