[gp2000]%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
              ++ Mailing List BPK Gerakan Pemuda GPIB ++
                   Forum Diskusi Antar Pemuda GPIB
       http://gp.gpib.or.id | http://milis.gp.gpib.org
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% I-KAN
                  <>< "Jesus is the reason for season" <>< 
sambungan...

2. Pada saat para "Sth" ini lulus, masa vikariat juga ternyata tidak menjadi masa 
pelatihan di bidang manajemen dan kepemimpinan. Aada beberapa jemaat yang mentornya 
aktif bukan main, namun banyak juga jemaat yang sang vikaris bungkem oleh mentor. 
Mungkin juga ada beberapa jemaat yang vikarisnya diajak ikut dalam rapat2 PHMJ 
sehingga bisa belajar banyak. Namun ada pula yang diem di kantor dan menunggu 
kebaktian minggu, persiapan ibadah BPK, pengucapan syukur dan lain-lain. Akhirnya 
laporan akhir masa kevikariatan hanya merupakan laporan buku. Bukan merupakan laporan 
lapangan. Mungkin takut kalau kejelekan jemaat bisa dicium oleh pusat ha..ha..ha...  
nah kalau begini, kapan vikaris2 kita belajar memimpin jemaat ? Saya harap kita juga 
berperan aktif untuk membina sang vikaris supaya mereka bisa menjadi pemimpin GPIB di 
masa mendatang. memang halangannya adalah dana dengan alasan: Toh vikaris ini tidak 
akan menjadi pendeta di kita. tapi dengan pola pikir semacam ini, sebenarnya!
 kita sudah menjadi penghalang bagi resource GPIB secara global untuk menjadi batu 
sandungan bagi jemaat di masa mendatang. Ingat, halangan ini bukan hanya dari mentor 
(Pdt Ketua MJ), tetapi juga dari mejalis jemaat yang duduk di PHMJ.

3. Jemaat lebih pintar dari pendetanya. Nah yang satu ini bisa memaksa membuat sang 
pendeta "must do something" supaya tidak dimain-min-in oleh majelis jemaat atau 
jemaatnya. Lha pendetanya cuman STh tapi jemaatnya banyak yang Master atau Doktor 
bahkan mungkin professor. nah para jemaat ini kemampuan manajer atau leadership-nya 
lebih jago dari pendetanya ha..ha..
Nah jadinya muncul perasaan minder dan akhirnya kadang2 keputusan yang diambil menjadi 
bersifat otokrasi. Hal ini pernah saya lihat tidak hanya di satu atau dua jemaat. Bagi 
beberapa jemaat, mereka telah memiliki sistem yang baku sehingga siapapun pendeta yang 
datang ke jemaat itu, policy majelis jemaat tetap sama. Hal ini saya kira perlu 
dikembangkan. Jadi setiap ganti pendeta, nggak gampang sang pendeta merubah sana dan 
sini. Lha wong jemaatnya tetap itu2 aja, tapi pendetanya berubah-rubah, repot khan 
kalau nggak ada standar? Mungkin suatu waktu GPIB harus punya ISO9001:2000. Nah kalau 
begitu pendetanya diem aja dong? ya nggak, kalau emang dia memiliki kemampuan 
manejerial dan leadership yang baik seperti point 1 diatas maka saya yakin segala-nya 
akan berjalan dengan baik.

bersambung..

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%[gp2000]
  "... Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau 
  muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu,
  dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam 
  kesucianmu" -- 1Tim 4:12
I-KAN %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
<>< Situs GPIB : http://www.gpib.or.id
<>< iuf.GPIB : http://iuf.gpib.or.id/forum/
<>< Chat In IRC : Server DALNET -Channel #gpib #gp-gpib

---
Anda sekarang terdaftar di i-kan-untuk-gp2000 dengan: [[email protected]]
Untuk unsubscribe, forward message ini ke [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke